"Mas ... aku boleh gak be-beli baju baru? Soalnya baju-bajuku semuanya sudah jelek. Nih kamu lihat, dasterku semuanya sudah sobek-sobek begini." Aku coba memberanikan diri untuk minta dibelikan baju baru, sambil membawa baju-bajuku yang sudah sobek. Mas Irwan selama ini memang sangat pelit kepadaku. Selama dua tahun menikah, aku hanya pernah beli baju baru dua kali. Itupun ketika lebaran datang.
Aku memang berasal dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi. Bapakku hanya seorang petani dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Kalau kalian bertanya kenapa aku gak kerja saja? Ya begitulah, aku hanya menganggur. Aku hanya lulusan sd saja. Mana mau orang mempekerjakan orang sepertiku ini.
Ku lihat mata Mas Irwan melotot kepadaku. "Gak usah, nanti Mas carikan baju bekas mama saja. Kita harus berhemat. Kamu tahu sendiri kan, proyek Mas lagi menurun," ucapnya kemudian.
Memang selama menikah denganku, usaha Mas Irwan seringkali diambang kebangkrutan katanya. Padahal selama ini kami sudah sangat berhemat. Aku hanya diberikan uang delapan ratus ribu untuk satu bulan. Pernah aku protes, tapi protesku tak ada artinya bagi Mas Irwan.
Dulu Mas Irwan bekerja kantoran. Tapi setelah menikah denganku, ia dipecat dari kantornya dan mencoba usaha sendiri yang akupun tak mengerti usahanya apa. Maklum aku hanya dari kampung, jadi gak paham soal proyek-proyek seperti itu.
Ditambah mama mertuaku seringkali datang kesini. Aku gak tau, mengapa beliau sangat benci kepadaku. Padahal aku selalu sopan dan baik dengan mama mertua. Mungkin karena aku dari keluarga miskin. Padahal beliau juga miskin. Seringkali Mama mertua dan Mas Irwan kedapatan bicara sambil bisik-bisik. Setiap aku tanyakan pada Mas Irwan, ia selalu marah denganku. Katanya aku tak perlu tahu urusan dia dengan mamanya.
"Ta-tapi ... Mas, aku ingin beli baju baru saja. Masa aku kebagian baju bekas mamamu terus!" ucapku sewot. Berharap Mas Irwan sadar, kalau selama ini aku hanya kebagian baju bekas mamanya terus.
"Kamu ini bisa gak sih sabar sedikit. Mas lagi pusing memikirkan kerjaan. Punya istri bukannya bersyukur, sudah diberi makan tiga kali sehari. Kamu lihat orang-orang diluar sana, mereka banyak yang kelaparan." Ucapnya panjang lebar. Seperti biasa, ia memang hobi mengomel.
Aku kemudian meninggalkannya sendirian di teras. Malu juga kalau sampai kami bertengkar. Nanti bisa-bisa jadi bahan gosip Mpok Yana.
Ya, Mpok Yana memang terkenal tukang gosip dikampung ini. Mana rumahnya persis disebelah rumah kami lagi.
Aku hanya bisa manyun sambil menghentak-hentakkan kakiku. Sebel dan jengkel rasanya punya suami pelit seperti Mas Irwan ini. Jika tidak sedang mengandung anaknya, mungkin aku akan pergi meninggalkannya saja. Biarin dia sendirian di rumah yang lebih mirip gubuk ini.
❤❤❤
"Siti ... astaghfirullah! punya istri malas begini, kerjanya hanya tidur saja seharian. Sana masak, Mas lapar!" aku sangat terkejut ketika Mas Irwan masuk kamar dengan berteriak seperti itu. Tadi aku memang tertidur setelah membersihkan rumah.
Kelihatannya Mas Irwan baru saja pulang bekerja, sebab ia masih memakai baju kebesarannya, yaitu baju proyek berwarna biru muda.
"Kenapa sih Mas teriak-teriak. Apa gak bisa bicara pelan-pelan? Aku ini istrimu, sedang mengandung anakmu. Kalau sampai terjadi apa-apa denganku bagaimana? Mas jugakan yang repot." Ucapku sambil bangun dari tempat tidur.
Entah kenapa, selama hamil ini aku jadi sering malas-malasan begini. Mungkin ini bawaan bayi yang ada di perutku. Gerak sedikit saja rasanya capek sekali. Itu juga yang membuat Mas Irwan sering marah-marah denganku kalau dilihatnya aku malas-malasan.
"Sudah ... sana kamu masak. Mas sudah lapar. Ingat ... masak yang enak!" katanya memperingatkanku. Kemudian dia mengambil handuk dan langsung menuju kamar mandi.
"Alhamdulillah, kali ini ia tak marah panjang kali lebar lagi," batinku.
Kemudian aku langsung masuk dapur dan memasak seadanya yang ada di kulkas bututku ini. Ya, aku seringkali minta dibelikan kulkas baru, tapi selalu saja Mas Irwan marah. Ku buka pelan-pelan pintu kulkas ini, takut copot. Di dalam sana ku lihat hanya ada tempe dan telur. Ya sudah, masak seadanya saja. Aku malas kalau harus beli sayur keluar. Lagian, sayang juga uangnya. Uang yang diberikan Mas Irwan dua minggu yang lalu sisa tiga ratus lima puluh ribu.
Sambil masak, ku dengar Mas Irwan asyik bersiul sambil sesekali bernyanyi ria. Memang rumah yang kami tempati ini sangat kecil, kamar mandi dan dapur memang letaknya bersebelahan. Jadi, setiap aktifitas dikamar mandi, akan terdengar olehku.
"Tumben sekali Mas Irwan nyanyi-nyanyi seperti itu. Biasanya juga gak pernah," batinku. Kemudian aku melanjutkan masak-masakku. Tak peduli lagi dengan nyanyian Mas Irwan yang terdengar sumbang itu.
Selesai masak, ku hidangkan makanan itu di lantai. Ya, kami makannya cuma duduk di lantai. Mana mampu kami beli meja makan. Jangankan meja makan, beli daster tiga puluh lima ribuan saja Mas Irwan perhitungan.
Ku lihat Mas Irwan keluar dari kamar mandi. Ia tampak segar dengan rambut basahnya dan itu menambah ketampanannya berkali-kali lipat.
"Mas ... aku boleh ya beli baju baru. Masa kamu tega sama istri sendiri. Nanti kan makin hari perutku akan semakin besar, Mas! baju-bajuku semua mana muat lagi. Kamu tahu sendiri, baju yang dikasihkan mamamu itu kecil-kecil, Mas. Mana muat lagi denganku." Aku mencoba minta lagi pada Mas Irwan. Saat ini kami makan bersama dengan menu yang ku masak tadi. Telur goreng dan tempe goreng.
Nampak ia berfikir sejenak, kemudian menyuap kembali nasi dan lauk ke mulutnya.
Aku hanya bisa manyun kembali karena omonganku hanya angin kentut baginya. Panjang lebar aku bicara padanya, tapi dia masih terlihat cuek. Dasar suami pelit.
Kalau hidupku begini terus, aku jadi berfikir untuk kabur saja dari gubuk ini ke rumah orang tuaku. Biarlah hidup seadanya disana, daripada disini menderita lahir batin karena suami pelit.
Menyesal aku merebut Mas Irwan dari istrinya dahulu. Ku kira Mas Irwanlah yang kaya raya, ternyata itu kekayaan milik istrinya.
Beginilah jadinya seorang babu yang bermimpi menjadi nyonya.
Tamat