Bagi para pecinta alam kata-kata ini sudah menjadi kata-kata wajib ketika akan mendaki gunung. Setiap gunung biasanya ada penjaganya, nah biasanya penjaga ini juga akan memberikan nasihat seperti itu juga.
Salah satu teman kakak ku juga suka bercerita mengenai pengalamannya mendaki gunung. Dan kakak ku akan menceritakannya kembali padaku.
Namanya Kak Ipul, orangnya kurus dan seorang seniman sejati. Kak Ipul ini menceritakan bahwa pernah suatu hari ia bersama teman-temannya mendaki gunung yang terletak di daerah Jawa Barat.
Biasanya mereka menemui penjaga gunung tersebut untuk meminta izin, penjaga gunung ini biasa di sebut Kuncen. Ini hal yang wajib diketahui bagi pendaki pemula, biasakanlah meminta izin.
Dari Kuncen ini kita akan mengetahui apa yang tidak boleh kita lakukan ketika mendaki gunung tersebut.
Beliau berkata bahwa pantangannya adalah:
1. Jangan menyepelekan medan pendakian.
Jangan sok merasa kuat dan merasa yakin bisa
melaluinya tanpa mengetahui kondisi dari
medan pendakian.
2. Bawa perlengkapan sendiri.
3. Dilarang buang sampah sembarangan.
4. Dilarang mengambil apa pun.
5. Jaga sikap dan jangan bicara sembarangan.
6. Jika mengalami kejadian aneh simpan dulu.
7. Pendakian pada malam hari jangan istirahat
terlalu lama.
8. Tetaplah berada dalam rombongan.
(Sumber : Blog.Reservasi. com/Travel tips)
Namaku Rini. Aku menyimpan dengan baik pantangan tadi dalam ingatanku. Ternyata hal ini berguna sekali ketika aku masuk kuliah. Aku kuliah mengambil jurusan perbankan. Sebagai mahasiswa baru kami diwajibkan untuk mengikuti Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus).
Hari itu Kamis pagi kami akan diberangkatkan ke sebuah tempat di Gunung Manglayang, Ciporeat, Kec. Cilengkrang, Kabupaten Bandung Jawa Barat.
Awal mula aku tidak habis pikir, apa-apaan sih ini, kenapa harus hari Kamis, berarti kami bermalam di sana di malam Jum'at. Entah mengapa aku merasakan hal yang tidak nyaman. Dan sialnya lagi aku dalam kondisi yang tidak diperbolehkan untuk sholat. Tapi tetap saja aku membawa buku Yassin kecil
Disepanjang jalan Sholawat tidak putus aku ucapkan. Tidak berapa lama kami sampai di tempat yang dituju. Tempat itu seperti sebuah barak tempat berlatihnya tentara. Di depan tempat itu tepatnya diseberang jalannya terdapat tanah lapang yang luas, seperti lapangan olahraga, hanya saja di sebelah kanannya terdapat lubang, sepertinya sedang diperbaiki.
Tidak jauh dari tempat kami terdapat beberapa rumah, hanya ada lima , itupun jaraknya berjauhan.
Di barak itu terdapat mushola, kami lalu ditempatkan dikamar- kamar, tiap kamar diisi 30 anak dan di kamar tersebut juga ada 2 kamar mandi yang berjejer.
setelah meletakkan barang bawaan, kami disuruh berkumpul didepan kamar masing-masing. Pada saat itulah aku melihat seorang nenek-nenek berjalan mendekati salah satu anak laki-laki dan berkata ," Cu, sebaiknya kamu pulang jangan lama-lama disini", anehnya anak laki-laki itu seakan-akan tidak perduli, nenek itu lalu juga berbicara kepada temanku yang lain, lagi-lagi mereka tidak menanggapi ucapan nenek itu.
Aku lalu mendekati temanku ," Asep, kamu itu tadi diajak ngomong sama nenek-nenek kok diem aja, ga sopan tau".
"Nenek-nenek?, mana ada," jawab Asep.
Aku bingung, ketika aku mencari sosok nenek tadi dia sudah menghilang.
Secara tidak sengaja aku melihat kakak senior kasak kusuk, tidak tahu apa yang mereka bicarakan, sepertinya masalah serius. Siang itu tidak ada kegiatan. Suasana terlihat aneh, kita tidak melakukan kegiatan apapun sehingga sore pun tiba.
Setelah makan malam kami di suruh berkumpul di lapangan olahraga, anehnya kami hanya tinggal sedikit, aku mulai bertanya-tanya dimana temanku yang lainnya, setelah itu terlihat kakak panitia menyuruh kami kumpul di aula, entah apa yang ingin dikatakan.
Di aula kami diberikan nasehat diselingi guyonan yang tidak senonoh atau mesum, karena kami semua dalam kondisi mengantuk kami tidak mendengarkan perkataannya, pada saat itulah aku melihat sebuah kepala melayang dengan leher penuh darah di atas kepala kakak panitia, aku bertanya dengan teman di sebelahku apakah ia melihat apa yang melayang di atas kakak panitia, temanku menjawab tidak melihat apa-apa.
Kami berpikir kapan acara yang tidak jelas apa manfaatnya ini selesai, kami ingin tidur, ternyata setelah itu kami disuruh membaca surat Yassin. Aku menjadi bersemangat, walaupun tanpa memegang buku Yassin, aku hapal dengan bacaannya.
Dengan semangat aku mengikutinya, tiba-tiba salah seorang anak perempuan yang berada didekatku berteriak panaas, panaaas. Aku semakin kuat membacanya, ia meronta seperti orang kesurupan dan melotot kearahku.
Kakak panitia lalu membawanya ke mushola. ternyata di mushola terdengar teriakan, ramai sekali. Teman-temanku mulai panik. Kakak panitia lalu menyuruh kami membereskan barang-barang. Kami kembali ke kampus malam itu juga.
Disepanjang jalan menuju parkiran bis, kami membaca ayat Kursi bersama-sama beserta surat Al Ikhlas, An Nas, Al Falaq. Sementara penduduk setempat menabuh bedug sambil mengucapkan Allahu Akbar.
Di bis, aku pikir aku akan tenang, ternyata di bis itu banyak yang kesurupan, yang tidak hanyalah aku dan kelima temanku. Sambil membaca doa, tak ada satupun yang berani melihat mereka. Mata mereka melotot, sambil berteriak panas.
Sesampai di kampus, kami disuruh kumpul di ruang kelas masing-masing. Aku yang sudah tidak tahan, tanpa sepengetahuan kakak panitia aku kabur dan pulang ke rumah naik angkot. Syukurlah malam itu masih ada angkot yang beroperasi.
Di angkot ada seorang bapak tua melihatku dan bertanya apakah aku dari berkemah di gunung, aku menjawab iya, bapak itu lalu berkata bahwa selama dalam perjalanan pulang ke rumah jangan sekali-sekali melihat ke belakang. Aku merasa heran, tapi aku berpikir tidak ada salahnya aku mengikuti perkataan bapak tadi.
Sesampainya di rumah, mama ku bertanya apakah tadi aku diantar sama teman-teman, tentu saja aku jawab tidak, mama ku heran sebab tadi ketika aku pulang banyak sekali suara orang didepan pintu, ramai sekali. Aku terdiam. Semenjak itu tiap malam aku selalu mengaji untuk ketenangan hati.
Kuliah diliburkan selama seminggu, ketika aku kembali masuk kuliah, suasana di kampus belum kembali seperti semula, kampus kami menjadi topik hangat di surat kabar daerah, bagaimana tidak, dari 600 anak yang ikut ospek, 450 anak kesurupan. Dan yang mengerikannya lagi kepala suku bangsa jin penunggu gunung itu meminta satu anak untuk dijadikan tumbal, akhirnya berkat negosiasi diganti dengan ayam hitam dan beberapa syarat lainnya.
Tahukah kamu, mengapa kepala suku bangsa jin penunggu gunung itu marah, kata kuncen nya, salah seorang mahasiswa telah melakukan hal yang tidak senonoh dengan seorang mahasiswi anggota ospek, di semak dekat barak, dan mahasiswi itu mencabut setangkai bunga yang ternyata bunga itu adalah bunga kesayangan anak kepala suku bangsa jin.
* Aduuuh aku tidak habis pikir, bahkan disaat seperti itu masih ada saja orang yang berbuat menyalahi aturan, iya kalau dia sendiri yang merasakan akibatnya..lah ini anak-anak lain yang tidak melakukan apa pun yang kena imbasnya.
#Jadi sebelum berbuat sesuatu pikirkanlah dahulu akibatnya..Jangan enak di lu tapi ga enak di gue".
Paham?
Cerita ini adalah kisah nyata, narasumber bernama Rini Asmara, seorang sarjana perbankan, mempunyai tiga orang anak dan satu orang cucu.
Beliau tetangga sebelah rumahku.