Namaku Meyra Andini, orang-orang memanggilku dengan sebutan Meymey. Mungkin karena wajahku yang sedikit oriental membuat orang-orang memanggilku Meymey. Padahal aku gadis Jawa tulen. Bapak dan Ibuku asli Jogja, mereka juga awalnya bertetangga. Sejak lahir pun aku juga tinggal di Jogja.
Umurku sekarang 23 tahun, aku masih kuliah dan tinggal menunggu wisuda saja. Saat ini sambil menunggu wisuda aku mengajar di sebuah SMA swasta di dekat tempat tinggalku.
"Mey, nanti Ibu minta tolong kamu mampir ke rumah Bude Retno sepulang ngajar ya" pinta Ibu sewaktu sarapan pagi.
"Nggih, Bu. Untuk apa ya Bu? Kok disuruh mampir ke rumah Bude Retno?" jawabku sedikit ingin tahu dan kaget. Karena selama ini jarang sekali keluargaku berinteraksi dengan keluarga Bude Retno. Ya, tentu saja karena perbedaan derajat kata Bude Retno. Bude Retno bersuamikan bangsawan dan pengusaha sukses. Itu mungkin yang dimaksud Bude berbeda derajat. Padahal Bude Retno adalah kakak kandung Bapakku. Tapi ya begitulah kalau orang kaya mungkin, enggan berinteraksi dengan orang yang sederhana seperti keluargaku.
"Hmmmm, sebenarnya ada apa ya?" gumamku dalam hati. Jujur masih penasaran dengan tujuan Bude Retno menyuruhku mampir ke rumahnya nanti sore. Yaaah, tapi tak apalah aku mampir saja nanti demi nama baik Bapak dan Ibuku.
Sesampainya di sekolah, aku segera mempersiapkan aula untuk mengumpulkan siswa-siswa kelas XI yang akan berwisata ke Bali. Karena aku diminta menjadi pendamping anak-anak kelas XI yang akan berwisata ke Bali.Dan aku bertugas untuk mendampingi kelas XI IPS 2. Kelas paling rame dan paling banyak anak bandelnya. Untuk mengumpulkan mereka ke aula saja aku harus datang ke kelas yang ada di lantai 2 itu sampai tiga kali. Karena sejak diumumkan hanya segelintir siswa yang langsung datang ke aula.Haah, tapi memang harus begitu biar cepat selesai. Sudah diumumkan lewat microphone pun masih banyak yang mengabaikan. Memang harus dijemput ke kelas.
"Bu Memey, besok jam pemberangkatan dari sekolah jam 7 pagi ya" kata Pak Reza. "Perlu dijemput ke rumah ga Bu Memey? Biar ga repot bawa barangnya dan ga perlu bawa motor sendiri besok pagi"lanjut Pak Reza lagi sambil senyum-senyum ga jelas.
"Eeh, ga perlu Pak, saya besok diantar Bapak saya saja" jawabku. Ah, terus terang aku sedikit takut dengan Pak Reza. Karena banyak guru-guru yang bilang kalau Pak Reza naksir aku. Hahaha ganteng sih, tapi agak genit. Sering tebar pesona sama murid-murid perempuan.
"Itu, Pak Reza kenapa Mey kok cemberut gitu keluar dari sini" tanya Aini, salah satu guru yang juga sudah jadi sahabtku.
"Biasa lah , mau usaha hahaha" jawabku sambil tertawa melihat kelakuan Pak Reza yang keluar dari ruangan sambil mengerucutkan bibirnya. Padahal hanya di tolak ajakannya saja. Tapi memang sudah puluhan kali ajakannya aku tolak.
"Kasihan tahu Mey, kenapa ga dikasih kesempatan aja sih Mey"saut Aini. "Entah lah Ai, aku kok masih ga bisa ya suka sama laki-laki. Kamu tahu kan dulu gimana kisah cintaku" jawabku dengan wajah sedikit sedih. Memang sedih sih kalau mengingat kisah percintaanku yang ga jelas. Seandainya......
"Ya sudah lah Mey, jangan diingat lagi, lelaki macam gitu ndak perlu dikenang. Tapi setidaknya buka hatimu Mey, kalau bukan untuk Pak Reza ya untuk laki-laki lain yang mendekatimu nanti" Aini menasihatiku sambil berkemas karena memang sudah jam pulang dari sekolah.
"Aku tahu Ai, tapi kok masih gimana gitu lho. Sudah ah, yuk kita pulang. Aku ada perlu habis ini, disuruh Ibuk ke rumah Bude Retno." jawabku sambil menemasi buku-bukuku ke tas.
"Hah?? Ke rumah Bude Retno? Budemu yang suombongnya minta ampun itu Mey? Halaaah Mey, mau apa coba Budemu itu? Palingan mau pamer" seru Aini kaget tahu aku akan ke rumah Bude Retno. Hahaha temanku yang satu ini memang tahu bagaimana sikap Budeku itu. Malah pernah dulu sekali hampir saja Bude adu mulut dengan Aini. Hanya karena Bude mengejekku ketika membeli mie ayam di tukang mie ayam gerobak. Padahal mie ayam nya uenak pake banget. Tapi dasar Budeku saja yang menganggap makanan itu makanan rakyat jelata. Aini yang memang sering impulsif anaknya langsung saja bereaksi agak keras. Hahaha hampir saja mangkok mie ayam melayang ke wajah Budeku itu. Akhirnya makian-makian dari mulut Budeku membuatku sedikit shock dan hampir saja dibalas makian oleh Aini.
"Assalamualaikum Pak Tono" aku menyapa penjaga rumah Bude Retno.
"Eh, Waalaikumsalam nduk, tumben ke sini" tanya Pak Tono heran dengan kedatanganku. Terakhir kali aku datang ke rumah ini adalah 3 tahun lalu, sewaktu pernikahan Mbak Hanum. Setelah itu tak pernah lagi. Padahal dulu setiap lebaran aku dan keluargaku selalu datang ke rumah Bude Retno. Tapi sejak ucapan Bude sewaktu pernikahan Mbak Hanum keluarga besarku tak pernah lagi ke sana. Bude bilang , kita berlebaran kalau ada acara halal bihalal saja tak perlu ke rumah bikin repot dan kotor katanya. Padahal Bude dianggap yang dituakan karena anak pertama di keluarga Bapak. Ya sudah lah ya ga papa juga. Yang penting masih bisa kumpul-kumpul keluarga di rumah peninggalan Simbah yang ditempati Bulek Ririn adik bungsu Bapak.
"Bude Retno ada Pak? " tanyaku
"Ada nduk, langsung di suruh ke pendopo samping nduk, Juragan Retno akan ke sana nanti, ditunggu dulu" jawab Pak Tono dengan sopan.
Kulangkahkan kakiku ke pendopo di samping rumah Bude Retno. Pendopo yang sejuk, banyak tanaman di pot-pot besar yang bagus itu. Dan sudah dipastikan mahal harganya. Kududukkan badanku di sebuah kursi dari kayu jati yang dihiasi ukiran khas Jawa. Di sampingku ada meja kecil yang di atasnya ada bunga anggrek yang sedang berbunga, cantik sekali bunga warna ungu bersemu putih.
"Ehemmm" deheman Bude membuyarkan lamunan dan kekagumanku dengan keasrian taman bunga Bude. Kuulurkan tanganku untuk meminta salim kepada Bude, tapi Bude tak menanggapinya. Huuh, sabaaar.
"Ada perlu apa Bude memanggil saya kemari?" kuberanikan bersuara bertanya tujuan Bude memintaku datang.
"Langsung saja Mey, Bude cuma mau minta kamu jangan pernah menunggu Satria lagi. Satria itu calonnya Kartika" jawab Bude ketus dan memandang sinis ke arahku.
"Maksud Bude apa ya?" jujur saja aku terkejut dengan pernyataan Bude barusan.
"Halah ndak usah pura-pura bodo kamu Mey, Bude tahu dulu kamu dan Satria pernah dekat. Perlu kamu tahu ya, Satria itu dari kecil sudah dijodohkan dengan Kartika. Dan kemungkinan bulan depan saat Satria pulang studi dari Australia mereka akan dinikahkan." Bude masih bicara dengan ketus dan senyum sinis merendahkanku. Oalah, jadi tentang Satria yang dipermasalahkan Bude.
"Bude tidak perlu khawatir, Meymey sudah tidak mengharapkan Mas Satria lagi. Mey tahu susah menggapai bintang. Mey tidak akan menggamggu hubungan Mbak Tika dan Mas Satria. Bude bisa pegang kata-kata Memey." jawabku menahan sesak di dada. Hampir saja air mataku menetes, hingga kutahan sebisaku. " Kalau tidak ada lagi Mey mau pamit Bude" Ucapku sambil menunduk menahan sesak.
"Ya sudah sana pulang, dan ingat pesen Bude Mey, kalau kamu melanggar lihat saja nanti akibatnya"Bude mengancamku, ahh rasanya ingin aku berteriak tapi tak mungkin aku lakukan. Karena Bapak dan Ibu selalu mengajarkan sopan santun terhadap orang yang lebih tua. Apalagi Bude Retno adalah kakak perempuan Bapakku.Aku hanya bisa mengangguk pelan. Terdengar suara langkah Bude sudah menjauh , segera aku berdiri dari dudukku dan sesegera mungkin keluar dari rumah ini. Rumah yang indah tapi penuh dengan keangkuhan.
Kulajukan sepeda motor maticku pelan. Menyusuri jalanan yang basah karena gerimis. Gerimis sewaktu senja , yang membuatku berkelana ke masa-masa indahku bersama Mas Satria. Gerimis senja yang selalu kusukai kedatangannya. Yang selalu membuatku mengenangnya. Mengenang janjinya, untuk segera menemuiku di titik nol kilometer. Di ujung jalan Malioboro yang penuh kenanganku bersama laki-laki pertama yang pernah mengetuk relung hatiku.
"Janji ya Mey, kita bertemu lagi di sini di waktu senja seperti ini. Aku hanya pergi sementara. Aku akan datang lagi" ucapnya berjanji kepadaku tiga tahun yang lalu. Namun selama tiga tahun pula aku terus merasakan kecewa. Tak pernah sekalipun kudapatkan kabar darinya. Hanya janji di bawah temaram lampu di saat gerimis di waktu senja.
"Huuh sudah Mey jangan diingat lagi, hadapi hari esok saja tak perlu melihat ke belakang" ucapku untuk menyemangati diriku sendiri.
"Sudah pulang nduk?" tanya Bapak yang sedang duduk di depan rumah sambil ngeteh dan makan ubi rebus.
"Sampun pak" kuraih tangan Bapak dan salim kepada Bapak. Kududukkan tubuhku ke kursi bambu di samping Bapak. Kupeluk Bapak sekejap melepas kangen, karena sejak tiga hari lalu tak bertemu Bapak. " Bapak kapan pulang dari Malang?" tanyaku
"Tadi jam 2 an nduk, kamu dari mana jam segini kok baru pulang? Ada acara di sekolah?" tanya Bapak.
"Mboten Pak, tadi disuruh mampir ke rumah Bude Retno." mendengar jawabanku Bapak mengerutkan dahinya, heran mungkin kok aku mampir ke sana. Kuceritakan semua kepada Bapak, karena memang sesari kecil aku diajarkan untuk tidak ada rahasia. Bapak memandangku sedih, aku tahu pasti Bapak berpikir kalau aku masih berhubungan denga Mas Satria. " Bapak tenang saja, Mey sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Mas Satria. Udah putus dari tiga tahun lalu."
Pagi hari aku sudah bersiap di sekolah karena akan berwisata ke Bali beraama murid-muridku. Tak sabar rasanya seru-seruan bareng mereka. Apalagi banyak murid perempuan yang dekat denganku. Kuanggap mereka seperti adikku. Aku anak tunggal, jadi mengenal anak-anak muridku seperti punya adik bagiku.
"Pagiiii Bu Memey" suaranya tak asing lagi. Sudah hampir 2 tahun suara itu selalu terdengar. Suara siapa lagi kalau bukan Pak Reza. "Ehemm, pagiii Bu guru cantik, pagi-pagi kok melamun sih. Atau Bu Memey sedang mengagumi ciptaan Allah dihadapan Bu guru?"perkataan Pak Reza barusan berhasil membuatku tersentak. Aarrghh, aku maluuu, aku ketahuan mengagumi penampilannya kali ini. Keren. Pak Reza berusia 29 tahun, tubuhnya tinggi atletis karena dia seorang guru olah raga. Hari ini terlihat berbeda karena memakai celana jeans dan kaos, terlihat santai tapi keren.
"Eh enggak kok, siapa coba yang ngelamun" jawabku sambil berjalan ke arah Aini. Bener-bener malu aku. Aaaargghh kenapa coba hari ini dia terlihat keren.Haiissh kupukul jidatku sendiri gara-gara malu.
Murid-murid sudah datang semua, mereka dibariskan sesuai kelasnya masing-masing. Bus juga sudah dibagi-bagi sesuai kelasnya. Dan yang membuatku sedikit kaget adalah aku mendampingi anak kelas XI IPS 2 bersama Pak Reza. Padahal setahuku kemarin aku akan bersama Aini. Ah ini pasti Aini yang merubah posisinya. Memang sudah aku ketahui Aini sedikit mendorongku untuk dekat dengan Pak Reza. Tring ada pesan masuk ke HP ku.
' Selamat duduk bareng Pak Reza yaa'
Ah sial, memang benar semua rencana Aini. Mungkin ini akibat dari ceritaku semalam soal permintaan Bude Retno. Aku pun juga sudah hilang harapan dengan Mas Satria. Tapi apa iya dekat dengan Pak Reza adalah salah satu caranya. Memang selama ini aku masih sedikit berharap dengan hubungan masa laluku yang ga jelas itu. Tak ada kata putus yang terucap membuatku ragu untuk membuka hati lagi. Apakah aku terlalu setia? Entahlah??
Bus sudah berjalan meninggalkan jalan depan sekolahan. Aku mengabsen siswa yang ada di dalam bis dalam posisi berdiri di depan bersandar di kursi bis. Bis tiba-tiba mengerem dan aku yang tak siap menahan pun terjatuh tapi tak jadi karena Pak Reza dengan sigap menangkap badanku yang akan jatuh ke belakang.
Ciee cieee riuh sorak sorai ank-anak dalam bis membuat wajahku memerah seperti tomat. Aaargggh malu untuk kedua kalinya dalam sepagi ini. Hadeeuh kenapa coba harus jatuh. Itu pak sopir kenapa ngerem mendadak. Ibuuuk anakmu maluu
"Mey, kamu ga kenapa-kenapa kan?" tanyanya sambil memperlihatkan kekhawatirannya. Ah, dia memanggilku tanpa embel-embel Bu. Kenapa coba?
"Eh, iya apa , Pak Reza? Ahh ga papa kok, cuman kaget aja sedikit." kugaruk tengkukku yang sebenarnya ga gatel. Hadeuuh kenapa jadi salah tingkah begini sih. Pak Reza menarik tanganku untuk duduk di sebelahnya. Aku hanya menurut saja karena memang di situ lah tempat dudukku tadi. Jadi canggung rasanya.
Ini adalah kontak fisik pertama dengan lelaki selain Bapak dan Mas Satria. Dengan Mas Satria dulu pun hanya gandengan tangan saja. Tak pernah lebih dari itu. Sudah dua jam perjalanan, hanya ada diam diantara aku dan Pak Reza. Kalau anak-anak sih dari tadi berisik sekali. Ada yang bernyanyi tapi fals akhirnya sorak sorai memenuhi bis. Kini sudah nampak sepi mungkin mereka sudah lelah dari tadi bercanda terus. Bahkan laki-laki disampingku sudah tertidur. Ku lirik wajahnya, memang tampan, hidungnya bangir, bibirnya merah karena memang tidak merokok, kulitnya bersih, bahkan ketika terpejam seperti itu kok nambah gantengnya. Ups, kenapa coba aku merhatiin dia.
Akhirnya kubuka Hp ku berselancar di medsosku. Hingga tak sengaja ku lihat foto di IG mbak Tika. Mas Satria memeluk Mbak Tika dari belakang . Rasanya sesak sekali melihatnya, tak terasa meleleh juga air mataku. Berarti saat ini memang mereka berdua ada hubungan spesial. Sebenarnya sudah seharusnya aku melupakannya. Tapi entah mengapa sulit sekali. Mungkin benar kata Aini aku harus berani membuka hatiku lagi.
"Ehemm, Mey, eh maaf Bu Memey, ada apa? Kok basah pipinya? Menangis?" tanya Pak Reza sambil memandangiku penasaran.
"Ah nggak kok. Cuman pedes aja karena ngantuk" jawabku cepat sambil kuusap pipiku yang memang benar masih basah. "Pak Reza panggil Mey saja juga boleh kok, kan kita sedang acara santai tidak resmi dan di sekolah" ucapku sedikit malu.
"Bener boleh? hemm, kalau begitu jangan panggil saya Pak Reza juga ya, panggil aja Mas Reza. Oke?" kuacungkun jempolku tanda tak masalah dengan panggilan itu." Tapi tetap di depan anak-anak harus dengan embel-embek Pak atau Bu yaa."
Setelah merubah panggilan memang benar jadi seperti lebih dekat rasanya. Bahkan kita berdua sering berfoto berdua di tempat-tempat wisata yang kami kunjungi. Para guru lain pun selalu saja menggodaku dan Mas Reza. Hemm tak apalah ,asal mereka bahagia saja. Hingga ketika di pantai Kuta, terlihat pemandangan yang membuat hatiku sesak dan sakit. Nampak dua orang sedang berpelukan mesra. Ya, Mbak Tika dan Mas Satria yang kulihat. Mas Reza menghampiriku yang mematung di pinggir pantai sambil memandangi dua manusia yang sedang berpelukan mesra.
"Hey, kok melamun sih? Kenapa? Ingin dipeluk juga ya? Eh tapi tunggu kenapa menangis? Apa saking pengennya dipeluk sampai nangis gitu?" Aahh Mas Reza masih saja bercanda disaat hatiku sedang tak karuan begini. Dan gerimis pun jatuh di pantai Kuta di saat senja pula, jadi teringat lagi kejadian tiga tahun lalu. Air mataku semakin deras saja, hatiku kacau, tak ku jawab panggilan Mas Reza yang sedari tadi sudah menepuk pelan bahuku. Akhirnya tanpa kusadari kupeluk laki-laki dihadapanku itu, dan kutumpahkan tangisanku di dadanya. Tangannya mengelus punggungku pelan seperti menguatkanku. Entah berapa lama aku memeluknya. Dia hanya diam tak berkata apapun seperti mengerti keadaan hatiku yang seperti tersayat sembilu. Setelah kulepas pelukanku kududukkan tubuhku ke pasir pantai Kuta. Mas Reza ikut duduk disampingku sambil menggenggam tanganku.
"Mas Reza ingin tahu mengapa aku menagis tadi? Hiks. Tadi dua orang yang berpelukan adalah laki-laki yang sudah berjanji kepadaku untuk selalu bersama selamanya. Tapi apa yang kulihat hari ini membuatku terluka Mas" kutarik tanganku yang masih digenggamnya. Hingga tanpa sadar mulutku bercerita panjang lebar tentang semuanya. Hingga mengapa aku tak bisa membuka hatiku pada lelaki lain. Plong rasanya, seperti bisul yang baru saja pecah. Mas Reza memandangku tajam, pandangannya tak seperti biasa. Sedetik kemudian dia memelukku sambil berbisik "bolehkah aku menyembuhkan luka hatimu? menemanimu melangkah keluar dari kenangan sedihmu?" Entah mengapa aku mengangguk pelan. Pelukannya mengendur, dan tiba-tiba dikecupnya keningku sekilas. Kupukul dadanya menandakan protesku akan ciumannya barusan.
"Aaahhh Mas Reza, itu pertama kalinya aku dicium. Hisshh, pelukan tadi juga pelukan pertamaku dengan lelaki." Aaarggg aku maluuu. Kutinggalkan dia yang masih terduduk di pasir. Aku berlari ke arah hotel tempat kami menginap. Ya, hotel tempat kami menginap memang sangat dekat dengan pantai Kuta.
Ya Allah, kok masih deg degan yaa, hadeuuh apa iya aku sebenarnya sudah jatuh cinta dengan Mas Reza? Ainiiii aku mau curhat doong. Segera ku cari Aini di kamarnya, setelah bertemu kuceritakan semua yang terjadi tadi di pinggir pantai Kuta ketika gerimis senja. Ah sepertinya memang selalu saja ketika gerimis di senja hari aku mempunyai kenangan.
"Benar kan apa kubilang, Pak Reza itu baik tau Mey, hanya saja memang terlalu mudah bergaul dan kesannya genit. Pasti berubah deh nanti karena ada hati yang harus di jaga.Cie cieee sahabatku punya pacar baruu" Aini memang begitu deh, selalu saja membuat segalanya jadi lebih menyenangkan. Semoga hubunganku dengan Mas Reza akan berbuah manis. Tapi sepertinya aku harus menyelesaikan kisah yang ga jelas itu dengan
Mas Satria.
Sesampainya di rumah, nampak sebuah mobil mewah parkir di halaman samping. Aku mengenalinya , Bude Retno pasti sedang ada di sini.
"Assalamualaikum" sapaku ketika masuk rumah. Yang ada di dalam rumah pun menyahut menjawab salamku. "Waalaikumsalam" Kusalami semua yang ada di ruang tamu kami. Ada pakde Bambang, Bude Retno, Mbak Tika, dan Mas Rama. Entah ada keperluan apa mereka ke sini semua, hanya minus mbak Hanum dan suaminya saja yang tidak hadir.
"Lha ini si Meyra sudah datang, duduk nduk" Pakde menyuruhku duduk disana. "Gini nduk, kamu tahu kan kalau mbakmu Tika, anake Pakde yang nomer dua dijodohkan sama Satria sejak kecil. Lha ini mendekati hari H kok ya malah mau mbatalke lho. Apa gara-gara kamu balik lagi sama Satria?" terus terang aku kaget bukan main. Bukannya dua hari lalu di Bali mereka berpelukan mesra?
" Lho, Mey malah ndak tahu apa-apa Pakde. Saestu. Bener ndak tahu apapun Pakde. Saya juga baru saja pulang dari Bali, mendampingi murid-murid saya wisata ke Bali" jawabku halus sambil mengatur emosiku. Jujur aku marah dituduh seperti itu.
" Halaaah kamu itu Mey, pasti kamu bohong kan? Bilang aja kamu mau sama Satria kan? Yang kaya dan punya segalanya. Bapakmu kan ga bisa kasih kamu apa-apa." hardik Bude yang membuatku berdiri dari dudukku. Dan tak terasa bulir bening sudah menetes dari kedua mataku. Bahkan Bapak dan Ibu sudah berkaca-kaca menahan tangis.
"Mohon maaf Bude, saya memang tidak pernah menemui Mas Satria lagi. Terakhir bertemu ya tiga tahun lalu sebelum dia berangkat ke Aussy." jawabku lantang seperti menantang Bude. Aku tak terima jika hanya masalah ini kok sampai hati merendahkan Bapak dan Ibu. " Kalau Bude mau tahu, bahkan kemarin sewaktu di Bali Mey lihat Mas Satria dan mbak Tika berepelukan mesra kok. Mey ga bohong Bude. Bahkan Mey punya fotonya." Yah waktu itu memang tak sengaja aku memotretnya, karena waktu itu memang sedang mengambil gambar ombak pantai Kuta sewaktu senja. Segera kutunjukkan foto tersebut. Jelas saja Bude dan Pakde kaget bukan main.
" Jadi kemungkinan kesalahan bukan ada di Meyra, mbak Retno." ucap Bapak sambil menggenggam tanganku.
"Kartika, jelaskan semuanya sama Mami!" Budeku sudah diliputi emosi saat ini.
"Maaf Mi" Akhirnya Mbak Tika buka suara walauoun sambil menangis. " Tika ndak cinta sama Mas Satria Mi, hiks , Memang sebulanan ini kita mencoba dekat, tapi ternyata seperti terpaksa Mi. Mohon maaaf Miii, hiks, Kartika mencintai Danar Mi," Mbak Tika menjelaskan sambil tersedu. " Dan kamu Mey, Satria masih mengharapkanmu sebenarnya, tapi dia takut menyakitimu lagi kalau bersama lagi. Satria tak pernah menghubungimu karena permintaan Mami, hiks, maafkan mbak dan Mami ya Mey" Mbak Tika menghambur memelukku. Bude dan Pakde langsung pergi begitu saja , mau tak mau Mbak Tika dan Mas Rama pun mengikutinya. Anak-anak Bude Retno tetap menghormati Bapakku dan Ibukku, meski Mami dan Papinya tak menyukai kami.
Sudah satu bulan sejak kedatangan Bude Retno ke rumah hatiku sudah sedikit lega. Bude sudah tak akan berani menuduhku penyebab gagalnya perjodohan mbak Tika dan mas Satria. Kujalani hidupku seperti biasa, pagi berangkat ke sekokah, mengajar anak-anak. Tapi sejak pulang dari Bali, ada yang berubah sedikit, ya, ada Mas Reza yang selalu membuat suasana menyenangkan. Selalu menemaniku ketika aku ada pelajaran tambahan sampai sore. Bahkan aku melupakan masalahku tentang Mas Satria. Padahal aku ingin menyeleaaikan semuanya dulu sebelum memulai hubungan baru.
"Meyra Andini, jalan yuk, besok kan libur sekolah" ajak Mas Reza. "Mau ya Mey" sambungnya lagi sambil menangkupkan tangan sambil memohon.
"Iya, besok jemput ke rumah aku ya Mas" yah apa salahnya aku menerima ajakannya. Sudah sering aku abaikan ajakan jalan, makan siang bareng tapi masih teguh pendirian mengajakku terus kalau ada kesempatan ngobrol berdua.
Sudah lama ga jalan-jalan santai menyusuri sepanjang jalan Malioboro. Sore itu sangat teduh rasanya, anginnya semilir membuat mood ku sangatlah bagus. Mas Reza berjalan di samping kananku, terkadang tangannya terasa menempel di tanganku.
"Mey, apakah hatimu sudah menerima kehadiranku?" tanyanya tiba- tiba. Aku bingung harus menjawab apa. Tapi memang benar hatiku sudah siap menerimanya. Tapi apa iya secepat ini? Aku masih bertanya-tanya pada hatiku sendiri
.
"Mungkin Mass..." jawabku tertahan ketika mataku melihat sosok yang sudah ingin kuhapus dari hatiku duduk di bangku yang biasa kita duduki tiga tahun lalu. Mas Satria.... Mengapa dia duduk di sana. Mas Reza sadar pandanganku tertahan di satu titik.
"Mey... Meymey...Meyra Andini" hentakan tangan Mas Reza di bahuku menyadarkanku. "Eh iya Mas kenapa?" aku gugup menjawabnya.
"Satria ya Mey?" tanya Mas Reza sambil menunjuk ke arah duduk Mas Satria. Aku hanya mengangguk pelan." Kamu mau menemuinya? Kalau iya yuk aku anterin. Selesaikan apa yang harus diselesaikan Mey, aku ga papa, apapun yang kamu putuskan aku siap Mey"
"Mas Satria..." panggilku pelan. Sedetik kemudian laki-laki itu menatapku.
"Meyra... Maafkan aku Mey... Aku tak pernah mengabarimu. Tapi sekarang kupenuhi janji kita Mey, bertemu di sini di waktu senja." ucapnya penuh rasa penyesalan. Aku masih diam, tak tahu harus bgaimana. Hatiku sudah tak ada getaran lagi untuk Satria.
"Mas, aku sudah memaafkanmu, aku sudah tahu alasanmu tak menghubungiku selama ini. Karena Bude Retno dan orang tuamu kan Mas." Aku mulai duduk di sebelahnya. "Mas, hubungan kita sepertinya harus kita sudahi. Akan banyak yang terluka kalau di teruskan." ucapanku barusan membuatnya menatapku tajam tampak tak percaya aku mengucapkan kalimat itu.
"Kenapa Mey? kenapa? Sekarang sudah tidak ada yang menghalangi Mey, perjodohanku dengan Tika sudah dibatalkan. Lalu apa yang membuatmu memutuskan menyudahi hubungan kita?" jawabnya dengan sedikit emosi. "Jawab Mey! jawab aku Mey, kenapa?" dia mengguncang-guncang bahuku dengan keras. Seketika itu pula Mas Reza mencekal tangannya dan melepaskan tangannya dengan paksa dari kedua bahuku.
"Apa karena laki-laki ini Mey? Aku tahu kamu tadi datang berdua dengan laki-laki itu kan Mey? Apa karena dia Mey kamu memutuskan hubungan kita?"Mas Satria menatapku tajam, nampak menahan amarahnya. Mas Reza menggenggam tanganku lembut seperti menyalurkan kekuatannya untuk menjawab amarah Mas Satria.
"Mas, bukan karena Mas Reza aku memutuskanmu. Ada banyak orang yang akan tersakiti hatinya Mas kalau kita bersama. Bapak Ibuku, orang tua Mas Satria, Mbak Kartika. Kamu tahu Mas, Mbak Tika mencari alasan mencintai Danar kan agar lepas dari perjodohan? Tapi semua itu bohong Mas."
"Maksudmu apa Mey?"
Kemudian kuceritakan semua yang di ceritakan mbak Hanum kepadaku. Mbak Hanum kakak perempuan Mbak Tika, beberapa waktu lalu menemuiku. Ternyata mbak Tika mencintai mas Satria sejak SMA. Itu artinya jauh sebelum aku mengenal Mas Satria.Mbak Tika yang selalu jadi teman curhat mas Satria tentangku selalu menahan perasaannya. Bahkan rela membatalkan pernikahannya, ketika pernikahan dengan lelaki pujaannya sudah di depan mata." Pengorbanan mbak Tika untukmu sudah terlalu banyak Mas. Belajarlah menerima dan membuka hatimu untuk mbak Tika." Hanya itu kalimat terakhirku untuknya. Kutinggalkan dia di bangku favorit kita. Di temaram senja yang mulai turun rintik-rintik hujan membuat suasana menjadi syahdu.
Mas Reza memacu motor sportnya pelan, kupeluk laki-laki yang membuatku nyaman saat ini. Seperti tak ingin kulepaskan lagi pelukanku. Tangannya membelai lembut jemariku yang bertaut di perutnya. Aahhh rasanya tak ingin segera sampai di tempat tujuan. Ingin selamanya seperti ini.
Sudah hampir satu tahun aku dan Mas Reza bersama, semakin menuju ke arah yang serius. Orang tua Mas Reza juga sudah mendatangi rumahku untuk memintaku kepada Bapak dan Ibuku. Akhir tahun aku dan Mas Reza akan menikah. Sungguh tak percaya yang akan mendampingiku adalah laki-laki yang sering kuhindari dulu. Yaa ternyata setelah mengenalnya lebih dekat, hatiku semakin terpatri tak bisa lepas darinya. Kelembutan hatinya, kebaikannya, perhatiannya, sikapnya yang romantis, kejujurannya, kedewasaanya, membuatku jatuh cinta setiap hari. Memang benar paling enak adalah dicintai. Lama-lama juga tumbuh cinta yang sama.
"I love you Mass" bisikku di punggungnya
"I love you more Meyra Andini, Bu guru cantik pujaan hatiku" jawabnya sambil mengecup lembut tanganku. Sambil menatap deburan ombak pantai Kuta, kupeluk erat lengan suamiku. Tak kusangka aku akan menjadi Nyonya Reza Adriansyah. Dua hari yang lalu adalah pernikahanku dengan Mas Reza. Dan sekarang kita honeymoon ke Bali. Di tempat kita berdua mulai dekat dan kucoba membuka hati lagi.
Semuanya nampak seperti mimpi. Masih jelas diingatan ketika setiap hari dia menggodaku di sekolah. Tuhan Maha Baik. Kudapatkan laki-laki baik yang sangat menyayangiku dan keluargaku. Tentang Mas Satria, dia sekarang kembali ke Aussy. Dia sudah berlapang dada melepaskan perasaannya kepadaku. Berjanji untuk membuka hati untuk mbak Tika.
Senja ini diiringi rintik hujan di pantai Kuta kutautkan janjiku untuk selalu bersama suamiku. Dalam keadaan apapun. Gerimis senja kali ini membawaku seperti terbang ke angkasa. Gambaran hidup bahagia bersama Mas Reza , suamiku tercinta sudah terbayang nyata.
"Meyra sayang, kamu mau punya anak berapa nanti?
" Dua saja ya Mas, Cowok dan cewek" jawabku sambil berlari kecil di atas pasir pantai. Mas Reza mengejarku dan mengkap tubuhku. Kemudia diangkat tubuhku sambil di putar-putar seperti anak kecil yang bermain bersama ayahnya.
"I love you Meyra Andiniiiiii" teriak Mas Reza
"I love you moreee Suamiku tersayang Reza Ardiansyaaaah"
TAMAT