Ananda Sekar Ayu, gadis belia berusia 15 tahun. Seorang penari tradisional yang namanya cukup dikenal. Ia menjuarai berbagai lomba dan tak jarang ia ikut ambil bagian dalam sebuah pementasan tari. Sekar mulai menekuni seni tari tradisional sejak ia duduk dibangku sekolah dasar. Saat ini Sekar dipercaya oleh sanggar tempat ia berlatih sebagai Asisten Guru. “ mba sekar” pekik Seno seraya memeluk tubuh sang kakak erat seakan ini adalah perjumpaan terakhirnya, “ dik Seno.. ada apa?” tanya Sekar heran. Seno tak menjawab ia hanya diam menatap manik mata Sekar dalam-dalam. “ loh Mba Sekar kok ndak langsung ganti baju?” tanya Ibu Sekar dengan logat khas jawa seraya menatap heran putra dan putrinya. “ ini lo Bu, Dik Seno ndak mau lepas Bu.” Adu Sekar pada sang Ibu. “ halah to Nang, kayak Mba mu ini mau pergi jauh aja.. sudah itu lo Mba mu biar mandi dulu.” Titah Sang Ibu, “ iya iya Bu..” patuh Seno “ Mba.. malam ini Seno tidur sama Mba ya..” ujar Seno “ kenapa to dik? Kamu ini aneh aneh aja..” tanya Sekar seraya menatap sang Adik heran. “ ndak papa ya Bu, boleh to Bu?” tanya Seno pada sang Ibu. “ terserah mbak mu to le, masak tanya sama ibu..” sahut Ibu seraya meninggalkan Seno seorang diri diruang tamu. Sekar bukanlah gadis yang berasal dari keluarga yang berkecukupan, ayah nya seorang karyawan swasta sedang ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Sekar memiliki seorang adik bernama Seno Bagaskara yang saat ini duduk di bangku sekolah dasar. Rumah Sekar jauh dari kata mewah hanya sebuah rumah sederhana yang memiliki 3 kamar saja, rumah bernuansa coklat itu selalu terkesan damai dan tenang. “ kamu kenapa to le?” tanya Ibu pada Seno yang sedari tadi terlihat gelisah. “ gak papa og Bu, Seno ke kamar mba Sekar dulu ya Bu.” Sahut Seno segera beranjak meninggalkan sang Ibu dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk didadanya. Malam berganti pagi, sesuai dengan permintaan Seno, malam kemarin ia tidur bersama dengan sang kakak.
“ mbak,” panggil Seno saat melihat sang Kakak tengah bersiap menuntut ilmu, “ apa to Dik?” sahut Sekar tanpa menatap sang lawan bicara “ mbakk..” ulang Seno kembali “ apa to dik..” sahut Sekar jengah “ Mbak...” panggil Seno lagi, “ kamu ki lo Dik, ada apa to? Daritadi panggil-panggil terus, ndak jelas kamu kie, mbak buru-buru ini lo.” Sahut Sekar ketus. Seno pergi meninggalkan Sekar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. “ ishh dasar Seno ndak jelas.” Sungut Sekar “ kenapa to Mbak? Pagi-pagi kok sudah ngomel-ngomel ndak bagus ahh.” Peringat sang Ibu “ itu lo bu, Seno dari tadi panggil-panggil gak jelas. Pas ditanya malah pergi.” Adu Sekar pada sang Ibu seraya berjalan mendekati sang ibu. “ ya sudah mungkin Adikmu cuma iseng saja, sudahlah Mbak. Pagi-pagi ndak bagus marah-marah terus,” peringat sang Ayah yang tengah asyik menyesap kopi hitam dan koran yang bertengger manis ditangannya. “ ya sudahlah, Sekar berangkat dulu ya Pak Bu..” pamit Sekar seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya. “ ya sudah kamu hati-hati ya Mbak. Nanti kamu ada latihan to Mbak?” tanya sang Ibu pada Sekar. “ iya Bu, nanti Sekar latihan dulu ya Bu, mungkin pulangnya agak telat ya Bu..” jelas Sekar pada Ibunya. “ iya Mbak hati hati ya,,” peringat sang Ayah. “ Assalamualaikumm..” ucap Sekar. “ walaikumsalam” sahut Ayah dan Ibu Sekar.
“ Sekarrr..” pekik seorang gadis yang mengenakan seragam yang sama dengan Sekar. “ Ayuu..” sahut Sekar seraya menghentikan langkahnya. “ pagi pagi udah masam aja mukamu Kar, kenapa?” tanya Ayu seusai mensejajarkan posisi tubuhnya “ gak papa kok, kamu baru sampai? Tumben? Biasanya paling awal.” Sahut Sekar “ iya tadi tu angkutannya telat lewat gitu Kar, jadi aku radak telat deh.” Jelas Ayu. “ kamu tumben rambutnya di kepang?” imbuh Ayu heran. “ ngak papa lagi pengen aja emang kenapa to Yu? Gak cocok ya?” selidik Sekar. “ gak papa, cocok kok. Bagus gitu. Besuk-besuk gitu aja.” Usul Ayu, Sekar hanya mengangguk sebagai jawabannya tanpa berniat membalas usulan sang sahabat. Sekar dan Ayu sudah berteman sejak ia duduk dibangku sekolah menengah pertama, Ayu sosok sahabat yang tak mau terlalu ikut campur dengan kehidupan Sekar, hal itu yang membuat Sekar nyaman berteman dengan Ayu. Sekar bukanlah gadis yang mudah bergaul dengan teman sebayanya. Bukan ia pemilih ia hanya tak suka memiliki banyak teman yang tak tulus berteman denganya. Sekar dan Ayu memiliki hobi yang sama yaitu menari. Sekar dan Ayu sering mengikuti lomba dan pementasan tari bersama hal itu membuat mereka menjadi tambah dekat dan akrab. Ayu mengetahui semua kelemahan dan kekuatan Sekar begitupun sebaliknya. Walau Ayu dan Sekar memiliki sifat yang berbeda. Sekar seorang yang pendiam dan tak banyak bicara ia hanya akan bicara ketika ia merasa perlu bersuara. Sedang Ayu, Ayu sangat senang berbicara dan berceloteh, Ayu gadis yang sangat ceria dan ramah berbeda dengan Sekar. Sekar akan ramah hanya pada orang tertentu dan akan bersikap dingin pada orang yang tak ia kenal atau baru ia kenal. Banyak yang mengatakan jika Sekar dan Ayu bak pinang dibelah dua. Mereka memiliki paras yang serupa. “ Kar, kamu mau jajan gak?” tawar Ayu pada Sekar yang tengah merapikan peralatan belajarnya. “ gak Yu, kamu aja Yu.” Sahut Sekar tanpa menoleh “ mau titip?” tawar Ayu “ gak usah Yu gak papa, lagi nabung nih Yu..” jelas Sekar seraya menatap sang sahabat. “ oke, aku ke kantin dulu ya Kar..” pamit Ayu. “hmm” sahut Sekar cuek. Sekar bukanlah tipe manusia yang perduli terhadap sekitar ia terkesan cuek dan tak perduli terhadap sekitar. “ Karrr!!” pekik Ayu seraya berlari tergopoh-gopoh. “ kenapa?” sahut Sekar tanpa mengalihkan pandangannya “aku hosh hoshh aku hosh hosh” ucap Ayu dengan nafas tersengal “ nafas dulu yang bener baru ngomong..” peringat Sekar seraya menatap Ayu. Ayu menghirup udara dalam setelahnya is buang dengan kasar. “ aku liat ada perlombaan tari di jakarta Kar.. bulan depan.. ikut yok?” jelas Ayu setelah ia mengatur nafas. “ yang bener kamu Yu?” tanya Sekar antusias “ beneran Kar.. tapi Kar..” sahut Ayu menggantung. “ tapi apa Yu?” tanya Sekar antusias “ tapi harus sendiri-sendiri, jadi kayak nari tunggal gitu Kar.. gimana?” ucap Ayu lesu. Pasalnya selama ini Sekar dan Ayu selalu tampil berdua. Selama mereka tampil berdua mereka selalu mendapatkan juara. “ ya udah gak papa. Kita coba aja. siapa tau rejeki kan Yu.. kamu mau kan ikut?” ajak Sekar tenang. “ tapikann..” ujar Ayu menatap Sekar ragu. “ gak papa kalau aku gak menang berarti rejeki kamu Yu. Lagian kita bisa latihan bareng walau nanti konsep kita beda..” jelas Sekar seraya menatap sang sahabat mencoba meyakinkan. Ayu tampak berfikir, ia masih ragu dengan tariannya. Pasalnya selama ini Sekar lah yang selalu membantu penampilan Ayu. Sekar yang selalu menentukan konsep tarinya. Ayu tak yakin dengan kemampuan yang ia miliki. “ jadi gimana Yu?” ulang Sekar menatap Ayu penuh harap.
Sudah 2 pekan ini Ayu dan Sekar berlatih dengan tekun. Sekar membantu Ayu begitupun sebaliknya. Semua berjalan sebagaimana mestinya. “ Kar, nanti ke Jakartanya biar dianter sama Ayahku ya..” usul Ayu berjalan berdampingan. Sekar hanya mengangguk. “ Mba Sekar!!!” pekik Seno yang tengah diseberang jalan lengkap dengan seragam sekolahnya. Seno berjalan menyebrangi jalan mendekati Sekar yang tengah menatapnya heran. Tanpa disadari Seno sebuah motor melintas dengan kecepatan penuh, Sekar menyadari kehadiran motor tersebut “ Dikk Senooooo awass!!” pekik Sekar seraya berlari mendekati Seno. Seno terdiam ia menatap motor yang berjarak tak jauh darinya. Sekar mendorong tubuh sang Adik “ brrakkkkk...” Sekar tak dapat menghindari motor tersebut. Kini Sekar terbaring lemah di aspal dengan darah segar yang mengalir dari tubuhnya. “ Mbaa Sekaaar!!” pekik Seno mendekati Sekar. Ayu mencoba mencari bantuan untuk menyelamatkan Sekar.
Disinilah mereka sekarang, semua menatap ruang UGD was-was. “ pakkk pie iki pakk..” ucap Ibu gundah. “ wis Bu, tenang..” ucap Ayah Sekar tenang. Jauh didalam hatinya ia merasa khawatir dengan keadaan sang putri namun ia mencoba untuk tak menambah kekhawatiran. “ bagaimana dok keadaan putri saya?” tanya Ayah tenang “ keadaannya sudah stabil hanya saja salah satu kakinya mengalami keretakan yang cukup serius.” Ujar Dokter tenang. Ayah dan Ibu menghela nafas berat, mengetahui keadaan sang putri. Seno, ia hanya diam tak merespon apapun. Ia merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa sang kakak. Jika saja ia tak memaksakan diri mengunjungi tempat berlatih sang kakak, dan andai saja ia lebih berhati-hati saat menyebrangi jalan, Sekar tak akan mengalami hal naas ini. Ingin Seno menggantikan posisi sang Kakak yang kini tengah terbaring dengan kaki yang terbalut gips. “ Nang,, sudah ndak usah difikirkan. Ini sudah takdirnya nang..” nasihat Ayah seraya mengusap kepala Seno. Seno tak bergeming ia hanya diam memandang Sekar dalam-dalam. “inikah arti firasat itu Mbak? Maafkan aku Mbaa” batin Seno. Sudah lebih satu minggu Seno mendiamkan Sekar. Ia masih terus menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa Sekar. Ia selalu berusaha menghindar dari Sekar. Sekar tak pernah mneyalahkan Seno, ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Bukankah sebagai manusia biasa kita hanya bisa berencana? Sedangkan sisanya biarkan Tuhan kita yang menentukan apa yang terbaik untuk kita. Manusia hanyalah tokoh dalam dunia ini, sedangkan sutradara hidup telah menuliskan dan mengatur jalannya cerita. Bagaimana awal dan akhir cerita ini. Senangkah atau justru sebaliknya. Jika bisa meminta ia akan meminta jalan cerita sesuai dengan apa yang dia harapkan. Begitulah manusia, menginginkan mengatur segalanya hingga ia lupa ia hanyalah segelintir tokoh.
“ Dikk..” panggil Sekar seraya berjalan tertatih mendekati Seno yang tengah bersiap mengenakan sepatu sekolahnya. Seno hanya menatapnya sekilas dan berlari meninggalkan Sekar tanpa sepatah katapun. Tak dapat Sekar pungkiri ia menemukan rasa bersalah pada manik mata Seno. Sungguh Sekar membenci keadaan seperti ini. Ia merindukan Seno yang dahulu yang selalu ceria, selalu mengganggunya, selalu jahil dan manja padanya. “ sudah Mba, biarkan saja dulu. Mungkin adikmu butuh waktu.” Nasihat Ibu seraya mengusap punggung Sekar yang terbalut seragam putih abu-abu. Setelah sepekan berdiam diri dirumah, Sekar memutuskan untuk kembali masuk sekolah. Ia tak mau tertinggal pelajaran lebih jauh. “ sudah hampir seminggu Bu, tapi Dik Seno tetap ndak mau bicara sama Sekar Bu..” keluh Sekar halus “ Sekar ndak pernah menyalahkan Dik Seno Bu.. Sekar ikhlas dengan keadaan Sekar sekarang Bu.. justru Sekar senang karena bukan Dik Seno yang mengalami ini Bu..” jelas Sekar parau. “ maaf Mbaa” lirih Seno yang sedari tadi berdiri di ujung pagar rumahnya. “ ya sudah nanti coba Ibu yang bicara dengan adik mu ya. Sudah sekarang kamu berangkat ya Mba. Hati-hati.. Bapak mu sudah menunggu itu..” ucap Ibu lembut. Sekar hanya mengangguk. Dengan tertatih Sekar berjalan mendekati sang Ayah yang telah siap dengan motor nya.
“ Sekarrrr!!!” pekik Ayu berlari mendekati Sekar. “ hay Yu..” sapa Sekar ramah “ aku seneng kamu udah sekolah lagi. Maaf ya Kar. Aku ndak sempat kerumahmu untuk nengokin. Aku lagi fokus ke perlombaan kan tinggal satu pekan lagi.” Jelas Ayu tak enak hati. “ iya Yu, ndak papa lagian aku ndak mau ngerepotin kamu. Gimana persiapannya?” tanya Sekar seraya berjalan beriringan dengan Ayu. “ 90% Kar. Sedikit lagi aku selesai dan mantap. Abis itu besuk mau cari propertinya.. tapi Kar,, gak papa kan aku tetep ikut lomba?” tanya Ayu hati-hati. “ iya Yu ndak papa. Nanti aku tetap kesana kok buat lihat sahabat aku tampil..” ujar Sekar ramah dengan senyum yang selalu ia kembangkan. Ia mencoba berdamai dengan batinnya. Sejatinya ia ingin sekali bisa turut andil dalam perlombaan yang diselenggarakan satu tahun sekali itu, namun apalah daya. Tuhan berkehendak lain. Ia harus ikhlas melepaskan mimpinya untuk menjadi murid dari seorang penari tradisional ternama di Indonesia. “ ehh ndak usah Kar, kamu harus banyak istirahat kakimu ini jangan dibuat terlalu banyak bergerak dulu, nanti lama pemulihannya..” cegah Ayu panik. Sekar memandang Ayu curiga namun ia segera menghempaskan pikiran negatifnya. Apa yang dikatakan Ayu memang ada benarnya, jika terlalu banyak bergerak ia akan lebih lama untuk pulih. Sekar hanya mengangguk menanggapi usulan Ayu. Ayu tersenyum puas menerima jawaban dari Sekar.
“ Yu, kamu hari ini latihan kan?” tanya Sekar pada Ayu yang tengah merapikan alat tulisnya. “ iya Kar..” sahut Ayu tak mengalihkan pandangannya “ aku ikut ya.. aku pengen liat..” usul Sekar semangat “ ehh ehh gak usah Kar, kamu kan harus istirahat Kar.. lagian nanti pasti selesainya sampai malam soalnya aku mau matengin konsep lagi..” tolak Ayu cepat membuat Sekar menatapnya curiga, namun tak urung ia menuruti ucapan sang sahabat mencoba mengabaikan perasaan dan pikirannya. Ayu segera meninggalkan Sekar tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Dikk..” sapa Sekar saat berpapasan dengan Seno didapur rumahnya. Lagi dan lagi Seno hanya menatapnya sekilas dan berlalu melewatinya. “ Dik mau sampai kapan kamu ngehindarin Mba terus?” tanya Sekar jengah dengan sikap sang Adik yang terus menerus menghindari Sekar. “ Mba ndak papa loh Dik..” lanjut Sekar. Seno hanya mematung tanpa membalikan badannya. “ Dik ayo to Dik ngomong..” bujuk Sekar mendekati Seno. “ kecelakaan itu..” ucap Seno menggantung, Sekar menunggu kelanjutan ucapan Seno tanpa berniat memotongnya, “ Mba Ayu..” ucap Seno menatap Sekar dalam-dalam. “ Mba Ayu kenapa Dik?” tanya Sekar menatap Seno. Seno tak menjawab ia berlari memasuki kamarnya meninggalkan Sekar dengan segala rasa penasarannya. “ Kecelakaan? Ayu? Ada apa to?” monolog Sekar pada dirinya sendiri.
Sore berganti malam, Sekar masih memikirkan ucapan Seno. Perubahan sikap Ayu pun tak luput dari pikirannya. “ Mbaa..” panggil Ibu yang berdiri diambang pintu kamarnya. “ Mbaa..” ulang Ibu karena Sekar tak jua merespon panggilannya. “ehh iyaa Bu, ada apa?” tanya Sekar terbata “ kamu yang ada apa Mba? Ada yang menganggu pikiran Mba? Dik Seno? Atauu..” ucap Ibu menggantung “ ndak Bu, Sekar ndak papa. Ibu ada apa panggil Sekar?” tanya Sekar tenang. Ia menyembunyikan apa yang tega menganggu pikirannya, ia tak mau menambah beban Ibu dan Ayahnya. “ Ndak papa. Ibu tadi sudah mencoba bicara dengan adikmu..” ucap Ibu seraya duduk ditepi ranjang Sekar. “ lalu?” tanya Sekar penasaran. “ adikmu belum mau bicara Mba. Dia Cuma bilang Mba Ayu. Ibu juga ndak tau maksutnya mungkin Seno kangen sama Ayu kan sudah lama ia tak mampir kesini. “ jelas Ibu membuat Sekar mengerutkan keningnya. Ia yakin bukan itu maksud Seno, ada hal lain yang tak bisa Seno ungkapkan. Sekar yakin Seno mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan Ayu. “ Mbaa.. malah melamun. Melamun apa toh?” tegur Ibu pada Sekar yang tengah berkutat pada pikirannya. “ ehh enggak kok Bu. Iya Bu besuk Sekar ajak Ayu kerumah Bu..” ujar Sekar yang mendapat persetujuan sang Ibu. “ iya Mba.. ibu berharap dengan nanti Ayu yang mau kesini Seno jadi mau bicara ya Mba..” ucap Ibu penuh harap, Sekar hanya tersenyum tipis.
“ Yuuu.. “ panggil Sekar pada Ayu yang sudah duduk dibangkunya. “ kamu tumben sudah sampai?” tanya Sekar heran, pasalnya saat ini jam dinding masih menunjukkan pukul 06.20. masih terlalu pagi bagi Ayu yang selalu datang hampir bel berbunyi itu. “ ya gak papa to Kar, sekali-sekali berangkat awal..” sahut Ayu singkat “ ohh iyaa, nanti sepulang sekolah bisakah kamu kerumahku Yu? Sepertinya Seno merindukanmu..” ujar Sekar membuat Ayu menatapnya tajam. “ gak bisa Kar, aku kan harus latihan. Kamu gak mau dukung aku ya?” selidik Ayu kesal. “ bukan gitu Yu.. sebentar saja. Sudah hampir sepekan ini Seno selalu diam, tak mau berbicara dengan siapa pun. Kemaren Seno menyebut namamu. Jadi aku dan Ibu sepakat mengundangmu kerumahku. Siapa tau Seno mau bicara setelah bertemu denganmu.” Jelas Sekar panjang lebar. “ tetap saja aku ndak bisa Kar. Kamu tau sendiri kan perlombaan tinggal satu pekan. Aku harus berlatih maksimal Kar. Lagian itu kan Adikmu, kenapa harus aku yang repot.” Sungut Ayu seraya berlalu meninggalkan Sekar. “ kamu kenapa to Yu?” tanya Sekar pada dirinya sendiri. Sekar menghela nafas kasar. Belakangan ini, Ayu mejadi menjauhinya ia tak tau apa penyebabnya. Sore ini Sekar memberanikan diri mengikuti Ayu.
“ Sanggar Tari Ceria..”
Disinilah Sekar sekarang berdiri menatap sang sahabat tengah berlatih. Sekar menatap sang sahabat nanar. Pasalnya konsep tarian yang di perlihatkan Ayu adalah konsep yang dibuat Sekar. Sekar baru mengerti sekarang kenapa Ayu tak mengijinkan dirinya menemani Ayu berlatih. Dengan memberanikan diri Sekar berjalan mendekati Ayu. “ Yuu..” sapa Sekar lirih “ Sekar!” pekik Ayu terkejut. “ kamu ngapain kesini?” tanya Ayu masih dengan nada tingginya “ jadi ini alasan kenapa aku gak boleh menemani kamu?” tanya Sekar tenang tak ada nada tinggi disana, ia berusaha mengendalikan emosinya. “ sekarang kamu udah tau kan? Bagus. Aku ndak harus berpura-pura lagi.” Sahut Ayu meremehkan “ kenapa?” tanya Sekar “ kenapa? Kamu masih tanya aku kenapa?” ucap Ayu meninggi. “ ini semua karena kamu Sekar!! Aku berlatih siang malam agar bisa menjadi assiten penari disini tapi lagi-lagi kamu yang mendapatkannya, aku berlatih siang malam untuk bisa meraih juara tapi lagi-lagi kamu yang menang, aku berusaha mati-matian agar bisa dipandang oleh pihak sekolah namun lagi-lagi kamu Sekar. Cuma kamu yang mereka lihat, Cuma kamu yang mereka anggap. Sedang aku? Aku hanyalah cadangan Sekar!!” ucap Ayu kesal, Sekar mundur selangkah mendengar pernyataan dari sang sahabat, “ kita sudah bersahabat lama Ayu. Kenapa kamu tega?” ujar Sekar tenang, ia tak mau membalas ucapan Ayu dengan emosi. “ hah? Sahabat?” sinis Ayu “ kamu pikir aku mau sahabatan sama kamu? Aku mau sahabatan sama kamu karena kamu pintar Sekar, selain itu jangan harap.” Ucap Ayu seraya berlalu meninggalkan Sekar yang masih terdiam mendengar penuturan Ayu. Nafas Sekar memburu, ia masih belum bisa mengumpulkan kesadarannya. Ucapan Ayu bagaikan petir disiang bolong. Yang menyambar separuh jiwanya. Ia tak menyangka orang yang ia percaya selama ini menutupi dirinya dengan topeng manisnya. Semua orang yang sedang berlatih di sanggar tersebut menatap Sekar kasihan. Setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya Sekar berbalik dan segera meninggalkan sanggar. “ Mba..” panggil Seno yang kini tengah berdiri menatap Sang Kakak dalam-dalam. Seno berlari menghampiri Sekar dan menubruk tubuh Sekar. Sekar yang tak siap dengan tindakan Seno hampir terhuyung jika saja tubuhnya tidak tertahan oleh seorang gadis kecil. Sekar menengok dan tersenyum tipis. “ Mba gak papa Dik.. kita pulang aja ya..” ajak Sekar seraya mengurai dekapan Seno, menatap Seno teduh mencoba menyakinkan sang adik jika ia tak masalah dengan nasibnya kini. “ hay Kak..” sapa gadis manis disamping Sekar “ hay, terimakasih ya..” ucap Sekar lembut “ sama-sama Kak..” sahutnya lembut “ Anindiya Kak.. kakak?” ucapnya menjulurkan tangan. “ Sekar.. kamu berlatih disini?” tanya Sekar seraya menerima uluran tangan Anindiya. Gadis cantik berkacamata, dengan rambut sebahu yang ia biarkan terurai. “ rencananya Kak. Tapi sepertinya tidak jadi.” Ucapnya santai, Sekar menatapnya heran “ sebenarnya Anin kesini ingin bertemu dengan Kak Ananda. Tapi sepertinya ia tidak datang. Sudah beberapa kali aku kesini tapi tak pernah bertemu dengannya. Mungkin memang tidak rejekiku bisa berlatih dengannya.” Jelas Anindiya lesu. “ memangnya kenapa dengan kak Ananda? Sepertinya kamu ingin sekali bertemu dengannya?” tanya Sekar pada Anindiya yang tengah menatap awan “ aku suka dengan kak Ananda. Gerakan tarinya sangatlah gemulai, lentik jarinya, gemulai tubuhnya. Aku sangat menginginkan bertemu dengannya dan berlatih dengannya. Aku ingin menjadi seperti kak Ananda. Tapi sepertinya aku kurang beruntung.” Jelasnya seraya menerawang, mendengar penuturan tulus Anindiya membuat Sekar seketika melupakan masalahnya. “gimana kalo Anindiya kakak antar bertemu dengan kak Ananda?” usul Sekar membuat Anindiya menatapnya tak percaya “ benarkah?” sahut Anindiya semangat. “ iyaa..” sahut Sekar dengan senyuman manisnya. “ ayo kak..” ajak Anindiya menarik sebelah tangan Sekar “ ehh enggak sekarang dong.” Cegah Sekar membuat Anindiya menatapnya heran “ kenapa?” tanyanya polos “ Kak Anandanya sedang ada urusan sekarang. Bagaimana jika esok sore.” Usul Sekar “ apa Kakak bisa dipercaya?” selidik Anindiya membuat Sekar terkekeh kecil “ yaa. Kita bertemu besuk di aula balai desa? Bagaimana?” usul Sekar “ baik aku akan pegang ucapan kakak..” ucap Anindiya dan berlalu meninggalkan Sekar dan Seno. “ ayo Dik kita pulang..” ajak Sekar seraya menuntun sebelah tangan Seno. Seno hanya diam tak menolak ucapan Sekar.
Hari ini Ayu tak lagi duduk berdampingan dengannya. Setelah kejadian sore itu, Ayu tak lagi mau berbicara dengannya seakan ia tak pernah mengenal Sekar. Sekar tak mau ambil pusing, walau jauh dalam lubuk hatinya ia merasa kehilangan. Namun, ini adalah pilihan Ayu, ia harus menghargai pilihan sahabatnya. Walau ia tak mempermasalahkan dengan Ayu yang mencuri konsepnya, toh ia tak akan bisa mengikuti lomba itu lagi. Ia harus membuang jauh-jauh mimpinya. Bagaimanapun juga ia tak akan bisa menggapai mimpinya. Dibanding dengan konsep, Sekar sungguh menginginkan Ayu kembali padanya. Namun sepertinya itu hanyalah khayalan semata. Pasalnya, sekarang saja Ayu sudah tak mau melihatnya, tak mau lagi bertegur sapa dengannya. Sekar menghela nafasnya berat, berusaha membuang masalahnya bersamaan dengan nafas yang ia keluarkan. Namun nyatanya hal itu hanya membuat dadanya terasa sesak oleh kenangan kenangan indah yang ia lalui bersama Sekar, berputar diingatannya bak biang lala yang tak dapat dihentikan dan dikendalikan.
Sesuai perjanjiannya dengan Anindiya, kini Sekar tengah terduduk menanti Anindiya datang. Tak lama gadis yang ditunggunya datang, baru beberapa langkah gadis itu memicingkan matanya menatap Sekar bak musuh. Sekar hanya menatap perubahan raut muka Anindiya gemas. “ kakak bohong!” tuduh Anindiya saat ia berdiri tepat di hadapan Sekar yang tengah menahan tawanya. “ bohong?” ulang Sekar tak paham “ iya bohong, mana kak Ananda?” tanya Anindiya kesal. “ Anin yakin ingin bertemu dengan kak Ananda? Bagaimana jika keadaan Kak Ananda tak sesempurna yang Anindiya bayangkan?” tanya Sekar serius, membuat Anindiya menatapnya curiga “ bagaimana jika Kak Ananda tidak lagi bisa menari?” imbuh Sekar lemas, “ maksud kakak apasih?” tanya Anindiya kesal. “ pokoknya bagaimanapun keadaannya Kak Ananda Anin mau bertemu.” Ungkap Anindiya penuh penekanan. Sekar menghela nafas lega mendengar jawaban Anindiya. “ kalau begitu ayoo.” Ucap Sekar berjalan mendahuli Anindiya.
“ kak kita mau kemana sih?” tanya Anindiya “ kakak gak lagi bohongin aku kan?” selidik Anindiya. Tak ada habisnya Anindiya membombardir Sekar dengan berjuta kecurigaannya. Pasalnya Sekar mengajak Anindiya berjalan menuju rumahnya. Sekar berjalan dengan susah payah. Kakinya belum sembuh betul, namun ia sudah tak mau lagi mengenakan tongkatnya.
“ sampai..” ucap Sekar seraya menoleh menatap Anindiya tenang. Berbeda dengan Anindiya yang kini tengah menatapnya kesal. “ kakak ngerjain Nin ya?” selidik Anindiya. “ udah ayo masuk dulu..” ajak Sekar mengabaikan ucapan Anindiya. Anindiya mengikuti perintah Sekar ia berjalan mengikuti Sekar memasuki rumahnya.
“ Assalamualaikum..” pekik Sekar, “ Walaikumsallam, Mbaa sudah pulang.. kamu sama siapa itu Mba?” tanya Ibu menyadari Sekar tak pulang seorang diri. “ kenalin bu, ini Anindiya. Dia mau ketemu sama Ananda bu.” Jelas Sekar. “ Anindiya Bu. Apa kak Ananda nya ada Bu?” ucap Anindiya polos. “ Ananda Sekar Ayu nak?” tanya Ibu heran “ iya Bu. Kak Ananda Sekar Ayu yang penari itu lo bu.” Ucap Anindiya semangat “ ehh tunggu Ananda Sekar Ayu.. Kakak namanya Sekar.. jadi..” lanjut Anindiya menyadari ucapannya. Ibu dan Sekar hanya tersenyum menatap Anindiya yang begitu polosnya. “jadi?” ulang Sekar menatap Anindiya gemas. “ kak Sekar Kak Ananda ya?” pekik Anindiya tak sadar, Sekar hanya mengangguk “ kenapa kakak gak bilang daritadi.” Gerutu Anindiya menggemaskan. “ jadi tadi kakak bilang kalau kakak gak bakal bisa nari lagi karena ini..” tebak Anindiya hati-hati seraya menatap kaki Sekar yang masih terbalut gips dipergelangannya. Sekar hanya mengangguk. “ Kakak masih bisa nari!! Kakak pasti masih bisa!!” ucap Anindiya semangat. “ kakak jangan nyerah!! Kakak harus ikut lomba itu. Anin yakin kakak pasti bisa! Kakak harus coba!!” ucap Anindiya semangat. “ Anin akan bantu Kakak!!” imbuh Anindiya menyakinkan Sekar yang tengah menunduk lesu. “ kakak tau Tuhan tidak akan lupa menyematkan tawa ditengah tangis!” lanjut Anindiya. “ Kakak!!!” pekik Anindiya kesal karena sedari tadi ia didiamkan oleh Sekar. “ gak bisa Nin. Kakak gak akan bisa lagi. Semuanya sudah terlambat.” Ucap Sekar melemah. “ kenapa? Karena konsep pentas kakak dicuri oleh Kak Ayu?” tebak Anindiya membuat Sekar menatapnya tajam. Tatapan Sekar tak membuat nyali Anindiya surut “ Kakak tau! Kenapa Nin mengidolakan Kakak?” tanya Anindiya menerawang, Sekar hanya menggeleng “ karena Kakak selalu punya berbagai ide, kakak selalu memiliki konsep-konsep tarian yang luar biasa. Konsep-konsep yang tak banyak orang memikirkannya.” Jelas Anindiya menatap Sekar. “ jangan karena satu kelemahan membuat kakak takut menghadapi dunia. Dunia tidak seluas daun kelor kak. Kakak masih punya banyak kelebihan, kenapa hanya karena satu kelemahan menjadikan kakak lemah?” ucap Anindiya tegas. “ kalau gitu Anin pamit dulu. Besuk Anin kesini lagi. Anin harap kakak mempertimbangkan ucapan Anin!.” Pamit Anindiya pada Sekar yang masih berdiam diri.
“jangan karena satu kelemahan membuat kakak takut menghadapi dunia. Dunia tidak seluas daun kelor kak. Kakak masih punya banyak kelebihan, kenapa hanya karena satu kelemahan menjadikan kakak lemah?” ucapan Anindiya terus berputar dikepala Sekar bak cd rusak. Hampir tengah malam, mata Sekar masih terjaga. Ia terus memikirkan ucapan gadis kecil yang ia temui beberapa hari lalu. Gadis kecil yang tak mundur menerima tatapan tajamnya.
“Assalamualaikumm..” pekik Anindiya seraya mengetuk pintu rumah Sekar sopan. “ walaikumsalam.. nak Anin. Masuk Nak.. sebentar ya ibu panggilkan Sekar dulu.” Ucap ibu setelah mempersilahkan Anindiya masuk kedalam rumahnya.
“ Mbakk ada Anin didepan.. temuin dulu Mba..” ucap Ibu pada Sekar yang baru saja merapikan tempat tidurnya. “ iya Bu,” sahut Sekar seraya menoleh.
“ jadi gimana Kak?” todong Anindiya begitu Sekar berdiri dihadapannya. “ ck, basa basi dulu Nin..” peringat Sekar. “ Anin gak suka basa basi.” Jelas Anindiya membuat Sekar membulatkan matanya sempurna.
“ Kak gerakannya ini aja..” usul Anindiya. Ya setelah berdebat antara hati dan pikiran Sekar memutuskan untuk tidak menyerah meraih mimpinya. Berhasil atau tidak ia tetap harus mencoba. “ emang kakak mau kalah sebelum berperang? Menyerah sebelum berjuang?” sindirian Anindiya terus terngiang dikepalanya membuatnya bangkit menjadi Sekar yang dulu. Sekar yang tak terbantahkan, Sekar yang bertekad kuat untuk meraih mimpinya.
“ Kak.. semangat! pelombaannya tinggal lusa. Kakak harus yakin kalau kakak bisa. Jangan mau kalah dengan ego sendiri. Sejatinya bukan orang lainlah yang menjadi musuh dan lawan kita. Terkadang diri sendirilah yang menjadi alasan terbesar dari kegagalan.” Ucap Anindiya tegas. “ Anin yakin Kakak pasti bisa. Anin percaya sama kakak!!” ucap Anindiya semangat, Sekar menatap Anindiya tak percaya. Bagaimana bisa gadis kecil seperti Anindiya dapat berkata sedewasa itu. Sekar akui Anindiyalah yang membuatnya bangkit dan percaya pada kemampuannya. “ besuk sepulang sekolah Anin kesini lagi kak. Anin akan bantu kakak sebisa Anin.” Ucap Anindiya yakin, Sekar hanya mengangguk menanggapi ucapan Anindiya.
Hubungan Ayu dan Sekar bertambah renggang. Ayu selalu menghindari Sekar, begitupun dengan Sekar. Sekar rasa Ayu memang membutuhkan waktu sendiri. “ Sekar.. kamu sama Ayu kenapa?” tanya salah satu teman kelas Sekar. “ gak papa kok Na.. aku dan Ayu sedang butuh ruang untuk sendiri.” Sahut Sekar tenang. Ayu mendengar ucapan Sekar, ia sebenarnya tak ingin persahabatannya terpisah. Namun ia malu mengakuinya. Ia tak sanggup jika Sekar mengetahui rahasia besar hidupnya. Ia tak siap jika Sekar nantinya akan mengetahui hal besar itu.
“Kak.. kita jalan sekarang. Ayo Ayah, Ibu, Seno.” Ajak Anindiya. Hari ini perhelatan lomba tari terbesar diselenggarakan. Sekar telah bertekad apapun hasilnya ia akan terima, setidaknya ia telah mencoba walau mungkin hasilnya tak sesuai dengen ekspektasinya. “ Kakak percaya sama Anin. Kalau kakak pasti bisa. Walau Kakak hanya berlatih beberapa hari namun Anin yakin Kakak akan menampilkan dan mengeluarkan semua kemampuan yang kakak punya.” Ucap Anindiya “ terimakasih ya Gadis mungil ku..” ucap Sekar seraya memeluk tubuh mungil Anindiya. Anindiya mengangguk dalam pelukan Sekar.
Sekar berjalan tertatih, kakinya belum sembuh betul namun berkat bantuan dan semangat dari orang terdekatnya ia memiliki kekuatan lebih seakan kakinya bukanlah penghalang. Sekar dan Ayu berpapasan. Ayu terkejut mendapati Sekar yang memakai pakaian dan atribut tari. Ingin rasa ia memeluk sang sahabat namun lagi lagi ia urungkan niatnya. Ia segera berlalu melewati Sekar tanpa meninggalkan sepatah katapun. Sekar menghela nafas panjang melihat sikap sahabatnya. Jauh dalam lubuk hatinya ia menginginkan Ayu kembali seperti dulu.
“ baiklah peserta selanjutnya kita panggilkan Ananda Sekar Ayu..” ucap pembawa acara.
Sekar menaiki panggung, alunan musik tradisional mulai memenuhi ruangan, tubuh Sekar mulai mengayun mengikuti irama music. Dengan kaki tertatih Sekar bergerak sesuai dengan apa yang telah ia siapkan dalam waktu tiga hari. Ia berhenti sejenak menyesuaikan musik dan menatap tribun penoton. Pandangannya terhenti pada Ayu yang menatapnya dengan tatapan yang tak dapat ia artikan. Pandangan beralih pada Anindiya yang berada disamping keluarganya ia mengepalkan tangan semangat membuat Sekar tersenyum tipis. Musik kembali mengalun tubuh Sekar kembali bergerak gemulai mengikuti irama musik. Penampilan Sekar mampu menghipnotis penonton dan juri. Dengan kaki yang masih terbalut gips, Sekar terus bergerak mengikuti alunan musik. Terdengar riuh tepuk tangan menggema membuat Sekar menatap tak percaya. Namun lagi lagi ia harus menelan rasa pahit bahwa Ayu masih setia duduk tak bergerak.
“ Kak Sekar!!” pekik Anindiya seraya berlari mendekati Sekar yang tengah berjalan tertatih. Karena kini kakinya terasa nyeri. “ Kakak luar biasa!! Kakak keren banget! Anin kayak lagi liat penari profesional!!” puji Anindiya semangat. “ terimakasih ya Anin, ini kan berkat kamu. Berkat Ibu, Ayah dan Dik Seno” ucap Sekar seraya menatap mereka dengan mata berkaca-kaca.
Kini tibalah pada penampilan Ayu, Ayu tampak gemulai mengikuti alunan musik. Suara riuh tepuk tangan penonton menggema menandakan keberhasilan penampilan Ayu. Sekar menatap Ayu bangga. Konsep yang ia ciptakan ditampilkan oleh sahabatnya sendiri. Ada rasa bangga menyelimuti hatinya.
“kak..” panggil Anindiya membuat Sekar menoleh padanya. “ aku ada sesuatu. Kakak liat ini ya. Dan Anin harap setelah melihat ini Kak Sekar bisa menemukan jawbaan pertanyaan yang selama ini menghantui kakak.” Ujar Anindiya seraya memberikan ponselnya. Setelahnya Anindiya pergi meninggalkan Sekar yang termenung.
“ hai Yu..” sapa Sekar pada Ayu saat mereka berpapasan. “ selamat ya.” Ucap Sekar seraya menjulurkan tangannya. Ayu hanya diam tak merespon apapun. “ terimakasih juga sudah menunjukkan siapa kamu sebenarnya.” Lanjut Sekar tenang. Ayu memberanikan menatap Sekar. Ada raut takut dan menyesal yang terpancar dari manik matanya, Sekar menangkap pandangannya. “ terimakasih karena sudah menjadi bagian dari hidupku, sudah mengajarkanku arti sahabat sesungguhnya. Terimakasih juga telah mempermudah langkahku menggapai mimpi.” Imbuh Sekar tenang namun memancarkan aura mencekam. “ hari itu, jika aku tidak menyelamatkan Seno mungkin aku tidak akan tau semuanya. Aku tidak akan tau siapa teman sesungguhnya dan siapa musuh yang bertopeng teman.” Lanjut Sekar yang kini mengalihkan pandangannya pada Ayah Ayu yang tengah menatapnya tak suka. “ dari awal memang Sekar kan targetnya bukan Seno ataupun Ayu.” Jelas Sekar mengalihkan pandangannya pada ibu Ayu. “ Tuhan memang benar menciptakan Surga dan Neraka. Agar kita tau mana kebaikan dan mana kalian.” Ucap Sekar tenang namun menusuk. Ayu menunduk dalam-dalam. Sekar telah mengetahui kenyataannya, Sekar sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. “ mencuri ide orang lain karena tak yakin dengan apa yang dia miliki. Aneh memang tidak ikut merawat tanaman namun ingin merasakan hasilnya.” Ucap Sekar dingin. “ maa aaff.” Cicit Ayu memberanikan diri. “ maaf? Untuk apa?” tanya Sekar dingin. “ aku tahu aku salah, aku tahu aku jahat.” Ucap Ayu menunduk dalam-dalam menyadari kesalahannya. Kini Sekar menatapnya datar. Ia salah menyangka sahabatnya, Ayu terjerat oleh rasa iri didalam dirinya. Ayah Ayu termakan oleh rasa dendamnya. Ibu Ayu terbakar rasa cemburu. Bukankah mereka keluarga yang harmonis. Hidup didalam lingkaran yang dipenuhi oleh hal-hal yang menjauhkannya pada rasa syukur. “ benar. Selama ini engkau memeluk ku erat, ku kira engkau benar-benar menjadi teman ku, ternyata tujuanmu untuk menancapkan pisau lebih dalam.” Ucap Sekar datar namun menusuk. Setelahnya Sekar pergi meninggalkan Ayu dan keluarganya yang tengah menunduk dalam-dalam menahan malu. Semua yang diucapkan Sekar benar adanya, mereka terlalu larut dengan masa lalu hingga mereka lupa akan masa sekarang.
Sekar menghela nafas kasar mengingat ucapan yang ia lontarkan pada sahabatnya, jauh dalam lubuk hatinya ia sudah memaafkan segala kesalahan sahabatnya. Ia iklhas menerima semuanya. Langkah Sekar terhenti ketika sebuah tangan melingkar dikakinya. Dengan isak tangis yang memilukan hati. “ maaf Kar, maafkan aku. Aku tau aku salah.. sungguh Kar..” ucap Ayu memilukan hati. Tubuh Sekar kaku, lidahnya seakan kelu. Dengan sekali sentakan ia melepaskan tangan Ayu dan berjalan meninggalkannya.
“ selamat tinggal kawan, sungguh aku sudah memaafkanmu. Namun aku tak bisa lagi bersama denganmu. Ku harap engkau belajar dari kesalahanmu dan berdamailah dengan masa lalumu.” Ucap Sekar dalam hati.
Disini ditempat ini semua kenangan dan masa lalunya akan ia tanggalkan. Ia akan memulai hidup baru bersama dengan tokoh dan jalan cerita baru. Mengukir mimpi yang sudah ia letakan setinggi langit. Hujan gerimis mengiringi kepergian Sekar. Langkah demi langkah Sekar meninggalkan kehidupan lamanya. Dengan senyuman miris Sekar berjalan dengan langkah tertatih. Meninggalkan Ayu yang menatapnya menyesal.