"Berita terkini. Seorang wanita berinisial AR yang menghilang sejak seminggu lalu telah ditemukan mayatnya kemarin pagi di sungai X. Saat ditemukan, mayat korban sudah tidak terbentuk dengan bagian tubuh yang terpotong-potong. Kasus ini diduga sama seperti kasus sebelumnya di mana korban diculik kemudian ditemukan dalam kondisi mengenaskan—"
Aina mematikan radio yang sedang menyiarkan berita di ponselnya. Gadis berambut sebahu dengan helai cokelat tua itu bertopang dagu di atas meja lalu menghela napas.
"Sungguh berita yang tidak bermutu. Apa mereka tidak bosan mengulang berita dengan kasus yang sama?" gerutu Aina sembari menggerakkan jemari tangan kanannya yang memainkan ponsel. Ponsel itu dilempar dan diputar-putarkannya. Tak peduli beberapa kali ponsel itu terjatuh di meja dan menimbulkan suara bantingan yang cukup berisik.
Gadis berpenampilan seperti nerd—dengan rambut hitam panjang yang dikepang serta kacamata tebal ber-frame bulat—yang semula asyik membaca buku sembari mendengarkan radio, kini menoleh ke Aina yang ada di sebelahnya.
"Kenapa dimatikan? Itu berita yang penting, kau tahu?" celetuk Rawne, menatap Aina kesal.
Aina melirik Rawne sekilas sebelum memutar-mutar ponselnya lagi. "Jadi, berita yang menyiarkan kasus yang sama selama empat bulan itu berita yang penting?" tanya Aina dengan nada malas.
"Tidak," jawab Rawne kalem, "tapi kasus ini cukup menarik."
Aina bergidik dan menatap ngeri gadis yang telah menjadi sahabatnya sejak semester pertama.
"Di saat yang lain ketakutan akan bernasib sama seperti korban yang diberitakan, kau malah tertarik dengan kasus itu? Yang benar saja!" Aina menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak mengerti dengan apa yang dipikirkan mahasiswi psikologi semester empat tersebut.
Rawne menatap Aina jengkel. "Bukan begitu. Kalau aku berhasil memecahkan kasus ini, aku pasti akan mendapatkan nilai bagus dari Mr. Rudolf!" kata Rawne yang diakhiri dengan semangat membara.
Aine speechless.
Jadi, karena nilai, toh?
Namun, tak dapat dipungkiri, sahabatnya itu sepertinya benar-benar sudah gila.
"Tidak, tidak. Bukannya memecahkan, yang ada kau yang akan menjadi korbannya," kata Aina lalu memutar bola matanya.
Rawne terdiam sejenak. Perkataan Aina ada benarnya. Bagaimana jika dirinya sendiri yang menjadi korban?
Selama empat bulan ini, terjadi kasus penculikan dan pembunuhan di kota Ancient. Kabarnya, korban akan diculik terlebih dahulu kemudian dibunuh lalu mayatnya dibuang di sembarang tempat. Sejauh ini korban yang hilang tidak pernah kembali dengan utuh. Mayat yang ditemukan selalu terpotong-potong anggota tubuhnya.
Kasus ini benar-benar meresahkan warga kota Ancient karena beberapa polisi, intelijen, serta para detektif yang dikerahkan untuk menangani kasus ini tidak pernah kembali lagi dengan selamat.
"Lebih baik kau tidak perlu ikut campur, Rawne. Kita bahkan tidak tahu siapa dalang di balik kasus ini. Apakah pelakunya satu orang atau beberapa orang. Apakah ia perempuan atau laki-laki. Who's know?"
Aina menatap Rawne serius. Raut khawatir tersirat di wajah cantiknya.
Rawne mendengkus. "Kau terlalu berlebihan, Aina. Aku bisa melindungi diriku sendiri. Kau lupa aku bisa bela diri dan menggunakan pistol?" kata Rawne jengkel.
Aina sangat tahu akan hal itu. Rawne adalah seorang sosiopat yang mungkin tidak jauh berbeda dengan psikopat yang sedang berkeliaran mencari mangsa di luar sana. Namun, kasus ini berbeda. Kasus ini terlalu berbahaya untuk mereka.
Aina mulai geram dengan sifat sahabatnya yang keras kepala. "Aku tahu. Tapi menculik, menyiksa, membunuh, memotong-motong bagian tubuh korbannya, lalu membuang mayatnya di sembarang tempat. Kau pikir pelakunya orang biasa? Tidak! Orang itu pastilah psikopat!"
Rawne baru hendak membuka mulut sebelum ekor matanya melirik ke arah lain. Saat ini mereka sedang ada di kafetaria kampus. Suasana yang awalnya sepi kini ricuh karena kedatangan sesosok gadis yang dikerubungi oleh banyak orang.
Rawne mencibir.
Seperti gula yang dikerubungi semut saja.
Sementara Rawne mengalihkan fokus ke kerumunan orang, Aina terus mengoceh mengenai betapa bahayanya kasus itu.
"Kau dengar tidak, sih, apa yang kukatakan?" tanya Aina begitu menyadari sang lawan bicara mengalihkan fokus. Gadis beriris hazel itu menatap Rawne kesal.
Rawne menoleh sebentar kemudian menatap kerumunan orang lagi tanpa memedulikan Aina yang seakan ingin mencabiknya.
"Siapa dia?" Jari telunjuk kanan Rawne menunjuk seorang gadis di tengah-tengah kerumunan.
Aina mengikuti arah pandang Rawne dan membelalakan mata sekilas. Namun dengan cepat ia optimalkan.
"Enia, kan?"
"Huh? Siapa?" Rawne bertanya dengan ekspresi datar.
"Dia Enia. Mahasiswi psikologi semester 4. Seangkatan dengan kita, kan?" jawab Aina bingung.
"O." Mulut Rawne membulat.
" ... Jangan bilang kau tidak tahu siapa dia?"
Rawne mengangguk pelan dan hal itu sontak membuat Aina membelalakan matanya.
"EEEH?" Aina memekik. Namun ia segera membekap mulutnya begitu beberapa orang menoleh ke arahnya. "Serius? Kau tidak tahu mahasiswi tercantik dan tercerdas di kampus ini? Dia sudah terkenal sejak semester satu, lho!" lanjutnya tidak percaya.
"Begitu? Tapi aku tidak pernah sekali pun melihatnya, tuh."
"Yang benar saja! Kalian, kan, satu jurusan. Masa kau tidak tahu? Ya setidaknya, kau pasti pernah mendengar rumor tentangnya, kan?"
"Tidak. Aku bahkan baru pertama kali mendengar namanya dan melihatnya secara langsung," pungkas Rawne yang membuat Aina tersenyum miris sembari menepuk-nepuk pundak sahabatnya.
"Mainmu kurang jauh, Rawn."
Rawne segera menepis tangan Aina dari pundaknya. "Singkirkan tanganmu dari pundakku, Na. Aku tidak butuh belas kasihmu."
Jleb.
Untunglah Aina sudah terbiasa menghadapi makhluk antisosial yang satu ini.
"Padahal aku bertanya padamu bukan karena itu," celetuk Rawne.
"Lalu?"
Rawne menatap Aina intens. "Dia mirip denganmu."
"Hah? Mirip dari mana?"
"Entahlah. Aku merasa ada bagian dari dirinya yang mirip denganmu."
Aina tercenung sesaat kemudian tergelak. "Yang benar saja! Mirip di bagian mana? Tampang? Tidak. Dia lebih cantik dariku. Cerdas? Bukan. Dia selalu membawa pulang piala, sedangkan aku tidak pernah sekali pun. Sifat? Jelas sangat berbeda. Dia sangat baik, ramah, dan anggun. Benar-benar mencerminkan gadis baik-baik, kan? Berbeda denganku yang bar-bar ini."
Rawne mengangguk sekilas. "Hmm, kau benar. Mungkin hanya perasaanku saja."
***
Entah apa yang dilamunkan oleh Rawne, gadis itu kini sedang bertopang dagu dengan kedua tangannya dan menatap kosong papan tulis. Ia bahkan tak memedulikan kondisi ruangan yang lebih ramai dari biasanya.
"Hai, Rawne."
Rawne tersentak kaget kala seseorang menyapanya tiba-tiba. Gadis cantik dengan tubuh ideal duduk di samping Rawne dengan santai. Tak peduli dengan Rawne yang menatapnya risi.
Gadis itu berambut cokelat ikal terjuntai hingga punggung. Iris biru lautnya menatap Rawne tertarik. Gadis yang selalu memakai aksesori berwarna merah dan tas selempang khas hanyalah Aurey Linea Razer. Primadona kedua setelah Enia. Teman satu jurusan Rawne yang selalu mendekatinya.
"Tumben sekali ya dia," celetuk Aurey tiba-tiba. Gadis itu bertopang dagu dengan sebelah tangan dan menatap malas. Sepertinya ia sedang badmood hari ini.
Rawne mengerutkan keningnya. "Dia?"
"Iya, dia." Aurey menunjuk Enia yang duduk di barisan depan dikerumuni banyak mahasiswa.
Eh? Sejak kapan dia ada di situ? Rawne bahkan tak menyadarinya.
"Enia itu, padahal hanya pernah beberapa kali masuk kuliah saja. Tapi dia begitu tenar, ya? Sekalinya masuk langsung mendapat banyak perhatian." Aurey berkata dengan nada setengah sinis dan kagum.
"Tapi tidak heran, sih. Enia sangat cantik. Dia juga cerdas dan berbakat. Selain itu, kabarnya dia juga akan menjadi penerus atau kepala keluarga. Benar-benar wanita yang sempurna," lanjut Aurey.
Rawne mengangkat satu alisnya. Bukankah tadi Aurey tampak tak suka dengan Enia? Tapi kenapa sekarang dia malah memuji Enia habis-habisan?
"Tapi, aku tidak suka dia."
Pernyataan kebencian itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Aurey yang biasanya menyukai semua orang.
Mustahil, pikir Rawne, _
seorang happy virus bisa tidak menyukai seseorang?
"Tidak biasanya," heran Rawne.
"Aku juga tidak tahu kenapa. Tapi dia terlihat menyebalkan di mataku."
Rawne tidak merespons. Ia masih menatap Aurey datar.
"Oh ya, ngomong-ngomong, apa kau tahu tentang kasus yang menghebohkan selama empat bulan terakhir?" tanya Aurey tiba-tiba.
"Tentu saja. Kenapa?"
"Ah, tidak ...," Aurey menjeda, "hanya saja, aku pernah melihat—"
"Lihat apa?"
Aurey tidak menjawab. Ekor matanya menjelajah ke segala penjuru ruangan lalu terhenti di kerumunan orang.
"Pelaku—"
Aurey tiba-tiba menghentikan ucapannya. Netranya membulat dan entah sejak kapan keringat mulai bercucuran dari dahinya.
Rawne mengernyit. Ia menatap sekeliling, tapi tidak ada yang aneh. Aurey tampak kaget dan gelisah. Sebenarnya, apa yang Aurey takutkan?
Rawne bingung sendiri. Apa apa dengan Aurey? Rawne memang tidak terlalu dekat dengannya. Tapi Aurey yang seperti ini adalah sesuatu yang aneh. Rawne yakin pasti Aurey tahu sesuatu tentang kasus itu.
"Pelaku? Kau ingin membicarakan apa?
Aurey menggeleng cepat. "Tidak, tidak jadi. Abaikan saja yang tadi!" katanya sembari mengibas-ibaskan tangannya lalu bangkit berdiri.
"Aku tahu ini aneh, tapi berhati-hatilah dengan Vascher."
Setelah berkata demikian, Aurey meninggalkan Rawne yang mematung di tempat.
Vascher? Namanya tidak asing. Tapi, siapa, ya? batin Rawne berpikir. Ah, sial. Aku tidak ingat.
***
Langit sudah gelap kala Rawne keluar dari gedung kampus. Kawasan kampus juga sudah sangat sepi. Hanya ada embusan angin yang menusuk kulit dan bunyi jangkrik yang terdengar mengganggu.
Sudah pukul berapa ini?
Rawne mengecek arloji yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam sudah menunjukkan angka delapan. Pantas suasana benar-benar gelap dan suram.
Rawne membetulkan letak kacamatanya yang merosot. Kakinya melangkah menuju parkiran kampus.
Gadis nerd itu merutuk dalam hati. Ia tertidur di perpustakaan sejak pukul empat sore dan baru terbangun pukul setengah delapan tadi karena mendengar suara jeritan yang samar. Sial, sahabatnya hari ini sedang tidak kuliah karena jurusan serta mata kuliah mereka berbeda.
Baru saja Rawne ingin memasuki kawasan parkir, langkahnya terhenti karena mendengar suara jeritan lagi. Kali ini terdengar lebih jelas dari sebelumnya.
Awalnya Rawne tidak memedulikan suara itu. Namun suara tadi benar-benar mengganggunya. Suara melengking khas wanita itu menusuk indra pendengarannya. Suaranya yang sumbang membuat Rawne berpikir suara itu adalah lagu pengantar kematian.
Rawne celingak-celinguk mencari sumber suara. Ia mencari arah datangnya suara dan sampai di ujung gedung kampus sebelah parkiran.
Suara itu terdengar lagi. Namun sekarang jauh lebih melengking dan dapat merusak gendang telinga. Rawne mengendap-endap dengan hati-hati lalu mencoba mengintip dari balik tembok. Ia penasaran dengan apa yang terjadi.
Akan tetapi, Rawne justru terbelalak dan membekap mulutnya begitu melihat pemandangan yang tidak mengenakkan.
Seorang gadis terkapar di tanah dengan tubuh bersimbah darah. Kedua kaki dan tangannya sudah terlepas dari tubuh. Terpisah seperti potongan puzzle. Wajahnya nyaris hancur dengan otak dan bola mata yang sudah tidak berada di tempatnya, tetapi Rawne masih dapat mengenali sang empu. Lagi pula, dari pakaian yang dikenakan dan tas selempang merah yang tergeletak di sampingnya, membuat Rawne bertambah yakin siapa orang itu.
Aurey.
Rawne menggeram dalam hati. Namun matanya was-was begitu menyadari ada seseorang lagi di sana. Rawne tak dapat melihat rupanya dengan jelas karena penerangan yang redup. Ditambah lagi, sosok itu mengenakan pakaian serba hitam dan hoodie yang menutupi setengah wajahnya. Namun jika melihat postur tubuhnya, Rawne sangat yakin orang itu perempuan.
Rawne menajamkan penglihatan. Ekor matanya menangkap tangan kiri orang itu yang menggenggam sebuah belati berwarna perak dengan corak khusus. Huruf AV terukir di tengahnya. Tak lupa dengan cairan merah kental yang melumuri belati itu.
Di dalam kegelapan, samar-samar Rawne melihat sosok itu menyeringai.
"Lalat pengganggu memang seharusnya dimusnahkan."
Suaranya begitu halus dan anggun, tetapi juga menyeramkan di saat yang bersamaan.
Suara itu tampak tidak asing di telinga Rawne. Namun Rawne tidak ingin mengingatnya. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala dan bergidik.
Tidak, tidak. Aku tidak boleh ikut campur dalam masalah ini!
Rawne melangkah mundur kemudian menjauh dari tempat itu dengan mengendap. Sesekali ia menoleh ke belakang. Syukurlah sosok itu tidak mengejarnya.
Akhirnya, sampailah Rawne di parkiran. Gadis itu merogoh kunci mobil dari saku celananya lalu mengendarai mobil meninggalkan kawasan kampus.
Rawne mendesah.
Benar-benar ... kuharap aku masih bermimpi dan kejadian ini tidak nyata, doa Rawne dalam hati.
***
Rawne melangkah dengan gontai menuju kelasnya. Gadis itu segera duduk di bangkunya begitu memasuki kelas. Aina yang kebetulan duduk di sebelah Rawne menaikkan sebelah alisnya. Kantong mata berwarna kehitaman terlihat jelas di bawah kelopak mata Rawne.
"Ada apa, Rawn?" tanya Aina heran. Pasalnya, sahabatnya itu tampak seperti orang yang kekurangan tidur.
Rawne menggeleng. Kejadian kemarin malam masih terngiang-ngiang di kepalanya. Ia bahkan sampai tidak bisa tidur karena memikirkan mayat Aurey dan pembunuh yang mungkin saja akan mengincarnya.
Rawne tampak gelisah dan itu membuat Aina khawatir. Gadis nerd itu celingak-celinguk seakan mencari sesuatu. Tapi suasana begitu tenang seperti tidak terjadi sesuatu yang menghebohkan.
"Kau ini kenapa, sih? Tidak biasanya kau seperti ini," kata Aina.
"A-aurey—" Rawne berkata panik dengan nada rendah. "—di mana dia?!"
"Aurey?" Aina menautkan kedua alisnya. Dua detik kemudian, wajahnya tampak sendu.
"Ah, kudengar tadi pagi petugas kampus menemukan mayat yang sudah terpotong-potong di dalam drum di sebelah gedung kampus. Kau tahu? Ternyata mayat itu adalah Aurey!" cerita Aina antara sedih dan ngeri. "Aku tidak menyangka psikopat itu sampai mencari korban ke kampus ini juga. Hii ... menyeramkan!"
Rawne tercengang.
Apa? Jadi, kejadian yang kemarin malam dilihatnya itu betulan? Ingin sekali rasanya Rawne menenggelamkan dirinya.
"Tunggu, maksudmu pelakunya adalah orang yang sama seperti kasus penculikan dan penemuan potongan mayat?" tanya Rawne.
Aina mengangguk. "Mungkin saja. Motif mereka sama, kan? Menculik korban lalu menyiksa dan memotong bagian tubuh korban sampai mati. Tak lupa membuangnya di segala tempat hingga kota Ancient dipenuhi bau anyir," pungkas Aina dengan jengkel.
***
Rawne melangkah di lorong yang sepi dengan tergesa. Sudah seminggu berlalu semenjak kematian Aurey dan belum ada tanda-tanda kasus itu terjadi lagi. Entah kenapa hal itu membuat Rawne sedikit khawatir.
"Ah!"
Rawne tidak sengaja menabrak bahu seseorang hingga barang-barang yang dibawa orang itu terjatuh berserakan.
"Maafkan aku," ucap Rawne pelan.
Rawne hendak meraih untuk membantu orang itu membereskan barang-barangnya. Akan tetapi, tangannya terhenti begitu melihat sebuah benda yang mirip belati berwarna perak. Rawne tercenung.
"Ah, tidak usah! Biar aku saja!" tolak orang itu.
Rawne mengangkat wajah dan menatap orang itu yang kini berjongkok di hadapannya.
"Aina?"
Orang itu mengernyit, sedangkan Rawne tersentak kecil.
"Maaf, mungkin kau salah orang."
Rawne menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ah, ya, maafkan aku. Habisnya kau mirip dengan seseorang yang kukenal."
Orang itu mengangguk maklum lalu membereskan barang-barangnya.
"Aku duluan, ya. Lain kali hati-hati."
"Ya."
Rawne mengendikkan bahu. Padahal Rawne sudah meminta maaf dan menawarkan bantuan. Tapi orang itu tampaknya sedang terburu-buru.
Rawne tak begitu mempermasalahkannya. Namun ia merasa cukup malu karena baru kali ini Rawne salah mengenali orang. Jika dilihat dari dekat, Enia lumayan mirip dengan Aina. Rambut sebahu berwarna hitam dengan iris hijau memesona.
Tersadar akan tujuannya yang tertunda, Rawne kemudian melanjutkan perjalanannya menuju perpustakaan kampus.
***
Kini Rawne sedang berjongkok di depan ruang perpustakaan menunggu kehadiran seseorang ditemani dengan seekor kucing betina berambut putih.
Rawne mengelus-elus tengkuk kucing itu dengan lembut. "Marie, enak?" tanya Rawne yang dibalas dengkuran dari Marie, si kucing betina berambut putih.
Rawne tersenyum kecil. Dikeluarkannya silet dari saku sweater lalu mulai menggores tubuh Marie yang dilapisi rambut putih. Marie mengeong cukup kencang. Rambutnya yang putih kini kotor oleh bercak merah.
Marie tidak menjauh. Kucing betina itu terlalu takut untuk kabur. Goresan silet memang sudah menjadi makanan sehari-harinya.
Rawne meletakkan jari telunjuknya di depan bibir dan mendesis. "Ssst, jangan berisik, Marie! Kita ada di perpustakaan. Kau tidak boleh berisik."
Marie berhenti mengeong dan menatap Rawne takut.
Pintu ruang perpustakaan tiba-tiba saja dibuka. Rawne menoleh. Orang yang ditunggunya akhirnya muncul.
"Maaf membuatmu menunggu lama—" Pria dengan tinggi semampai dan wajah rupawan itu mendekati Rawne. "—Lin."
Pria itu berhenti tepat di hadapan Rawne. Rawne menghentikan aksinya dan mendongak menatap dosennya yang masih berkepala dua itu.
"Tidak kok," jawab Rawne dengan datar.
Rawne mengeluarkan plester kemudian mengobati luka yang tadi ia ciptakan di tubuh Marie, sedangkan Marie duduk dengan manis.
Mr. Rudolf menatap Rawne dan Marie bergantian lalu ikut berjongkok.
"Sedang bermain bersama Marie, hm?" tanya Mr. Rudolf sembari mengelus-elus tubuh Marie.
"Hmm," gumam Rawne.
Merasa ada peluang untuk kabur karena Rawne mengalihkan perhatiannya, Marie segera berlari menjauh.
"Yah, kabur." Rawne mendesah kecewa. Ia bangkit berdiri lalu bersedekap. "Ada apa sampai-sampai kau memanggilku, Kak? Tentu bukan karena hanya ingin mengucapkan hati-hati padaku, 'kan?" tanya Rawne dengan tatapan juga nada bicara yang tajam.
Mr. Rudolf ikut berdiri lalu tersenyum miring. "Kau benar, aku memanggilmu bukan untuk itu."
"Lalu?"
"Tentang kasus itu," balas Mr. Rudolf, "kuberi kau satu petunjuk. Pelakunya adalah Mrs. Vascher. Bunuhlah dia sebelum dia membunuhmu."
Informasi yang lebih mirip seperti perintah itu membuat Rawne bergeming. Membunuh? Rawne tahu kakaknya yang satu ini memang gila. Namun ia tidak tahu kakaknya segila ini.
"Dan kau pikir aku percaya?"
"Ya," sahut Mr. Rudolf mantap. "Aku yakin dalam lubuk hatimu kau pasti akan memastikannya, 'kan?"
"Kenapa kau bisa seyakin itu?"
Mr. Rudolf mengulas senyum tipis. "Karena kau mirip denganku."
Rawne berdecih. Sampai sekarang Rawne masih bertanya-tanya. Kenapa pria berusia dua puluh tujuh tahun ini bisa menjadi kakak kandungnya? Rawne tak sudi menjadi adik dari seorang psikopat.
"Aku hanya ingin menyampaikan itu." Mr. Rudolf memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Aku tidak berharap kau terbunuh, sih. Tapi semoga berhasil, Lin."
Setelah mengatakan itu, Mr. Rudolf pamit meninggalkan Rawne sendirian.
"Meow."
Marie datang menghampiri Rawne. Kucing itu mengeong dan mengelus-eluskan kepalanya di kaki Rawne.
Rawne berjongkok. "Hei, habis ke mana kau, Marie?" tanya Rawne.
Baru saja ia hendak mengelus tengkuk Marie, kucing betina itu berlari menjauh. Karena tak ingin kehilangan Marie lagi, Rawne mengejarnya. Marie seperti membawanya ke suatu tempat. Dan benar saja, Marie membawanya sampai di depan gudang penyimpanan barang. Letaknya benar-benar di ujung kampus. Tempat yang sepi dan jauh dari keramaian. Cocok untuk membunuh—
Rawne tertegun. Membunuh? Benar juga.
Rawne melangkah masuk, sedangkan Marie kabur lagi. Pencahayaan di gudang penyimpanan sangat redup dan itu cukup mengganggu penglihatan Rawne.
Gadis itu mengendap-endap sebelum teriakan yang memekakan telinga terdengar. Rawne menghampiri ke asal suara. Rawne bisa melihat tiga orang—dua orang gadis dan seorang pria—yang sedang diikat di tiang bangunan.
Seorang lagi ada di sana, membelakangi Rawne. Begitu orang itu berbalik, Rawne dapat melihat jelas wajahnya.
"Aina?!" pekik Rawne tertahan. Ia segera membekap mulutnya. Jantung Rawne berdegup tidak karuan. Pupil matanya membulat sempurna.
Rawne tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Walaupun pencahayaan cukup redup, tapi Rawne dapat mengenali orang itu.
Rambut sebahu berwarna cokelat tua dengan iris hazel, kulit putih, dan badan yang agak ramping—tunggu, Rawne baru sadar jika Aina kurusan akhir-akhir ini.
Berbagai pertanyaan memenuhi benak Rawne, seperti Kenapa Aina ada di sini? Dan apa yang dilakukannya?
Aina tampak berbicara sesuatu dengan tiga orang yang diikat di tiang. Rawne sama sekali tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang dibicarakannya. Yang pasti, setelah pembicaraan yang cukup serius, Aina tampak menyeringai lalu terkekeh.
Aina kemudian mengeluarkan belati berwarna perak dari sakunya. Di tengah mata pisaunya, tertulis huruf 'AV' dengan corak khusus.
Lagi, Rawne terbelalak.
Belati itu?!
Belati yang sama yang dilihatnya seminggu lalu dan belati yang digunakan untuk membunuh Aurey.
Yang membuatnya yakin adalah huruf 'AV' yang terukir di belati itu.
Sekarang Rawne ingat. Nama lengkap mahasiwi jurusan sosiologi yang telah menjadi sahabatnya itu adalah Aina Vascher. Tiba-tiba Rawne teringat dengan perkataan Aurey dan kakaknya.
"Aku tahu ini aneh, tapi berhati-hatilah dengan Vascher."
"Pelakunya adalah Mrs.Vascher. Bunuhlah dia sebelum dia membunuhmu."
Tanpa sadar, kedua tangan Rawne mengepal. Rautnya berubah menjadi dingin. Rawne mendesis dalam hati.
Jadi begitu, heh?
Tak ingin ketahuan, Rawne segera pergi dari situ dan keluar gudang. Meninggalkan Aina dan tiga orang lainnya yang mungkin akan dijemput oleh ajal.
Di depan gudang, Rawne melihat Marie yang sedang menunggunya. Kucing betina itu duduk terdiam dan mengeong begitu melihat kedatangan Rawne. Rawne melangkah mendekat lalu berjongkok di hadapan Marie.
"Terima kasih telah menunjukkanku kejadian tadi, Marie. Tapi maaf saja, aku belum mati," kata Rawne lalu tersenyum sinis. "Memangnya kaupikir aku tidak tahu apa yang ingin kau lakukan?"
Marie mengeong lagi lalu berlari kabur. Kali ini Rawne tak berniat mengejarnya. Gadis itu mendongak, menatap langit yang sudah mulai gelap.
Kalau dipikir-pikir, saat Rawne bertanya tentang Aurey kepada Aina, Aina langsung tahu tentang kematian Aurey. Padahal saat itu belum ada berita yang mengabarkan tentang penemuan potongan mayat. Berita itu baru viral dua hari setelahnya setelah potongan mayat yang diduga Aurey itu diautopsi.
Rawne merutuk dalam hati. Bodohnya ia yang baru menyadarinya sekarang.
Tapi, ah, sudahlah. Lebih baik aku pulang saja.
***
Kini Rawne sedang duduk bersama Aina di kafetaria. Sejak tadi Rawne terus diam dan menatap sinis Aina. Masih berbekas di ingatannya kejadian kemarin. Aina yang merasa aneh dengan sikap Rawne hari ini pun heran.
"Kau kenapa sejak tadi menatapku sinis begitu?" tanya Aina lalu menyesap mocca latte-nya.
Rawne menopang dagu dengan tangan kiri bertumpu di meja. Satu tangannya yang lain mengaduk _
lemon tea.
"Apa tidak ada hal yang ingin kau beritahu padaku?" Rawne balas bertanya.
Aina mengernyit. "Hah? Tidak," jawab Aina. "Oh, ya—"
"Hei, kau tahu beritanya tidak? Katanya ada penemuan potongan mayat di gudang penyimpanan."
Aina menghentikan ucapannya begitu mencuri dengar obrolan mahasiswi di meja sebelah mereka. Aina serta Rawne terdiam dan menyimak obrolan itu.
"Iya, iya, aku tahu. Katanya potongan mayat itu baru ditemukan kemarin sore. Padahal pembunuhannya sudah tiga hari lalu."
"Benar, benar! Kalau tidak salah, ada tiga orang yang teridentifikasi, 'kan?"
"Iya, aku kenal salah satu dari mereka. Dia temanku dari kampus sebelah. Lalu kabarnya, korban laki-laki juga dari kampus sebelah dan yang perempuan satunya dari kampus kita."
"Eeeh? Ada yang dari kampus kita? Yang benar?"
"Dari berita yang kudengar, iya."
"Hii ... menyeramkan! Sebelumnya juga ada dari kampus kita yang jadi korban,'kan? Kalau tidak salah namanya Aurey."
"Benar! Aku takut jika psikopat itu sampai mencari korban lagi di kampus ini. Astaga, rasanya ingin mati saja hidup di kota ini."
Rawne tidak dapat mendengar percakapan setelahnya karena dirinya terlalu asyik merenung. Namun giginya menggertak begitu nama Aurey disebut-sebut.
Aina yang menyadari sikap aneh Rawne menoleh padanya.
"Hari ini kau aneh sekali," tutur Aina. "Kau baik-baik saja, Rawn?"
"Tidak, aku sangat tidak baik-baik saja," jawab Rawne sinis.
Rawne tiba-tiba bangkit dari duduk lalu melangkah pergi. Meninggalkan Aina yang dibuat bingung oleh sikap Rawne yang tidak seperti biasanya.
Rawne melangkah menuju lokernya. Raut wajah Rawne begitu dingin dengan tatapan yang tajam, membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri.
Begitu sampai di depan lokernya, Rawne merogoh kunci kemudian mengetik password di sebuah mesin. Pintu loker pun terbuka.
Baru saja Rawne hendak menaruh bukunya, ekor matanya tidak sengaja melirik selembar kertas berwarna putih yang ada di dalam lokernya. Rawne mengerutkan dahi. Dia tidak ingat pernah menaruh kertas di situ.
Rawne pun mengambil kertas itu kemudian membacanya.
Temui aku di gudang penyimpanan dekat balai kota nanti malam pukul sepuluh.
- AV
Rawne menggumam membaca tulisan yang ditulis dengan tinta semerah darah itu. Jemarinya tanpa sadar meremas kertas putih yang ada di genggaman. Namun ia segera membukanya kembali dan mengamati huruf 'AV' yang tertera di sana.
Siapa lagi kalau bukan Aina Vascher?
Rawne tersenyum miring. "Jadi, kau berniat menantangku, heh?" tanyanya entah pada siapa.
***
Jalan raya kota Ancient saat malam hari sangat sepi bak kuburan. Wajar saja. Memangnya siapa yang mau berkeliaran malam hari begini di saat adanya teror kasus pembunuhan mengerikan? Apalagi berkeliaran sendiri di tengah sepinya kota Ancient pada malam hari. Jika ada, pastilah orang itu sudah kehilangan kewarasannya dan Rawne adalah orang itu.
Kini Rawne sedang berjalan sendirian di pusat kota Ancient menuju balai kota. Langit gelap serta keheningan yang mencekam benar-benar menambah kesan suram kota ini.
Akan tetapi, Rawne seakan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Yang ada di pikirannya sekarang adalah tentang pelaku kasus itu.
Setelah tiga puluh menit berjalan, Rawne akhirnya sampai di balai kota dan langsung menuju gudang penyimpanan yang terletak di sampingnya.
Rawne melihat sekeliling. Ruangan dengan pencahayaan redup yang dipenuhi dengan banyak barang. Sembari melangkah masuk ke dalam gudang, Rawne mendongak. Tampak laron berterbangan di sekitar lampu. Dinding dan barang-barang yang terbuat dari kayu juga sudah lapuk.
Kelihatannya gudang ini tidak jauh berbeda dengan gudang penyimpanan di kampusnya. Akan tetapi, sepertinya gudang ini sudah lama tidak dipakai.
Rawne mengecek arloji di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh pas.
Harusnya ada di sini, kan?
Baru saja Rawne ingin menyusuri gudang, suara pekikan yang melengking tiba-tiba saja mengagetkannya.
Jadi benar tempatnya di sini. Baguslah.
Rawne segera mencari sumber suara. Tak lama, sampailah ia di tengah-tengah gudang. Netra Rawne membulat begitu melihat pemandangan di depan. Namun, Rawne langsung tersenyum.
Di depan sana tampak seorang wanita yang kira-kira berumur kepala dua sedang digantung dengan kedua tangan yang terikat ke atas. Wajahnya sudah setengah hancur dengan pakaian compang-camping yang berwarna kemerahan. Kedua kakinya juga sudah putus.
Gadis dengan rambut sebahu berwarna cokelat tua menoleh kaget. Tak menyangka orang yang dikenalnya ada di sini.
"Ra-rawne?"
Aina tampak gelagapan, ditambah lagi tangan kanannya menggenggam sebuah belati.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Aina was-was.
"Bukannya seharusnya aku yang bertanya padamu? Kenapa kau ada di sini Aina?" Rawne tersenyum manis sembari bersedekap. "Oh, aku tahu! Kau pasti sedang menyiksa korbanmu, ya?"
"Ti-tidak! A-aku—"
"Apa, hm?"
Rawne melangkah mendekat, sedangkan Aina melangkah mundur. Tangan kanan Rawne merogoh saku dan mengambil pistol berukuran kecil yang selalu ia bawa ke mana pun. Pistol itu adalah pistol yang pernah ia gunakan dulu saat membunuh ayahnya.
Aina mendelik. "Rawne! Apa yang ingin kau lakukan dengan pistol itu?!"
"Entahlah. Menurutmu apa?" tanya Rawne dengan senyuman yang kian melebar.
Aina menggeleng takut.
"Ngomong-ngomong hmm ...." Ekor mata Rawne melirik wanita yang sedang digantung.Tampaknya wanita itu sedang sekarat. "Jadi, kau pelaku kasus ini? Selama ini kau membicarakan dirimu sendiri, heh?" lanjut Rawne sinis.
"BUKAN!" sanggah Aina. "Bukan aku pelakunya! Bukan aku yang membunuh mereka!"
"Kaupikir aku percaya?" Wajah Rawne berubah menjadi dingin. "Hei, Aina. Kau tahu? Saat Aurey dan Mr. Rudolf bilang pelaku kasus ini adalah kau, aku mencoba untuk tidak percaya. Tapi setelah aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku jadi yakin itu kau."
"Rawne, kau salah paham! Aku sama sekali tidak membunuh mereka!"
Rawne melangkah mendekat hingga jaraknya dengan Aina tipis, sedangkan Aina terus melangkah mundur hingga tak sadar di belakangnya ada di dinding.
"Kenapa aku harus percaya pada psikopat sepertimu?" Ucapan Rawne yang begitu dingin seakan menusuk siapa saja yang mendengarnya. "Lalu, yang ada digenggamanmu itu apa?"
"Ka-kau harus percaya padaku, Rawn! Kau tidak akan membunuh sahabatmu, kan?" Nada bicara Aurey naik. "Dan belati ini bukan milikku!"
"Jika sahabatku adalah psikopat, kenapa tidak?" Rawne menodongkan moncong pistolnya ke arah Aina. "Dan, oh! Terima kasih sudah membantuku. Dengan begini, Mr. Rudolf akan memberikanku nilai tambahan
Bunuhlah dia sebelum dia membunuhmu.
Rawne bersiap menarik pelatuk.
"ACELIN RAWNE AFSHEEN! PERCAYALAH PADAKU! KAU AKAN MENYESAL JIKA MEMBUNUH—"
Dor! Dor!
Suara Aina tak terdengar lagi bersamaan dengan dua peluru yang ditarik dari pelatuknya. Peluru itu berhasil melubangi dahi Aina dan menembus melewati kepalanya. Tubuh Aina ambruk begitu saja dan terkapar di lantai.
Rawne menyiuk. Keringan bercucuran dari dahinya.
"Kau benar-benar membunuh sahabatmu, ya? Wah, benar-benar nekat!"
Seorang gadis dengan rambut cokelat tua sebahu dan iris hazel datang dari arah yang berlawanan. Rawne terhenyak dan sontak membalikkan badan. Matanya membulat sempurna begitu melihat gadis itu. Rawne menengok ke belakang untuk memastikan. Akan tetapi, Aina benar-benar sudah mati.
Jika Aina ada di hadapannya. Lalu, siapa tadi yang kubunuh?"
"Aku tidak menyangka kau tega membunuh sahabatmu sendiri."
Rawne menatap tajam orang itu.
"Aina?"
Tidak, Rawne sangat yakin orang yang barusan dibunuhnya adalah Aina yang asli. Kalau Aina sudah mati, lalu siapa dia?
Sebentar. Ada satu nama yang terlintas di benak Rawne.
"Aina—tidak, kau bukan Aina." Rawne menunduk kemudian mendongak menatap orang itu. "Enia? Tidak, bukan juga. Kalau begitu, Aine. Aine Vascher."
Gadis bernama Aine itu menyunggingkan senyum. "Oh, kau mengenalku!" serunya kemudian melepas wig dan soflen yang dipakainya.
Gadis itu akhirnya menunjukkan penampilan aslinya. Rambut hitam sebahu dengan iris hijau memesona. Rawne pernah melihatnya.
Glek.
Rawne meneguk salivanya.
"Acelin Rawne Afsheen." Aine memanggil nama Rawne.
Rawne menggertakkan giginya. Kedua telapak tangannya mengepal.
"Akulah yang memanggilmu ke sini," kata Aine yang sontak membuat Rawne terbeliak. "Kau pikir aku tidak tahu kau pernah melihat aksiku saat melenyapkan lalat-lalat pengganggu?"
Tunggu, apa?
Rawne bergeming mencoba memahami semua yang terjadi.
Jadi, yang memanggilnya ke sini adalah Aine? Dan sosok yang selama ini ia lihat adalah Aine yang menyamar sebagai Aina? Juga huruf AV yang terukir di tengah belati itu. Bukan Aina Vascher, melainkan Aine Vascher.
Dari kesimpulan yang Rawne buat, Aine—atau jika dibalik menjadi Enia adalah kakak kembar Aina. Tak heran jika sejak awal Rawne merasa mereka mirip.
"Ada apa, Afsheen?"
"Jadi ... kau pelaku yang kasus itu? Bukan Aina?" Suara Rawne terdengar bergetar.
"Eh," Aine tertegun, "Iya, aku pelakunya. Aku yang menculik, menyiksa, membunuh, dan membuang mayat mereka. Kenapa?"
"Kenapa kau melakukan semua ini? Bukankah kau mahasiswi yang tampak sempurna di mata orang lain? Mereka yang memujamu pasti tidak menyangka jika pujaan hati mereka ternyata seorang psikopat sepertimu."
Aine tergelak dengan anggun. "Kau mahasiswi psikologi bukan? Kau pasti tahu jika seorang psikopat pastilah menawan dan manipulatif. Semakin terlihat sempurna orang itu maka semakin busuk pula rahasianya."
Rahang Rawne mengeras. Ditodongkannya pistol yang ada di genggamannya ke Aine.
"Kau mau membunuhku?"
"Psikopat sepertimu seharusnya dilenyapkan saja."
"Aku?" Aine mengerutkan dahi dan menunjuk dirinya sendiri. Tak lama, ia tergelak. "Sepertinya sebelum kau berbicara seperti itu, kau harus bercermin terlebih dahulu, Afsheen. Astaga, kau mirip sekali dengan kakakmu."
"Jangan sangkutpautkan aku dengan dia!"
"Baiklah, baiklah," kata Aine lalu melangkah mendekati Rawne. "Tapi, hei. Kau bahkan tidak menyesal setelah membunuh sahabatmu, kan?
"Ah, tapi itu tidak apa! Kau justru membantuku membunuhnya. Memang sebaiknya lalat penyuruh sepertinya mati saja."
"Kau—"
"Kau bilang aku ini psikopat, tapi tidakkah kau berpikir kalau kau dan dia juga sama saja?" Pertanyaan telak dari Aina. Rawne terdiam membeku.
"Jadi menurutmu, siapa yang psikopat di sini?" Aine bertanya dengan senyum lebarnya. "Apakah aku yang melenyapkan serangga-serangga pengganggu? Ataukah Aina yang menyuruh orang lain melenyapkan serangga pengganggu itu karena tidak ingin mengotori tangannya? Atau justru kau yang pernah membantai keluargamu dan membunuh sahabatmu sendiri?"
Rawne terbeliak. Tangannya menarik pelatuk dan menembakkannya ke arah Aine. Akan tetapi, Rawne terkesiap. Aine tiba-tiba saja ada di hadapan dengan mengayunkan tangan kirinya yang entah sejak kapan menggenggam belati perak.
"Tidak usah dijawab pertanyaanku tadi. Sebagai gantinya, khusus untukmu langsung kulenyapkan saja."
Aine mengayunkan belatinya ke leher Rawne dan seketika kepala Rawne menggelinding ke lantai.
Dengan senyum merekah, Aine menatap kepala itu dan mayat kembarannya yang tergeletak.
"Tidak ada yang boleh selamat setelah melihatnya," ucap Aine entah pada siapa. "Asyik! Malam ini dapat tiga mainan!"
FIN