Sudah dua hari ini Sherly bolak-balik mencari rumah kecil yang dikontrakkan..
Ia memang mencari rumah yang dekat dengan tempat kerjanya. Sungguh membuang waktu kalau tinggal jauh dari tempat kerjanya itu.
Berat di ongkos pikirnya.
Sengaja mencari kontrakan karena sepupunya juga akan tinggal bersamanya. Besok hari Minggu, aku akan mencari kontrakan lagi, pikirnya.
Hari Minggu pagi, Sherly bersama sepupunya Hanna mulai mencari kontrakan, setelah sekian lama akhirnya pencarian mereka membuahkan hasil.
Kontrakan itu terletak dekat sekali dengan tempat kerja, hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima menit. Pemilik kontrakan itu bernama Pak Irfan. Hanya saja sepertinya kontrakan yang akan mereka tempati dalam keadaan sudah lama tidak ditempati.
Rumput liar yang sudah meninggi dan lapisan cat yang sudah memudar, sepintas terlihat seperti rumah angker. Pak Irfan meminta waktu untuk membersihkan pekarangan dan mencat ulang rumah tersebut.
Dua hari kemudian kontrakan itu baru bisa ditempati. Yang semulanya terlihat kusam dan sedikit menyeramkan sekarang terlihat rapih dan menyenangkan.
Setelah membayar uang kontrakan. Mereka melihat kedalam rumah. Rumah itu terdiri dari dua kamar tidur dan satu kamar mandi, ruang tamu menyatu dengan ruang keluarga, sementara dapur terletak agak terpisah di bagian belakang dekat dengan kamar mandi.
Sherly dan Hanna ingin menempati kamar sendiri-sendiri. Sherly dikamar yang terletak didepan dan Hanna disebelahnya. setelah berbenah, keduanya lalu berjalan keluar untuk membeli makanan, karena terburu-buru mereka lupa membeli makan siang.
Ketika mereka sedang berjalan menuju warung nasi yang terdekat seorang Ibu menghadang mereka dengan pertanyaan
"Anak ini baru ya disini", tanyanya
"Iya Bu, baru hari ini kami pindah, perkenalkan, saya Sherly dan ini sepupu saya, Hanna". jawab Sherly dengan sopan.
"Tinggal dimana?", tanya Ibu itu lagi.
"Di rumah kontrakan Pak Irfan, Bu", kali ini Hanna yang menjawab.
"Kontrakan Pak Irfan?, berhati-hatilah", kata Ibu itu lagi.
"Mengapa kami harus berhati-hati Bu, tolong jelaskan kepada kami", Sherly dan Hanna bertanya secara serempak.
"Nanti kalian akan tahu sendiri", menjawab sambil berjalan pergi.
"Apa maksud perkataan Ibu tadi?", tanya Sherly, mereka berdua saling pandang.
Ketika sampai di warung nasi, Sherly memesan nasi dengan lauk telor ceplok, tahu, sambal dan lalapan, sedangkan Hanna memesan nasi, ayam goreng, sayur kacang dan juga sambal.
Sambil menunggu pesanan, mereka bertanya kepada Ibu pemilik warung perihal rumah kontrakan tersebut.
Dengan sedikit ragu akhirnya Ibu warung bercerita bahwa di rumah tersebut pernah terjadi pembunuhan, korbannya adalah keponakan Pak Irfan yang bernama Beni. Sampai sekarang belum diketemukan siapa pembunuhnya.
Sherly dan Hanna hanya bisa terdiam. Setelah membayar pesanan, mereka mengucapkan terima kasih. Di pejalanan pulang tidak ada satupun yang berbicara.
Siang itu berlalu dengan suasana sunyi, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Besok kita mulai bekerja, aku kok jadi penasaran ya, siapa sebenarnya pembunuh itu? dan apa penyebabnya dia dibunuh, terus aku lupa menanyakan seperti apa keadaannya dan apa senjatanya", kata Sherly membuka pembicaraan.
Hanna menatapnya dengan tatapan yang tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"kamu serius Sher, kamu tidak sedang bercanda kan?, tanya Hanna.
"Ini bukan perkara main-main bukan sekedar pengisi waktu kosong saja, ini suatu hal yang serius dan berbahaya, kamu harus ingat pembunuhnya belum ditemukan", ujarnya lagi.
" Tenanglah Hanna, kamu itu jangan terlalu khawatir, aku cuma bilang kalau aku itu penasaran", jawab Sherly sambil tersenyum misterius.
"Oh no, no no no, aku tahu arti senyuman mu itu, aku tidak setuju", kali ini Hanna berkata sambil setengah berteriak.
"He he he, sudahlah ayo kita beristirahat, besok hari yang sibuk", tersenyum melihat Hanna yang masih memandanginya dengan pandangan curiga.
Keesokan harinya Sherly dan Hanna sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Jam 5.00 sore setelah membersihkan diri, mereka duduk santai di di teras rumah, sambil menikmati cemilan dan teh manis hangat.
"Han, nanti malam mau makan apa?", tanya Sherly.
"Sekali-sekali beli pecel lele yuk, sudah lama kita tidak makan masakan itu", jawab Hanna.
"Iya juga ya, tapi warung pecel langganan kita jauh dari sini, apa kita beli yang dekat sini aja ya", usul Sherly.
"Tidak masalah, yang penting menu malam ini pecel lele", dengan semangat Hanna menjawabnya.
"Selamat sore", terdengar sebuah suara menyapa.
Seorang wanita muda yang seusia mereka terlihat tersenyum menatap mereka berdua.
"Sore juga, mbak mencari siapa ya?", tanya Hanna.
"Oh, saya hanya ingin berkenalan saja, kebetulan saya lewat sini dan melihat ternyata rumah ini sudah ada yang menempati, oh, maaf nama saya Mirna, saya tinggal di sebelah", jelas Mirna.
"Silahkan duduk Mir, mau minum apa, namaku Hanna dan dia sepupuku Sherly", menunjuk ke arah
Sherly.
Sherly mengangguk sambil tersenyum. Mereka lalu berbincang-bincang mengenai daerah tempat yang sekarang mereka tinggali.
Pada akhirnya perbincangan itu pun menjurus ke arah kasus pembunuhan tersebut. Siapa lagi yang memulai pembicaraan itu kalau bukan Sherly. Dia tidak memperdulikan pandangan Hanna yang melotot ke arahnya.
Mirna menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi, sepertinya ia juga antusias menceritakannya.
Begini ceritanya:
Beni adalah seorang pria yang berusia 30 tahun, tidak terlalu tinggi dan berbadan gempal, rambutnya keriting dengan kulit sawo matang, bermata sipit, tidak ada istimewa, wajahnya standar.
Ia bekerja di bengkelnya Pak Sanusi. Dan satu hal lagi dia adalah keponakan Pak Irfan. Temannya hanyalah rekan kerjanya saja.
Beni bukanlah orang yang suka banyak bicara, setelah pulang kerja biasanya dia langsung pulang dan tidak pergi kemana lagi. Makannya telah disiapkan oleh Istrinya Pak Irfan yaitu Bu Susi.
Suatu hari tepatnya dua tahun yang lalu, Beni tidak menampakkan batang hidungnya di tempat kerja. Pak Sanusi pikir Beni sedang sakit, lalu ia pergi menanyakannya pada Pak Irfan. Pak Irfan dan Pak Sanusi lalu menemui Beni di rumah ini tempat Sherly dan Hanna sekarang tinggal.
Setelah diketuk berkali-kali tidak ada sahutan dari dalam, akhirnya dengan kunci cadangan mereka berdua membuka pintu itu. Alangkah terkejutnya mereka mendapati Beni mati dengan keadaaan mengenaskan.
Lehernya terlihat hampir putus, darahnya berserakan dimana-mana. Rumah itu berantakan, terlihat bekas perkelahian.
Pak Sanusi dengan cepat menelpon polisi. Polisi lalu datang ke tempat TKP, penyelidikan pun dilakukan, semua orang yang pernah berhubungan dengan Beni diinterogasi satu persatu.
Polisi juga mencari barang yang di pakai untuk membunuh, selama berhari-hari polisi memeriksa seluruh tempat ini tapi tidak menemukan apa pun.
Kasus pembunuhan ini berlalu begitu saja tanpa terselesaikan. Keluarga Beni mengikhlaskannya begitu saja..
Mirna menutup ceritanya karena sebentar lagi Maghrib. Ia lalu pamit dan berjanji lain hari akan mampir lagi, ia senang sekali dapat berkenalan dengan orang seusianya.
Sherly dan Hanna membereskan meja, lalu masuk ke dalam rumah. Setelah sholat Maghrib berjamaah, Hanna sibuk dengan pekerjaan kantornya sementara Sherly asik mengotak-atik laptopnya, ia terlihat serius.
Tiba-tiba Sherly berkata," Han, kamu menyadari tidak disebelah rumah ini ada bangunan kecil".
Hanna menghentikan pekerjaan, dengan cepat ia menebak apa yang ada dipikiran sepupunya itu,"kamu masih ingin meneruskan ide gila mu itu, Sher?".
"Aku sudah bilang, aku penasaran, aku tidak akan berhenti sebelum menemukan jawabannya", tak kalah cepat Sherly menjawab perkataan Hanna.
"Terserahlah, aku sudah mengingatkanmu", Hanna hanya bisa pasrah melihat kelakuan sepupunya itu.
Pagi harinya hujan deras, atap kamar tidur Hanna bocor, akibatnya kasur Hanna basah. Sherly dengan memakai payung pergi ke rumah Pak Irfan memberitahukan hal tersebut, dan Pak Irfan berjanji akan memanggil tukang untuk memperbaikinya.
Hujan turun sepanjang hari, pulang kerja Sherly menyempatkan diri untuk membeli mie rebus dan juga minuman sachet. Hujan- hujan begini paling enak makan dan minum yang hangat-hangat.
Seperti biasanya Sherly dan Hanna sibuk dengan pekerjaan kantor yang belum terselesaikan.
Hari ini Sherly off dari pekerjaan kantornya, sementara Hanna sudah berangkat kerja dari tadi. Tak berapa lama tukang yang akan membetulkan atap yang bocor datang. Ia lalu membuka pintu gudang untuk mengambil tangga.
Mata Sherly langsung berbinar, setelah mengunci pintu rumah kontrakan ia berlari memasuki bangunan kecil di samping kontrakannya yang ternyata berfungsi sebagai gudang..
Begitu melihat isinya matanya terbelalak, tempat itu berantakan sekali bisa dibilang semua barang bekas ada di situ. Dengan perlahan-lahan ia masuk. Dengan pandangan meneliti ia melihat satu persatu barang yang ada, dan matanya berhenti pada setumpuk buku yang diikat oleh tali.
Yang menarik perhatiannya bukan tumpukan buku itu, tapi tali yang mengikatnya. Ia mencoba membuka tali tersebut, mungkin karena sudah terlalu lama ikatannya itu susah sekali terbuka.
Dengan sabar dan perlahan ia membuka ikatan tersebut dan berhasil. Ia lalu meletakkan kembali tumpukan buku itu ditempat yang tidak terlihat. Lalu dengan santai ia berjalan menuju kontrakannya seakan-akan ia sedang habis berjalan-jalan melihat sekeliling rumah.
Tanpa ia sadari sepasang mata memperhatikannya dari jauh. Orang itu melihat Sherly telah masuk ke dalam kontrakannya, ia pun berjalan memasuki gudang, matanya melihat sekelilingnya lalu dengan tangan mengepal ia pergi meninggalkan tempat itu.
Sorenya Hanna pulang dari kantor, Sherly sama sekali tidak menceritakan penemuannya. Hari pun berlalu dengan rutinitas seperti biasanya.
Sherly hari ini bekerja, ia pergi lebih cepat dari biasanya, ia berjanji bertemu dengan temannya. Banyak hal yang ingin ia bahas. Sepulang kerja Sherly mendapati pintu kontrakannya terbuka, tidak biasanya pikirnya.
Sherly mengira Hanna sudah pulang dan lupa menutup pintunya, "Hannaa", teriaknya. "Membiarkan pintu terbuka seperti itu bahaya tau nggaak", Sherly membuka pintu kamar Hanna.
Ia lalu melihat ke dapur dan kamar mandi, semuanya kosong, ia panik, ada yang tidak beres, pikirnya. Ketika ia membuka pintu kamarnya, seseorang memukul tengkuknya, seketika ia kehilangan kesadarannya.
Ketika terbangun, kepalanya terasa pusing, pandangannya kabur, matanya kemudian melihat samar-samar sosok yang juga terikat didepannya.
"Hanna?, kau kah itu Hanna?", sambil meronta mencoba melepaskan ikatan di tangannya.
"Sherly, syukurlah akhirnya kamu sadar, kamu baik-baik saja kan?", tanya Hanna.
Melihat Hanna baik-baik saja, Sherly tersenyum lega. "Hanna sini, aku akan membantu melepaskan ikatan mu, kita saling memunggungi, aku akan mencoba membuka ikatan mu, setelah itu kamu buka ikatanku".
Mereka lalu saling memunggungi, dengan hati-hati Sherly membuka ikatan itu, setelah selesai Hanna membuka ikatan yang ada di tangan Sherly.
"Hanna, untuk ikatan kaki kita kendurkan saja ikatannya biar orang yang menculik kita tidak curiga, ayo kembali ke posisi kita tadi, letakkan tanganmu ke belakang dan pegang talinya siapa tau berguna", kata Sherly sambil kembali ke posisi semula".
Benar saja, lima menit kemudian lelaki yang menculik mereka berdua datang membawa pentungan kayu. Dilihatnya Sherly dan Hanna masih dalam kondisi terikat.
"Mana barang yang kau ambil dari gudang Pak Irfan!, serahkan padaku!", teriaknya.
"Barang apa!, aku tidak tau apa yang kau bicarakan!", Hanna pun berteriak juga.
Plak..",Kau berani membentakku Hah!", lelaki itu menampar Hanna. Bibir Hanna terluka.
"Yang mengambil barang itu temanmu ini, tau nggak!", menatap Sherly.
"Apa yang kau maksud tali pengikat buku itu?", dengan berani Sherly menjawab pertanyaan orang itu.
"sudah aku buang, karena begitu aku ikatkan pada buku yang sudah tidak dipakai lagi ternyata kurang panjang, jadinya aku buang!", Sherly mencoba menjelaskan.
"Kau bohong!", ia bersiap memukul Sherly. Tanpa lelaki itu sadari Hanna dengan cepat mengalungkan tali pengikat di leher lelaki yang sedang mengangkat tangannya. pentungan kayu itu terlepas, dengan sigap Sherly mengambilnya,lalu dengan sekuat tenaga ia memukul kaki lelaki yang sedang berusaha mengendurkan tali yang menjerat lehernya.
Penculik berteriak kesakitan, ia berlutut sambil menahan nyeri, Sherly memukul lagi badan penculik sehingga lelaki itu pingsan. Melihat penculiknya pingsan, Sherly mengikat tangan dan kaki orang itu dengan kuat, dan mengamankan semua benda yang ada di ruangan itu dari jangkauan penculik itu.
Kalau di perhatikan ruangan tempat mereka di sekap tidaklah begitu besar. Ruangan itu seperti ruangan tempat beristirahat , lebih tepatnya sebuah kamar. Hanya ada jendela kecil, yang tidak bisa dilewati. Sherly dan Hanna keluar dari tempat itu. Melihat kunci yang masih nyangkut di pintu mereka manfaatkan dengan mengunci pintu itu kembali.
Mereka melaporkan kejadian ke kantor polisi. Tempat mereka di sekap ternyata terletak di belakang bengkel Pak Sanusi. Seketika daerah itu ramai, polisi datang menangkap orang yang bernama Burhan.
Setelah di interogasi oleh polisi dan sebuah bukti berupa tali pancing yang ada noda darah milik Beni dan sidik jari Burhan. Akhirnya Burhan mengakui ia telah membunuh Beni.
Alasannya adalah ia sakit hati dengan perkataan Beni yang mengatainya bau bangkai. Ia juga mengatakan bahwa Beni sering berkata kasar padanya, padahal mereka berdua sama-sama bekerja mencari nafkah di bengkelnya Pak Sanusi.
Kasus pembunuhan dua tahun lalu terungkap, keluarga Beni mengucapkan terima kasih kepada Sherly. Begitu juga polisi.
Tanpa ada satu pun yang menyadari kecuali Sherly, seorang laki-laki berwajah pucat menatap Sherly sambil tersenyum serta mulutnya mengatakan terima kasih, kemudian orang itu menghilang.
TAMAT
*Ada yang ingat dengan pepatah yang mengatakan 'Mulutmu adalah Harimaumu' .
Jagalah lisan kita, kalau tak bisa berkata baik maka diamlah.