Lampion berwarna jingga menggantung di antara rerantingan pohon. Jumlahnya ada banyak, kira-kira enam hingga tujuh buah di tiap pohon. Lampion-lampion itu biasa dipasang saat malam festival yang diadakan setiap setahun sekali.
Ya, malam ini.
Biasanya di malam festival, kota akan dipenuhi dengan cahaya dan warna jingga yang berasal dari lampion. Di sini, lampion dan warna jingga melambangkan pertemuan, permohonan, kebahagiaan, dan ... kepergian.
Saat ini, aku sedang menunggu seseorang di suatu taman. Namun, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Untunglah aku membawa payung. Kubuka payung tak berwarna—transparan—yang kubawa lalu memakainya.
Bermenit-menit pun berlalu. Aku masih berdiri di tempat yang sama sampai-sampai kakiku rasanya sangat pegal. Rintik hujan masih belum juga berhenti, seakan langit mengerti nestapaku belum hilang.
Kapan dia akan datang? Berapa lama lagi aku harus menunggu?
Dia sudah berjanji akan datang, karena itu aku masih menunggunya meskipun ini sudah lewat dua jam dari waktu yang dijanjikan. Namun, tidak masalah. Kakiku masih kuat berdiri walaupun sesekali aku berjongkok. Sayang sekali di sini tidak ada tempat duduk.
Omong-omong, payung yang kupakai ini adalah pemberian darinya dua tahun yang lalu. Kupikir aku tidak akan memakainya, tetapi ujung-ujungnya kubawa juga. Rencananya nanti akan kukembalikan walaupun dia bilang dia memberikannya padaku.
Hmm ... tunggu.
Malam festival, lampion, hujan, dan payung, mengingatkanku akan pertemuan pertamaku dengannya. Laki-laki yang kutemui tepat dua tahun lalu di tempat ini, memberikan kenangan manis sekaligus menyedihkan.
Di malam festival yang melambangkan banyak hal baik, justru aku selalu merasakan kesedihan dan penderitaan. Bagiku, tidak ada kebahagiaan di malam festival. Setidaknya sebelum aku bertemu dengannya.
Sejak dulu, kehidupan keluargaku tidak bisa dibilang baik. Ayah dan Ibu seringkali bertengkar. Ayah selingkuh dan suka mabuk-mabukkan. Ibu juga lebih suka berfoya-foya menghabiskan uang ayah daripada mengurus kami—aku dan saudara-saudaraku—mungkin, kecuali kakak kedua.
Kami juga tinggal bersama kakek dan nenek dari ayahku. Kakek suka memukuliku jika dia sedang kesal. Nenek hanya bisa berceloteh panjang lebar perihal aku yang sangat tidak becus dan tidak bisa diandalkan. Padahal aku yang selalu mengurus rumah ketika ibuku tak sekalipun melakukan kewajibannya.
Aku bukanlah anak yang diharapkan. Kakak keduaku jauh lebih disayang di keluargaku dibanding aku ataupun kakak pertama. Aku tidak menyukainya, tetapi bukan berarti aku membencinya. Maksudku, dia sangat perhatian walaupun terkadang menyebalkan.
Lalu pada hari festival, kakak keduaku itu meninggal dalam kecelakaan saat ingin menjemputku.
Aku tidak bisa bilang itu salahku, tetapi semua keluargaku—bahkan kakak pertama—menyalahkanku atas kematiannya.
Aku ... hanya sedikit berpikir. Andai aku tidak merengek dijemput olehnya, apakah dia tidak akan mati?
Tetapi, kematian adalah takdir. Tak sepantasnya aku menyalahkan diriku.
Tuduhan dan tudingan dilemparkan padaku. Semuanya. Tidak ada seorang pun yang membelaku. Seakan-akan aku adalah penjahat.
Malam festival yang seharusnya berbahagia, justru penuh dengan rasa bersalah, emosi, penderitaan, dan kesedihan. Aku tidak tahu harus apa saat itu. Yang kupikirkan hanyalah: aku harus kabur dari rumah!
Jadi, aku memilih untuk kabur ke taman ini daripada berdiam diri dengan kondisi rumah yang berisik. Di tengah-tengah hujan, di bawah pohon berlampion, aku menangis sejadi-jadinya. Mengeluarkan seluruh kesedihan dan kekesalanku. Tak peduli beberapa orang yang berlalu lalang menatapku aneh.
Lalu dia, tiba-tiba saja datang dan memayungiku yang sedang berjongkok di bawah pohon bak pahlawan, walaupun kuakui, dia memang pahlawan. Pahlawan yang menyelamatkanku di saat aku terpuruk.
Dengan senyum ramah, dia bertanya, "Kenapa kamu menangis?"
Aku langsung mendongakkan kepala, menatap laki-laki berambut hitam legam dan iris hazel yang tengah memayungiku dengan payung transparan.
Awalnya aku berpikir, apa-apaan dia? Namun, sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya, dia kembali bersuara.
"Aku tidak bisa melihat seorang gadis menangis sendirian di bawah rinai hujan," ucapnya dengan nada lembut yang menenangkan.
Saat itu juga, aku melebarkan pupilku. Aku ... entah kenapa tersanjung.
Ini mungkin berlebihan, tetapi di pandanganku, laki-laki itu begitu bersinar. Sorot matanya, senyumnya, bahkan nada bicaranya, seakan menyihirku ke dalam lingkup lelaki itu.
"Jika tidak keberatan, kamu boleh bercerita padaku," katanya, masih dengan kedua tangan yang masing-masing menggenggam sebuah payung. Satu payung transparan yang digunakan untuk memayungiku dan satunya lagi payung berwarna biru yang dipakainya.
Aku malah salah fokus dengan payungnya. Sedikit heran ada orang yang membawa dua payung. Apa satunya hanya sebagai cadangan atau dia tadinya memang ingin menjemput seseorang?
Baiklah, lupakan itu.
Entah ada dorongan dari mana, aku menganggukkan kepala. " ... Akan kuceritakan," ucapku pelan.
Dia menarik kedua ujung bibirnya ke atas, menyerahkan payung trasnparannya kepadaku. "Pegang ini. Kita mengobrol di sana saja. Aku masih belum ingin mati karena tersambar petir." Dia berujar dengan nada bercanda sembari menunjuk sebuah bangunan beratap yang tak jauh dari tempat kami berada.
Oh, kenapa aku tidak kepikiran untuk menangis di sana saja daripada di tengah hujan begini? Bodohnya.
Aku pun mengangguk dan menerima payung itu. Kami berdua melangkah ke gedung beratap yang ditunjuknya sekalian berteduh sembari menunggu hujan berhenti.
Laki-laki berambut hitam legam itu menatapku. Lalu, aku ... tak segan mencurahkan seluruh isi hatiku padanya sambil menangis meraung-raung seperti bayi.
Agak memalukan. Kenapa aku mau saja menceritakan masalahku pada orang asing yang baru kutemui?
Awalnya kupikir dia akan tertawa atau mengejekku, ternyata tidak. Dia justru mendengarkanku dengan serius. Terkadang merespons dan mengelus-elus punggungku iba. Dia dengan sabar menjadi 'tempat sampah'-ku yang notebenenya hanya orang asing.
Tak hanya itu, dia juga memberikan kata-kata penyemangat. Memberiku beberapa saran dan nasihat yang kuakui, sangat berguna. Aku benar-benar tidak menyesal sudah bercerita kepadanya, karena aku benar-benar merasa lega.
Aku mengucapkan terima kasih, tetapi dia hanya tergelak manis lalu berkata, "Sudah kubilang, 'kan? Aku tidak bisa membiarkan seseorang—apalagi gadis—menangis begitu. Aku, setidaknya ingin membantu orang-orang yang menderita dan kesepian walaupun hanya sedikit. Syukurlah jika itu membuatmu lega."
Lagi-lagi aku sempat terpana. Dia benar-benar sangat baik.
"Aku ... tidak tahu harus mengucapkan apa lagi," bisikku pelan.
Namun, sepertinya dia dapat mendengarku.
"Tidak usah mengucapkan apa pun. Kau merasa lega saja aku sudah sangat senang," ujarnya kemudian menyingsing lengan jaketnya yang berwarna hijau lantas menarik hoodie ke kepala. Iris hazel yang menawan itu memandang lurus ke depan. Aku mengikuti arah pandangnya. Namun, yang kudapat hanyalah rintik hujan yang turun dengan deras.
"Sayang sekali. Padahal aku ingin pergi ke festival, tetapi sepertinya langit yang mengizinkan," celetuknya tiba-tiba dengan kepala yang menunduk sedih.
Aku yang memang sedari kecil belum pernah pergi ke festival, menelengkan kepala ke kanan dengan raut penasaran. "Festival?"
Dia menoleh ke arahku. "Iya, kamu juga ingin ke sana?"
"Entahlah, aku belum pernah pergi ke festival," jawabku, membuat dia terbeliak, "tetapi jika ada kesempatan, aku ingin ke sana."
Dengan wajah syoknya, dia bertanya, "Serius? Kamu belum pernah pergi ke festival? Itu artinya kamu belum pernah melihat kembang api dan pelepasan lampion secara langsung?"
Aku mengangguk. "Iya, belum. Aku tidak punya seseorang yang bisa kuajak untuk ke sana. Orang tuaku tidak akan mau, kakakku juga tidak mungkin. Dan aku tidak punya teman."
Itu benar. Sejak kecil, keluargaku tak pernah sekali pun mengajakku ke festival. Bagi keluargaku yang bukan merupakan keluarga religius, malam festival tidaklah penting. Begitu pun dengan yang kupikirkan.
Dia menggeleng-gelengkan kepala. "Ah, aku tidak percaya ini! Kalau begitu, kamu harus mencoba pergi ke festival!" serunya dengan iris hazel yang menatapku serius.
Dia terlihat sangat kaget saat tahu aku belum pernah ke festival. Dan aku merasa kalimat terakhirnya seperti memaksaku untuk pergi ke festival. Memang apa hebatnya festival?
"Festival ... seperti apa rasanya? Apakah semenakjubkan itu?" tanyaku penasaran.
"Rasanya? Luar biasa!" jawabnya antusias seperti anak kecil. Aku yang melihatnya tak bisa menahan tawaku.
"Malam festival itu, benar-benar menyenangkan! Di sana ada berbagai macam penjual makanan, tetapi yang paling kusuka adalah permen apel dan kembang lampion. Ada berbagai jenis permainan dan kontes berhadiah. Ada panggung besar yang megah. Lalu di penghujung festival, ada acara kembang api dan pelepasan lampion. Di acara pelepasan lampion, kamu bisa berdoa lalu menerbangkan lampion itu dan langit akan dipenuhi oleh lampion. Menyenangkan, bukan?" ceritanya panjang lebar. Dia benar-benar terlihat gembira saat menceritakannya. Matanya bahkan sampai berbinar-binar.
Aku melongo dan mengerjap. Karena dia bercerita dengan antusias, aku jadi penasaran. Tak seperti dugaanku, ternyata festival terdengar menyenangkan. Lalu, pelepasan lampion? Huh, pantas saja setiap malam festival langit penuh dengan lampion.
"Yah, mungkin tahun depan aku akan mencoba pergi ke festival," ujarku kemudian menaikkan kedua ujung bibir.
"Benarkah? Kalau begitu kita bisa pergi ke festival bersama." Kedua tangannya meraih tangan kananku, menggenggamnya erat dan menatapku dengan netra sewarna hazel yang tampak berbinar.
Apa barusan dia mengajakku?
Tak tahan melihat wajahnya, aku memalingkan wajah. "Y-ya, oke," balasku canggung.
Keheningan seketika menyelimuti. Dia tak membicarakan apa pun lagi. Ekor mataku meliriknya yang mengenakan jaket ber-hoodie warna hijau dan celana panjang berwarna hitam. Pakaiannya kasual, tetapi seperti memiliki daya tarik tersendiri
Tanpa sadar senyumku merekah. Aku senang bisa bertemu dengannya.
Lalu, kami kembali menunggu. Langit semakin gelap. Namun, hujan tak kunjung reda. Suara ledakan yang mengagetkan tiba-tiba terdengar. Dari kejauhan aku dapat melihat kembang api warna-warni yang cantik. Tanpa sadar mulutku sedikit terbuka.
"Cantik, 'kan?" Dia bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kembang api.
"Hmm, yah ...." Sulit mengakuinya, tetapi dia benar. Tak kusangka kembang apinya sangat cantik walaupun hanya muncul sesaat karena terhalang oleh rinai hujan.
Sudah lama aku tidak melihat kembang api secara langsung. Sebelumnya, aku tak sekali pun tertarik melihat kembang api. Keluargaku juga selalu mengurungku di rumah setiap malam festival.
"Lebih cantik lagi jika bisa melihat dari dekat," tambahnya lalu menoleh ke arahku. "Sayang sekali tidak ada acara pelepasan lampion. Padahal itu bagian yang paling kunantikan."
Aku mengerutkan dahi lantas bertanya, "Aku tidak mengerti. Sebenarnya pelepasan lampion itu untuk apa?"
Keluargaku tak pernah memberitahuku tentang apa yang terjadi di festival. Di sekolah pun, aku hanya tidur saat guru menjelaskan. Dan aku tidak pernah terpikir untuk mencari informasi itu di internet.
Raut laki-laki berjaket hijau di sampingku berubah. Pupilnya membesar dan dahinya sedikit mengerut. "Serius kamu tidak tahu?"
Aku mengangguk pelan. Jadi, itu mengagetkan ya? Seakan-akan seluruh orang di sini tahu maksud di balik pelepasan lampion itu.
"Hmm." Dia tampak bergumam sembari berpikir sebentar. "Sebelumnya, apa kamu tahu lampion jingga melambangkan apa?"
Aku meletakkan jari telunjuk kanan di dagu, sedangkan pupilku bergerak ke atas. "Kesedihan dan ... kepergian?" jawabku ragu.
Sebenarnya aku tidak tahu pasti arti dari lampion jingga. Rasanya aku pernah tahu saat dijelaskan oleh guru di sekolah, tetapi itu sudah lama sekali. Mungkin saat aku SD, sedangkan sekarang aku sudah duduk di bangku SMA.
Namun, jawaban darinya cukup di luar dugaanku.
"Salah dan benar."
"Eh?" Aku sedikit menelengkan kepala ke kanan. "Kenapa bisa begitu?"
Dia menjentikkan jari. "Kesedihannya salah, tetapi kepergiannya benar," koreksinya.
"Ooh, begitu." Aku hanya manggut-manggut.
Dia mengalihkan pandangannya ke depan kembali. Aku yakin sekali netranya terpaku pada satu titik, yaitu sebuah pohon yang berukuran cukup besar—tepatnya pada lampion berwarna jingga yang tergantung di antara ranting pohon itu.
"Lampion dan warna jingga melambangkan permohonan, kebahagiaan, pertemuan, dan kepergian—maksudku, perpisahan." Dia memulai penjelasan.
"Bisa dibilang, pelepasan lampion adalah sarana kita untuk berdoa. Sesuai lambang lampion yang berarti permohonan, kita dapat mengutarakan permohonan kita—termasuk meminta kebahagiaan dan mendoakan orang yang sudah meninggal—sambil menggenggam lampion itu sebelum melepaskannya ke udara untuk disampaikan kepada Yang Di Atas."
Aku mendengarkan penjelasan laki-laki ini dengan saksama sambil sesekali menganggukkan kepala walaupun penjelasannya agak sulit diserap oleh otakku.
"Begitu, ya."
Keheningan menyelimuti lagi sebelum akhirnya suara menggelegar mengagetkan kami berdua. Aku refleks mengusap-usap dada dan mengumpat dalam hati. Dasar petir sialan! Kalau menyambar bilang dulu dong!
Lagi pula kenapa hujannya malah bertambah lebat, sih? Sudah berapa lama aku di sini? Niat menunggu hujan reda, tetapi malah bertambah deras. Langit masih ingin menangis ternyata.
Melihat kembang api yang sudah diluncurkan, itu berarti ini sudah tengah malam. Terakhir yang kuingat, aku pergi dari rumah pukul sembilan dan menurut perkiraanku, sekarang sudah pukul sebelas atau setengah dua belas. Tak terasa sudah dua jam lebih aku berada di sini.
Bagaimana, ya? Aku tidak benar-benar berniat untuk kabur dari rumah, sih. Kabur pun aku tidak tahu harus ke mana. Tidak akan ada yang mencari dan peduli padaku pula. Kurasa itu percuma.
Jadi, kuputuskan untuk kembali ke rumah saja.
"Anu, sepertinya aku harus pulang. Hujan tak kunjung reda dan ini sudah menjelang tengah malam. Kurasa lebih baik kita pulang saja?" usulku.
Dia mengangguk. "Baiklah, sepertinya aku juga harus pulang."
Aku mengambil payung transparan di sampingku yang tersender di dinding kemudian memberikannya kepada laki-laki itu.
"Aku benar-benar sangat berterima kasih karena kamu sudah mau mendengarkan ceritaku. Terima kasih juga atas payungnya. Ini, kukembalikan," tuturku seraya menyerahkan payung miliknya.
"Sama-sama dan sudah kubilang bukan, santai saja," balasnya lalu tergelak kecil. "Omong-omong, nanti kamu pulang bagaimana? Hujan deras, lho," lanjut laki-laki itu dengan nada khawatir. Dia belum juga mengambil payungnya.
"Tidak apa-apa, aku bisa berlari menerobos hujan kok! Lagi pula pakaianku sudah telanjur basah." Aku berkata dengan senyum dipaksakan.
Memang benar. Aku bahkan baru menyadari rambut panjangku yang berwarna cokelat gelap dan dress hijau selutut yang kukenakan sudah basah. Karena sudah telanjur, tidak apa-apa, 'kan?
Dia menggeleng cepat dengan raut tegas. "Tidak, tidak boleh. Nanti kamu sakit bagaimana? Pulanglah dengan payung itu. Aku memberikannya padamu," tolaknya langsung.
Apa aku tidak salah dengar? Seseorang baru saja memberikan payung miliknya yang tampak mahal kepadaku?
Baru saja aku hendak membuka mulut untuk menolaknya, tetapi dia sudah menyela duluan.
"Tidak terima penolakan. Payung itu sekarang sudah menjadi milikmu. Jaga baik-baik, ya." Rautnya sekejap berubah, kembali melunak dengan senyum ramah yang sepertinya sudah menjadi ciri khasnya.
Aku menatap payung transparan yang ada di atas kedua telapak tanganku. Awalnya aku ragu. Haruskah aku menerima benda pemberian orang asing yang baru kukenal dalam semalam?
Akan tetapi, niatnya baik. Aku jadi tidak tega menolaknya.
"Baiklah, terima kasih." Tanganku menggenggam payung transparan ini lalu membukanya. "Aku benar-benar bersyukur bertemu denganmu. Semoga lain kali kita bisa bertemu lagi."
Dia mengangguk lantas mengambil payung biru yang sudah dalam keadaan terbuka. "Syukurlah kalau begitu. Aku senang bisa membantumu. Dan ya, semoga kita bisa bertemu lagi. Karena aku ingin pergi ke festival bersama denganmu."
Di balik hoodie yang menutupi sebagian wajahnya, dia tersenyum lagi. Kali ini sangat manis sampai-sampai aku tidak tahan untuk melihatnya. Aku refleks memalingkan wajah. Sial, pipiku terasa sedikit panas.
Sebelum dia sempat berbicara lagi yang mungkin tidak baik untuk jantungku, buru-buru aku melangkah.
"Aku duluan. Sampai jumpa!" pamitku seraya melambaikan tangan.
Seperti dugaan, dia hendak berbicara lagi, tetapi memilih bungkam saat aku berkata pamit. Satu tangannya yang tidak memegang batang payung balas melambai.
"Sampai jumpa!"
Aku segera membalikkan badan lalu berlari menerobos hujan menggunakan payung pemberiannya. Sesampainya di rumah, sesuai dugaan, kakek langsung memukuliku karena baru pulang tengah malam. Namun, kesialanku tak sampai di situ. Ternyata Ayah dan Ibu ada di rumah. Ayah hampir memukul kepalaku dengan botol kaca andai saja kakak pertama tidak menghentikannya. Baiklah, untuk kali ini aku berterima kasih padanya. Dia tidak terlalu buruk.
Mood-ku yang awalnya sudah lebih baik karena bertemu dengan dia, seketika menurun drastis. Aku ingin berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Namun, aku langsung teringat perkataan laki-laki itu. Jadi, aku menahan diri.
Malam itu, aku terus memikirkan laki-laki yang kutemui di taman. Juga aku berpikir, mungkin aku akan mencoba pergi ke festival tahun depan. Tanpa sadar aku senyam-senyum dan berteriak sendiri membayangkan akan pergi ke festival bersamanya. Pasti sangat menyenangkan!
Tetapi, sebelum festival, apakah aku bisa bertemu dengannya lagi ya? pikirku.
***
Tes tes tes.
Suara hujan yang turun dari langit dan gemericik air begitu menenangkan. Apalagi saat ini, aku sedang sendirian di taman tempat aku bertemu dengannya dua tahun lalu.
Ternyata benar kata orang. Hujan bisa membuatmu teringat akan kenangan masa lalu. Pantas banyak yang galau saat hujan turun. Tidak heran.
Omong-omong, sejak kami bertemu di taman ini dua tahun yang lalu, aku belum bertemu dengannya lagi. Yah, setidaknya sebelum malam festival setahun yang lalu.
Aku iseng-iseng pergi ke taman ini lagi. Ingin melihat apakah dia akan datang ke sini lagi. Aku pun memutuskan untuk menunggunya. Namun, sudah sejam lebih aku berdiam diri di taman, dia tak kunjung datang.
Awalnya aku ingin pulang saja karena berpikir dia tidak akan datang. Akan tetapi, saat aku baru mau melangkah ingin pulang, sebuah suara yang familier memanggilku.
"Hei," sapanya, "maaf, ternyata kamu menungguku, ya?"
Begitu mendengar suaranya, sontak aku membalikkan badan. Pupilku sedikit terbeliak melihat seseorang yang memanggilku.
Dia, laki-laki yang kutemui saat itu. Aku tidak bisa melupakan wajah, sorot mata, senyum, serta nada bicaranya yang ramah dan hangat. Kini dia berdiri dua meter di hadapanku dengan mengenakan pakaian kasual—kaus berwarna jingga dan celana panjang berwarna cokelat—serta sepatu sewarna brunette. Tak lupa rambut hitam legam berponi yang disisir rapi dan iris hazel yang memesona.
"Ah, iya," balasku canggung, "kamu datang."
"Tentu. Sudah kubilang, 'kan, kita akan pergi ke festival bersama?" Dia berkata seraya mengedipkan mata kirinya ke arahku.
"Iya, iya." Aku tertawa sambil menggelengkan kepala.
Aku terkejut dia benar-benar datang. Kupikir dia hanya berbicara omong kosong untuk menghiburku—oke, yang ini agak keterlaluan.
Walaupun dia datang sangat telat, tetapi tak apa. Aku bisa mengerti alasannya. Dia baru datang pukul Sembilan. Mungkin karena tahun lalu kami bertemu pukul sembilan juga.
Kami akhirnya pergi ke festival bersama. Jaraknya tidak jauh dari taman ini. Jadi, kami berjalan kaki menuju tempat festival diadakan.
Omong-omong, ini pertama kalinya aku menapakkan kaki di acara festival—dan, aku tercengang luar biasa! Maksudku, tujuh belas tahun aku hidup di tempat ini, baru kali ini aku datang ke festival lampion yang sudah seharusnya didatangi oleh setiap orang di sini.
Lihatlah, betapa ramainya tempat ini. Biarpun sudah malam, tetapi tempat ini justru sangat ramai. Wajar, sih. Festival baru dibuka pukul tujuh malam dan ditutup pukul satu dini hari. Tidak heran pukul segini masih banyak orang yang berlalu-lalang. Lagi pula, katanya, banyak orang yang sengaja menunggu puncak acara. Salah satunya lelaki di sampingku.
Dia terkikik melihat tingkahku yang sejak memasuki festival hanya mengerjap dengan mulut terbuka. Terkagum-kagum dengan acara festival yang laur biasa ini.
Norak? Ah, sudahlah, aku tidak peduli. Yang penting aku sangat senang bisa datang ke acara festival, meskipun bukan bersama keluarga atau teman-temanku—eh, tunggu. Oh, iya lupa. Aku, kan, tidak punya teman.
Tanpa kusadari, dia sudah membawaku sedikit berkeliling sambil menggandeng tangan—eh?
Begitu sadar, aku langsung menoleh ke kanan bawah. Tangan kirinya yang berkulit kuning langsat menggenggam tangan kananku yang berwarna senada. Gelang berwarna hijau yang kukenakan di pergelangan tangan kanan agak bergoyang-goyang dan menyentuh ujung jarinya.
Wajahku seketika memanas. Ternyata dia benar-benar menggandengku!
Astaga, sejak kapan? Daripada itu, aduh ... malunya!
Aku baru saja ingin melepaskan genggamannya, tetapi dia malah tambah mengeratkan genggaman tanganku
"Kenapa kamu menggandeng tanganku?" tanyaku agak malu. Bagaimana tidak? Seumur-umur, baru kali ini aku digandeng oleh lawan jenis.
"Aku tidak mau kamu menghilang di tengah festival," jawabnya lalu mendesah pelan. "Dari tadi kamu tidak memperhatikan jalan. Aku juga harus terus memperhatikanmu. Meleng sedikit, kamu bisa hilang."
Dia berkata dengan nada biasa. Jadi, aku tidak merasa dia sedang memarahiku atau apa. Akan tetapi, aku merasa sedikit tidak enak padanya.
"Maafkan aku. Kalau begitu, aku akan memperhatikan jalan kok. Jadi, tidak usah—"
Dia menoleh ke arahku bersamaan dengan genggamannya yang bertambah erat—sangat erat, seakan-akan tidak ingin membiarkanku lepas.
"Aku sudah nyaman begini. Lagi pula, kalau kamu memang ingin melihat-lihat, tidak apa-apa, biar aku yang menuntun." Senyum manis dilontarkan, membuatku buru-buru mengalihkan pandangan ke arah kiri karena tidak tahan dengan senyumnya itu. Pura-pura melirik-lirik stand yang memajang beberapa boneka.Namun, alih-alih pura-pura, aku malah tertarik sungguhan. Ekor mataku tak sengaja menangkap boneka unicorn berwarna putih dengan rambut ungu dan tanduk pink yang lucu. Ah, aku ingin itu. Sayang, aku hanya membawa sedikit uang.
"Ingin mencoba permainan itu?" Dia tiba-tiba bertanya, membuatku sontak menoleh.
"Huh?" Aku menggumam bingung.
"Sepertinya kamu tertarik dengan stand itu ya? Di sana kamu bisa mendapatkan boneka jika berhasil menjatuhkan seluruh kaleng dengan melempar bola tepat sasaran," katanya sembari menunjuk stand yang terdapat jajaran boneka.
Ah, ternyata begitu.
"Yah ... aku sedikit tertarik pada boneka unicorn itu, sih," ungkapku malu.
Tanpa aba-aba, dia langsung menarik tanganku ke stand itu.
"Yang itu?" tunjuknya pada boneka unicorn yang kumaksud. Aku pun mengangguk.
Dia berkata sesuatu kepada seorang pria yang sepertinya pemilik stand ini lalu menyerahkan sejumlah uang. Sebagai gantinya, pria itu menyerahkan tiga buah bola kepadanya.
"Tenang saja, aku akan mendapatkannya untukmu." Dia tersenyum riang. Lagi-lagi aku mengalihkan pandangan. Kali ini bukan karena senyumnya, tetapi karena perkataannya.
Dia mengambil satu bola berwarna ungu yang berukuran sekepalan tangan. Satu mata dipejamkan, sedangkan tangan kanan sudah menggenggam bola, kemudian ... lempar!
Namun, oh! Sayang sekali tidak kena. Bola yang dilemparnya barusan hanya mengenai dua buah kaleng.
"Kucoba lagi."
Dia kembali melempar bola. Namun, gagal lagi karena kaleng yang jatuh hanya tiga. Sekarang hanya tersisa satu kesempatan. Aku jadi ingin mencobanya. Apakah sesulit itu?
"Boleh aku mencobanya?" pintaku.
"Oh, boleh. Ini." Dia mengangguk seraya menyerahkan bola berwarna merah kepadaku.
Aku mengambil bola itu lantas langsung melemparkannya ke arah tumpukan kaleng dengan sekuat tenaga. Tidak kusangka, aku berhasil menjatuhkan lima kaleng yang tersisa sekaligus.
Aku melongo. Suara tepukan terdengar dari sampingku. Kulihat dia bertepuk tangan dan menatapku kagum. Lain halnya dengan raut pria pemilik toko yang tampak masam. Dengan terpaksa, pria pemilik toko mengambil boneka unicorn yang membuatku tertarik lalu memberikannya padaku.
Tentu aku langsung menerima dan memeluknya erat. Ah, bulu boneka ini sangat halus! Sudah lama sekali aku tidak memegang boneka. Kapan ya, terakhir kali aku dibelikan boneka oleh Ibu? Sepertinya hanya dua kali dan itu pun terakhir saat aku belum sekolah.
"Kamu senang?"
Aku mengangguk semangat. "Terima kasih, aku sangat senang!" balasku seperti anak kecil.
Dia tergelak. "Baguslah."
"Oh, iya. Tadi kamu memakai uangmu, 'kan? Ini kugan—"
Baru saja ingin menyerahkan uangku padanya, dia menyela.
"Tidak, tidak perlu. Kamu belum pernah ke festival, 'kan? Karena itu, untuk kali ini biar aku yang mentraktirmu."
Eh? Mana bisa begitu?
"Ah, tidak usah. Aku pakai uangku saja!" tolakku.
"Sudah, tidak apa-apa. Bersenang-senanglah di festival. Anggap saja ini adalah harimu. Lagi pula, kesempatan ini tidak datang dua kali, lho!" katanya keras kepala.
Aku jadi tambah merasa tidak enak. Apa tidak apa-apa begini?
Namun, belum sempat aku berkata lagi, dia kembali menarikku untuk berkeliling. Mau tak mau, aku menurut.
Hingga dua jam kemudian, kami masih berada di festival. Ternyata benar katanya, festival benar-benar menyenangkan! Aku yang sebelumnya belum pernah ke tempat seperti ini tentu saja merasa takjub.
Banyak sekali penjual makanan dan minuman yang membuatku ingin mencicipinya satu-satu. Ada juga penjual cenderamata dan pernak-pernik khas festival yang indah. Sepertinya aku sudah banyak merepotkan dia karena sudah membuatnya bangkrut. Namun, dia tetap bersikeras mengatakan tidak apa-apa.
Malahan, dia membelikanku banyak makanan, seperti permen apel, kembang gula, dan beberapa makanan manis lainnya. Lalu, aku juga dibelikan beberapa cenderamata, seperti topeng dan pernak-pernik olehnya. Katanya untuk kenang-kenangan.
Oh, ya. Tadi aku juga ikut menonton konser dengannya. Ini juga pertama kalinya aku menonton konser secara langsung. Kupikir akan sangat mengganggu karena aku tidak suka keramaian dan suara berisik. Ternyata ini cukup menyenangkan juga.
Lalu, saat ini, kami sedang menunggu detik-detik acara puncak—kembang api dan pelepasan lampion—bersama dengan beberapa orang lainnya dari atas sebuah jembatan yang lebar.
Katanya, tempat ini adalah spot paling bagus untuk melihat kembang api. Ditambah lagi, tempat ini tidak seramai yang di padang rumput. Memang di sana tempat utamanya, sih.
Tepat pukul setengah dua belas, bunyi dentuman di langit terdengar. Kembang api sudah diluncurkan. Dan, lihat! Aku sampai ternganga dibuatnya!
Kembang api itu diluncurkan beberapa kali dengan berbagai macam bentuk yang berbeda. Ada yang berbentuk bunga, lampion, bintang, kata-kata, dan sisanya hanya berupa kembang api warna-warni.
"Bagaimana? Indah bukan?" tanyanya disertai senyum manis yang memesona.
Aku mengangguk. "Iya, menakjubkan. Tak kusangka kembang api jika dilihat dari dekat seindah ini," jawabku kagum.
"Inilah yang kusuka dari malam festival. Kembang api memang tidak pernah mengecewakan."
Selanjutnya adalah acara yang paling dianggap keramat, yaitu pelepasan lampion. Saat ini aku dan dia masing-masing menggenggam satu lampion berwarna jingga yang berukuran tidak terlalu besar—mungkin, ehm, sekepalaku?
"Ucapkan permohonanmu, lalu terbangkan lampionnya." Dia memberi arahan.
"Oke."
Aku menggenggam lampion dengan kedua tangan. Aku ingin ... untuk kali ini, biarkan aku merasakan kebahagiaan di malam festival.
Tuhan, terima kasih karena telah mempertemukanku dengannya. Kumohon jagalah dia selalu, karena dia ... adalah orang yang berharga bagiku.
Setelah selesai, aku tidak langsung menerbangkan lampionku. Sedikit penasaran dengan permohonannya, aku melirik dia yang berdiri di samping kananku. Matanya terpejam. Sepertinya dia berdoa dengan khusyuk, tetapi kenapa rautnya terlihat sedih begitu?
Dia sudah selesai. Lalu kami melepaskan lampion yang ada di tangan ke udara. Benda bulat berwarna jingga itu terbang meninggi dan meninggi, bersama dengan ratusan lampion lain yang juga terbang ke langit.
Semoga permohonanku tersampaikan.
Aku menoleh padanya. "Kamu terlihat sangat khusyuk saat berdoa tadi. Aku jadi sedikit penasaran apa permohonanmu," celetukku. Namun, aku cepat-cepat menutup mulut begitu menyadari aku salah bicara. "Eh, tetapi kalau kamu tidak ingin mengatakannya juga tak apa! Maaf, aku asal bicara."
Alih-alih sedih atau marah, dia justru mengangkat kedua ujung bibirnya ke atas dan tergelak kecil. "Tidak, tidak apa-apa," tampiknya. "Permohonanku sederhana. Aku hanya ingin diberikan kesempatan agar bisa berbuat baik lebih lama lagi, lalu ...."
Dia menjeda kalimatnya lantas beradu pandang denganku. Aku bisa melihat lampion jingga yang berterbangan di langit yang terpantul lewat mata hazel-nya. Cantik. Sangat cantik. Tanpa sadar iris hijau milikku sudah terlalu lama memandang netranya yang seakan menarikku ke dalam pesonanya.
Bibirnya terbuka sedikit. Tampak ingin berbicara, tetapi ragu-ragu.
Aku meletakkan telunjuk kanan di dagu dan memandangnya bingung. "Lalu apa?"
Kedua tangannya meraih tangan kananku kemudian menggenggamnya erat. Aku bisa merasakan kulitnya yang sangat dingin begitu tangan kami bersentuhan. Dia tersenyum hangat, berkebalikan dengan suhu tubuhnya yang agak tidak normal.
"Lalu, aku berharap agar tahun depan kita bisa pergi ke festival bersama lagi."
***
Ah ....
Aku benar-benar bernostalgia ya. Habisnya, malam itu adalah malam paling menyenangkan semasa hidupku. Pertama kalinya aku merasakan sebuah kebahagiaan. Semua berkatnya, laki-laki pembawa payung transparan yang kutemui di taman ini dua tahun lalu.
Yah, walaupun sepulang dari festival aku langsung dihukum oleh keluargaku karena pergi tidak bilang-bilang. Iya, aku kabur diam-diam demi bisa pergi ke festival bersamanya.
Oh, ya. Setelah pulang dari festival, kami sempat bertukar nomor telepon. Jadi, aku bisa mengobrol dengannya lewat chat. Di situlah kami baru berkenalan satu sama lain.
Satu hal yang baru kuketahui, ternyata dia adalah temannya teman sekelasku. Tentu saja awalnya aku bingung. Aku tidak begitu ingat nama-nama teman sekelasku. Kemudian dia memperkenalkanku dengan temannya—teman sekelasku yang merupakan kenalannya.
Sayangnya, setelah malam festival setahun lalu kami belum bertemu lagi. Itu karena dia tinggal di luar negeri dan hanya ke sini saat hari festival untuk berkunjung ke rumah neneknya. Jadi, aku hanya bisa menemuinya saat malam festival.
Lalu tahun ini, kami sudah berjanji akan bertemu dan pergi ke festival bersama lagi.
Ya ... seharusnya begitu. Seharusnya itu yang terjadi.
Namun, sudah berjam-jam aku menunggu di taman ini sampai-sampai kedua kaki dan tanganku pegal, batang hidungnya belum juga terlihat.
Apa aku pulang saja ya? Akan tetapi, dia sudah berjanji.
"Lho, Rissa? Sedang apa kamu di sini?" Suara bariton seseorang mengagetkanku.
Aku langsung menoleh ke asal suara begitu ada seseorang yang memanggil namaku. Mataku menangkap seorang laki-laki seusiaku yang mengenakan jas hujan berwarna biru. Rambut cokelatnya yang cepak tertutup tudung jas. Sedang satu tangan memegang gagang payung berwarna biru—yang sepertinya pernah kulihat.
Ah, ternyata Lucas. Dialah teman sekelasku yang juga kenalan orang itu.
"Tentu saja sedang menunggunya. Kami sudah berjanji akan bertemu dan pergi ke festival bersama," jawabku tenang.
Raut wajah Lucas seketika berubah. "Rissa, sadarlah. Angga sudah tiada," ujar Lucas sendu.
Petir tiba-tiba menyambar, bersamaan dengan jantungku yang berdegup kencang. Apa yang Lucas katakan? Apa dia sedang membual?
"Katakan Angga ada di mana, Lucas."
"Dia sudah tenang di atas sana, Rissa. Tolong terimalah kenyataan. Dia akan sedih jika kamu begini."
Mendengarnya, aku merasa ditampar oleh kenyataan. Tanpa sadar air mataku sudah tak dapat terbendung lagi, mengalir membasahi pipi dan berjatuhan ke tanah. Rahangku mengeras. Telapak tanganku terkepal.
Benar ... Lucas benar ....
Aku ... harusnya menerima kenyataan bahwa Angga sudah tiada. Namun, kenapa sebagian dari diriku masih belum menerimanya? Rasanya berat sekali untuk merelakannya.
"Mau berkunjung ke makam Angga?" ajak Lucas.
Aku bergeming, menimbang-nimbang apakah aku harus ke sana atau tidak.
Kalau dia tidak menemuiku, biar aku saja yang menemuinya. Lagi pula kami sudah berjanji akan bertemu.
Aku menganggukkan kepala. "Ayo."
***
Pandanganku terpaku pada batu nisan di hadapan. Di sana, terukir nama 'Angga Rey' dengan jelas. Tak lupa dengan tanggal lahir dan meninggal yang terukir di bawah nama sang pemilik nisan. Ternyata Angga lahir di sini pada hari festival dan dia juga meninggal di sini pada hari yang sama dengan kelahirannya. Suatu kebetulan yang cukup mengejutkan.
"Hei, Rissa. Kamu tahu? Sebenarnya, Angga menderita suatu penyakit yang baru divonis setahun yang lalu. Dokter memvonis hidupnya hanya sekitar enam bulan. Tepat sehari sebelum festival, dia mendapat kabar mengejutkan itu." Lucas mulai bercerita, sedangkan aku hanya bergeming dan menyimak cerita tentang Angga.
Lucas menarik napas panjang. Senyum tipis yang samar tercipta di wajah sangarnya. "Akan tetapi, Angga tak sedikit pun merasa sedih. Dia beraktivitas normal dan tersenyum ceria seakan-akan penyakitnya bukan masalah serius. Dan dia ... benar-benar berhasil bertahan hingga setahun lamanya, melebihi batas perkiraan. Bukankah itu hebat?"
Aku ... mengerti. Sekarang aku mengerti maksud permohonannya saat pelepasan lampion tahun lalu.
Angga memang hebat. Dia membantu banyak orang. Aku bahkan sempat berpikir, apakah dia tidak punya masalah hidup? Untungnya segera kutepis pemikiran itu jauh-jauh. Dia berhasil menyembunyikan kekurangannya dengan baik.
Lucas mengalihkan pandangan kepadaku. "Aku hanya berharap kamu tidak membencinya," tutur Lucas dengan nada lembut yang tak pernah kudengar darinya. "Angga, dia memohon padaku untuk menyampaikan permintaan maafnya karena tidak menepati janji denganmu. Dan dia, menyukaimu, Rissa."
Netraku membulat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Lucas.
Angga ... benarkah dia menyukaiku? Jika benar, itu berarti perasaanku terbalaskan?
Tanpa sadar, senyumku tersungging. Lampion melambangkan pertemuan, permohonan, kebahagiaan, dan kepergian. Semua sudah kurasakan di malam festival lampion ini. Kebahagiaanku adalah bertemu dengan Angga. Permohonanku adalah agar dia selalu dijaga dan kami bisa terus bersama. Lalu dia pergi, tanpa mengucapkan salam perpisahan. Tampaknya Tuhan sengaja membuatku mencicipi sedikit kebahagiaan, kemudian dihempaskan kembali.
Namun, tak apa. Walaupun kita hanya pernah bertemu dua kali, itu sudah cukup. Aku merasa sangat bersyukur karena Tuhan telah mempertemukanku dengan seseorang yang bisa mengerti diriku sepenuhnya. Tuhan menunjukkan bahwa malam festival tidak hanya berisi kesedihan, tetapi juga kebahagiaan. Tuhan membuatku melihat tidak hanya pada satu sisi yang kuanggap benar, tetapi juga sisi lain yang membuatku melebarkan mata.
Kuharap kau berbahagia di atas sana, Angga. Karena semua kenangan kita pada malam festival, akan kusimpan rapi dalam hati dan pikiranku.
Tamat.