Cetasssss.. Cetasssss.. Cetaasssss
"Ayah ampun, jangan pukul aku lagi. Sakit ayah hiks.. hiks.. hikss.. !!" aku menjerit menangis kesakitan melihat tangan dan kakiku mengeluarkan darah, bahkan nampak daging yang keluar.
"Pukul terus yah, sampai dia tak nakal lagi" sahut mamaku senang.
Sabuk, rotan dan samurai adalah makananku sehari-hari, ketimbang aku makan nasi.
Tapi yang paling berkesan bagiku adalah samurai ayahku.
Pernah aku dicekik sampai terangkat ke udara, dengan sebuah samurai yang siap ditusukkan diperutku. Kala itu usiaku 7 tahun. Aku masih kanak-kanak tapi sudah ikut uji nyali, bahkan yang sering tayang di tv pun kalah seramnya. Bukankah seharusnya aku mendapatkan rekor muri ?
Banyak orang beranggapan, keluargaku adalah keluarga yang harmonis. Tapi dibalik itu semua, tersimpan sejuta cerita menyedihkan yang selalu terulang setiap hari.
Orang-orang mengenal namaku adalah Gea. Tapi dungu adalah nama panggilanku. Aku terlahir dari keluarga yang pas-pasan tapi gaya hidup selangit. Ayahku karyawan swasta, ibuku hanya ibu rumah tangga. Hubunganku dan orangtuaku bisa dibilang buruk, sangat buruk.
Kenangan masa kecilku yang buruk, sangat membekas dalam hatiku. Bahkan sampai sekarang diusiaku 15 tahun ini, aku selalu mendapatkan perlakuan yang sangat buruk dari orangtuaku.
Mamaku adalah wanita yang sibuk dengan gayanya yang selalu wow, kadang tak ada makanan seharian di atas meja, karena yang paling penting dia bisa membeli baju baru. Sedangkan, ayahku adalah orang yang rakus akan duniawi. Judi dan miras adalah hobinya. Lalu aku, bahkan seragam sekolahku sudah bolong dibeberapa tempat.
Lahir dikeluarga yang buruk, membawa aku menjadi anak yang pandai "berbohong". Diluar kamar yang ukurannya sangat kecil ini, aku akan menjadi anak yang sok kuat, sok tegar, sok pintar, sok berani. Namun nyatanya, aku selalu menangis setiap malam ditempat ini, menangisi nasibku yang sangat buruk.
Ketika umurku baru mencapai 13 tahun, aku mengalami insiden yang memilukan. Insiden itu mengubah seluruh rencana hidupku. Aku mengalami pemerkosaan yang dilakukan oleh pamanku sendiri.
Umur 13 tahun, bisakah kalian bayangkan itu ?
Lalu apa yang dilakukan ayah ibuku saat itu, hhmm kalian pasti sudah bisa menebak kan ? Yang penting ada uang, semua beres.
Aku hanya sangat bersyukur, aku tak sampai mengandung.
Depresi ? Ingin bunuh diri ?
Ya jelas.
2 tahun lamanya aku bisa bangkit dari rasa sakitku itu dengan usahaku sendiri.
Pengalaman buruk itu membuat hidupku hancur berantakan, rasanya masa depanku sangat gelap. Aku bahkan tak tahu lagi, apakah ketika aku dewasa nanti, akan ada yang menerima diriku yang penuh noda ini ? Tak ada cermin dikamarku, aku memecahkannya karena aku sungguh malu melihat bayanganku disitu. Kotor, sungguh menjijikkan.
Apa aku masih berhak memikirkan cita-citaku kelak ? Ada seorang nenek yang aku temui ditaman, ketika aku sedang berdiri dibawah pohon sambil membayangkan rasa es krim yang dijual diujung jalan sana. Dia berkata, kalau wajahku cantik tapi sayang badanku kurus dan tak terawat, pun banyak bekas luka dikulitku. Aku sangat ingin menjadi seorang model. Apa menurut kalian aku bisa mewujudkannya? Ketika hanya berjalan saja, diperhatikan oleh orang lain ? Bukannya itu menyenangkan ? Aku yang sekarang pun sama diperhatikannya, namun bedanya aku diperhatikan sambil dicemooh oleh orang-orang.
Aku selalu minder dengan diriku sendiri, sekolahku juga berantakan, aku bahkan pernah hampir dikeluarkan dari sekolah karena hampir sebulan bolos. Bukan inginku bolos, tapi aku terpaksa. Aku ditindas karena seragamku yang seperti pemulung. Biaya sekolahku waktu itu aku gunakan untuk membeli sepatu baru karena sudah rusak begitu parah. Sisa uangnya, aku belikan makanan kucing untuk kucing-kucing ditaman. Kalau saja sekolah memperbolehkan memakai sendal, sudah pasti aku memakai sendal kebangganku ke sekolah, sendal jepit. Tapi syukurlah aku masih diijinkan bersekolah setelah dihukum 2 minggu memberikan toilet sekolah, mengerjakan semua PR, dan mengejar ketertinggalan materi belajar.
Rasa iri juga selalu muncul dalam hatiku melihat teman - teman sekolahku yang diperlakukan bak harta paling berharga. Uang jajan mereka banyak, seragam mereka bagus dan wangi. Buku catatan mereka lengkap. Sedangkan aku, meminta uang seribu perak pun harus dicacimaki dulu, itupun kalau ujung-ujungnya dikasih. Seragam lusuh dan robek, buku hanya satu yang digunakan untuk semua mata pelajaran.
Tapi meski demikian, aku selalu memperoleh prestasi di sekolah. Tentu saja aku sangat bangga akan diriku ini, meskipun hanya itu saja yang bisa aku banggakan. Setiap menerima hasil ujian disekolah, aku pasti sangat senang, karena hanya pada saat itu aku bisa menyombongkan diri pada teman-temanku. Bukannya Tuhan cukup adil ? Membuatku melewati hidup penuh kesengsaraan setiap hari, namun masih diselipkan sedikit keunggulan dari musuh-musuhku yang hanya tahu mencontek dan mencemo'oh saja.
Tapi Tuhan, apakah aku salah kalau memiliki pikiran
bahwa aku hanya anak pungut ? Apakah aku bukan anak mereka ? Apakah aku hanya anak titipan seorang jalang, seperti yang pernah aku lihat di tv ? Dimana letak kesalahanku ? Apa aku yang meminta dilahirkan didunia ? Seandainya aku bisa memilih, aku tak ingin dilahirkan.
Jika orang berkata, ketika kita dewasa harus membalas budi orangtua, lalu aku harus membalas apa pada orangtuaku ?
Hiks.. hiks.. hiks.. hiks.. hiks.. hiks..
Aku sungguh sedih, bahkan ketika menulis ini aku menangis sesegukan. Aku hanya mampu menulis ceritaku disini karena didunia nyata, orang - orang sangat jahat padaku, tak ada dari mereka yang mau mendengarkan suaraku.
Keluarga
satu kata berjuta makna.
Ada yang bilang, keluarga segalanya. Keluarga tak akan meninggalkanmu, keluarga akan selalu menopangmu.
Lalu aku harus sebut apa keluargaku ?
Rasanya lidahku keluh mengakui mereka orangtuaku.
Disaat aku butuh perlindungan, siapa yang akan melindungiku ? Disaat aku sakit, siapa yang menjagaku ?
Aku ingat dulu ketika aku demam tinggi, mama masih saja menyuruhku membersihkan seluruh rumah, karena kalau aku malas, seragam sekolahku akan dibakar ibuku. Padahal seragamku sudah lusuh dan bolong sana-sini, lalu mau dibakar juga ? Bukankah itu keterlaluan ?
Lalu ada yang bilang, "Surga ditelapak kaki ibu" Lalu apakah aku bisa memilih surga yang ada ditelapak kaki ibu orang lain ? Kalau bisa, aku mohon ijinkan aku menerima surga itu kelak ditelapak kaki wanita yang memang pantas.
Tapi benarkah surga ada ditelapak kaki ibu ? Otak kecilku selalu berpikir, bukankah kalau sikapku baik akan masuk surga, kalau buruk berarti masuk neraka ?
Lalu ada juga yang bilang, "Ayah adalah cinta pertama putrinya" Lalu apakah aku bisa untuk tidak memiliki cinta pertama saja ? Aku mohon.
Sungguh aku tak bisa, karena selama 15 tahun didunia ini, tak ada satu pun bukti yang membuat orangtuaku pantas disebut keluarga.
Tak terasa..
Waktu berlalu dengan sangat cepat, meski bagiku setiap hari adalah sama. Hari ini aku menyelesaikan studiku di bangku SMA dengan nilai yang sangat memuaskan tentunya. Aku mencoba mencari beasiswa di kota yang besar, berharap bisa merubah nasib burukku. Aku mendaftar di salah satu Kampus yang terletak di Tangerang dibantu oleh guruku. Menunggu adalah hal yang sangat membosankan bagi setiap orang. Namun, hasilnya akan sangat memuaskan bila menunggu sambil berdoa.
Terbukti, hari ini aku mendapatkan laporan bahwa aku diterima di kampus itu dengan memperoleh beasiswa full. Aku melompat dan berteriak bahagia dihalaman sekolah. Melompat, meloncat dan berlari seperti orang kesetanan.
Akhirnya, aku bisa bebas.
Hanya itu yang ada dipikiranku. Aku kembali ke rumah dan memberitahukan hal tersebut pada orang tuaku. Meskipun ditolak habis-habisan, namun aku bertekad demi masa depanku.
Tengah malam, aku kabur dari rumah terkutuk itu. Aku lari dari rumah hanya membawa pakaian seadanya. Lari dan terus berlari sampai aku tiba di stasiun bus yang akan mengantarku ke Bandara. kalau kalian bertanya, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke Tangerang ? Tentu saja dengan menabung dari hasil kerja part time ku ketika sekolah dulu. Diwaktu senggang, aku akan bekerja mencuci pakaian tetangga. Bayarannya lumayan untuk aku tabung.
Dan akhirnya, aku tiba di Tangerang. Aku membeli tiket pesawat berkat bantuan guruku. Aku mendaftar kembali sebagai mahasiswa ekonomi. Dan memperoleh kartu tanda mahasiswa. Ah perjuangan yang sangat berat, namun aku berhasil melakukannya.
Sebagai perantau dan tanpa mengalaman apapun, aku memutuskan mengambil kerja paruh waktu disebuah cafe yang terletak dekat dengan kampus. Setiap hari yang aku lakukan adalah belajar dan bekerja. Sungguh lelah namun menyenangkan.
Aku selalu berusaha menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Ketika saatnya aku wisuda, aku mendapatkan nilai sempurna. Bukannya kali ini Tuhan sungguh baik padaku ? Aku memutuskan melamar kerja di sebuah perusahan ternama, meskipun hanya menyandang predikat magang tapi aku sangat bersyukur ketika akhirnya aku diterima bekerja.
Bekerja dan bekerja. Aku bekerja keras untuk bisa menjadi pekerja yang handal. Sampai suatu ketika, namaku dipanggil disebuah rapat. Tentu saja aku bingung. Ada apa gerangan namaku dipanggil ?
Aku berdiri canggung dan bingung, namun sepersekian detik jantungku berdetak dengan sangat keras, keringat sebesar biji jangung turun dari dahiku. Apa ? aku tak salah dengar ?
Namaku dipanggil sebagai karyawan terbaik tahun ini dan akan diangkat sebagai wakil manager Benarkah ?
Ah, terima kasih Tuhan. Perjuanganku sampai dititik ini sangat berat, namun Engkau memberikan hasil berkali lipat. Sungguh aku sangat bersyukur dalam hati.
Untuk kedua orang tuaku, aku tak mengetahui lagi kabar mereka. Namun dilihat dari sosial media ibuku, beliau sehat-sehat saja dan lebih bahagia. Mungkin ia bahagia karena aku tak ada.
Sudahlah..
Mungkin ini yang terbaik untuk kami semua. setidaknya pengalaman pahit itu membawaku sampai pada titik ini.
Terima kasih Mama dan Papa, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.