[ Heretic Senior High School. ]
Hari senin adalah nama hari yang cukup di hindari oleh beberapa kaum di dunia ini. Terutama untuk anak sekolahan, dimana hari senin wajib hukumnya untuk mereka mengikuti upacara bendera. Seperti hari ini, lebih tepatnya pagi ini di SMA Heretic, salah satu Sekolah Menengah Atas yang ada di Ibukota, sekolah swasta yang sangat terpandang. Meskipun begitu, tetap ada saja murid yang tidak suka mengikuti kegiatan upacara bendera, mungkin di seluruh sekolah pasti juga ada, bukan?
Seperti sekarang ini, upacara sudah di laksanakan sejak beberapa menit yang lalu, semua murid dan guru sangat fokus mengikuti kegiatan upacara, namun berbeda dengan gadis yang masih tenang duduk dikantin sekolah itu. Gadis dengan surai coklat dan berponi tipis. Dia sangat sibuk dengan telepon genggam nya sampai tidak perduli dengan sekitar…
“Cansu,”
Dia mendongak, melihat wujud seseorang yang memanggil namanya. “Lo mau bolos?"
“Iya,” jawabnya singkat lalu kembali fokus dengan handphone nya. Dia sedang bermain game online.
"Lo ngapain kesini?” kata Cansu setelah melirik orang yang duduk disamping nya. Dia adalah Adara, sahabat Cansu. “Gue tadi kelamaan di toilet terus pas ke lapangan eh udah mulai dan gue mendadak males yaudah deh jadi kesini aja, lagian gue yakin lo juga gak bakalan ikut upacara.”
“Hem.”
Hanya gumaman itu yang keluar dari mulut Cansu, dia sangat fokus pada layar yang menampilkan 5 hero yang sedang kompak memburu tower untuk di hancurkan.
“YES!!! VICTORY..” teriak Cansu girang. Yaps, dia menang.
Tidak enak mengabaikan teman baiknya itu, Cansu segera menyudahi kesibukan nya. Dia keluar dari game online itu dan mematikan handphone nya.
Cansu meraih gelas diatas meja yang berisi kopi dingin kesukaan nya dan menyedot nya hinggat setengah. Sangat lega rasanya.
“Can, gimana kabar saudara kembar lo itu? Gue dengar dia baru keluar dari rumah sakit ya?”
Kelegaan di wajah Cansu sirna dalam sekejap digantikan raut dingin dengan tatapan benci. Mata cantik berbentuk bulan sabit itu menatap dinding kosong didepan nya.
“Gue gak mau bahas dia.”
Kalimat mutlak dari Cansu. Dara diam, dia sadar tak seharusnya dia bertanya tentang itu kepada sahabatnya, sekarang Dara sangat yakin kalau suasana hati Cansu langsung buruk.
Dia ingin mengalihkan itu agar Cansu tidak badmood, “Eumm, gimana kalau kita ke perpustakaan aja, aku mau pakai wifi disana, lebih kuat. Aku mau download banyak film.” kata Adara yang dibalas anggukan kecil dari Cansu.
Akhirnya mereka berdua beranjak dari kantin menuju perpustakaan. Mereka menghabiskan waktu upacara disana, mungkin akan melewatkan jam pelajaran juga.
Ya, mereka memang murid yang sudah terkenal nakal. Satu sekolahan juga tau siapa mereka.
---
Bel pulang sudah berbunyi 15 menit yang lalu.
Semua murid sudah berhamburan keluar sekolah, kecuali tiga gadis yang masih setia di tempat duduk mereka. XII IPA-1, disana ada Cansu, Dara dan Callsu, kakak kembar Cansu.
“Udah gue bilang, lo pulang aja duluan. Gak usah sok baik pake nungguin gue segala!”
Kelas sudah sepi, hanya ada mereka bertiga, hal itu membuat suara Cansu yang dingin itu memenuhi ruangan. Dia menatap garang pada Calsu yang sedang duduk didepan nya.
“Aku mau pulang sama kamu, Can.”
Cansu mendengus, dia benci situasi ini. “Tolong banget, Calsu Aldebaran yang terhormat. Jauhin gue! Jangan sok perduli sama gue, jangan ikut campur urusan gue, jangan sok berperan menjadi kakak yang baik buat gue, jangan sok ngurusin hidup gue lagi. Lo ngurus hidup lo sendiri aja susah!”
“Dengar, jauhin gue!” kalimat terakhir Cansu sebelum dia pergi dari kelasnya. Cansu berlari menuju gerbang sekolahan tanpa perduli dua orang di belakang nya yang mengejar dan memanggil namanya.
“I hate you Calsu!” ucap nya lirih.
---
5 hari sudah berlalu semenjak kejadian itu. Namun, tidak ada perubahan yang drastis. Calsu tetap ingin berada didekat Cansu, adiknya. Dia sangat sayang pada Cansu, apapun yang sudah Cansu lakukan padanya dia tidak pernah marah, justru dia semakin merasa bersalah karena tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk Cansu.
“Mama, aku mau makan nasi goreng udang. Mama masakin ya..,”
“Loh, bukannya tadi kamu udah sarapan ya, kok tumben mau makan lagi?, inikan masih jam 10.”
“Iya Mama, Calsu laper lagi. Gak tau deh tumbenan banget, Calsu juga heran.” Dia menampilkan senyum merekah nya kepada sang Mama agar permintaan nya di turuti.
“Okedeh, Mama masakin dulu ya sayang, kamu tunggu disini.”
“Makasih Ma,”
Calsu berjalan menuju ruang keluarga, dia melihat Cansu yang baru saja turun dari kamarnya. Dengan senyum nya yang selalu hangat itu, dia menghampiri Cansu. “Can, hayuk ke meja makan, Mama lagi masakin makanan kesukaan kamu tuh, kamu pasti laper, yakan?”
“Gue gak laper.”
Cansu lanjut berjalan menuju pintu keluar namun langkah nya tertahan karena Calsu yang memegang tangan nya. “Lepasin!”
“Enggak! Aku mau kamu makan dulu baru pergi, ini udah jam 10 kamu udah telat banget sarapan nya, nanti kamu sakit, dek.”
“Dih, sok perduli banget lo. Lagian gue gak akan langsung sakit karena telat makan. Bukan kayak lo, cewek lemah.” Tatapan penuh kebencian itu dia berikan pada Calsu, “Lagian juga, gue tau kok Mama masak itu buat lo, bukan gue jadi lo aja yang habisin.”
“Mama masak buat kamu kok, lagian aku udah makan tadi. Ayolah, aku pengen makan bareng sama kamu.”
Cansu menyentak tangan nya agar terlepas dari Calsu, “Aaw,” Cansu melihat kakaknya itu sudah jatuh didekat kakinya, dia berdecih dengan tatapan sinisnya untuk Calsu.
Entah memang tenaga nya yang terlalu kuat atau Calsu yang terlalu lemah, itu semua sama saja karena yang akan terjadi selanjutnya adalah..
“CANSU!”
… Mama nya yang akan memarahinya.
Mama nya datang dan langsung membantu Calsu berdiri, “Apa-apaan kamu hah?! Kamu gak bisa apa sehari saja tidak kasar dengan kakak kamu? Dasar anak nakal!"
“Harusnya Mama tanya sama anak Mama itu, dia yang cari gara-gara duluan. Dasar lemah!”
PLAK!!
Satu tamparan didapatkan Cansu.
Dia tidak menangis, bahkan tidak ada ekspresi apapun. Semuanya adalah hal biasa, wajar bukan kalau anak nakal di pukul? Itu yang selalu dia tanam dalam pikiran nya.
“Berhenti bersikap kasar sama kakak kamu, dia tidak lemah. Dia gadis yang kuat, dia anak yang baik dan penurut tidak seperti kamu, dia anak yang cerdas dan taat aturan tidak seperti kamu. Harusnya kamu sadar sama diri kamu sendiri, kalian kembar tapi sangat berbeda-“
“Ya! Kami beda! Aku tidak penyakitan seperti dia!”
“CANSU!”
“Ma, jangan marahin Cansu lagi. Dia bener, aku yang paksa dia tadi dan dia juga benar aku memang perempuan lemah dan penyakitan.”
Tidak, Calsu tidak sakit hati dengan perkataan adiknya. Itu semua benar, dan fakta itu juga yang membuat Cansu seperti ini.
“Jangan bela dia, anak nakal seperti dia tidak pantas kamu bela. Harusnya dia bisa menjadi adik yang berguna untukmu, Mama sudah capek hadapin tingkah nakalnya itu. Mama muak sama kamu Cansu.”
Calsu memandang wajah adiknya yang tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Selalu saja datar. Tapi dia tau, wajah itulah yang selalu menyembunyikan kesakitan dan kesedihan nya. Calsu tau kalau adiknya pasti sangat sakit hati.
Tidak seharusnya Mamanya berkata seperti itu.
Cansu pergi meninggalkan mereka, dia tidak perduli dengan kemarahan Mamanya. “Dasar anak tidak sopan.”
---
Hari minggu buruk Cansu sudah berlalu dan berganti dengan senin. Tapi entah mukjizat darimana, hari ini Cansu ikut serta dalam upacara bendera. Dia berdiri di barisan belakang, didepan nya ada Dara, sementara Calsu ada di barisan paling depan.
45 menit berlalu begitu saja, upacara sudah selesai. Murid berhamburan meninggalkan lapangan, ada yang langsung masuk kelas dan adapula yang singgah ke kantin guna membeli minuman dingin pelepas dahaga.
Calsu sudah duduk rapih didalam kelas, dia mengambil botol minumnya dan menenggak air putih itu setengah botol. Dia benar-benar haus. Calsu menoleh kearah pintu, disana sudah berdiri beberapa murid laki-laki yang membawa boneka beruang kecil dan coklat. Bisa dibilang kalau Calsu ini siswi hits di sekolah karena cantik, ramah dan cerdas. Berbanding terbalik dengan Cansu yang juga hits tapi karena nakal, suka membuat masalah, dan musuh para guru.
“Hai, Calsu. Kami bawakan boneka dan coklat kesukaan kamu.”
Sambil tersenyum dia menerima semua hadiah dari penggemarnya itu, “Terimakasih banyak.”
Cansu melihat itu, dia baru saja masuk kedalam kelas. Dia tidak perduli, Cansu berjalan menuju meja paling pojok namun lagi dan lagi langkahnya harus terhenti karena Calsu. “Coklatnya kebanyakan, kamu mau?”
Cansu melirik sekilas, “Gak minat.”
Dia meneruskan jalan nya sampai ke kursi kebesaran nya, dia duduk dan menyandarkan kepalanya keatas meja. Tidur.
Bel istirahat sudah berbunyi, Cansu dan Dara bergegas menuju kantin dengan Calsu yang diam-diam mengikuti mereka. Bukan bermaksud apa-apa, dia cuman ingin bersama dengan Cansu tapi dia tau kalau adiknya itu tidak akan mau berjalan sejajar dengan nya.
Sampai kantin Cansu dan Dara langsung memesan makanan dan memilih tempat duduk favorit mereka, sedangkan Calsu duduk tidak jauh dari mereka.
“Andai kamu tau, umurku tidak lama lagi Cansu. Aku cuman ingin menjadi kakak yang baik untukmu, maaf selama ini aku membuat mu kekurangan kasih sayang tapi kamu tenang saja, aku akan jamin kalau suatu saat nanti mereka akan sangat menyayangimu.” Ucapnya lirih sambil menatap Cansu.
Calsu membuka kotak makanan nya. Ya, dia selalu membawa makanan dari rumah, masakan Mamanya. Suasana kantin lumayan kondusif karena mereka semua sibuk dengan makanan masing-masing.
---
- Rumah keluarga Aldebaran –
Tidak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat. Malam minggu, malam bebas para manusia, tidak perlu takut kesiangan esok hari karena bergadang. Malam minggu kali ini terasa sangat istimewa untuk Calsu karena Papa dan Mama nya ada dirumah menemani nya. Entah kenapa Calsu sangat bahagia malam ini namun ada perasaan aneh yang dia rasakan, seperti rasa takut. Takut jika dia tidak dapat merasakan malam seperti ini lagi.
Malam ini, Calsu, Mama dan Papa nya berkumpul diruang keluarga, termasuk Cansu. Ini adalah permintaan Calsu, dia sangat ingin berkumpul seperti ini lagi setelah 3 tahun lamanya.
“Kamu kenapa sih sayang ngajak kita ngumpul kayak gini, enggak biasanya loh.” Kata sang Papa.
Cansu melirik sekilas, tidak tertarik dengan obrolan mereka. Kalau bukan karena paksaan dari sang Mama, dia tidak akan mau ikut bergabung.
“Aku cuman rindu sama suasana ini, udah lama banget kita enggak kumpul kayak gini lagi, iyakan Cansu?” dia menatap Cansu. Seketika atensi mereka semua beralih pada Cansu yang sibuk dengan handphone nya.
“Cansu,”
Tidak ada jawaban.
“Cansu, kamu dengar Papa tidak? Papa bicara sama kamu.”
“Aku dengar kok, bicara aja. Telinga aku gak ada penutupnya jadi otomatis aku dengar suara kalian. Lanjut aja.”
Dia tidak menoleh sama sekali, matanya masih fokus pada game online itu sementara jarinya bergerak lincah diatas layar handphone nya.
“Dasar tidak sopan.”
“Pa, biarin aja. Cansu lagi fokus jangan ganggu dia, siapa tau aja nanti Cansu bisa jadi pemain professional dan terkenal seperti tim yang pernah aku lihat di Youtube.”
“Tapikan kamu ngajak berkumpul untuk quality time sayang bukan untuk lihatin dia sibuk dengan hal tak berguna itu.”
“Mama, jangan ngomong gitu. Calsu gak suka, Mama sama aja nyakitin Calsu karena Cansu itu adik kembarnya Calsu.”
“Berisik banget sih lo semua.” Cansu mematikan handphone nya, memandang kesal ketiga orang didepan nya.
“GAK SOPAN SEKALI KAMU!”
“Apa? Gak sopan?,” Cansu menatap Papanya, “Iya, Pa. Aku memang gak sopan, lalu kenapa?”
“Cansu, jangan bicara kasar ya sama Papa. Dia orangtua kita.”
“Diem lo!”
“CANSU!! Kami tidak pernah mengajarkan kamu untuk kurang ajar ya. Jaga tata krama kamu!”
“Iya Ma. Kalian tidak pernah mengajarkan aku untuk kurang ajar tapi kalian juga tidak pernah mengajarkan aku untuk sopan pada orang lain. Intinya, kalian ti-dak-per-nah mengajarkan apapun padaku.” Cansu sengaja mengeja kata itu agar orangtua nya sadar. Cansu sudah muak dan capek, bertahun-tahun dia harus bersikap seperti ini.
Mereka semua diam, Cansu berdiri dan ketiganya ikut berdiri, Danis hendak mengeluarkan suaranya tetapi Cansu menundukkan kepalanya, “Kalian tidak pernah,” suara nya bergetar menahan sesuatu.
Rasanya dia tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun, sakit ini, rasa ini, sudah dia pendam bertahun-tahun. Meskipun dia terlihat keras diluar tapi dia sangat rapuh karena itu dia selalu berkata kasar dan menghindari keluarganya sendiri untuk menutupi kesedihan nya.
“Kalian tidak pernah melalukan apapun untukku, tidak sekarang ataupun sewaktu aku kecil. Aku di asuh dan di besarkan nenek, aku lebih sering tinggal berdua dirumah bersama nenek, aku tidak pernah dapat kasih sayang sedikitpun dari kalian, tidak mendapat waktu dan perhatian dari kalian, aku hanya jadi angin lalu untuk kalian. Aku seharusnya tidak pernah ada dalam hidup kalian, aku anak yang kalian asingkan sejak kecil, aku anak yang selalu kalian marahi sejak kecil. Lalu apa yang bisa kalian harapkan dari anak seperti aku? Kalian berharap aku tumbuh seperti Calsu yang sayang dan hormat pada kalian?”
Untuk pertama kalinya Cansu mengeluarkan kalimat sepanjang itu dengan suara yang tercekat, menahan sesuatu yang hendak mengalir dari matanya. Dia melihat satu persatu orang di ruangan itu, dan dia tersenyum sinis ketika melihat kakak kembarnya.
“Hahaha,”
Sekuat apapun dia menahan, air mata itu tetap lolos dari sarangnya. “ KALIAN PERNAH SADAR DIRI? APA YANG SUDAH KALIAN LAKUKAN PADAKU SEJAK KECIL? KALIAN-“ dia menunjuk wajah kedua orangtua nya, “Kalian sudah merusak masa kecilku yang bahagia,” kembali lagi dia menundukkan kepalanya dan suara yang pelan.
“Gue benci kalian semua. Terutama lo Calsu, kalau bukan karna penyakit lo itu, kalau bukan karena diri lo yang lemah itu, gue gak akan kehilangan orangtua gue.” dia menatap benci pada Calsu yang sudah menangis sejak tadi sambil menggumamkan kata maaf untuk Cansu, “Dan hal yang paling gue benci dari lo, adalah keegoisan lo yang maksa gue tinggal dirumah ini disaat gue ingin ikut nenek pergi. Gue benci sama lo, karena lo udah ngerusak hidup gue!”
“Gue benci kalian!”
Cansu pergi meninggalkan rumahnya menyisakan mereka bertiga. Untuk pertama kalinya, orangtua itu menangisi Cansu. Seperti ditampar dengan tangan raksasa, mereka sadar apa yang di katakan Cansu semuanya benar. Mereka sangat menyesal, ternyata selama ini mereka sendiri yang membuat anak bungsu mereka menjadi seperti ini.
Ketiga orang itu menatap nanar pada pintu itu, pintu yang sudah dilewati oleh Cansu. Dan mereka baru sadar kalau diluar sedang hujan deras.
5 jam sudah berlalu sejak kejadian itu. Sekarang sudah pukul 01.24 WIB. Tidak ada yang pergi dari ruangan itu, sehabis menangisi kebodohan mereka, Calsu dan kedua orangtua nya menatap cemas pada pintu yang tertutup itu, tidak ada tanda-tanda datangnya Cansu, mereka tidak bisa menghubungi Cansu karena handphone nya tertinggal.
“Calsu, sebaiknya kamu tidur saja ini udah larut sayang. Biarin kami yang nunggu Cansu.”
“Tidak Ma, aku tidak mungkin bisa tidur sementara adikku sekarang entah dimana, apa kita cari saja dia?”
“Tapi ini sudah sangat larut,-“
“Cansu diluar sendirian Pa, kita cari naik mobil. Aku khawatir sama dia.”
“Yasudah, ayo kita cari dia.”
Mereka bergegas menuju garasi.
---
Sudah 4 jam mereka mengelilingi kota namun tidak menemukan Cansu. Selain itu, mereka dibuat khawatir dengan keadaan Calsu yang tiba-tiba drop, wajahnya pucat pasi. “Sebaiknya kita kerumah sakit sekarang Pa, Mama takut Calsu kenapa-napa.”
“Enggak, Ma. Kita harus cari Cansu.”
“Tidak sayang, kita harus kerumah sakit. Papa tau Cansu itu kuat, dia pasti baik baik aja.”
Mobil itu bergerak menuju rumah sakit dengan kecepatan yang semakin laju karena kondisi Calsu yang semakin memburuk.
Mereka sampai dirumah sakit, Calsu di gendong Papa nya masuk ke UGD karena dia sudah pingsan.
Mereka menunggu diluar UGD selagi dokter memeriksa kondisi Calsu. “Om sama Tante ngapain disini?” mereka mendongak melihat Dara sudah berdiri didepan mereka.
“Calsu masuk rumah sakit, Dara. Dia drop karena mencari Cansu yang kabur semalam.”
Dokter keluar, “Pak Danis,” Danis langsung mendekat ke dokter itu, “Kondisi ini yang tidak pernah kita harapkan, Calsu sangat butuh donor hati, kita tidak bisa menunda lagi.”
Mira menangis mendengar kabar itu, dia tidak siap menerima situasi buruk yang akan terjadi selanjutnya. Selama ini mereka sudah mencari donor hati yang tepat untuk Calsu tapi tidak ada yang cocok, kecuali Cansu. Tapi, Calsu selalu menolak jika harus menerima donor dari Cansu.
“Kami masih belum mendapat donor yang cocok, dokter.”
“Maafkan saya tapi saya harus mengatakan ini, hidup Calsu tidak akan bertahan lama, dia hanya bisa bertahan paling lama satu bulan. Tapi kalian jangan patah semangat, hanya Tuhan yang menentukan takdir manusia.”
Mereka mengangguk, “Boleh kami bertemu Calsu?”
“Silahkan.”
Mereka berdua masuk sementara Dara sudah pamit pergi.
---
- Satu bulan kemudian –
“Calsu, ayok makan buburnya.”
Mira menyuapi Calsu dengan telaten sementara Danis sibuk dengan handphone nya, membaca berita online.
“Ma, kok Cansu belum kirim pesan lagi ya? Nomornya juga tidak aktif.”
“Sabar sayang, mungkin dia sibuk. Kan kamu bilang sendiri kalau dia lagi fokus ingin menjadi gamer professional, mungkin dia lagi berlatih makanya hp nya di matikan biar gak ganggu.”
“Iya, Mama benar. Cansu pasti pake handphone lain yang hanya ada game kesukaan nya itu. Tapi aku kangen dia Ma.”
“Sama, Mama juga kangen dia.”
“Kapan aku bisa pulang kerumah? Terus kita jemput Cansu ya Ma”
“Besok kamu sudah boleh pulang.”
---
“Haaaaahh, akhirnya aku bisa rebahan di kasur kesayangan aku lagi.”
“Kamu bahagia banget kayaknya sayang.”
“Jelas aja aku bahagia, Ma. Aku sudah sembuh, aku sudah kuat seperti Cansu dan yang paling penting, Mama sama Papa bisa kasih Cansu perhatian, enggak harus fokus ke aku aja. Aku seneng banget, gak sabar pengen ketemu Cansu.”
“Iya sayang, Mama janji akan lebih perhatian sama Cansu. Mama menyesal sudah bersikap jahat sama Cansu.”
“Semoga aja kedepan nya nanti kita lebih bahagia ya Ma, aduh aku gak sabar nunggu Cansu pulang. Enak banget pasti dia tinggal di Bali, hem jadi pengen kesana deh.”
“Nanti kita kesana, jemput Cansu tapi kamu harus sembuh total. Oke?!”
“Siap Mama”
---
“Cansu, kamu udah makan belum?”
“Udah mandi?”
Itu suara Dara, sahabat Cansu yang bawel.
“Astaga! Can, aku lupa mau bayar belanjaan online nih, aku ke indoma*t dulu ya.”
Dara bergegas melajukan motor matic nya menuju indoma*t yang berjarak 15 menit dari tempat dia meninggalkan Cansu. Ketika sampai, dia langsung masuk dan menuju kasir, membayar tagihan belanja online nya. Dia tidak menggunakan ATM karena lebih suka cara seperti ini.
“Adara?”
Dara menoleh karna namanya disebut, dia terkejut melihat orang didepan nya. “Kamu kok bisa ada disini? Bukannya kamu sama Cansu?”
“Eh, Calsu. Kamu udah sehat?”
“Iya, aku udah sehat. Jawab aku, kenapa kamu ada di kota ini, kan kamu ikut Cansu ke Bali.”
“Ee-itu..”
“Loh, ada Dara.” Danis datang bersama Mira. Kesialan macam apa ini, kenapa Dara harus bertemu mereka sekarang.
“Dara jawab! Jangan bilang kamu sama Cansu udah kembali dari Bali tapi kalian sengaja gak ngabarin kami, iya?”
Calsu mengambil handphone nya dan menelpon nomor Cansu, “Jahat banget sih, masa Cansu gak ngabarin aku kalau udah balik.”
Drrttt ddrrtttt
“Loh, kok malah hp kamu yang bunyi?”
Adara semakin panik, wajahnya memucat. Namun sekian detik kemudian dia tersenyum getir, “Kalian mau ketemu Cansu?”
“Iyalah! Aku rindu banget sama dia. Ayok ajak kami kerumah Cansu. Gak sabar pengen peluk dia.”
Adara pasrah, sepertinya ini sudah waktunya mereka bertemu Cansu. Mau sampai kapanpun bersembunyi, mereka pasti akan ketahuan juga.
Mereka menelusuri jalanan kota. Dara dengan motor maticnya memimpin perjalanan. Calsu tidak henti-hentinya tersenyum karna sebentar lagi dia akan bertemu dengan adik kesayangan nya itu. Beberapa minggu hanya berhubungan via sms sangat tidak cukup untuk Calsu, ya meskipun Cansu sudah bilang tidak mau bertemu dulu karena dia menenangkan pikiran nya tapi Calsu tidak perduli, dia tidak masalah jika nanti Cansu marah padanya yang penting mereka bertemu.
Senyum Calsu memudar ketika manik hitamnya menatap area tempat mobil mereka berhenti. Ketiga orang itu keluar dari mobil dan menghampiri Dara, mereka bingung.
“Kok-“
“Udah, diem dulu. Ikut aja sama aku, kalau udah sampai baru boleh nanya.” Ucap Dara datar. Dia berjalan di ikutin mereka bertiga.
Mereka sampai. Ketiganya melihat Dara bingung, “Kamu kenapa ajak kami kesini?”
“Kamu mau lihat adik kamu kan?” Dara menggeser badan nya sedikit menjauh dari mereka, “Lihat nisan itu.”
DEG!..
CANSU ALDEBARAN BINTI DANIS ALDEBARAN
Bagai disambar petir, mereka diam terpaku. Tidak mungkin..
“Tt-tidak-“
“Iya. Cansu sudah meninggal, Cal. Cansu sudah meninggal.”
“TIDAK!”
Mereka berhambur menuju gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama Cansu. Menangis sejadi-jadinya.
“Ini pasti bohong. Cansu pasti ngeprank. KALIAN KALAU MAU ISENG JANGAN KAYAK GINI!”
“Ini semua nyata, Cal. Dia memang sudah meninggal, seminggu setelah mendonorkan hati nya untuk kamu.”
Mereka menatap Adara tidak percaya, bagaimana mungkin…
“Tapi –“
“Selama ini, aku yang nyamar menjadi Cansu. Ini permintaan Cansu sebelum dia meninggal. Hari itu, kita ketemu dirumah sakit kan, Tante? Sebenarnya Cansu juga ada disana, kondisinya buruk karena dia kecelakaan di malam itu. Tapi seminggu kemudian kondisinya membaik dan dia diam-diam menemui dokter untuk melakukan operasi pendonoran hati untuk Calsu. Aku tidak tau dia dapat informasi darimana tentang Calsu, dokter tidak mengizinkan operasi itu tapi dia memaksa dan merahasiakan identitasnya. Selama tiga hari aku membujuknya membatalkan niatnya itu tapi dia menolak, sampai setelah operasi kondisi dia memburuk dan meninggal tepat saat Calsu sadar dari koma nya.”
“Sebelumnya, Cansu sudah merancanakan ini. Ketika Calsu sadar, aku harus berpura-pura menjadi dia karena dia ingin mewujudkan keinginan Calsu yang ingin berbaikan dengan Cansu, karena itu..”
Adara menangis tidak sanggup melanjutkan kalimatnya lagi.
Semuanya menangis, Calsu merasa sangat bersalah atas kepergian adiknya.
Seperti ikut merasa bersedih, langit menurunkan hujan sederas tangisan mereka berempat.
Disana lah mereka berada, rumah terakhir Cansu.
---
Calsu menatap nanar foto Cansu yang terpajang dikamarnya. Dia masih belum menerima kepergian Cansu, rasanya semua hanyalah mimpi buruk dan dia harus segera bangun.
Tangan nya meraih selembar kertas berwarna merah muda disamping nya. Tangis nya kembali pecah melihat kertas itu.
*Surat dari Cansu untuk Calsu*
Dear, My Lovely Twin.
Hi, Calsu..
Mungkin setelah kamu baca surat ini kita udah ketemu dalam wujud yang berbeda.
Aku tau kamu nangis, dasar cengeng! Berhenti nangis Calsu!
Aku cuman mau minta maaf sama kamu, selama ini aku kasar dan jahat. Sampaikan juga maafku pada Papa dan Mama.
Sekarang aku udah tenang, Kak. Kalian juga harus bahagia disana. Aku bahagia disini, aku yakin sekarang Papa dan Mama pasti sayang banget sama aku. Aku enggak menyesal ambil keputusan ini karena aku tau, kehilangan kamu akan menjadi kehancuran terbesar Papa dan Mama. Aku berhasil jadi superhero untuk mereka, aku bahagia.
Kakak tau seberapa bahagianya aku sekarang? Akhirnya setelah sekian lama usahaku mendapatkan kasih sayang mereka, aku berhasil Kak.
Kakak jangan terus merasa bersalah. Aku sudah ikhlas.
Aku hidup dalam diri kakak, setidaknya hati ku akan merasakan kasih sayang Mama dan Papa.
Kakak harus menjadi gadis yang kuat sekarang! Maafkan semua kesalahan ku pada kalian.
Aku sayang kalian...
Aku pamit :)
---
Cansu Aldebaran.
Jika aku diberi kesempatan untuk meminta sesuatu yang paling berharga. Aku akan minta waktu dan perhatian orangtua ku.
Aku tidak pernah merasakan Mama mengusap rambutku ketika aku sakit. Aku juga tidak pernah melihat Papa pulang dan membawa mainan untukku.
Tapi aku pernah melihat kejadian itu. Aku melihatnya ketika mereka bersama dengan kakak kembarku. Calsu.
Aku iri..
Aku juga ingin seperti Calsu...
Sudahlah, semuanya sudah selesai. Aku sudah bahagia sekarang. Aku mendapatkan apa yang aku mau. Orangtua ku, sekarang mereka sangat sayang padaku, aku bisa merasakan itu.
Aku tidak menyesal dengan keputusan ku. Kehilangan anak kesayangan mereka akan membuat mereka semakin benci padaku, aku bukan orang bodoh yang membiarkan itu.
Aku bangga sudah menjadi pahlawan untuk kakak ku. Dia bisa hidup, dia sudah sembuh. Aku juga mendapat kasih sayang orangtua ku. Apalagi yang aku butuhkan? Tidak ada!
Akhirnya orangtua ku sadar bahwa aku pernah hidup dalam keluarga Aldebaran.
Terimakasih Tuhan karena sudah memberiku kesempatan untuk hidup.
Aku sudah bahagia sekarang.
TAMAT.