Di suatu hari sebelum adanya teknologi dan masih dalam suasana sebelum tahun Masehi, hiduplah seorang pangeran bernama Abeciro. Ia merupakan putra mahkota dari kerajaan Yunani kuno, tapi sayang keadaannya terbuang karena diyakini telah dikutuk oleh dewa.
Tidak ada satupun dari masyarakat bahkan keluarga kerajaan yang senang dengan keberadaannya. Sang pangeran yang masih remaja harus diasingkan ke sebuah hutan yang penuh dengan binatang buas.
Ia terkena penyakit menular dan membahayakan masyarakat. Tidak ada tabib khusus yang dikirimkan kerajaan untuknya.
Bahkan tidak ada makanan yang diberikan untuk dirinya. Ia hanya memakan tumbuhan liar yang ada di sekitar.
Malang nasib sang pangeran diumur 15 tahun ia harus menjalani kehidupan yang cukup menyulitkan. Dirinya penuh dengan rumor buruk, bahkan banyak orang yang menolak jika dirinyalah pewaris tahta kelak.
Sang pangeran Abeciro termenung di dalam gubuknya. Suara jangkrik malam amat memekakan telinga. Ia hanya terdiam sambil melamun.
Sekujur tubuhnya penuh dengan nanah, bau busuk menguak dari dirinya. Ia merasakan sakit bersamaan gatal pula, ini menyiksa tapi entah kenapa dia tidak juga dijemput ajalnya.
Sang pangeran berusaha berjalan dengan teratih mengambil obatnya untuk mengurangi rasa sakit. Sakit itu menyiksa dirinya setiap hari.
Usai mengoles obat herbal ke tubuhnya ia bersandar pada dinding gubuk. Napasnya memburu berusaha menetralkan detak jantung yang menggebu setiap ia merasakan sakit.
Ia memejamkan matanya agar tertidur dan dirinya tidak lagi merasakan sakit pada tubuhnya.
Namun sebuah nyanyian dari arah luar dengan merdunya menyeruak di gendang telinga sang pangeran. Pangeran mahkota pun membuka matanya kembali dan merasakan aneh pada suara tersebut. Biasanya tak pernah terdengar nyanyian di tengah malam.
Dadanya berdegup apakah ada orang di sini? Pangeran tidak takut kepada hantu tapi tetep saja bulu kuduknya merinding, namun tidak dapat dipungkiri pula lagu itu mengalun indah di telinganya hingga dirinya tertidur.
8 tahun kemudian
Pangeran Abeciro menyeka keringat di dahinya. Ia berjalan menuju rumah. Dirinya baru saja datang berburu.
Ia memanggang hasil buruannya dan memakannya. Ketampanan pemuda itu tidak diragukan lagi, tubuh atletis dan wajah yang rupawan dibalik semua penyakitnya, sungguh disayangkan sekali sebuah kesempurnaan yang tertutupi.
Pangeran Abeciro pun membersihkan tubuhnya saat malam hendak datang. Ia membuka seluruh pakaiannya dan melakukan ritual pembersihan.
Usai melakukan kegiatannya ia pun duduk termenung di bawah sebuah pohon.
Pangeran menatap ke arah langit mengamati bintang dan bulan di malam hari. Dirinya tersenyum lemah.
Sudah bertahun-tahun ia tinggal di sini dan tidak ada satupun keluarga kerajaan yang datang mencarinya. Sepertinya ia sudah dilupakan, mungkin sudah ada pewaris baru.
Pangeran Abeciro bersandar pada pohon tersebut. Dan tidak lama telinganya mendengar alunan merdu suara wanita tak jauh dari tempatnya. Ia tersenyum, suara itu sudah menemani malamnya bertahun-tahun, tapi ia tak juga kunjung tahu siapa sang pemilik suara tersebut.
Ia tidak berani untuk mencaritahu, dirinya merasa tidak percaya diri. Ia takut perempuan itu kabur dan tidak mau lagi bernyanyi di dekat gubuknya.
Namun hati Abeciro gelisah. Di sisi lain ia sangat ingin mencaritahu siapa perempuan itu. Pangeran pun menarik napas dan segera mengambil keputusan.
Ia bertekad untuk menghampiri sumber suara tersebut dan menyiapkan mental jika sesuatu nanti terjadi.
Ia hendak melakukan ini secara diam-diam. Dirinya berjalan mengendap-endap dan bersembunyi di balik pohon besar.
Sungguh Abeciro dapat melihat siluet punggung wanita itu. Matanya tak dapat dialihkan dari punggung indah tersebut.
Perempuan itu menoleh ke arah Abeciro. Abeciro pun langsung tercekat hendak melarikan diri, tapi sang wanita mengejarnya dan mencegat jalan Abeciro.
Abeciro pun langsung pucat saat menatap wajah wanita itu. Tinggi, rambut panjang, mata indah, hidung dan bibir yang mungil, senyum yang menawan.
Abeciro tetap juga hendak kabur tapi tangannya dicekal. Ia pun menoleh pada wanita cantik tersebut.
"Siapa kau?" tanya Abeciro penuh selidik pada wanita itu.
Wanita itu tidak merasa terintimidasi dengan tatapan Abeciro. Ia malah memberikan senyuman pada pangeran muda tersebut.
"Salam hormat pangeran. Perkenalkan saya dewi Agatha yang ditugaskan dewa untuk menemani anda pangeran," tutur Agatha dengan lembut.
"Hah apa maksudmu? Bukan kah aku dikutuk? Kenapa dewa malah mengirim mu?"
Agatha pun tersenyum. Ia merasa wajar jika Abeciro akan merasakan keheranan.
"Anda dikutuk bukan karena kesalahan anda tapi karena kesalahan kedua orang tua anda."
Tampak mimik Abeciro langsung mengeras. Ia bergetar dan ketakutan. Air matanya meluncur deras. Dirinya pun berlari ke arah gubuk dan disusul oleh Agatha di belakang.
Agatha menatap pada Abeciro yang menangis pilu. Hati Agatha pun tersentuh, dirinya pun mulai melantunkan irama lagu yang sukses membuat Abeciro merasa tenang.
"Anda jangan bersedih. Jika anda sudah menemukan saya berarti anda akan terbebas dari kutukan anda. Mungkin sekarang sudah saatnya."
Abeciro menatap Agatha. Dirinya mengernyit bingung. Bagaimana caranya ia terbebas dari kutukan sial*n itu.
Agatha tersenyum ramah melihat keheranan di wajah Abeciro. Ia pun mengeluarkan sebuah ramuan dan meminta Abeciro untuk meminum cairan tersebut.
Abeciro menatap ramuan itu dan ragu-ragu untuk meminumnya. Ia menatap wajah Agatha, dan perempuan tersebut meyakinkan untuk pangeran meminumnya.
"Jangan ragu pangeran. Berbahagialah dewa telah membebaskan Anda."
Abeciro pun meminumnya. Tak lama kepalanya merasa pusing dan tertidur.
Pagi tiba, Abeciro membuka matanya dan sinar asri menyambut paginya. Pria itu menarik napas dan duduk.
Ia teringat dengan semalam apakah itu hanya mimpi semata? Abeciro pun menatap seluruh tubuhnya. Awalnya tidak ada yang aneh hingga Abeciro merasa benar-benar keheranan tubuhnya tidak lagi terdapat kudis-kudis yang bernanah dan menyakitkan.
Ia pun yakin jika itu bukanlah mimpi. Tapi senyumnya luntur saat memikirkan Agatha. Apakah Dewi itu tetap akan ke sini dan melantunkan lagu seperti setiap ia merasa kesakitan?
Abeciro pun tertunduk lesu.
Malamnya Abeciro menunggu hingga tengah malam untuk mendengar lantunan lagu tersebut, namun sepertinya tidak akan lagi nyanyian malam seperti sebelumnya.
Setiap malam Abeciro terjaga berharap Agatha datang dan melantukan lagu.
Pada satu malam Abeciro pun menangis kehilangan suara indah yang telah menemaninya bertahun-tahun.
Namun saat ia merintih suara alunan lagu itu kembali terdengar. Abeciro pun bahagia dan mencari sumber suara. Dia menemukan Agatha di tepi danau dan sang pangeran cepat memeluk tubuh Agatha agar wanita itu tidak lagi menghilang meninggalkan dirinya.
Agatha terkejut. Ia hendak melepaskan pelukan tersebut namun sepertinya pangeran sangat erat memeluknya.
"Pangeran lepaskan saya."
"Agatha kenapa kau tidak pernah datang lagi ke sini?"
"Pangeran tugas saya sudah selesai. Jadi untuk apa saya datang?" tanya Agatha menatap pria yang ketampanannya luar biasa, bahkan mungkin para dewa kalah dengan ketampanan ini.
"Lalu untuk apa kau di sini?"
"Pangeran tugas saya menghibur anda jika anda sedang merasa sakit dan bersedih."
"Maka tetaplah di sini selamanya. Jika kau pergi aku akan bersedih sepanjang hidup ku. Maka jika kau mau menghibur ku, hibur aku sampai aku mati."
Agatha pun tercekat mendengar pernyataan Abeciro. Ia tidak dapat berkata apa pun lagi.
Tahun silih berganti tahun, Agatha dan Abeciro selalu bersama. Mereka bahagia seperti pasangan baru.
Di tengah-tengah mereka terdapat bayi mungil yang terus berceloteh. Keduanya pun tertawa bersama melihat kelucuan bayi itu.
Alexis itulah yang disebutkan Agatha dan Abeciro saat memanggil bayi mungil tersebut.
Agatha termenung di tepi danau. Sudah bertahun-tahun lamanya ia tinggal di bumi dan tidak pulang ke asalnya.
Agatha menatap pada gubuk yang ditinggalinya. Ia telah melakukan kesalahan besar dan melanggar janji yang berarti ia telah melakukan penghianatan besar.
Itu artinya ia akan dihukum dewa karena telah berani menikah dengan seorang manusia.
Beberapa bulan, apa yang dikhawatirkan Agatha terjadi juga. Tentara langit datang menjemputnya untuk diadili di istana dewa.
Agatha tercekat begitupula dengan Abeciro yang tidak mengerti. Para tentara langit memaksa Agatha untuk ikut bersamanya namun dihalau oleh Abeciro yang tidak terima dan terjadilah peperangan.
Abeciro terluka parah. Ia mendekap bayinya begitu erat supaya tentara langit itu tak dapat mengambil Alexis.
Ia berteriak pilu saat Agatha dibawa.
"AGATHA!!!! TIDAK JANGAN BAWA AGATHA!!!" Agatha menoleh dan dia menangis.
Ia meminta kepada para tentara langit untuk memberinya waktu berbicara. Agatha berlari ke arah Abeciro yang berlumuran darah.
"Agatha jangan tinggalkan aku," pinta Abeciro.
"Maafkan aku pangeran, aku harus pergi. Minumlah ramuan ini dan berikan juga pada anak kita jika pangeran ingin masih bersama ku."
Setelahnya Agatha pun dibawa ke istana langit. Abeciro hanya bisa meratapi dari bawah. Ia menatap langit.
Sesuai dengan perintah Agatha ia pun meminum ramuan itu dan memberikannya kepada Alexis.
*
Seorang pria mengernyit heran. Suara mobil di sekitar mengalun merdu di antara keheningan. Ia menarik napas dengan dalam saat kilasan ingatan itu kembali padanya.
Dirinya mengenakan jas mahal dan gelang jam mahal melingkar di pergelangan tangannya. Ia menatap pada anak kecil di sampingnya, dan memeluknya erat.
Ia juga langsung memeluk wanita di depannya begitu erat. Wanita itu datang dan memberikannya sebuah ingatan yang membuat ia mengetahui keanehan mimpinya selama ini.
"Agatha jangan lagi tinggalkan aku. Apa kau tidak kasihan pada Alexis?"
"Tidak lagi pangeran. Tentu aku merindukan putra ku."
Agatha pun memeluk Alexis dengan sayang. Agatha dikutuk menjadi manusia biasa di dunia modern, sedangkan Abeciro juga terlempar ke dunia modern usai meminum cairan yang diberikan Agatha.
"Kita akan membentuk keluarga bahagia sekarang."
TAMAT