Setelah Ditinggalkan Pacarku, Aku Menjadi Bosnya …
“Kamu luar biasa, Mi!” seru Junot, kekasihku.
Saat ini aku sedang mengerjakan sebuah project besar untuk perusahaan. Project yang luar biasa ini, bisa mengangkat jabatanku jika bos memang menyukainya.
“Benarkah? Terima kasih, Sayang!” sahutku yang begitu senang dengan pujian yang laki-laki itu lontarkan.
Junot, seorang laki-laki tampan yang menurutku wajahnya mirip salah satu artis ternama, Nicholas Saputra. Dia ada di sini bersamaku, karena ia selalu siap sedia untuk mendukung semua yang aku lakukan. Tidak terkecuali malam ini saat aku harus lembur dan menyelesaikan project itu.
“Pulang kerja ini kita makan di luar, ya! Aku begitu senang karena akhirnya kamu berhasil menyelesaikannya sebelum deadline! Aku cukup yakin kalau Pak Angga akan memuji hasil kerjamu itu! Luar biasa sekali!” katanya dengan semangat berapi-api. Junot bisa berkata begitu karena ia melihat setiap detail yang kuberikan ke dalam project itu. Aku pun berpikir jika hasil kerjaku kali ini cukup spesial.
Aku menyukai Junot bukan hanya karena wajah tampannya, tapi juga karena ia pandai sekali mengambil hatiku. Junot tidak pernah absen untuk mencerahkan hariku, bahkan ketika awan kelabu memaksa untuk datang.
“Baiklah, Sayang. Aku mau banget! Nasi goreng Abah Irul, ya?” sambutku kemudian.
Junot tersenyum dan mengangguk. Ia merangkulku dengan sayang. Ia adalah teman kerja yang menjadi kekasih. Belakangan ini begitu perhatian dan semakin sayang padaku.
Setelah menyimpan file project itu ke dalam google drive, aku juga menyimpannya di dalam sebuah flashdisk. Hanya berjaga-jaga saja jika salah satu soft file-nya rusak atau hilang.
***
Jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Saat ini kami berdua sudah duduk di sebuah warung nasi goreng yang kukatakan tadi. Ternyata malam ini tidak seramai malam-malam sebelumnya. Mungkin karena malam ini malam jum’at yang kata orang menyeramkan.
“Neng, seperti biasa?” tanya Abah Irul saat melihat kedatanganku.
Aku mengangguk dan tersenyum kepadanya. Saat berpaling, ternyata Junot masih di dalam mobil, sepertinya ia sedang menghubungi seseorang.
Junot terlihat sedang marah-marah. Entah dengan siapa ia bicara, yang pasti Junot tidak sedang baik-baik saja. Namun, saat pandangan kami bertemu, ia kembali tersenyum. Aku balas tersenyum dan melambai kecil padanya.
Tidak ingin menaruh curiga, aku langsung saja memesan nasi goreng seperti biasa. Aku tahu Junot pasti akan memesan nasi goreng ikan asin karena itu adalah favoritnya. Lalu, es teh sabagai pelepas dahaga.
“Sendirian, Neng?” tanya Abah Irul seraya menggoreng nasi pesananku.
Aku menggeleng. “Enggak, Bah. Itu sama Junot,” sahutku seraya menunjuk ke arah Junot yang sudah berjalan mendekat.
Abah Irul tersenyum dan kembali fokus pada kegiatannya.
Aku dan Junot duduk di meja yang agak jauh dari Abang Irul. Tujuannya hanya karena tidak ingin merasa gerah duduk di dekat kompor.
“Nelpon siapa, Yang?” tanyaku yang penasaran kenapa ia sampai marah-marah.
“Ah … tidak usah dibahas. Itu tadi salah satu anak buahku yang meminta cutinya secara mendadak. Membuat kesal saja …,” jelas Junot padaku.
“Mungkin ia ada keperluan mendesak. Bagaimana kalau ada keluarganya yang terkena musibah? Seharusnya Sayang tanyakan dulu betul-betul.” Aku berusaha memberikan pengertian. Di sini aku coba untuk memposisikan diri sebagai orang itu. Bagaimana kalau aku yang harus minta cuti secara tiba-tiba?
“Heleh … palingan juga mau liburan. Lumayan, kan … besok hari jumat dan sabtu. Pasti ia hanya ingin waktu libur lebih banyak," jelas Junot yang masih merasa kesal.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pesanan kami datang. Dugaanku benar, Junot senang sekali dengan apa yang sudah kupesan untuknya. Nasi gorang ikan asin dan es teh manis.
Kami memutuskan untuk langsung pergi dari sana setelah selesai makan. Perut telah kenyang. Sesampainya di rumah, bisa-bisa aku langsung tidur karena sudah sangat lelah.
***
Pagi ini aku merasa ada yang aneh. Junot tidak menjemputku seperti biasa. Padahal di luar sedang gerimis dan aku tidak punya mobil. Dengan sangat terpaksa, aku pergi dengan motor dan jas hujan.
Sesampainya di kantor, aku melihat ada yang aneh. Di dalam ruangan Pak Angga yang merupakan bosku di kantor, aku melihat ada Junot. Mereka berdua terlihat sedang membahas sesuatu yang sangat penting.
“Apa yang mereka bicarakan, ya?” batinku bingung.
Aku memilih untuk duduk lebih dulu di belakang meja kerjaku. Merapihkan berkas yang belum sempat kuselesaikan karena memprioritaskan pengerjaan project kemarin.
Karena tidak ingin kena marah Pak Angga, aku memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu. Data-data itu tidak akan selesai jika hanya kupikirkan saja.
Setelah hampir dua jam menginput data, akhirnya pekerjaan itu selesai. Aku mengedarkan pandangan. Tidak ada Junot di mana-mana. Seharusnya, pada jam segini ia masih ada di belakang meja, bukannya kelayapan. Apa orang itu tidak takut teguran Pak Angga?
Aku melihat jam yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku. Ternyata sudah pukul setengah dua belas siang dan aku tidak menyadarinya. Rupa-rupanya, cukup lama juga aku menghadapi komputer, bukannya dua jam saja.
“Amira!” panggil Ipeh yang sudah berada di belakangku. Aku berpaling dan tersenyum padanya. Ipeh cukup baik padaku selama kami berteman.
“Ada apa, Peh?” tanyaku penasaran. Di dalam hati, aku masih menanyakan keberadaan Junot yang masih tidak terlihat.
“Kamu dipanggil Pak Angga sekarang!” tukas Ipeh dengan wajah penuh kekhawatiran.
Aku bingung karena sepertinya tidak berbuat salah apa-apa. Namun, karena Ipeh juga tidak mungkin bohong, aku pergi ke ruang Pak Angga, mengabaikan rasa lapar yang telah menyelinap di perutku.
Tok tok tok.
Ketukan pintu terdengar di telingaku sendiri. Setelah mendapat perintah masuk, aku membuka pintu ruangan Pak Angga dan masuk ke dalamnya.
Laki-laki itu menyuruhku duduk dengan nada suara yang tidak bersahabat.
Selama setengah jam lamanya, aku dan Pak Angga banyak bicara. Keluar dari sana, aku hanya bisa memegangi dada yang terasa sesak. Tadinya aku tidak ingin percaya semua perkataannya. Mengingat Pak Angga kerap kali mencari perhatianku untuk mau jalan dengannya.
Ish, siapa yang mau jalan dengan laki-laki yang sudah punya dua kekasih? Kadang, dua kekasihnya itu datang bersamaan dan mereka terlihat baik-baik saja. Mungkin karena Pak Angga sangat pintar mengatur mereka berdua. Tapi maaf-maaf saja, aku tidak mungkin menjadi yang ketiga.
Namun, sebuah flashdisk yang ia perlihatkan padaku, menjadi kuncinya. Kata Pak Angga, tadi pagi Junot menemuinya dan memberikan flashdisk itu. Junot mengaku jika ia telah menyelesaikan project yang perusahaan minta.
Hati siapa yang tidak sakit, saat sebuah pekerjaan besar yang kita kerjakan susah payah, malah diakui oleh orang lain? Aku tidak mengira sama sekali. Apakah selama ini Junot tidak pernah lupa melepaskan topengnya? Licik!
Untungnya, Pak Angga tidak lantas langsung percaya. Ia tahu jika aku juga mengerjakan project yang sama. Pak Angga sudah curiga dari lama, kalau Junot itu ada maunya saat dekat denganku.
“Kamu mungkin tidak percaya dengan saya, Mir … tapi saya melihat semuanya sendiri. Junot pergi ke club malam dengan seorang wanita cantik,” terang Pak Angga tadi.
Pada tahap ini, aku tidak tahu harus percaya dengan siapa. Apakah kekasihku ataukah Pak Angga. Akan tetapi, flashdisk di tangan Pak Angga buktinya. Bahkan, aku sudah meminta Pak Angga untuk membuka flashdisk itu agar aku yakin, dan benar saja … isinya sama persis seperti milikku. Hanya berbeda nama dan tanggal pembuatan.
“Saya ingin menyelesaikan semuanya baik-baik dengan Junot, Pak. Mungkin ia hanya khilaf dan bisa memberikan penjelasan yang lebih baik dari dugaan kita,” kataku mencoba bijak.
Pak Angga mempersilakanku pergi dari ruangannya. Tidak lupa ia memintaku datang ke acara meeting project itu nanti malam. Pak Angga bilang, Junot juga akan hadir pada meeting itu nanti malam.
***
Aku memandangi gaun yang kupilih untuk meeting malam ini. Karena bukan acara formal, aku berani mengenakannya. Apalagi, seharian ini aku tidak bisa menemukan Junot di kantor. Itu artinya, malam ini adalah hal besar bagi kami berdua.
Ting!
Pintu lift terbuka. Ternyata acara meeting yang dikatakan Pak Angga, sudah hampir dimulai. Aku memilih untuk duduk di bangku deretan paling belakang, karena tidak ingin mengganggu orang lain jika aku nekat berjalan ke depan.
Selama satu jam lamanya, orang-orang menjelaskan tentang project baru yang telah ‘dicuri’ Junot dariku. Ternyata, Junot juga telah membentuk satu tim untuk mempelajari project yang kubuat. Mungkin ia merasa tidak sanggup untuk menguasainya sendiri. Aku geli dan jijik saat membayangkannya.
Akhirnya kami sampai pada satu sesi yang menurut orang-orang begitu penting. Yaitu sesi tanya jawab. Aku cukup yakin jika Junot dan timnya sudah menguasai semua isi flashdisk itu. Setiap malam saat mengerjakan project tersebut, Junot ada di sampingku. Sungguh, aku tidak tahu jika ini lah niatnya.
“Bagaimana, Pak Junot? Apakah Anda bisa menjelaskannya kepada kami?” tanya salah satu tamu undangan.
Di depan sana, Junot terdiam. Ia melirik ke arah tiga orang tim-nya untuk meminta jawaban. Dua menit, tiga menit, lima menit, tidak ada jawaban dari Junot dan tim-nya dan hal itu membuatku bingung. Kenapa Junot tidak mengetahui jawabannya?
“Oke … baiklah kalau begitu. Mungkin Pak Junot ingin berdiskusi dulu dengan tim-nya …,” kata Pak Angga yang sempat melirik ke arahku. Aku bisa melihat sebuah senyuman tersungging di sana. “Sementara menunggu jawaban Pak Junot, kita akan mendengar jawaban Nona Amira terlebih dahulu. Sialakan naik ke sini, Nona,” kata Pak Angga menyebut namaku.
Tentu saja hal itu membuatku terkejut. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian banyak orang. Tidak malam ini. Perasaanku masih kacau dan akan memalukan jika aku tidak bisa tampil dengan baik.
Namun, Pak Angga sepertinya tidak menyerah. Ia turun dari atas podium dan mendekatiku. Mengulurkan tangannya untuk menjemputku. Karena tidak ingin ia malu, aku menyambut uluran tangan itu dan mengikuti langkah kakinya.
Di atas sana, aku menjawab semua pertanyaan yang tadi yang sudah dilontarkan. Aku bisa melihat raut kepuasan dari semua tamu yang merupakan orang penting perusahaan.
Gemuruh tepuk tangan dari orang-orang itu membuat Junot terlihat kesal. Aku melihatnya berpaling dan ingin pergi dari sana. Namun kemudian, dua orang security bertubuh besar, menahannya. Junot terlihat was-was dan tidak berani kemana-mana.
“Bagaimana bisa Nona ini lebih tahu semuanya ketimbang Pak Junot? Apakah dia membantu project ini dari awal?” tanya Pak Narendra yang kukenal sebagai direktur utama perusahaan tempatku bekerja.
Aku terdiam. Tidak berani menjawab karena mungkin akan menimbulkan keributan besar. Akan tetapi, Pak Angga langsung saja meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Aku menoleh meminta penjelasan.
“Kamu tahu siapa dia, Mir. Jika ingin pekerjaanmu diakui, kamu bisa mengaku sekarang. Kalau tidak, mungkin project ini tidak akan diluncurkan walaupun terlihat sangat sempurna,” terang Pak Angga berbisik di sampingku.
Aku mengerutkan kening. Benarkah itu? Lalu, jerih payahku akan dibuang begitu saja? Kalau begitu, hal itu tidak boleh terjadi.
Dengan sangat percaya diri, aku mengangkat wajah dan menatap semua orang yang ada di sana.
“Nama saya Amira Putri. Saya adalah salah satu karyawan Pak Angga yang telah menyelesaikan mega project ini SENDIRIAN! Orang itu adalah kekasih saya, yang telah mencuri semua dari saya dan mengakui jika pekerjaan itu miliknya!” terangku dengan berapi-api. Aku menunjuk Junot tanpa ragu.
Seketika ruangan itu berdengung. Mereka membicarakan kecurangan yang dilakukan Junot kepadaku. Di samping, Pak Angga langsung saja merangkul pinggangku.
“Pak?” tolakku yang tidak ingin keributan lain. Pasalnya, dua orang pacar Pak Angga juga hadir di sana.
“Kamu berhutang terima kasih yang besar kepadaku. Jika bukan karenaku, kamu tidak akan ada di sini dan kehilangan hasil kerjamu selama ini,” terang Pak Angga.
“Ta-tapi … pacar-pacar Bapak?”
Pak Angga menoleh dan memandangku dengan bingung. “Kamu ini polos sekali! Apa kamu percaya saat kukatakan mereka adalah kekasihku?” tanyanya geli.
Aku mengagguk dengan pasti. “Ya … memangnya bukan?”
“Ha ha ha! Tentu saja bukan. Mereka itu Naysila dan Nasyila. Kakak beradik anak dari Pak Narendra. Jangan sampai ada yang dengar hal itu, bisa-bisa mereka langsung melemparmu ke jalanan!” Pak Angga menakutiku.
Aku merasa sangat malu karena telah berburuk sangka padanya selama ini. Ternyata Pak Angga hanya melihatku seorang, tapi aku sudah terlanjur bersama Junot. Saat Junot melakukan kecurangan, ia melihat hal itu sebagai jalannya untuk masuk di antara aku dan Junot. Rupanya ia berhasil. Semua ini berkat kebodohan Junot dan ketidaktahuannya tentang rasa tersimpan Pak Angga untukku.
Sekarang aku telah resmi menjadi kekasih Pak Angga, setelah keesokan harinya Junot memakiku habis-habisan dan mengataiku dengan kasar. Ia bilang, aku hanyalah wanita culun yang beruntung menjadi pacarnya. Aku tahu ia benar, aku memang culun dan sangat senang saat menjadi pacarnya. Lalu ia meninggalkanku.
Namun semuanya telah selesai. Tidak masalah kalau ia mau pisah, toh aku juga tidak mau menjalin hubungan lagi dengan orang yang telah mencuri dan menipuku habis-habisan.
Kemudian, ada satu hal lagi yang menurutku sangat besar dan tidak pernah kuimpikan, yaitu keputusan Pak Narendra yang langsung memilihku sebagai pimpinan utama untuk project tersebut. Pak Narendra juga memutuskan jika Junot dan dua orang lainnya wajib menjadi bagian dari unit kerjaku. Tidak pernah ada di benak ini, bisa menjadi bos dari kekasihku sendiri. Lebih tepatnya mantan kekasih.
Lucu. Aku tidak habis pikir dengan apa yang baru saja kualami. Setelah ditinggalkan oleh Junot, aku malah menjadi bosnya. Karma dibayar tunai. Hal ini mengajarkanku jika manusia harus selalu melakukan hal baik, agar mendapatkan balasan yang baik pula.
Notes: Pak Angga terlihat jauh lebih tampan ketimbang Junot. Jika diibaratkan artis, Pak Angga terlihat seperti Lee Min Ho. Hahaha! Kalian pasti gak akan percaya ;’)