Abimanyu terduduk di tepi tempat tidurnya. Tubuhnya berkeringat. Padahal AC menyala. Dia lekas meneguk botol minum berisi air bening di meja di samping tempat tidurnya. Dilihatnya jam digital yang tergantung di dinding kamar. Sekarang jam dua pagi.
Dia mencoba mengingat mimpinya barusan.
Seorang wanita terkurung di dalam dinding es besar dan rintihan minta tolong.
Sekarang dia sudah mengingat rangkaian potongan mimpinya tadi.
Dia seperti sedang berjalan menyusuri tepian sawah di sebuah desa. Namun tiba-tiba langkahnya membawanya ke sebuah air terjun kecil di ujung desa yang merupakan pintu masuk ke sebuah hutan. Air terjun itu sangat indah membuatnya penasaran untuk merasakan mandi dibawah curahan airnya. Saat dia sedang menikmati sensasi percikan air yang menghujam tubuhnya dengan dingin, samar-samar dia mendengar sebuah rintihan.
"Tolong saya...tolong keluarkan saya...tolooong" suara wanita merintih tak berdaya membuat Abimanyu menghentikan aktifitas mandinya. Dia mencoba mencari sumber suara itu. Dia menerobos ke balik derasnya air terjun. Suara rintihan itu semakin jelas. Ada semacam terowongan kecil di balik air terjun itu. Abimanyu terus melangkah di atas batu-batu yang lumayan tajam namun licin karena terdapat lumut di atasnya. Sesekali kakinya terpeleset. Semakin dia masuk ke dalam terowongan itu, suara itu semakin jelas. Saat terowongan itu sedikit menikung ke kanan, tangannya tanpa sengaja mendorong dinding batu terlalu kencang karena kakinya menginjak batu yang tajam membuatnya mencari pegangan. Tiba-tiba dinding batu itu terbuka. Ada sebuah goa di sana. Abimanyu terkesiap ketika hawa dingin menyergap dari dalam goa. Dia mencoba melihat bagian dalam goa, namun keadaan cukup gelap. Karena sinar matahari tidak terlalu banyak bisa masuk ke dalamnya. Jadi hanya bisa dikihat dengan samar.
"Tolong keluarkan sayaa...tolooongg...dingiiiinn" suara itu sangat jelas. Bergema di dalam goa. Abimanyu meraba dinding goa mencari pegangan. Namun dinding goa itu sangat dingin seperti es. Tangannya tidak kuat lama-lama berpegangan di dinding yang sangat dingin.
Dari kejauhan samar-samar dia bisa melihat seorang wanita yang terkurung di dalam dinding es. Seorang putri es kah?
Dia berusaha mendekat. disentuhnya dinding es itu. Gadis yang berada di dalamnya terus berteriak minta tolong. Dia mencoba mencari batu untuk menghancurkan dinding es itu. Tiba-tiba dia melihat sekelebat bayangan hitam dengan sorot mata merah terbang ke arahnya. Tanpa dia duga, bayangan hitam itu sudah berada tepat didepan wajahnya. Wajah keriput dengan hidung panjang, telinga runcing, mulut berliur dan sepasang mata merah menyala. Kuku-kuku tangannya sangat panjang, hitam dan runcing. Di jari sebelah kiri tangannya nampak menggunakan sebuah cincin bermata merah.
"DEWI UTARI MILIKKUUUUUU....." Suara mengerikan memenuhi ruangan goa yang gelap. Tangan makhluk itu berusaha mencekiknya. Abimanyu berusaha melepaskan cengkeraman makhluk itu. wajah mengerikan dengan liur menjijikkan itu membuatnya mual. Tiba-tiba Abimanyu merasakan ada yang membimbingnya mengambil sesuatu di kantung bajunya. Sebuah gelang kayu pemberian kakek setahun yang lalu. Dengan susah payah dia meraih gelang itu. Setelah ada digenggamannya, seperti ada sebuah suara yang menyuruhnya memukulkan gelang ke wajah makhluk itu.
Makhluk itu menjerit, melengking lalu menghilang. Abimanyu merasakan tubuhnya jatuh ke lantai goa yang dingin.
"di mana aku?" Abimanyu bergumam menatap ruangan gelap yang dingin.
"Haaruuyaaann......" sebuah suara berbisik di telinganya sesaat sebelum matanya tertutup.
Saat dia tersadar, dia ada di lantai kamarnya dengan nafas tersengal dan baju tidur yang basah oleh keringatnya. Hanya mimpi. Tapi mimpi yang seperti nyata dan menyeramkan. Dia menatap telapak tangannya yang menggenggam gelang kayu pemberian kakek. Padahal selama ini gelang kayu tersebut dia simpan di laci meja belajarnya.
Entah bagaimana caranya gelang tersebut tiba-tiba bisa ada di dalam genggamannya.
***
"Abimanyu, ayo cepatlah. Jangan melamun. Kita berangkat sekarang. Mama mau ke rumah tante Sisy" Mama menepuk bahu Abimanyu yang baru saja menghabiskan segelas susu hangat.
Abimanyu bergegas meraih kunci mobil. Menyalakan mesin mobil. Saat memegang kemudi, dia baru menyadari bahwa dia menggunakan gelang kayu pemberian kakek. Dia mengingat-ingat kapan dia memakainya.
"Melamun lagi....." ucap Mama . "Jangan suka melamun. Apalagi kalau sedang membawa kendaraan"
"Mama naik taksi saja kalau kamu bawa mobilnya melamun"
Abimanyu langsung duduk tegap.
"Siap, Ma. Aku tidak akan melamun" dia meletakan tangannya di dahi memberikan tanda hormat.
"Aah kamu ini" ucap Mama sambil tertawa pelan.
"Mama ada arisan di rumah tante Sisy?" Tanya Abimanyu. Biasanya kalau acara arisan, selalu banyak makanan enak-enak. Karena dia merasakan perutnya lapar. Dia tadi tidak sempat makan apa-apa. Hanya segelas susu hangat tidak cukup mengisi perutnya. Gara-gara mimpi menyeramkan semalam, dia tidak tidur lagi sampai pagi. Baru bisa tertidur jam tujuh. Tapi jam delapan mama sudah membangunkannya untuk cepat-cepat mandi dan antarkan mama ke rumah tante Sisy.
"Bukan arisan. Mama dan teman-teman mau menjenguk Naira, anak tante Sisy yang sedang sakit"jawab Mama.
"Naira yang ada lesung pipinya kan, Ma?" Abimanyu memastikan.
"Iya"jawab Mama.
"Yang manis dan pendiam?" Tanya Abimanyu lagi.
"Iya yang suka kamu godain sejak kecil" jawab Mama membuat Abimanyu terkekeh. Dia memang mengenal Naira. Dia suka dengan Naira, gadis yang sangat manis. Tapi tidak terlalu sering mengobrol. Karena Naira pendiam. Apalagi sejak mereka besar, mereka jarang sekali ikut bersama orangtua mereka jika orangtua mereka sedang berkumpul.
"Kata tante Sisy, sakitnya agak aneh. Sudah sebulan Naira seperti koma. Sudah berobat ke beberapa dokter, namun menurut dokter Naira sehat"
"Naira pun sekarang tidak bisa bangun dari tempat tidur. Dia tidak mau bicara. Pandangannya kosong. Tidak bisa disuapi makanan dan minuman sedikitpun"
"Tante Sisy membawa dua perawat dari rumah sakit atas rekomendasi temannya yang seorang dokter. Naira diinfus agar tetap ada asupan untuk tubuhnya"
"Badannya menggigil terus menerus" ucap Mama.
Abimanyu merasakan sesuatu dalam hatinya dan seketika dia merinding. Tapi dia tidak tahu apa itu.
"Kamu kenapa, Bi?" Tanya Mama melihat Abimanyu bergidik.
"Tidak apa-apa,Ma. Mungkin hanya lapar. Tadi aku baru sempat minum susu hangat saja segelas"jawab Arjuna membuat Mama tertawa.
"Maaf ya. Tadi mama takut kesiangan soalnya. Ya sudah, kamu makan bolen pisang keju ini dulu" Mama meraih sebuah kotak dari kursi belakang. Lalu menyuapi anak bungsunya itu.
"Terimakasih, Mama cantik" ucap Abimanyu.
"Kasihan sekali" gumam Abimanyu. Mama mengerutkan keningnya.
"Maksudku Naira, Ma" ucap Abimanyu.
"Kata tante Sisy, sejak semalam Naira seperti sudah mau pergi, seperti orang mau meninggal. karena matanya sering melotot tiba-tiba. Makanya mama dan teman-teman cepat-cepat saja ke sana. Kami sangat khawatir" kata Mama.
"Suami tante Sisy tidak pernah pulang. Sudah tahu Naira sakitpun tidak mau datang. Alasannya sedang di luar negeri. Lagipula memang lebih perhatian kepada istri keduanya. Konon semenjak menikah dengan istri keduanya, bisnisnya lebih maju dan sukses" Mama bergumam sedih.
***
Mereka sudah sampai di rumah tante Sisy. Lumayan ramai. Ternyata tidak hanya mama dan teman-temannya yang datang. Tapi juga beberapa orang keluarga tante Sisy dari kampung.
Suasana di dalam rumah nampak riuh. Bukan hanya karena ramai orang yang datang. Tapi sepertinya Naira sedang diobati oleh seseorang yang dibawa keluarga Naira dari kampung tante Sisy.
Abimanyu mencoba mendekat melihat. Karena Naira berada di ruang keluarga di atas sebuah tempat tidur. Dia berselimut tebal, kepalanya ditutup dengan penutup kepala tebal pula. Dia seperti batu es. Terbujur kaku membeku
"Tolong keluarkan saya...diingiiinn......Tolooonggg" Naira bergumam. Tante Sisy terlonjak mendengar suara Naira.
Abimanyu terkesiap mendengar rintihan itu. Itu adalah rintihan yang dia dengar tadi malam dalam mimpinya.
"Nairaa...kamu bisa bicara sayang???" Tante Sisy memeluk Naira yang terbungkus selimut tebal.
"Kamu sangat dingin sayang. Kamu dengar mama, Nak? Buka matamu Nai" Tante Sisy mengelus pipi Naira.
"Dingiiin.. tolooong" nampak Naira mengigigil. Matanya tetap terpejam
Pak tua yang katanya bisa mengobati Naira duduk bersila di tengah ruangan.
"Jangan ganggu dia. Lepaskan dia" ucap pak tua tersebut dengan mata terpejam.
"Darimana asalmu?" Dia bertanya. Entah kepada siapa. Karena dia masih memejamkan matanya.
Abimanyu memperhatikan Naira. Mungkinkah yang semalam dia lihat di mimpinya adalah Naira? Mungkinkah itu pesan dari Naira kepadanya untuk menolongnya? tapi bagaimana caranya? apakah gelang kayu dari kakek ini adalah obatnya? pertanyaan-pertanyaan muncul di kepala Abimanyu.
"Seseorang sudah menjanjikan dia kepada makhluk di sebuah goa sebagai tumbal" ucap pak Tua sambil membuka matanya.
"Dia dikurung dalam bongkahan es di dalam goa es"
Dikurung di dalam goa es?? Pikiran Abimanyu semakin terpaut dengan mimpi itu.
"Tidaak...Naira bangun sayaang" tante Sisy berteriak ketakutan. Dia semakin menangis.
"Seseorang yang berjodoh dengannya yang bisa menolongnya"jawab pak Tua.
"Dia punya teman laki-laki?" Tanya pak Tua kepada tante Sisy
Tante Sisy menggelengkan kepala.
"Dia anak yang sangat pendiam. Temannya pun sangat sedikit" ucap tante Sisy.
Abimanyu berbisik kepada mama. Menceritakan mimpinya semalam. Mama nampak shock. Namun Mama adalah seorang wanita yang selalu cepat mengambil keputusan dengan tepat. Mama orang yang bijaksana.
"Sebentar, Mama bicara dengan tante Sisy" Mama menuju tempat tante Sisy, lalu berbicara dengannya. Tante Sisy memeluk mama dengan erat sambil tersedu-sedu. Mama melambaikan tangannya pada Abimanyu. Abimanyu melangkah ke tengah ruangan.
Pak tua tersentak melihat Abimanyu. Dia mempersilakan Abimanyu duduk. Pak Tua menatap Abimanyu seksama. Dia tersenyum penuh makna seraya mengangguk-anggukan kepala.
"Tante, apakah ada tempat bernama Haruyan?" Tanya Abimanyu kepada tante Sisy. Tante Sisy nampak berpikir sejenak.
"Itu nama hutan di hulu sungai di kampung papanya Naira. Kampung tante dan kampung papanya Naira memang berdekatan" jawab Tante Sisy. Raut kebingungan menyelimuti wajah tante Sisy. Juga Mama dan pak Tua. Begitu juga semua yang hadir di sana.
"Apakah ada air terjun di sana?" Abimanyu bertanya lagi.
"Iya, ada" tante Sisy dan beberapa orang di sana menjawab serempak. Mereka adalah keluarga tante Sisy dari kampung.
"Lalu, siapakah Dewi Utari?" Kembali pertanyaan Abimanyu membuat tante Sisy terkejut.
"Nama Naira adalah Naira Dewi Utari" jawab tante Sisy. Kali ini Abimanyu yang terkejut.
"Siapa namamu, Nak?" Tanya pak Tua kepada Abimanyu.
"Abimanyu, Pak De" jawabnya.
Pak Tua terperangah. Tapi kemudian wajahnya nampak sumringah.
"Dalam cerita pewayangan, Abimanyu adalah suami dari Dewi Utari" ucap Pak Tua. Pak tua itu menepuk bahu Abimanyu. "Kamu bisa melepaskan dia"
"Apa yang kamu lihat di mimpimu adalah nyata. Gadis ini mencarimu untuk menolongnya" ucap Pak Tua lagi. Padahal Abimanyu belum menceritakan tentang mimpinya
"Toloooonng..keluarkan sayaaa...dingiin" Naira bergumam. Kali ini tangannya meronta-ronta keluar dari selimut.
Abimanyu terpaku melihat cincin yang dipakai oleh Naira di jari telunjuk tangan kanannya. Itu adalah cincin yang dipakai oleh makhluk mengerikan di dalam mimpinya.
"Tante Sisy, tolong lepaskan cincin itu dari tangan Naira" ucap Abimanyu.
Tiba-tiba mata Naira terbuka. Melotot menakutkan. Memandang Abimanyu dengan marah. Naira duduk lalu melepaskan jarum dan selang infus dari pergelangan tangannya.
"Akhirnya kau datang.....hahahahaha" Naira tertawa mengerikan seraya melemparkan selimutnya. Semua berteriak ketakutan. Tante Sisy memeluk Mama ketakutan.
"Kau pikir bisa merebut Dewi Utari dariku???" Suara Naira terdengar sangat besar
"Dia sudah dijanjikan untukku, dia akan menjadi permaisuri di istanaku, di negeri es. Aku sudah menunggunya hingga umurnya genap dua puluh tahun" Naira duduk dengan gaya seperti laki-laki.
"Seharusnya semalam aku sudah membawanya ke istanaku. Tapi kau menggangguku. Kenapa kau datang hah?" Mata Naira melotot ke arah Abimanyu.
"Karena dia manusia dan kau bukan. Kau tidak bisa membawanya. Keluarlah dari badannya. Jangan ganggu dia" jawab Abimanyu tanpa merasa ketakutan sedikitpun.
Abimanyu berbisik kepada tante Sisy
" Tante, nanti tolong lepaskan cincin itu dari jari Naira. Sekarang minta tolong perawat Naira memegang Naira jangan sampai lari" ucap Abimanyu. Tante Sisy mengangguk.
"Dia milikku. Dia sudah terikat dalam perjanjian bahwa dia diserahkan kepadaku untuk menjadi permaisuri" Naira berbicara lagi.
Abimanyu melepaskan gelang kayu dari pergelangan tangannya. Mata Naira nampak ketakutan. Dia meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari kedua perawat yang memegang tangannya. Tante Sisy dibantu Mama berusaha melepaskan cincin yang dipakai Naira.
Awalnya sangat sulit karena Naira menyembunyikan jari-jarinya di balik perutnya seraya telungkup.
Abimanyu memberikan gelang kepada mama untuk ditempelkan di wajah Naira. Naira menjerit kencang saat gelang itu mengenai kulit wajahnya. Berteriak seperti terkena benda panas. Tidak lama kemudian, Naira terdiam. Tante Sisy segera melepaskan cincin dari jari telunjuk Naira.
Naira pingsan. Salah seorang teman tante Sisy yang merupakan seorang dokter segera memeriksa Naira. Lalu meminta dua orang perawat Naira membawa Naira ke atas tempat tidur. Mengoleskan sesuatu di tubuh Naira mungkin agar hangat. Lalu kembali memasangkan jarum infus ke pergelangan tangan Naira. Berangsur wajah Naira merona, tidak sepucat tadi.
Tante Sisy duduk di samping Naira. Memberikan cincin bermata merah itu kepada Abimanyu.
"Bagaimana kamu tahu soal Haruyan, air terjun, Dewi Utari dan cincin?" Tanya tante Sisy.
Abimanyu menceritakan mimpinya. Tante Sisy malah menangis. Memeluk Mama dengan erat. Sepertinya mama memang teman terdekat tante Sisy. Mama mengusap punggung tante Sisy dengan lembut.
"Cincin ini pemberian Papanya Naira sebulan yang lalu. Sebagai hadiah ulangtahun. Karena Papanya hendak ke luar negeri selama dua bulan di sana, dia bilang kemungkinan saat Naira ulang tahun tidak bisa datang. Jadi dia memberikan hadiahnya lebih awal" Tante Sisy semakin tersedu dalam tangisnya.
"Kemarin hari ulangtahun Naira yang ke duapuluh tahun" lanjut tante Sisy.
Abimanyu termangu. Apakah Naira sengaja dikorbankan oleh Papanya genap diusia ke dua puluh tahunnya?. Dia merinding. Setega itukah papanya Naira.
Pak Tua meminta cincin itu untuk dibakar. Agar dimusnahkan. Pak Tua bercerita, konon di desa asal papanya Naira memang ada tempat angker di hulu sungai, di tepi hutan Haruyan. Ada tempat dimana orang-orang yang ingin kaya dengan cara yang cepat sering mendatangi tempat itu.
"Abimanyu...." suara Naira memanggil. Dia sudah siuman. Meskipun suaranya masih sangat lemah.
"Aku semalam bermimpi menemuimu. Meminta tolong agar aku dibebaskan dari makhluk mengerikan itu"mata Naira berkaca-kaca.
"Ternyata kamu benar- benar datang" Naira berkata pelan.
"Terimakasih banyak, Abim" ucapnya seraya terbaring lemah.
"Sama-sama, Nai. Aku senang bisa menolongmu" jawab Abimanyu.
"Semoga kamu lekas sehat ya, Nai" ucap Abimanyu membuat Naira mengangguk dan tersenyum.
Tante Sisy mendekap tangan Naira di dadanya dengan tangan kirinya. Tangan kanannya mengelus rambut Naira dengan lembut. Matanya menatap penuh cinta putri satu-satunya.
Abimanyu masih tidak mengerti. Kejadian yang baru saja dia alami rasanya tidak bisa dicerna dengan logika. Namun itu memang terjadi. Dia memandang lekat-lekat gelang kayu pemberian kakek. Pada bagian atas gelang kayu terdapat ukiran kecil seperti wayang. Abimanyu melihat bagian dalam gelang, ada tulisan kecil terukir di sana. Abimanyu-Dewi Utari
***
**Cerita ini hanya sebuah cerita dari pemikiran penulis. Jika ada kesamaan nama tokoh atau tempat. Itu hanya sebuah kebetulan.***