Setelah ditinggal pacarku aku menjadi bosnya...
Namaku Rabella Raitrama. Pacarku menyudahi hubungannya dengan alasan yang nggak jelas. Temanku yang pernah menjadi tempat ceritanya itu langsung meminta menemuiku ketika tau aku sudah putus dengannya.
Aku berusaha mempercayainya Karena dia adalah anak yang jujur dan selalu berpihak netral. Jadi dia tidak akan memihak siapapun. Dia akan mengatakan apa yang ada.
" Lino itu mutusin Lo karena lo bukan dari keluarga kaya. Makanya dia langsung pacaran sama Dinda karena Dinda itu anak orang kaya. Jujur ya, lebih cantikan Lo dari pada Dinda. Good rekeningnya doang "
Nggak habis pikir. Ternyata selama ini dia kalo pacaran cuma nyari nyari harta, bukan rasa nyaman yang berujung cinta. Gue kecewa sama Lino!
" Nggak usah dipikirin. Bikin otak kerja tau nggak? Mikirin orang yang nggak pantas dipikirin kayak gitu "
" Siapa juga yang mikirin dia. Gue itu kecewa sama dia. Gue pengen balas dendam karena digituin "
" Dia itu cuma ngincer harta. Lo mau balas dendam kayak gimana? "
Itu dia masalahnya. Aku bukanlah anak dari keluarga kaya. Kehidupanku sederhana, tapi apapun yang aku inginkan pasti kudapatkan.
" Nggak tau lagi ya "
Udahlah, dari pada capek mikir yang berat berat seperti itu, mending ngobrol santai. Jarang jarang aku keluar ke caffe seperti ini karena aku adalah anak rumahan. Jadi aku tidak mau membuang waktuku diluar rumah dengan sia sia.
#_#
Aku memasuki rumah sederhanaku itu dengan langkah gontai. Aku terlalu capek memikirkan cara balas dendam yang ampuh untuk Lino.
" Bella! "
Aku yang menunduk itu langsung menegakkan kepalaku. Mendapati ibu yang berjalan menghampiriku.
" Besok kamu ada kerjaan? "
Aku menggeleng.
" Besok ikut ibu ya "
" Kemana? "
" Sudah, besok saja, sudah malam. Sekarang kamu tidur, istirahat. Besok kamu harus punya energi banyak " Setelah mengatakannya, ibu berjalan menuju kamarnya dan meninggalkanku begitu saja.
Aku mengabaikannya dan berjalan menuju kamarku dengan pikiran penuh tanya. Ada apa dengan besok?
#_#
Keesokannya, aku dibuat terheran heran dengan mobil Alphard hitam yang terparkir rapi didepan rumahku.
" Ada apa itu Bu? "
Belum menjawab pertanyaan ku, ibu langsung menarik tanganku. Aku diam dan mengikuti langkah ibu hingga memasuki mobil itu.
Setelah mobil itu mulai berjalan, barulah ibu menjelaskan semuanya.
" Begini. Sebenarnya bapak tidak keluar kota, tapi keluar negeri untuk mengurus perusahaannya disana. Dan perusahaannya disini ia tinggal "
" Bapak punya perusahaan? "
" Bapak itu sebenarnya orang kaya. Makanya kebutuhanmu selalu terpenuhi, apapun yang kau mau pasti kau dapat. Tapi, prinsip bapak, meskipun kaya, dia ingin hidup sederhana dengan keluarga kecilnya, yang mencukupi dan membahagiakan. Bapak tidak ingin hartanya terbuang sia sia "
" Tapi kenapa bapak tidak bilang? "
" Karena bapak tau, pacarmu itu penjilat harta. Dia tidak mau itu terjadi padamu. Makanya bapak nggak bilang sampai kamu putus dengan pacarmu, tapi bapak keburu pergi keluar negeri. Jadi harus ibu yang menjelaskannya "
Aku mengangguk paham. Bapak punya alasan tersendiri melakukan ini.
Ternyata aku dibawa kesebuah perusahaan besar yang katanya milik bapak. Aku melongo, salut sama bapakku sendiri. Dan aku harus menggantikan bapak untuk mengurus perusahaan itu.
Paman Karim, adiknya bapak, dia akan membimbingku menjadi CEO yang baik di perusahaan yang bakal aku pegang.
Aku tersenyum puas. Dengan begini aku bisa membalaskan dendam ku kepada Lino sekaligus membuktikan ke bapak bahwa anak rumahan sepertiku ini bisa mengelola perusahaan. Tidak kusangka ternyata aku anak orang kaya.
#_#
Aku berangkat ke kantorku dengan menaiki taxi online. Pakaianku sederhana. Aku tidak mau menarik perhatian para pekerja ku. Biarlah mereka tak tau siapa itu aku.
Brak!!
Aku tidak sengaja menabrak seseorang saat aku sibuk membenarkan jam tanganku yang sudah waktunya diperbaiki itu. Berkas berkas yang aku bawa jatuh berserakan. Aku benar benar merutuki diriku sendiri, bagaimana bisa seorang CEO berkelakuan seperti ini?
" Heh! kalau jalan lihat lihat dong "
" Maaf pak, saya tidak sengaja "
" Dasar bawahan rendah! Berani sekali menabrak atasan. Berkas apa itu? paling juga nggak penting dan nggak bermutu "
Srek!
" Ups! sorry, keinjek " Katanya diakhiri tawa.
" Makanya bikin laporan berkas itu yang baik dan bermutu "
Kaki itu masih menginjak lembar terakhir berkas ku yang baru saja mau aku ambil. Aku melotot, lembar yang diinjak itu adalah bagian terpentingnya, berisikan tentang produk baru yang akan dikeluarkan perusahaan bulan ini.
Aku mendongak. Alangkah terkejutnya aku, yang menginjak lembar pentingku itu adalah mantanku, Lino.
" Oh elo, Bell. Lo kerja disini juga? Alah, palingan juga bawahan. Lihat nih, gue udah jadi kepercayaan bos disini. Gue biasanya mengurus berkas berkas penting yang mau dipersentasikan "
Aku segera berdiri sambil mendengarkan dia mengoceh sombong. Gayanya sangat angkuh, berbeda dengan yang dulu.
" Oh ya? Nanti bakalan ada persentasi produk baru yang akan dikeluarkan perusahaan bulan ini kan? " Baru saja aku berkata, paman sudah datang menghampiriku.
" Eh, Bos " Sapanya kepada paman dan paman membalas sapaan itu seperti biasanya.
" Berkas yang seharusnya kamu urus untuk persentasi hari ini sudah sampai ke kamu? " Tanya paman pada Lino.
Lino menggeleng. " Berkas yang mana ya bos? Kayaknya belum sampai "
" Bella? "
" Begini, tadi Bella nggak sengaja nabrak laki laki ini waktu Bella benerin jam tangan. Berkasnya jatuh, terus laki laki ini marah marah dan nginjek nginjek berkasnya deh " Jelasku sambil menenteng lembar kotor itu tinggi tinggi, tepat sejajar dengan wajah Lino.
" Ma- maaf, bos. Dia hanya membuat cerita saja "
Aku tersenyum licik. " seorang CEO tidak akan merusak perusahaannya sendiri " Kataku mendekat kearah Lino.
Paman menggeleng. " Sebagai penerus pemegang perusahaan, kamu tau apa yang harus kamu lakukan kan Bella? "
Aku mengangguk. Lalu paman berlalu begitu saja. mungkin masih ada yang harus diurusnya. Paman begitu membantuku mengurus perusahaan besar ini sekaligus membimbingku hingga aku benar benar bisa dilepas untuk berdiri sendiri mengurus perusahaan bapak.
" Hai, bagaimana kabar Lo? " Tanyaku basa basi.
" Lo gila, Bell? Lo kan anak orang biasa, tiba tiba Lo jadi penerus perusahaan? "
" Emang kenapa? "
Lino terkekeh. " Ya nggak biasa aja "
Aku yang ceria itu langsung memasang wajah datar. Kembali menunjukkan lembar kotor itu didepan wajahnya.
" Salin isinya dengan baik sekarang juga, cepetan! Gue bisa pecat Lo kapan saja yang gue mau " Perintahku sambil menyodorkan lembar kotor itu.
Lino segera mengambilnya dan beranjak menuju tempat kerjanya.
Aku tersenyum puas dan segera pergi ke tempatku. seharusnya aku sudah berada disana sejak tadi.
" Bagaimanapun usaha lo sampai sini. Karena sikap Lo tadi udah nunjukin kelakuan Lo ke bawahan seperti apa, Lo seharusnya wajib dipecat " Ucapku dalam hati.
#_#
Kurang ajar! Apakah urat malunya sudah putus? Berani sekali dia memohon minta balikan kepadaku.
" Lo gue pecat sekarang juga, TITIK! cepat pergi dari sini! "
Aku menghembuskan nafasku kasar. Bisa bisanya ada orang seperti dia. Lihat aja, Lo bakal jadi pengangguran Bahkan jadi gelandangan.