Bab 2 "Whitney"
Sebelum baca,author minta like,coment,sama tambahin ke vaforit ya 😁🙏 biar author makin semangat nulisnya dan rajin up🥰👌
***SELAMAT MEMBACA😘***
Setelah beberapa lama perjalanan, Gerry akhirnya sampai di rumah besar keluarga Housten.
Gerry membawa Arthur ke dalam sebuah ruangan yang gelap dan sangat tertutup, disana sudah terdapat sebuah peti mati yang di kelilingi oleh lilin-lilin yang menyala membuat ruangan itu mendapat sedikit cahaya.
Gerry berdiri di samping peti mati, dengan kemarahan yang meluap. Namun kedua sudut matanya meneteskan air mata kesedihan.
"Aku tak akan membiarkanmu mati semudah itu, arthur wilson!! Aku akan membuatmu merasakan sakit lebih dari yang adikku rasakan dulu!!!" Seru Gerry.
Gerry memulai ritual penyegelan itu, sebuah segel yang akan menjadi siksaan tak berujung bagi ras vampir.
Ritual itu menggunakan darah Gerry sendiri sebagai inti segel, sehingga segel itu hanya dapat dibuka oleh keturunan keluarga Housten yang memiliki darah Murni pemburu vampir seperti Gerry.
Segel itu akan membuat tubuh arthur, seperti mayat pada yang di awetkan, namun dibalik itu jiwanya akan mengalami penyikasaan yang sangat mengerikan, dan hanya akan berakhir, jika segel itu dibuka.
Setelah menyelesaikan ritual segel darah itu, Gerry memerintahkan bawahanya untuk menenggelamkan peti itu ke dasar lautan.
"Liona..? Kau lihat..? Aku sudah membuat Arthur merasakan penderitaan untuk menebus dosa-dosanya padamu. Kuharap kau bahagia disana." Monolog Gerry yang kini terduduk lemas di lantai, memandangi langit-langit dengan air mata yang terus menganak sungai.
Peti itu di bawa ke tengah lautan dan di tenggelamkan begitu saja.
*************
Tahun 2022, di sebuah rumah yang berada di kota xx di negara Amerika
Di ruang makan terlihat seorang gadis cantik, yang tengah duduk dan menikmati sarapan buatanya sendiri dengan khidmat.
Gadis cantik itu tak lain adalah Whitney Housten, seorang designer yang sangat berbakat. Dia sudah bekerja cukup lama di Brown Fashion group.
Whitney tinggal sendiri, karena kedua Orang Tuanya sudah meninggal akibat kecelakaan tragis yang mereka berdua alami.
Dia selalu menyibukkan dirinya dengan bekerja, bekerja, dan bekerja untuk menghilangkan rasa kesepian dan kesedihanya.Tak ayal bila dia sudah sesukses ini sekarang, itu adalah buah dari hasil kerja kerasnya.
Sekarang dia hidup berkecukupan, rumah besar dan mobil mewah juga dibelinya dari hasil perjuangan dan kerja kerasnya itu.
Setelah menghabiskan sarapanya, Whitney mengambil tas dan berjalan ke garasi mobilnya.
Dia masuk ke dalam kedalam mobil dan mulai melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah besar itu ke jalan raya.
Sepanjang perjalanan dia nikmati sembari memutar lagu favoritnya, dia bernyanyi mengikuti alunan lagu.
Setengah jam perjalanan, Whitney pun membelokkan mobilnya memasuki halaman sebuah gedung, yang tak lain adalah tempatnya bekerja, Brown fashion group.
Dia memakirkan mobilnya di area parkir bawah khusus karyawan, dia membuka pintu mobilnya dan berjalan masuk ke dalam gedung itu dengan langkah yang elegan.
Whitney menyapa karyawan kantor lain yang ia temui, dengan senyum manis yang mengembang di wajah cantiknya itu.
Dia masuk ke dalam lift dan menekan lantai 5 untuk sampai ke bagian design.
"Pagi" Sapanya saat memasuki Ruangan bagian design.
"Pagi bu" Jawab orang orang yang ada di ruangan itu.
Dia pun terus berjalan menuju ruang kerjanya.
Dia adalah seorang designer senior, yang di kagumi oleh karyawan lain di kantornya, terutama para pria, bagaimana tidak? Dengan paras secantik itu tubuh tinggi langsing, kulit putih mulus dan di umurnya yang menginjak 25 tahun, dia sudah memenangkan banyak penghargaan sebagai seorang designer.
Tentu saja hal itu menjadikanya sebagai idola para pria. Terlebih lagi sifat periang dan supelnya itu,menambah nilai plus pada dirinya.
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, karena Whitney terlalu fokus pada komputer di depanya. Jam 12, saatnya jam makan siang tiba-tiba...
Cklek..
Sesorang masuk dan menyapa Whitney.
"Whitney..? Sudah jam makan siang, mau makan siang bersama?" Ajaknya.
"Eh.. Edward..!? Ternyata sudah jam makan siang ya..? he..he.." Jawab Whitney dengan nyengir kudanya.
Pria itu adalah Edward, teman whitney dari semasa SMA dulu. Mereka memang sangat dekat, hingga orang yang tidak tahu, akan mengira mereka berdua adalah sepasang kekasih.
"Hishh.. kau ini..! Selalu saja lupa waktu kalau sudah berduaan dengan komputermu!" Sindir Edward seraya memonyongkan bibirnya.
"Kenapa dengan mulutmu itu ha...!? Rasanya ingin ku kuncir mulutmu itu ha..ha..ha.." Goda Whitney yang membuat mereka berdua tertawa geli.
"Sudahlah, ayo makan siang. Nanti keburu habis jam istirahat kita." Ajak Edward.
"Ayolah, aku juga sudah lapar. Cacing-cacing di perutku sudah demo, seperti emak-emak yang minta di turunkan harga sembako." Canda Whitney seraya mengelus-elus perutnya yang juga sudah terasa lapar.
Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju ke kantin, tanpa mereka sadari di pojok ruangan bagian design, ada dua pasang mata yang tengah memperhatikan kedekatan mereka.
"Dasar siluman penggoda!!"
Sepasang mata itu adalah milik Gea,;dia juga adalah salah satu designer di perusahaan itu. Dulunya dia Whitney berteman, namun saat dia tak sengaja mendengar, bahwa Edward menyukai Whitney, dia menjadi sangat iri pada Whitney dan membencinya karena rasa cemburu.
"Kenapa dia selalu mendapatkan segalanya!! Karir bagus, wajah yang cantik, bahkan pria yang kusuka pun tak lepas dari genggaman siluman penggoda itu!!" Geramnya sambil meremas ujung kemeja kerjanya.
"Lihat saja nanti, aku akan membalasmu. Aku akan merebut Edward darimu!!" Ucapnya bermonolog dengan dipenuhi rasa iri.
"Lebih baik aku makan dulu, gara-gara siluman itu bisa-bisa aku melewatkan jam makan siangku." Gerutunya.
Dia bergegas menuju kantin untuk mengisi perutnya.
Setibanya di kantin, dia kembali di suguhkan dengan pemandangan yang menusuk matanya. Di meja pojok ruangan itu, terlihat Whitney dan Edward sedang makan berdua, dan mereka terlihat sangat dekat.
Pemandangan itu, membuat hati Gea semakin terbakar, bak api yang di beri bensin, ingin rasanya dia menghampiri mereka untuk menjambak dan mencakar-cakar muka Whitney yang sangat di bencinya itu.
"Cih..!! Membuat selera makanku hilang saja." Gerutunya dalam hati.
Makanan yabg sudah dipesanya pun hanya di mainkan dengan sendoknya, tak sesuap pun ia masukkan ke dalam mulutnya. Rasa cemburunya mengalahkan rasa laparnya, terasa kenyang hanya dengan melihat pria yang dia sukai, begitu dekat dan tampak bahagia bersama wanita lain.
Di meja pojok kantin itu Whitney dan Edward, nampak menikmati makan siang mereka sambil sesekali saling bercanda dan mengobrol.
Tiba-tiba...
Drtt... drtt... drtt.. p
Ponsel Whitney yang di letakkanya di atas meja bergetar, menandakan ada telefon masuk.
Whitney menyambar benda pipih itu dan melihat nama si penelfon yang tertera di sana.
"Keysya?" Gumamnya melihat nama si penelfon, lalu dia pun menekan tombol hijau itu.
"Halo?" Sapanya.
"....."
"Apa!!! Nungkin kau salah lihat Keysya?" Whitney nampak kaget, mendengar apa yang keysya katakan.
"....."
"Baiklah aku segera kesana."
"Edward, aku ada urusan. Aku duluan ya, tolong bayar dulu makananku." Tak menunggu Edward menjawab, dia sudah keluar dari kantin.
Whitney berjalan cepat, dengan raut wajah yang tak bisa dijelaskan.
Author kasih bonus visualnya neng Whitney🥰🤣 Cantik beut ya ampun bagi setengah napa cantiknya ke kk Rose

Yang ini mamang Edward🤣 aduh-aduh mamang Edward.. jangan liatin kk Rose kek gitu😫 ntar kk rose kelepasan kk rose gigit nih🤣

***BERSAMBUNG***
Apa yang terjadi pada whitney?
Ayo pantau terus ke bab selanjutnya 😉😉😉