Alova adalah putri tunggal keluarga Elvarie. Pengusaha tersukses di kota A. Gadis itu berumur 10 tahun. Seharusnya ia duduk di kelas 4 SD. Tapi sayangnya gadis itu memiliki sifat kepribadian yang berbeda dari anak seumuran nya. Ia gadis pendiam yang suka sekali menyendiri. Terkadang ia suka berbicara dengan seseorang tetapi tak ada siapapun bersamanya. Bahkan ibundanya khawatir ia mengidap gangguan kejiwaan.
Beberapa dokter psikiater sudah bergilir memeriksa keadaan Alova. Namun hasilnya nihil, tak ada hasil yang menyebutkan bahwa Alova memiliki riwayat kejiwaan. Alova gadis normal. Dulu ia adalah gadis periang, bawel, manja, dan menggemaskan sama halnya seperti anak kecil pada umumnya. Entahlah sejak kapan ia berubah. Terkadang juga ia mengurung diri di dalam kamarnya seharian tanpa makanan dan minum.
Pasrah sang ibunda, Elvarie. Akhirnya ia mendapatkan petunjuk agar membawa Alova ke orang pintar. Walaupun awalnya ia sempat ragu tetapi ini demi kesembuhan anaknya. Tak ada salahnya untuk mencoba.
"Aku sarankan untuk membawanya ke orang pintar. Dia bukan sakit jiwa, namun—tatapannya membuat ku yakin bahwa Alova dikendalikan oleh makhluk."
Birmo adalah adik dari Elvarie, ibunda Alova. Semenjak suaminya meninggal akibat kecelakaan 1 tahun yang lalu, Birmo lah orang yang selalu menemani Elvarie dan Alova. Dan semenjak itu juga sifat Alova berubah. Elvarie menyangka bahwa putrinya depresi karena pasal kecelakaan maut yang menimpa ayahnya. Namun anehnya dokter tidak menyatakan bahwa Alova depresi.
//ALOVA NORMAL\\
"Sungguh? aku tak percaya akan hal seperti itu."
Pungkas Elvarie menatap pintu kamar Alova yang sejak pagi tak kunjung terbuka. Jari jemarinya memijat-mijat lembut pelipis keningnya. Tak tau harus melakukan apa agar putrinya itu bisa kembali seperti semula.
"Sudah ku beri saran namun kau tak mau menurut."
Ucap Birmo lalu menyeruput secangkir kopi yang tadi barusan disuguhkan oleh Elvarie.
"Aku hanya takut jika itu tidak berhasil."
"Kalau begitu terserah padamu, Tapi apa salahnya untuk mencoba bukan?"
Birmo balik bertanya dan berhasil membuat Elvarie terdiam memikirkan ucapan adiknya barusan. Sesekali juga matanya melirik ke arah Birmo yang sedang asyik menikmati secangkir kopi. Elvarie terpikir dengan ucapan adiknya, apa salahnya untuk mencoba bukan?.
Benar apa yang diucapkannya.
"Apakah kau tahu dimana orang pintar itu berada??"
Elvarie bertanya dengan penuh antusias. Seketika Birmo tersenyum mengetahui kakaknya setuju untuk membawa Alova ke orang pintar. Dengan nama lain pengusir iblis.
"Aku tahu. Jika kau setuju, kita akan berangkat besok pagi."
Ucap Birmo menatap Elvarie, menunggu jawaban darinya. Hanya uluman senyum yang Elvarie unjukkan. Berarti itu tandanya ia menyetujui perkataan adiknya, Birmo.
Keesokan paginya seperti apa yang di ucapkan olah Birmo semalam, Elvarie sudah mempersiapkan apa yang harusnya ia bawa. Kebetulan juga malam ini Birmo menginap di rumah Elvarie karena tadi malam Alova berteriak-teriak tak karuan. Itu sebabnya Birmo memutuskan untuk menemani sekaligus menjaga Elvarie dan Alova. Ini bukan yang pertama kalinya Birmo menginap di rumah Elvarie, sudah yang kesekian kalinya.
Setelah barang sudah di tata rapih di dalam mobil, Elvarie berniat untuk memanggil Alova di kamarnya. Tak seperti biasanya saat Elvarie menarik knop pintu yang tidak terkunci, ia di buat terkejut oleh kehadiran anaknya yang sudah berdiri tegap dengan pakaian rapih sembari memegang buku usang berwarna merah. Kali ini, Alova menyunggingkan senyumnya dan menengadah melihat ibundanya. Walaupun senyumnya itu samar, tetapi batin Elvarie merasa sangat senang bisa melihat kembali senyum putrinya.
"Aku sudah siap."
Suaranya sangat lembut nan pelan saat berbicara. Setelah berucap Alova pun segera berjalan berlalu ke lantai bawah, mungkin menuju mobil yang terparkir di pekarangan rumah.
"Good morning Alova!"
Birmo menyapa hangat kedatangan Alova didalam mobil. Birmo hanya bisa mendengus sabar saat sapaannya tidak direspon sama sekali. Seperti biasanya.
"Rupanya Alova ada disini... Bunda tadi mencari mu, sayang."
Lirih Elvarie saat ia membuka pintu depan mobil lalu melihat Alova, putrinya sudah duduk rapi di kursi belakang.
"Baiklah, karena semuanya sudah siap! bagaimana jika kita berangkat sekarang!"
Birmo berseru bersemangat agar Alova juga ikut bersemangat. Namun Alova memutar bola matanya dan lebih memilih untuk memandangi ke luar kaca mobil.
Baiklah, baiklah.... kurang sabar seperti apa lagi Birmo dan Elvarie.
Mobil hitam milik Elvarie yang dikemudikan oleh Birmo pun mulai melaju dari kecepatan rendah sampai kecepatan sedang, menuju kota sebrang tempat tinggal si pengusir iblis itu. Untungnya Birmo sudah hafal lokasinya, jadi perjalanan mereka tidak akan terbuang hanya untuk bertanya mengenai alamat kepada warga sekitar.
Perjalanan jauh yang cukup melelahkan bagi Birmo. Menyusuri jalanan dengan panorama hutan sekelilingnya dan bahkan jurang pun sering mereka temui saat diperjalanan menuju kota sebrang. Sialnya saat beberapa kilometer ingin sampai rumah tujuan, mobil Elvarie mendadak mogok. Sungguh menyusahkan karena kanan dan kiri jalan hanya hutan dengan pepohonan rindang. Tidak memungkinkan jika ada warga yang bisa diminta bantuannya.
"AHHHK SHIT!!"
Umpat Birmo seketika saat mobil berhenti mendadak. Ia daratkan sebuah pukulan di setir pengemudi mobil.
"Kau bisa menanganinya kan??"
Elvarie yang tahu mobilnya mogok segera bertanya kepada adiknya, berharap ia bisa memperbaiki masalah dalam mobilnya.
"Yah! tentu saja. Namunn—aku tak enak hati dengan keadaan ini."
Ucap Birmo sembari melihat Alova lewat kaca spion dalam mobil. Birmo melihat Alova sedang sibuk membuka lembar demi lembar kertas yang sedang ada di pangkuannya. Tak lama ia memperhatikan Alova, Birmo pun keluar untuk mengecek mesin mobil.
Lama tak kunjung kembali, akhirnya Elvarie memutuskan untuk menghampirinya Birmo keluar dari mobil. Wajahnya berubah sedikit cemberut saat melihat adiknya Birmo hanya berdiri diam sembari memperhatikan mesin mobil.
"Bisa atau tidak!!"
Ucap Elvarie sedikit membentak Birmo. Lalu ia berdiri di samping Birmo untuk ikut memperhatikan mesin mobil.
"Sudah ku coba. Mesin mobil ini tidak bermasalah, semuanya masih bagus dan tidak ada kerusakan apapun. Namun mengapa bisa mogok seperti ini, sungguh sangat aneh."
Birmo menjawab pertanyaan Elvarie sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu tiba-tiba ia menoleh ke arah samping Elvarie dan membulatkan matanya.
"Mengapa kau keluar?! Cepat kembali ke dalam mobil. Kau ini bagaimana! Alova tidak boleh ditinggal sendirian!!"
Sungguh ekspresi wajahnya saat membentak Elvarie sangatlah serius. Dengan pikiran yang berkecamuk dengan sikap Birmo barusan, ia pun kembali ke dalam mobil lagi. Tapi alangkah terkejutnya saat kembali kedalam mobil, ia tidak menemukan Alova di sana. Dengan cepat ia memberitahukan kepada Birmo tentang m menghilangnya Alova.
"Birmo!! Alova tidak ada di dalam!!!!"
Teriak Elvarie panik, lalu kedua alis Birmo bertautan tak percaya. Jika Alova pergi ke luar mobil seharusnya Birmo mendengar suara pintu mobil terbuka. Ia bahkan tak melihat Alova keluar dari mobil.
"Sungguh?? Bagaimana bisa???"
"Aku juga heran, bagaimana Alova bisa menghilang secepat itu!"
"Ini yang ku takutkan!! seharusnya tadi kau tak keluar dari mobil!!"
Birmo membentak Elvarie lagi. Dan Elvarie pun tahu mengapa tadi adiknya menyuruhnya untuk cepat kembali ke dalam mobil.
Di tengah kepanikan mereka, dari dalam hutan sebrang kanan jalan terdengar teriakan anak gadis yang mungkin saja itu Alova. Elvarie dan Birmo saling menatap seperti sedang menebak hal yang sama bahwa suara itu adalah suara Alova. Dengan cepat mereka berlari menuju asal suara teriakan itu.
"ALOVA!!!!"
"ALOVA!!!"
Mereka saling bersahutan meneriaki nama Alova. Langkah mereka sudah sampai memasuki hutan. Namun Alova tak kunjung ketemu. Tetapi mereka tidak menyerah untuk terus meneriaki nama Alova dan mencarinya. Sampai akhirnya Elvarie menemukan Alova yang pingsan di bawah pohon rindang dengan beralasan dedaunan mati.
"ALOVAAA!!!!"
Teriakan Elvarie membuat Birmo berlari ke arahnya.
"Ada apa??!"
"Birmo, ini Alova..."
Melihat Elvarie merangkul tubuh Alova, ia pun segera mendahului untuk mengangkat tubuh Alova.
"Ayo cepat kita bawa Alova kedalam mobil!!!"
Birmo memerintahkan Elvarie untuk mempercepat langkahnya berlari menuju ke dalam mobil. Ia takut jika akan terjadi hal yang tidak diinginkan lagi.
"Apakah mobilnya sudah menyala??!"
Tanya Elvarie saat sudah berada di dalam mobil sembari memeluk Alova yang pingsan tak sadarkan diri.
Dan saat Birmo mencoba menyalakan mesin mobil dengan anehnya mesinnya menyala. Tak banyak bicara lagi ia segera mengemudikan kembali mobil menuju rumah pengusir iblis.
Akhirnya mobil mereka tiba dan terparkir di depan rumah bertingkat dengan nuansa kuno. Awalnya Elvarie ragu saat melihat kondisi rumahnya, ya walaupun rumah itu masih kokoh tetapi sangat tidak meyakinkan.
"Apakah kau yakin ini rumahnya??"
"Tentu saja! ayo cepat turun, biar aku yang menggendong Alova."
Setelah adik kakak itu bertengkar terlebih dahulu Elvarie pun kembali menurut untuk membawa Alova ke dalam rumah yang dimaksud oleh adiknya.
'Tok,tok,tok'
Dari balik pintu muncullah seorang pria berumur 61 yang langsung menyambut kedatangan mereka dengan hangat dan ramah.
"Selamat datang di rumahku, ada yang bisa saya bantu..?"
Sapanya dengan suara bergema. Lalu ia kembali berucap,
"Akh!! saya belum memperkenalkan diri saya. Baiklah, perkenalan nama saya Robert."
Ucapnya ramah memperkenalkan dirinya.
Birmo tersenyum ramah lalu membalas memperkenalkan dirinya.
"Nama saya Birmo, mm..senang berjumpa dengan anda."
—Oke lanjut part 2—