Dito, Sinta dan Dea sedang beristirahat di tepi lapangan. Mereka sedang mengobrol bersama. Daniel menghampiri mereka dan menyampaikan berita sekolah hari ini.
"Hei , kalian tau gk ? Kepala sekolah kita mau diganti. " ucap Daniel.
"Benarkah ? " ucap Dea.
"Hmm padahal Pak Riko kepala sekolah yang baik , tegas , tanggung jawab. " ucap Sinta.
"Iya.. Ngomong ngomong kepala sekolah yang baru siapa ? " tanya Dito.
"Tidak tau. " singkat Daniel.
Kriiingg..krriiing
"Bel masuk sudah bunyi tuh. Kita masuk yuk ! " ajak Dea.
"Yok. " ucap Daniel , Sinta dan Dito bersamaan.
*****
Minggu depan
"Anak anak , kita memiliki kepala sekolah baru. Ada yang tau siapa ? " ucap Bu Eva.
"Tidaak.. " ucap seluruh murid sekolah. Karena hari ini adalah hari senin. Saat ini seluruh murid melakukan upacara bendera di lapangan.
"Baik. Pak Dika silahkan memperkenalkan diri. " ucap Bu Eva mempersilahkan Pak Dika.
"Terima kasih Bu Eva. Perkenalkan nama saya Pak Dika. Saya akan menjadi kepala sekolah kalian. Bla...bla..bla.. " jelas Pak Dika.
Setelah upacara , para murid masuk ke kelasnya masing masing. Sebelum memulai pelajaran , murid harus melakukan absen terlebih dahulu.
"Arin. " ucap Bu Eva.
"Hadir. " jawab Arin.
"Anton. " ucap Bu Eva.
"Hadir Bu. " jawab Anton.
Dan seterusnya. Semua murid hadir , kecuali Linda.
"Hmm.. Ada yang tau Linda kemana ? " tanya Bu Eva.
"Tidak tau Bu. " jawab semua murid.
Mereka memulai pelajaran pertama. Semua murid fokus dengan Bu Eva yang sedang menerangkan pelajaran hari ini. Tetapi , Dito memotong pembicaraan Bu Eva.
"Maaf Bu. " ucap Dito.
"Ya , ada apa ? " tanya Bu Eva.
"Saya izin ke toilet. " ucap Dito.
"Silahkan. Jangan lama lama ya ! " ucap Bu Eva.
Dito pergi keluar kelas. Ia menuju toilet. Setelah urusannya selesai , ia ingin kembali ke kelas . Tetapi secaea tidak sengaja , Dito melihat kepala sekolah berjalan dengan gerak gerik yang mencurigakan menuju ke gudang dari kejauhan.
"Pak Dika ngapain tuh ? Kok mencurigakan. " heran Dito.
****
Krriing..kriing
Bel istirahat berbunyi. Daniel , Sinta , Dea dan Dito pergi ke kantin. Mereka memesan makanan kesukaan mereka masing masing. Setelah selesai , seperti biasa mereka mengobrol tentang pengalamannya masing masing. Tetapi , obrolan mereka dikejutkan oleh teriakan yang begitu keras barasal dari gudang.
"Aaaaakkkhh. " teriak seorang siswi yang berasal dari gudang.
Sontak para murid mendatangi asal suara tersebut. Ternyata yang teriak adalah Lia. Ia terkejut karena melihat mayat yang sudah berlumur darah. Kejadian ini membuat sekolah diliburkan selama beberapa hari.
****
"Hei , kira kira siapa yang membunuh murid itu ya ? " tanya Dea.
"Hmm tidak tau... kasihan ya. Mayat itu siapa sih ? " ucap Daniel.
Criing... notifikasi pesan berbunyi.
"Hei , katanya identitas murid itu sudah diketahui. Namanya... eh tidak mungkin. " ucap Sinta sambil melihat HP nya itu.
"Kenapa , Sin ? " tanya Dito.
"Mayat itu... adalah Linda. " ucap Sinta.
"Apa ? Tidak mungkin... " ucap Dito.
"Linda... hiks.. siapa yang membunuhnya. " ucap Dea.
"Linda adalah anak yang baik , ramah , tanggung jawab. " ucap Dito.
"Bagaimana kalau kita melayat ke rumahnya ? " ucap Daniel.
Mereka memutuskan untuk pergi melayat ke rumah Linda. Kepala sekolah , guru dan teman temannya Linda turut hadir. Mereka sangat berduka , tetapi Pak Dika tidak menunjukan kesedihan atas kematian Linda , ia terlihat tersenyum miring saat Linda di makamkan. Dea yang menyadari hal itu tampak heran , tetapi ia berusaha tidak mempedulikannya.
*****
Saat ini , sekolah kembali aktif semua berjalan seperti biasanya. Tetapi , hari ini terjadi pembunuhan lagi . Korban selanjutnya adalah Risa , seorang siswi kelas 10 , ia ditemukan dalam toilet. Seluruh warga sekolah kebingungan sekaligus takut.
"Hei , sepertinya sekolah ini sudah tidak aman. " ujar Sinta.
"Iya , sebenarnya siapa yang sudah meneror kita semua ? " tanya Daniel.
"Kita harus selidiki ini. " ucap Dea.
"Iya... tapi aku takut. " ucap Sinta.
"Sepertinya.. aku tau siapa dibalik semua ini. " ucap Dito.
"Apa ? Siapa ? Cepat beri tau. " ucap Sinta , Dea dan Daniel.
"Ehh.. ta-tapi aku hanya menduga-duga. Hmm... sepertinya Pak Dika yang melakukannya. Semenjak Pak Riko diganti oleh Pak Dika , terjadi 2 pembunuhan. Yang pertama Linda , yang kedua Risa. Saat sebelum Linda ditemukan meninggal , aku melihat Pak Dika berjalan ke arah gudang dengan gerak gerik yang mencurigakan , aku berusaha tidak mempedulikan itu. Tetapi saat jam istirahat , Linda ditemukan meninggal di gudang. Jangan menganggap serius , aku hanya menduga duga ! " jelas Dito.
"Tapi , kita tak boleh menyimpulkan begitu saja. Bisa jadi orang lain. " ucap Dea.
"Iya. " ucap Sinta dan Daniel.
"Aku sudah bilang jangan menganggap ini serius. Ini hanya dugaanku saja. " ucap Dito.
Mereka kebingungan . Siapa yang sudah meneror mereka semua ? Apakah ada korban selanjutnya ? Entahlah...
*****
5 hari kedepan.
Semua murid bersekolah seperti biasa. Saat semua murid fokus memperhatikan guru. Seseorang berteriak dari luar dengan sangat kencang. Sontak murid yang tadinya fokus langsung berlari keluar. Ternyata yang teriak adalah siswa laki laki yang ditarik oleh seorang pria dewasa bertubuh besar. Saat semua ingin menolong siswa laki laki tersebut , mereka semua ditangkap oleh pria dewasa lainnya. Mereka semua mencoba melawan , tetapi usaha tersebut sia sia. Mereka disekap dalam sebuah ruangan , diikat oleh tambang yang kuat.
"Lepaskan kami , kami salah apa pada kalian ? Lepaaas. " ucap Daniel.
"Kami salah apa pada kalian hah ? " kesal Dea.
Perbuatan mereka sia sia , para pria dewasa tak dikenal itu hanya terdiam dan mengunci pintu ruangan tersebut. Mereka berusaha melepaskan diri dari tali yang melintang di tangan mereka semua.
"Sebenarnya apa salah kita ? Siapa mereka semua ? " tanya Dea sambil menangis.
"Tidak tau... apa selama ini mereka yang telah meneror kita ? " ujar Sinta.
"Kalau iya. Apa tujuan mereka ? " ucap Daniel.
"Huhuhu... apa kita akan mati disini ? " ucap Dea.
"Kita harus melepaskan diri... " ucap Sinta.
"Tunggu dulu... Dimana Dito ? " tanya Daniel.
"Oya Dito tidak ada disini. Dimana dia ? " tanya Dea.
"Apa dia disekap di tempat lain ? " tanya Sinta.
Mereka kebingungan. Siapa pria dewasa itu ? Apa tujuan mereka ? Lalu dimana Dito ?. Mereka berusaha melepaskan diri , lalu Daniel melihat pecahan kaca tergeletak di ujung ruangan.
"Hei ada pecahan kaca. Syukurlah.. coba aku ambil dulu ya. " ucap Daniel berbisik.
"Oh iya... tolong ambilkan , Niel. " ucap Sinta.
"Ok... sebentar ya. " ucap Daniel sambil mengesot.
Daniel menggapai pecahan kaca tersebut. Ia mencoba untuk melepaskan diri dan Daniel berhasil melepas tali yang melilit tangannya itu. Ia mencoba melepaskan teman temannya yang lain. Setelah mereka semua terlepas , ia bingung bagaimana caranya mereka semua keluar dari ruangan ini.
"Hmm , kita bebas dari tali ini. Tetapi.. bagaimana cara kita keluar ? " ucap Daniel bingung.
"Hmm.. hei ada ventilasi udara di atas.. dan itu terbuka. Kita lewat sana saja. " ujar Dea.
"Itu benar. Tetapi , itu tinggi sekali. " ucap Sinta kecewa.
"Kita susun kursi kursi ini. " ucap Tio teman sekelas Daniel.
"Baik , kita susun kursi kursi ini. " ucap Daniel.
Mereka menyusun kursi kursi itu , lalu orang pertama yang naik adalah Daniel. Dengan hati hati Daniel menaiki kursi yang sudah di susun itu.
Kreeaak... Pintu ruangan itu terbuka , yang membuka pintu itu adalah... Pak Dika. Sontak Daniel yang sudah menaiki satu kursi kembali turun karena Pak Dika telah membuka pintu.Mereka senang karena menyangka Pak Dika telah menolong mereka , tetapi dugaan mereka tidak benar.
"Heheh... apa kalian senang ? Mau ditambah lagi ? " ucap Pak Dika dengan nada yang menyeramkan.
"A-apa maksud bapak ? " ucap Sinta.
"Heheh... apa kalian masih tidak mengerti ? Baiklah akan saya jelaskan. Apa kalian tau siapa yang sudah meneror kalian selama ini ? Ya... itu aku. Hahaha... Linda dan Risa telah meninggal di tanganku. " ucap Pak Dika puas.
"Ta-tapi apa tujuan bapak melakukan ini ? " tanya Dea dengan mulutnya yang begetar.
"Beberapa tahun lalu anak saya dibunuh dengan cara yang sangat mengenaskan disini. Tetapi , pihak sekolah tidak ingin memproses kejadian ini. Saya mencoba melapor pada polisi , polisi juga tidak memprosesnya karena tidak ada bukti. Saya sangat kecewa dengan keputusan ini. Sejak saat itu saya dendam pada sekolah ini , dan ingin semua yang bersekolah disini bernasib sama dengan anak saya. " jelas Pak Dika.
"Tapi , kami tidak bersalah . Ka-kami hanya ingin menuntut ilmu disini. Tolong Pak , ikhlaskan anak bapak . " ucap Dea memohon.
"Iya pak , maafkan kami. " ucap Tio.
Braak... Pintu ruangan itu kembali tertutup dan dikunci.
"Ooohh tidak bisa... saya harus membalas dendam anak saya. Heheh..." ucap Pak Dika dan ia mengeluarkan pisau dari sakunya. Sontak semua yang ada di ruangan tersebut ketakuatan dan berteriak.
"Ssssssstttt...jangan berisik. " ucap Pak Dika dengan nada yang menyeramkan sambil memainkan pisaunya itu. Semuanya ketakutan berharap bala bantuan datang.
"Mulai dari siapa ya... ? Kamu...kamu atau kamu ? " ucap Pak Dika sambil menunjuk muridnya itu.
Kemudian Pak Dika menarik tangan seorang siswi yang bernama Tia. Ia ketakutan , berusaha melepaskan diri tetapi genggaman Pak Dika terlalu kuat. Pak Dika mengangkat pisaunya dan siap untuk menusuk gadis itu.
"Aaaaakkkhhh... Tolooong. " teriak Tia.
"Pak Dika lepaskan Tia. " teriak Daniel , ia menggenggam tangannya kuat kuat dan ingin melawan Pak Dika itu.
Buuuak... Daniel memukul perut Pak Dika. Sontak Pak Dika sangat marah karena kelakuan Daniel. Pak Dika melepas Tia dan beralih ke Daniel.
"Berani beraninya kamu. " kesal Pak Dika.
Pak Dika mengayunkan pisaunya itu ke arah perut Daniel. Tetapi , Daniel menahan tangan Pak Dika sekuat tenaga. Tio yang melihat temannya itu hampir tertusuk langsung memukul Pak Dika . Buak.. pukulan kuat Tio mendarat di wajah Pak Dika. Pisau itu tak sengaja terlepas dari genggaman Pak Dika . Daniel yang menyadari hal itu segera mengambil pisau tersebut dan meodongkan pisaunya.
"Heh.. kalian berdua berani beraninya kalian. Kalau begitu , bagaimana kalau kalian dulu yang mati ? " ucap Pak Dika.
"Aku tidak takut... maju saja. " ucap Daniel.
"Aku juga ga takut.. ayo maju ! " ucap Tio.
"Baiklah kalau begitu. " ucap Pak Dika. Tak disangka sangka ia mengeluarkan sebuah golok yang disembunyikan dibalik tubuhnya.
"Aku akan maju. " ucap Pak Dika.
Pak Dika maju menuju ke arah Daniel. Golok yang dipegang Pak Dika siap menusuk perut Daniel. Daniel berhasil menghindar dengan jongkok ke bawah , tetapi Pak Dika menendang punggung Daniel. Daniel terkelungkup dan Pak Dika mengayunkan goloknya ke perut Daniel. Tetapi , sebelum itu Tio mendorong Pak Dika hingga terjatuh. Pak Dika yang kesal itu langsung menerjang tubuh Tio dan menusuk perut Tio. Semua berteriak , menangis dan ada yang pingsan.
Daniel yang menyadari hal itu langsung menusuk perut Pak Dika dari belakang. Pak Dika kesakitan , ia membalik badan dan ingin menusuk Daniel. Tetapi , Daniel menahan golok tersebut. Daniel menahan golok tersebut sekuat tenaga. Sedikit lagi golok itu menusuk perut Daniel.
BRUAAK..
Pintu ruangan terbuka dan disana terdapat Dito yang memegang tongkat baseball. Dito memukul kepala Pak Dika dan Pak Dika menjauh dari Daniel. Dito kembali memukul kepala Pak Dika dan Daniel kembali menyerang Pak Dika menggunakan pisau. Daniel menusuk menusuk perut Pak Dika , dan Pak Dika tampak kesakitan. Karena Pak Dika masih tersadar dan masih bisa menyerang mereka , Dito keembali memukul kepala Pak Dika . Dan tak lama Pak Dika tak sadarkan diri (pingsan).
Mereka menghembuskan napas lega . Tio dibantu oleh yang lain untuk keluar dari ruangan itu , semua juga keluar dari ruangan tersebut. Tetapi saat diluar banyak pria dewasa tergeletak disana. Semua terheran dan ingin menanyakannya pada Dito. Tetapi , keselamatan Tio lebih penting.
Mereka membawa Tio pergi ke rumah sakit. Ternyata tidak hanya Tio yang terluka banyak siswa lain juga yang terluka bahkan lebih parah.
Daniel ingin menanyakan semua pada Dito karena sepertinya Dito tau lebih banyak dibandingkan ia sendiri.
"Hmm.. Dito , apa kau bisa menjelaskan padaku tentang semua ini ? Dari mana para pria dewasa tersebut ? Mengapa mereka menyerang kita juga ? " tanya Daniel.
"Oooh.. jadi aku disekap di dalam gudang , disana aku tidak sendiri banyak siswa lainnya yang disekap. Kami berusaha melepaskan diri. Saat kami bebas di depan gudang banyak pria dewasa tersebut. Yaa... kami melawannya dengan senjata seadanya. Saat salah satu pria itu menyerah , aku menanyakan padanya mengapa ia melakukan ini ? Ia menjawab , kalau ia hanya dibayar oleh Pak Dika. Pak Dika mempunyai dendam dengan sekolah itu. " jelas Dito.
"Oooh... kita harus lapor polisi , Dit. " ucap Daniel.
"Sudah dilapotkan kok. " ucap Dito.
"Oh iya , guru yang lain bagaimana ? " tanya Daniel.
"Mereka juga disandera , sekarang mereka telah tau kebenarannya. Mereka sedang lapor ke polisi. " jawab Dito.
"Owhh.. aku sangat berterima kasih padamu. " ucap Daniel.
"Oh ayolah.. kita teman , teman harus saling membantu.. " ucap Dito.
"Pokoknya aku sangat berterima kasih... " ucap Daniel sekali lagi.
"Ok ok.. sama sama. " ucap Dito.
******
Sejak saat itu , Pak Dika dan suruhannya di penjara . Sekolah ditutup sementara... Tio dan lainnya sudah sembuh dari sakitnya. Sinta , Dea , Daniel , Dito , dan Tio semakin akrab.
====================Selesai====================