Setiap hari aku selalu memandang penghuni rumah ini, mereka tampak selalu sibuk melakukan hari hari mereka, rasanya... tiada hari yang tidak sibuk bagi mereka.
Aku selalu memandangnya, tanpa mereka lihat, tanpa mereka sadari dan tanpa mereka mengetahui. aku selalu memandang mereka. aku hanya bisa melihat dan melihat, kadang kadang seorang anak kecil mengangkat tangannya meraba raba diriku yang putih ini. mungkin ia penasaran bagaimana dataran vertikal ini, apakah halus? Apakah bersih? Mungkin begitu yang ia pikirkan saat menyentuhku.
“hey apa yang kau lakukan.” Ujar dari seseorang yang biasanya ia sebut ibu, ia berbalik menatap ibunya yang berdiri tidak jauh darinya. “ nanti kotor.”
Anak kecil itu mengangguk dan berlari menuju ibunya. “ibu apa sekarang kita akan pergi liburan?” tanya dengan antusia yang tinggi.
“ iya, ayo.” Jawabnya bersamaan memegang tangan kecil yang mungil itu dan memimpin jalan keluar.
Rasanya aku ingi seperti mereka yang selalu bisa berpergian, tapi aku bukukan manusia ataupun hewan yang bisa berlari, makan, tidur, ataupun merasakan sesuatu hubungan.
Aku hanya tembok yang di cat berwarna putih yang akan melebur oleh waktu entah kapan. Aneh rasanya aku mengatakan itu, Aneh rasanya aku bercerita seperti ini!
Aku hanya kumpulan batu bata yang di susun sedemikan rupa meninggi di lapisi baju semen dan cat sebagai warnanya.
Aku sekarang hanya bisa mendengar kesunyian ruangan ini, tiada gerakan lagi yang terdengar , aku hanya bisa memandang televisi di depanku, meja di depan televisi dan sofa yang berada di bekangnya.
Di sampingku ada meja kecil warna kayu yang estetis, di atasnya ada jam Beker yang selalu membangunkan ku, aneh lagi aku bisa di bangunkan oleh jam Beker itu.