Malam itu Weli tidak bisa tidur. Mata dan tubuhnya sudah lelah, namun pikirannya tidak bisa menenangkan diri. Selalu berpusat ke kalimat-kalimat yang disampaikan Chalik ketika mereka bersama tadi.
Segera setelah Weli sampai di wisma, ia menghubungi keluarganya di rumah dan menceritakan peristiwa dan kejadian yang telah dialami oleh keluarga Chalik. Weli meminta keluarganya untuk semakin waspada akan kehadiran Irma di rumah mereka.
Ia juga meminta Biyunnya untuk menghubungi guru spiritual keluarga mereka dan memantau kondisi rumah dan orang-orang yang tinggal di rumah mereka, apakah ada keganjilan atau keanehan yang mereka rasakan dan sebisa mungkin membuat suatu pencegahan agar kuasa-kuasa kegelapan itu tidak punya kesempatan untuk bekerja dan berkuasa di rumah mereka apalagi sampai mencelakai keluarganya.
Adik Weli, yang sewaktu kecil pernah punya bakat Indigo namun tidak mengembangkan bakat tersebut atas arahan guru spiritual keluarganya, memang sudah beberapa kali menyampaikan kalau ia merasakan aura gelap dari sosok Irma setiap kali Irma berkunjung ke rumah mereka. Makanya ia selalu pergi menghindar setiap kali Irma main ke rumah mereka. Namun Weli dan keluarga agak mengabaikannya, karena tidak ingin suudzon. Ternyata sikap adiknya itulah yang tepat.
(Sikap suudzon adalah sikap berprasangka buruk kepada orang lain yang bisa memicu retaknya persaudaraan, Islam melarang pemeluknya untuk berprasangka karena banyak keburukan di dalamnya.)
Weli tahu kalau Irma memang gadis yang nekat dan selama ini selalu mendapatkan apapun yang diinginkannya. Namun Ia tidak menyangka Irma akan menghalalkan segala cara, apalagi sampai menggunakan kuasa kegelapan dengan mengirimkan santet, hanya untuk bisa kembali bersama Weli.
Kalaupun saat ini belum ada Chalik yang memikat hati Weli, sepertinya dengan sikap dan kepribadian Irma yang sedemikian menakutkan, Weli juga tidak akan berpikir untuk kembali bersamanya. Apalagi sekarang dengan kehadiran Chalik.
Sesungguhnya Weli tidak rela berjauhan dengan Chalik walau hanya sementara, namun demi untuk menjaga kebaikan Chalik dan keluarganya, Weli rela melakukan apapun juga, meski itu untuk menyiksa dirinya sendiri.
Ketika akhirnya dapat berdamai dengan pikirannya sendiri, waktu telah menunjukkan pukul 02.00 WIB. Weli memutuskan untuk Sholat Tahajut dan mohon petujuk Tuhan. Setelah menyelesaikan doa-nya, tanpa sadar Weli memejamkan mata dan tertidur dalam posisi terduduk di musholah wisma-nya.
***
Weli membuka matanya dan ia menyadari dirinya sudah menggunakan pakaian aneh dan berat yang pernah beberapa kali ia lihat di film-film tentang kerajaan jaman dahulu. Semacam pakaian lengkap untuk berperang, entah terbuat dari besi atau baja.
“Nak, kamu baik-baik saja kan?” tanya sebuah suara berat yang berasal dari arah atas. Weli membuka penutup muka ketopong perang-nya dan melihat ke arah atas dan menoleh kemana-mana, namun sekeras apapun ia mencari sumber suara, Weli tidak bisa menemukan seseorang pun. Namun ia mengenali suara bijak tersebut. Jadi dengan sikap hormat, ia menjawab: “Saya baik-baik saja pak.. ada apakah saya mendapat kesempatan lagi bertemu dengan bapak?”
“Kamu harus menghadapi ujian lagi nak.. mungkin ini akan menjadi tantangan terberat yang akan engkau hadapi selama ini. Tapi tidak perlu khawatir, ada sedikit bantuan datang dari Sumedang, Kyai itu yang memberikan baju perang ini kepadamu.. Ketopong lambang keselamatan di kepalamu, baju jirah lambang kekuatan, ikat pinggang lambang kebenaran, kasut kaki lambang kesabaran, pedang lambang keadilan dan perisai itu lambang iman. Pergunakanlah senjata-senjata itu untuk melawan Naga kegelapan yang akan menyerangmu dan orang-orang yang kamu kasihi. Percaya saja nak, Tuhan tidak abai pada anak-anak yang beriman kepadaNya.. Tetaplah berdoa dalam setiap langkahmu..”
Semakin lama suara bijak itu semakin memudar terdengar, seakan jarak mereka semakin jauh, padahal Weli tidak merasa beranjak dari tempatnya berpijak.
Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang dan terdengar kepakan sayap besar di udara. Mendarat dengan keras, sebuah sosok menyeramkan yang sangat besar dan terlihat sangat kejam serta penuh kekuatan.
Sesosok Naga yang menyeramkan dengan suara auman atau erangan yang menakutkan, langsung menyerang Weli dengan semburan api merah super panas yang keluar dari mulutnya. Untungnya Weli sempat berlindung di balik perisai di tangan kirinya dan ketika melirik kembali ia melihat kaki depan si-Naga mendepak dan menderap berusaha menginjak-injak tubuhnya. Ekor si-Naga yang berduri runcing juga perlu diwaspadai, karena serangannya membabi-buta dan menyerang hampir dari segala arah. Weli hanya bisa berguling, melompat, menghindar ke kiri dan kanan. Sesekali ia coba menghunuskan pedangnya kuat-kuat ke arah tubuh Naga tersebut, terutama mengarah ke sela-sela kulit-nya yang keras seperti tameng yang Weli pegang.
Weli tidak lagi sempat berpikir tentang gerakan selanjutnya, ia hanya refleks menghindar dan menyerang balik, menangkis dan menusuk, sebisa mungkin berusaha melukai si-Naga dan pada saat yang sama menghindari serangan mematikan dari si-Naga.
Weli dan si-Naga bertarung selama berjam-jam. Itu adalah pertarungan yang sangat sulit dan keduanya sudah mulai kelelahan dan terluka parah.
Tapi pada saat bintang-bintang mulai menghilang satu persatu dan sinar matahari tampak mulai akan muncul, Weli akhirnya bisa menusukkan pedangnya tepat ke jantung si-Naga dan dengan erangan keras terakhir, Naga tersebut merenggangkan nyawa-nya.
Weli pun terduduk lemah, bersandar pada sebuah batu besar di tengah genangan cairan merah yang lengket dan mulai mengental. Peluh dan lelah melingkupi sekujur tubuhnya.
Banjir darah, baik darah si-Naga maupun darahnya sendiri, mengotori sekujur pedang, tameng dan baju jirahnya. Dengan tenaga terakhir, Weli membuka ketopong dari kepalanya yang berdengung.
“Selamat nak, kamu sudah bisa beristirahat sekarang.. Biar kami yang menyelesaikan sisanya di sini..” suara bijak itu kembali terdengar sayup-sayup, namun Weli terlalu lelah untuk menengadah apalagi menjawab. Ia hanya semakin menundukkan kepala dan terlelap. Tubuhnya benar-benar perlu beristirahat.
***
Suara pintu dibuka dan saling-sapa dari teman-temannya yang baru terbangun atau mungkin juga baru kembali ke Ksatrian dari cuti mereka, memaksa kesadaran Weli kembali ke raganya.
Ketika ia membuka matanya, hari telah terang, terlihat dari jendela Mushola yang tidak berkerai. Weli melirik jam di HP-nya, 06.15 WIB.
Beberapa orang teman yang sedang ada di lorong (sebagian sedang merapikan PUDD/peraturan urusan dinas dalam lemari pakaian dan ada juga yang sedang menggosok gigi di wastafel) melihat heran ke arahnya dan bertanya: “Kenapa kamu tidur di Mushola Weli?”, “Kog bisa di udara sedingin ini, tubuh Weli penuh dengan keringat begitu?”, “Kamu abis olah raga atau sholat subuh trus ketiduran seh Weli?”
“Wah, kalau saya cerita juga kalian ga akan percaya.. saya yang mengalaminya saja hampir-hampir tidak mempercayainya..” jawab Weli perlahan dan memang tidak dimaksudkan untuk didengar teman-temannya. Ia hanya berusaha bangkit berdiri, namun karena masih merasa sakit di sekujur tubuhnya, ia kembali duduk dan memeriksa sumber nyeri yang ternyata lebam-lebam yang mulai membiru di beberapa bagian tubuhnya.
Seperti manusia Indonesia kebanyakan, ia masih merasa beruntung di tengah sakit dan lelah-nya, karena tidak memiliki luka terbuka yang tentunya akan mengotori bajunya dengan darah dan pastinya akan menjadi pertanyaan lagi.
Weli hanya sempat bersyukur dan beranjak ke arah tempat tidurnya, lalu kembali merebahkan dirinya, lunglai. Namun ia mendengar notivikasi wa masuk, ia sempat melirik pesan singkat tersebut dari Chalik: “R U OK?”
***