"Aku pernah melihat wajahku," lirih sang gadis. "Tentu aku juga sering saat aku di depan kaca," jelas teman Si Gadis itu. "Tidak, tapi ini nyata." seorang gadis berusaha untuk meyakinkan temannya.
✨💎💎✨💎💎✨
💎💎💎💎💎💎💎
💎💎💎💎💎💎💎
✨💎💎💎💎💎✨
✨✨💎💎💎✨✨
✨✨✨💎✨✨✨
Penellope gadis yang berusia 16 tahun satu-satunya anak dari orang tua kaya raya yang sudah tiada.
Warisan rumah besar bak istana Ratu peninggalan orang tuanya ditempati Penellope sendiri dengan beberapa asisten rumah tangga, karena Penellope tinggal sendiri, ia kemudian mengajak bibinya untuk tinggal bersama dengannya. Sebelumnya Bibi Penellope juga tinggal sendiri karena ia tidak memiliki suami maupun anak, Bibi hanya memiliki Penellope seorang, dan Bibi sangat menyayangi Penellope.
***
Pada suatu hari, di sebuah gudang dalam rumah besar itu, saat Penellope akan mengambil sebuah kursi, ia menemukan sepasang kalung yang memiliki liontin berwarna merah dan kuning.
Dengan sedikit rasa penasaran Penellope mengambil kalung tersebut dan memperhatikannya satu persatu. Kalung tersebut terlihat sama, namun hanya saja warna liontinnya yang berbeda.
Penellope membuka liontin pada kalung berwarna merah, di situ Penellope menemukan sebuah tulisan nama seseorang, hal tersebut membuat Penellope penasaran untuk membuka liontin kedua, dengan jantung yang berdebar kencang Penellope membuka liontin kuning tersebut dan pada kalung tersebut bertuliskan sebuah nama Penellope, itu membuat Penellope penasaran rahasia apa yang ada pada kalung itu, kenapa sih satu dari kalung tersebut bertuliskan nama Penellope? dan yang satunya bertuliskan nama Tesyana.
***
Penellope membawa kalung tersebut kepada bibinya dan mulai bertanya tentang kedua benda itu. "Bolehkah aku bertanya bi." Sesaat Bibi tertegun mendapati Penellope sedang memegang sepasang kalung. "Ada apa Penellope? apa yang ingin kau tanyakan," ujar bibi. "Ini Bi milik siapa ini?".
Seketika wajah Bibi menegang. "Dari mana kau dapat benda itu?" tanya Bibi sedikit mengernyitkan dahinya. "Ini Bi saya dapat dari gudang saat akan mengambil kursi di sana," jawab Penellope, "apa Bibi tahu Milik siapa ini?" Sesaat Bibi terdiam tidak dapat berkata-kata seolah-olah ingin selalu merahasiakannya dari Penellope.
"Ayo Ceritakan padaku kalau kau mengetahuinya," ujar Penellope namun Bibi tetap membisu seolah-olah tak sanggup untuk mengucapkan yang sebenarnya.
Air muka Bibi yang terlihat berubah sedih membuat Penellope menjadi penasaran. Hal apa yang sedang disembunyikan Bibi. "Bibi ayolah ceritakan padaku apa yang kau tahu tentang kedua benda ini," rajuk Penellope.
Sesaat Bibi menarik nafas panjang berusaha untuk menenangkan hatinya yang mulai berkecamuk seakan-akan dia akan kehilangan sesuatu yang teramat dicintainya yaitu Penellope.
"Bibi..." dengan wajah memelas Panggil Penellope sekali lagi untuk kedua kalinya Bibi menarik nafas panjang lalu Bibi menatap wajah keponakan yang sangat dicintainya itu, dengan berat hati akhirnya Bibi mulai bercerita tentang rahasia kalung tersebut.
"Baiklah Bibi hanya akan menceritakannya sekali padamu tapi berjanjilah satu hal pada Bibi, apapun itu kenyataannya kau tidak boleh meninggalkan Bibi." pinta Bibi. "Iya Bi jawab Penellope aku berjanji apapun kenyataannya itu tidak akan merubah apapun Dan aku berjanji aku takkan pernah meninggalkanmu." Sambung Penellope.
"Yah.. Baiklah mungkin ini memang saatnya kau mengetahui yang sebenarnya. Sebenarnya kalung tersebut dibuat oleh kakakku yaitu ibumu untuk dirimu dan satu lagi untuk kembaranmu." Sesaat Penellope terkejut. "Hah..apa Bibi aku punya kembaran? di mana dia Kenapa dia tidak bersama kita? apa yang sebenarnya terjadi bi? Jawablah Apa yang sebenarnya terjadi."... "Penelope Duduklah dengan tenang Bibi akan menceritakan semuanya padamu".
Kemudian Bibi mulai bercerita bahwasanya Penellope bukanlah anak kandung dari keluarga tersebut melainkan hanyalah anak adopsi dan Penellope memiliki kembaran yang bernama Tesyana.
Namun semenjak Ibu angkat Penellope meninggal, keberadaan Tesyana tidak diketahui dan kalung tersebutlah satu-satunya yang akan membawanya pada Tesyana dan menjadi petunjuk.
kenyataan ini membuat Penellope berurai air mata dan seketika itu juga Penellope teringat disaat dia menemukan seseorang yang mirip dengan dirinya bahkan persis dengan wajah Penellope. "Ah.. aku tahu." Saat itu juga dan membuat Bibi terkejut Apa yang kau ketahui nak?" saut Bibi.
"Bibi aku pernah menemukan seseorang di.. dia begitu mirip denganku apakah mungkin dia Tesyana Bi?" tanya Penellope "Ya mungkin," ujar Bibi, "Carilah keberadaannya! Bibi merestui mu nak semoga kau bertemu dengan kembaran dan orang tuamu, tapi ingat satu hal itu tidak akan merubah apapun di antara kita," ucap Bibi. "Iya Bi aku berjanji," ucap Penellope.
Semenjak itulah Penellope mulai mencari keberadaan kembaran dan keluarganya hari demi hari minggu berganti bulan namun alhasil pencarian Penellope... nihil seolah-olah semuanya hilang ditelan bumi. -------------------------------------------------------
Dan tibalah, pada suatu hari di sebuah halte bis Penellope melihat sekelebat bayangan dirinya yang sedang duduk di dalam sebuah bus kereta.
Dengan wajah yang terkesiat Penellope tidak mampu menggerakkan tubuhnya, bahkan memanggil dirinya yang berada di dalam bis tersebut.
Sesaat bus tersebut kembali melaju dan Penellope tersadar di harus mengejar bus tersebut. Tapi bus tersebut melaju sangat kencang. "Berhenti-berhenti teriak Penellope pada supir taksi yang melintas di depannya.
Di saat itu dan dengan cepat Penellope menaiki taksi tersebut. "Kejar bus itu Pak," ujar Penellope. "Ya baik non," kata si supir taksi dengan Sigap supir mengikuti bis tersebut yang melaju jauh di depannya. Untuk beberapa kali bus itu berhenti namun gadis yang mirip dengan Penellope itu turun dari bus tersebut dan Penellope terus mengikuti kemana bus itu pergi.
"Ke mana tujuannya non?" tanya supir taksi. "Ikuti saja terus busnya pak!" jawab Penellope Setelah beberapa jam kemudian bis itu berhenti dan turunlah gadis tersebut dari bis.
Setelah membayar ongkos taksi, Penellope mengejar gadis tersebut. "Tunggu." Teriak Penellope kepada gadis yang telah memulai memasuki sebuah gang tersebut, tiba-tiba gadis tersebut berhenti dan menoleh kembali ke belakang, saat itu juga gadis tersebut bertemu pandang dengan Penellope.
Sungguh benar-benar seperti sedang menatap sebuah cermin ajaib. Dia kembali menemukan dirinya pada diri gadis itu.
Penellope itu melangkah maju ke hadapan gadis tersebut dan ingin bertanya sesuatu hal, tapi di depan Penellope tiba-tiba gadis itu memeluk dengan erat bahkan dengan cucuran air mata, hanya terdiam dan tidak mampu mencerna kejadian di sela isak tangisnya.
Gadis tersebut mulai bertanya, "ke mana saja kau, kenapa baru datang sekarang? Apa kau tidak merindukan kami?" ujar Gadis itu sesaat Penellope merenggangkan pelukan Gadis itu. "Tesyana," ujar Penellope dengan mata yang sudah mulai basah.
"Aku sudah mencarimu kemana-mana. Tapi, aku tidak bisa menemukanmu." Penellope dan Tesyana kembali berpelukan. "Kupikir kau takkan menerimaku," ujar Penellope. "Kupikir kau malah yang tak akan menerimaku," ujar Tesyana."Ayolah jangan banyak berfikir Aku ingin bertemu keluarga kita di mana mereka bawa aku padanya!" pinta Penellope kemudian kedua Gadis itu berjalan beriringan menuju gubuk tempat tinggal keluarga mereka.
Itulah kenyataannya kehidupan keluarga itu sangatlah miskin, sehingga Tesyana harus putus sekolah dan dia harus berpisah dengan kembarannya ketika masih bayi.
Di tempat tersebut Penellope disambut baik oleh keluarganya dengan penuh sukacita dan mereka saling mengarungi sejarah sehingga tak terjadi kesalahpahaman.
Beberapa saat kemudian Penellope mengajak keluarganya untuk pindah dan tinggal bersama Penellope dan bibinya. Semenjak itu mereka hidup bahagia dan saling berbagi.
L(*OεV*)E
--------The end-------