Setelah ditinggal pacarku, aku menjadi bossnya.
"Re, setelah kupertimbangkan. Sepertinya kita sudahi saja hubungan kita" Radit mengirimkan chat kepadaku. Aku baru saja ingin mengirimkan chat kepadanya untuk mengabari bahwa sidang skripsi aku berhasil, aku lulus.
Dan dia, jangankan bertanya tentang sidang skripsiku. Dia malah berniat mengakhiri hubungan.
"Kenapa harus disudahi? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" Tanyaku.
"Aku merasa kamu tidak pernah serius denganku, Re" jawabnya membuatku mengerutkan dahi.
"Selama hampir tiga tahun bersamamu, kamu bilang aku tidak serius, Dit?"
"Tolong jelaskan definisi serius menurut kamu" Aku merasa mataku mulai berair.
Selama hampir tiga tahun aku bersamanya dia masih mengatakan aku tidak serius. Bukan hendak berhitung, tapi tiga tahun yang lalu selama satu tahun saat dia masih kuliah di kota yang sama denganku aku seringkali membantunya membayar sewa kamar kosnya yang menunggak. Biaya wisuda setengahnya aku yang bantu dari uang saku bulananku.
Aku selalu pergi bersamanya, ke perpustakaan umum, ke kafe hingga ke mall. Bahkan saat aku pergi ke kafe bersama teman-temanku pun dia harus ikut. Jadi letak ketidakseriusanku ada dimana.
"Kamu tahu dimana rumah kosku sewaktu kuliah?"tanya Radit. Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah balik bertanya.
"Tentu saja aku tahu" jawabku.
"Lalu kenapa kamu tidak pernah mau kuajak ke tempat kosku?" Radit kembali bertanya. Kali ini pertanyaannya sangat bodoh.
"Apakah pantas seorang gadis masuk ke dalam kamar kos seorang laki-laki?" Aku merasa tersinggung dengan kata-katanya.
"Kamu kan pacarku, Re" sahut dia.
"Pacar, Dit. Bukan Istri" aku menegaskan.
"Itulah, kamu tidak serius denganku. Kamu sangat tidak dewasa. Kamu tidak menghargai aku sebagai pacarmu. Apa bedanya aku dengam temanmu jika semua ada batasnya" ketik Radit lagi.
"Bedanya kita punya komitmen untuk ke jenjang pernikahan. Dan pacar itu bukan suami istri, Dit. Aku faham banget batasannya. Aku tidak pernah mau melanggar batasan itu" sahutku.
"Sebaiknya kamu jujur saja, Dit. Kamu sudah punya pacar baru?" Aku langsung menebak.
"Iya, aku sedang dekat dengan seorang perempuan. Aku merasa cocok dengannya. Dia sangat sempurna untuk dijadikan istri. Dewasa dan sudah punya karir bagus" jawabnya. Sangat menyakitkan bagiku.
"Kamu baru mau lulus kuliah, Re. Masih harus mencari kerja, meniti karir. Mencari pekerjaan itu sulit, Re. Pasti kamu belum mau menikah dalam waktu dekat kan. Sedangkan keluargaku menuntutku untuk segera menikah. Karirku sudah bagus di kantor sekarang. Lagipula aku masuk kerja di kantor sekarang atas bantuan dia" lanjut Radit.
"Oke, Dit. Kita sudahi hubungan kita. Semoga sukses ya" jawabku menyudahi percakapan.
Saat ini justru aku yang ingin cepat-cepat melupakannya. Tanpa dia mintapun, aku dengan senang hati melepaskan diri darinya.
Jadi selama ini dia hanya memanfaatkanku untuk membantunya membayar biaya-biaya yang tidak bisa dia bayar.
Perempuan yang sedang dekat dengannya saat ini katanya sempurna untuk dijadikan istri karena dewasa dan punya karir bagus. Sebatas itukah kriteria calon istri yang sempurna?. Sehingga aku yang baru mau lulus kuliah tidak termasuk dalam kelompok calon istri sempurna? Sangat dangkal pemikiran seorang Raditya. Padahal usianya dua tahun di atasku.
Aku rasa aku sudah dewasa dan mandiri. Tidak kekanak-kanakan.
***
"Rere...kamu sudah putus dengan laki-laki benalu itu?" Yola duduk di sampingku di kafe dekat rumah kos kami. Kami satu kampus dan satu rumah kos. Dia salah satu teman dekatku.
"Radit?kenapa kamu bilang seperti itu tentangnya?" Tanyaku. Menatap Yola sekilas yang sedang membuka daftar menu.
"Kamu tidak sadar bahwa selama ini dia manfaatkan kamu saja. Setiap pergi kemanapun selalu kamu yang bayar. Sampai beli bensin mobilnya saja jika pergi dengannya kamu yang bayar" sahut Yola. Sekarang dia yang menatapku.
"Aku dan teman-teman suka gemes sama kamu yang nurut saja disuruh bayar-bayar oleh benalu itu" Yola menatapku kesal sekaligus iba.
"Iya, aku memang bodoh, La. Aku pikir saat dia sedang sulit aku memang harus membantunya" jawabku. Tidak punya kata-kata lain lagi. Karena aku tidak punya alasan untuk membenarkan apa yang sudah kulakukan. Itu semua terjadi karena aku memang bodoh.
Harapanku terlalu tinggi. Aku mengira kami akan menikah. Jadi aku memang sepantasnya membantu saat dia susah.
"Kamu tidak bodoh, hanya terlalu baik dan polos. Dia yang jahat" Yola menepuk bahuku.
"Tadi aku melihat akun medsosnya dia. Dia posting foto bersama seorang wanita. Sepertinya lebih tua darinya" Yola memanggil pelayan. Dia memesan kentang goreng, beef burger dan segelas jus jeruk.
Aku memperlihatkan chatku kemarin dengan Radit kepada Yola.
"Dasar gila. Jadi selama ini dia maunya membawa kamu ke kamar kosnya lalu kamu diapa-apain? Gila memang ya. Hhhhhh" Yola emosi.
"Jadi yang dewasa itu maksudnya yang bisa diajak melakukan adegan dewasa oleh dia. Dasar memang brengs-ek" Yola menghela nafas.
"syukurlah kamu selama ini bisa menjaga diri dari dia. Dia itu jahat, Re. Aku baca kata-katanya saja sangat emosi. Bagaimana kamu bisa setenang itu?" Yola mengembalikan ponselku.
"Kemarin aku menangis, La. Kesal dan muak rasanya"
"Tapi biarlah, justru sekarang aku lebih baik karena sudah terbebas dari dia" ucapku.
***
Aku sudah selesai wisuda. Hari ini aku mulai bekerja di perusahaan Papa. Sebenarnya hanya membantu pekerjaan papa. Supaya aku terbiasa dengan apa yang menjadi tugas-tugas Papa. Jika nanti aku sudah bisa menguasai beberapa pekerjaan, Papa akan memberikan jabatan kepadaku. Ini masih semacam training.
Papa masuk ke dalam gedung disambut sapaan hormat dari beberapa karyawan. Aku mengekor Papa saja seraya melemparkan senyum. Beberapa karyawan lama sudah mengenalku, karena sejak kecil aku sering datang ke kantor Papa bersama Mama.
"Kamu bisa duduk di sana, Non" ucap Papa kepadaku. Menunjuk sebuah meja di sudut dekat jendela. Papa selalu memanggilku Nona. Itu panggilan sayang Papa kepadaku.
Ruangan Papa lumayan besar. Selain meja kerja Papa yang besar, ada satu set sofa untuk menjamu tamu dan ada dua meja kerja di dekat jendela besar.
"Nona, kamu bisa periksa laporan ini? Lalu nanti coba kamu buat analisanya. Papa perlu untuk memastikan apakah perusahaan ini layak bekerja sama dengan perusahaan kita atau tidak"
"Kita ada tim juga untuk menganalisa. Nanti kita bisa bandingkan hasil analisa kamu dengan hasil analisa tim kita. Mereka orang-orang berpengalaman. Kamu bisa banyak belajar dari mereka"
"Kelak kamu yang akan gantikan Papa memimpin perusahaan ini. Maka pelajarilah semua hal. Bukan hanya di bidang yang kamu pelajari di kampus saja" ucap Papa.
"Baik, Pa. Aku akan belajar dan mengumpulkan pengalaman supaya mampu memimpin perusahaan dengan baik seperti Papa. Saat ini ceritanya aku jadi anak magang ya, Pa" ucapku dengan semangat. Papa tertawa pelan.
"Sambil kamu nanti lanjutkan kuliah magister kamu. Kabari Papa jika kamu sudah menentukan kampus yang akan kamu pilih" Pesan Papa
***
Aku duduk di kursi kafe kopi kekinian yang ada di lantai satu gedung kantor. Seraya membawa ipadku untuk meneruskan beberapa pekerjaan. Sekarang jam dua siang. Tadi aku makan siang di ruangan Papa jam dua belas. Tapi sekarang rasanya sangat ngantuk. Papa juga sedang ada tamu. Teman lama Papa yang tinggal di Bali. Setelah tadi aku menyapa sebentar, aku ijin ke Papa untuk membeli kopi.
"Semoga saja proposal untuk investasi ke PT. Rotan sejahtera bisa disetujui oleh pak direktur. Bisa bagus banget itu prospeknya" suara orang yang duduk di belakang kursiku. Aku sangat kenal dengan suara itu. Radit.
Aku menoleh ke belakang. Benar itu Radit. Walaupun posisinya juga membelakangiku, tapi aku hafal sekali posturnya. Dua orang lawan bicaranya yang menghadap ke arahku menatapku sambil tersenyum. Aku membalasnya. Mereka berdua saling lirik memberikan kode. Hhhhhh, apalah maksudnya. Aneh sekali.
Lalu aku lanjutkan pekerjaanku. Berarti Radit bekerja di kantor Papa. Sebagai apa dia disini? Katanya kan dia sudah punya karir bagus di kantornya. Berarti setidaknya sudah ada di level supervisor. Nanti aku akan cek semua nama karyawan di database perusahaan.
"Diit. Karyawan baru kayaknya. Cakep. Masih fresh" suara bisik-bisik di belakangku.
"Apa sihh?? Gue sudah punya calon istri. Ga tertarik gue sama cewek lain. Apalagi yang masih anak baru" sahut Radit.
Oooh sombooong..mentang-mentang punya calon istri yang sempurna. Aku mencebik. Males banget iihh dengernya.
"Tenang saja, Dit. Mbak Vonie kan masih tugas di Surabaya. Dia enggak akan tahu. Cuma melirik doang" temannya masih berbisik. Berbisik tapi masih bisa kudengar dengan jelas.
Jadi, wanita sempurna yang merupakan calon istrinya bernama Vonie dan bekerja di sini pula. Oke...sudah kuingat.
"Lihat aja dulu. Mainannya ipad pro, Dit."
Iiishh apalagi sih ini karyawan senior malah ngerumpiin anak magang.
Aku menggelengkan kepalaku seraya menghela nafas.
"Renata..??" Suara Radit. Pasti dia sangat mengenalku meskipun dari belakang.
Aku menoleh perlahan.
"Iya. Kenapa Dit?" Tanyaku dengan tenang. Radit terkejut, apalagi kedua temannya.
"Kamu sedang apa di sini?" Tanyanya.
"Aku magang di kantor ini" jawabku sambil lanjut bekerja kembali.
Radit berpindah duduk ke depanku.
"Kamu magang? Jangan-jangan kamu cari tahu kantorku lalu melamar magang di sini ya?" Tanya nya penuh selidik.
"Ih sepenting itukah cari tahu tentang kamu? Jangan ge er deh" aku mencebik.
" Oke. Lalu Kenapa di jam kerja kamu duduk di sini sambil minum kopi?" Dia bertanya.
"Tadi aku ngantuk. Jadi aku turun dulu minum kopi sebentar. Ini juga sambil kerja koq" jawabku memperlihatkan sekilas lembar kerja di ipadku.
"Sebaiknya kamu segera naik ke ruanganmu. Sebelum atasanmu mencarimu. Anak magang engga boleh keluyuran ke kafe jika masih jam kerja" Radit menatapku jengkel.
"Anak magangnya tajir banget. Kerja pakai Ipad pro, nongkrong di kafe" salah satu teman Radit menatapku sambil tersenyum.
"Kamu kenal dia, Dit?" Yang satunya bertanya.
"Dia mantan pacar saya, mas. Saya diputusin karena dia sudah menemukan seorang wanita dewasa yang sempurna untuk jadi calon istri" Aku yang menjawab.
"Serius, Dit? Yang unyu-unyu begini lu putusin. Gila sih" temannya menatap Radit tak percaya.
Hehehehe...koq aku senang ya. Uppsss.
"Sudah..sudah. Renata, kamu cepat kembali ke ruanganmu sekarang" Radit memaksaku pergi.
Apalah haknya menyuruhku. Aku tetap duduk dan melanjutkan pekerjaanku.
"Nanti kalau kopiku sudah habis, aku juga kembali ke ruanganku, Dit. Kamu lanjutkan saja urusanmu. Tidak usah mengurusiku" jawabku.
"Kamu hanya anak magang di sini, Re. Jangan macam-macam. Aku sudah dua tahun kerja di sini. Aku tahu betul bagaimana kerja di sini"ucap Radit. Matanya celingukan seperti tentara di medan perang yang sedang menghindari pasukan musuh. Apa cobaa????
Aku menyesap tetes terakhir kopiku. Lalu membereskan meja dan meraih ipadku.
"Baik, Kakak senior yang sudah bekerja di sini selama dua tahun" Aku berdiri lalu meninggalkan dia. Teman-temannya tertawa pelan.
"Hai..Renata..."sapa seorang dari mereka. Yang satunya melambaikan tangannya.Aku hanya tersenyum dan berlalu dari hadapan mereka.
Ternyata dunia sempit juga jika begini. Di Jakarta banyak sekali perusahaan. Kenapa dia harus bekerja di kantor Papa sih. Aku melirik Radit yang masih menatapku dari kursinya dengan gaya sok seniornya.
***
Aku melangkah menuju ruang divisi pengembangan bisnis. Hari ni akan meeting dengan manajer divisi tersebut, Pak Johan. Ruangan meeting di lantai ruangan Papa sedang direnovasi, jadi meeting dilakukan di ruangan meeting divisi pak Johan. Papa masih ada tamu, Aku memutuskan datang duluan bertemu pak Johan sambil membahas beberapa proyek. Di depan ruangan, aku berpapasan dengan Radit. Aah dia lagi. Di kantor ini ada 24 lantai, kenapa masih bertemu dengan dia lagi.
"Kamu sedang apa di sini? Aahh....jangan-jangan benar ya kamu memang sengaja memata-mataiku. Sampai magang di sini lalu cari tahu ruangan kerjaku" Radit menghela nafas. Aaaiihh pede amat dia. Aku melengos.
"Aku hendak bertemu pak Johan"jawabku seraya melewati dia.
Radit mencegat langkahku. Menghalangi pintu masuk.
"Kamu tahu pak Johan itu siapa? Anak magang tidak bisa langsung ketemu beliau. Kalau mau sampaikan dokumen, titip aku saja. Nanti aku yang sampaikan" Radit berusaha meraih berkas yang kubawa.
"Kamu jangan sembarangan ambil dokumen orang lain, Radit. Aku harus ketemu langsung dengan pak Johan" aku berjalan menyerong menghindari dia. Tapi Radit menarik tanganku.
"Kamu pikir pak Johan mau ketemu sama anak magang? Beliau itu manajer di sini, Re" Radit menahan tanganku supaya tidak masuk ke ruangan.
Aku menghempaskan tangannya. Tapi dia mencengkram tanganku dengan kuat.
"Lepaskan tanganku, Radit. Kamu bisa kuadukan kepada atasanku kalau kamu melarangku masuk. Apalagi kamu menyakitiku" ucapku kesal.
"Raditya, apa yang kamu lakukan pada bu Renata?" Pak Johan muncul di depan ruangan.
"Bu Renata?" Radit menatapku bergantian dengan pak Johan.
"Iya,bu Renata. Wakil Direktur" pak Johan menatap tangan Radit yang masih mencengkram tanganku.
Radit segera melepaskan cengkraman tangannya dari tanganku. Pandangan matanya sangat kebingungan.
Lift di belakangku berbunyi.
"Syukurlah. Kalian belum memulai meetingnya?" Papa muncul keluar dari lift.
"Belum Pa. O iya. Tamu papa sudah pergi?" Aku mengelus pergelangan tanganku yang terasa pedih akibat dicengkeram Radit. Kasar sekali dia.
"Sudah. Makanya Papa langsung ke sini" ucap Papa langaung masuk ke ruangan divisi pak Johan.
Aku mengikuti di belakang Papa. Pak Johan melotot kepada Radit, lalu bergegas menyusul Papa. Semua staff di ruangan ini menyapa Papa. Ada juga kedua teman Radit yang kemarin kulihat di kafe kopi. Mereka menatapku heran karena aku datang bersama Papa.
Meeting akan dimulai. Papa meminta semua staff pak Johan hadir di ruangan meeting.
"Selamat sore, semuanya. Perkenalkan. Ini adalah anak saya Renata. Saat ini jabatannya adalah wakil saya. Ke depannya Renata yang akan menjadi penerus saya."ucap Papa dengan tenang.
Namun tidak dengan Radit. Dia nampak shock mendengarnya. Dia menatapku tak percaya.Aku hanya tersenyum ke arahnya.
Ini bukan balas dendam. Tidak pernah terbersit sedikitpun untuk itu. Tapi kenyataannya memang aku adalah bossmu Radit, aku bergumam dalam hati. Memandangnya yang sesekali menatapku sembunyi-sembunyi dalam diamnya.
****