“Tumben.”
Suara tatakan gelas beradu dengan meja kayu berpola serat kayu artifisial. Gadis itu mendongakkan kepalanya, mengalihkan pandangan dari jendela kedai menghadap jalanan gang kecil nan asri kepada suara yang menyapanya. Tangan kiri yang menyanggah kepalanya, kini tersusun bersisihan di atas meja dan menopang berat tubuhnya yang condong ke depan. Seulas senyum simpul terbit.
“Butuh tendangan,” cicitnya.
“Kaki gua siap nih,” seloroh pemuda yang meletakkan segelas kopi hitam legam yang masih mengepul.
“Bangke,” respon gadis itu sekenanya.
“Ah, bentar. Gua mau ambil gandengan gua dulu. Ya kali aja, lu doang yang begandeng,” pemuda itu berlalu kembali ke konter kerjanya yang tepat berada di depan, dekat pintu masuk bercat merah.
Mata gadis itu terus memperhatikan kepergian pemuda berkaki jenjang itu hingga beberapa saat mulai sibuk dengan “gandengan”-nya. Kembali ia layangkan pandangannya menuju jendela kaca dan memandang pot bunga Taiwan Beauty yang tersusun apik memagari kedai kecil itu. Dan sesekali memandang pantulan bayangannya sendiri pada kaca yang mulai menggelap karena malam sudah mulai merangkak ke tengah.
“Jangan ngelamun.”
Pemuda itu duduk sembari melepas apronnya yang kemudian memperlihatkan tubuh hasil ratusan jam yang dihabiskan di gymnasium berbalutkan kemeja putih dengan garis-garis biru tipis yang nyaris tak nyata. Gadis di depannya memang selalu menjadi pelanggan terakhir yang pesanannya tercatat untuk menutup hasil penjualan hari itu. Suasana kedai mulai mereda setelah tiga anak umur kuliahan dua perempuan dan satu laki-laki melangkahkan kakinya keluar. Tinggal tiga meja yang masih berisi manusia, termasuk meja mereka berdua.
“Mumet amat sih, sampe tuh rambut cuma ‘dikuntel-kuntel’ doang,” pemuda itu menegaskan dengan mengendikkan kepalanya ke arah cepolan asal di atas kepala gadis itu.
“Merhatiin aja, Sad,” ujarnya menyentuh sambil lalu rambutnya dan mendaratkan tangannya ke tengkuk dan megusapnya pelan.
“Nama gua Satria. Nyebutnya ‘Sat’ bukan ‘Sad’,” protesnya.
“Sama aja,” ucapnya kukuh.
“Nanti dikira gua sad boy. Gua kan bukan elu,” sindirnya.
“Puas-puasin aja, Sad,” jawabnya dengan menekankan nada pada nama pemuda yang dengan seenaknya diganti. “Lagian bagus juga kalo nama lo jadi Sadria. Sadria, Sadria...” suaranya perlahan melemah dan terdengar berbisik kepada dirinya sendiri. Gadis itu menghembuskan napas lalu melipat kedua tangannya di depan dada dan menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi.
Kedua manusia itu bertukar pandang. Selama beberapa detik tak ada satupun yang berinisiatif untuk mengedipkan matanya. Seakan bertukar informasi antara iris mata hitam legam dan iris mata coklat berbercak hitam bisa terputus hanya dengan sekali kedipan mata.
“Sandri baik,” ucap Satria pada akhirnya.
Gadis itu mendesah. “Aku tak bertanya tentang dia.”
“Aku tidak bertanya tentang dia,” Satria mengimitasi ucapannya dengan nada meremehkan. “Hanya membeberkan informasi yang kali aja lo butuhin. Walau gua yakin lo milih dia mati kan dari pada baik-baik aja.”
“Hm,” dengus gadis itu mengejek. Ia ulurkan tangannya meraih secangkir kopi di hadapannya. Menggeser sedikit hingga dasar cangkir membentuk suara gesekan dengan tatakannya yang sama berwarna putih. Perlahan diangkat dan ia mengadukan pada cangkir espresso di seberang. Di hadapan pemuda itu.
“This is not how coffee being treated, gurl,” ujarnya sambil memandang gelas espressonya yang baru ditabrak gelas kopi hitam.
“Mereka kemana?” yang setelahnya dilanjutkan menyeruput isi gelas kopi yang sudah bercumbu dengan bibir gadis itu.
“Lombok apa Halmahera gitu dia bilangnya,” Satria ikut mengangkat gelas mungilnya mendekati alat pencerna pertama.
“Halmahera,” ejek gadis itu lagi di balik gelas kopinya. Perlahan diletakkan gelas itu kembali agar bersatu dengan alas yang setia menanti di atas meja seakan itu adalah karya seni berharga mahal. “Tujuan akhir jadi awal mereka.”
“Sudahlah, kalian sudah berusaha dengan keras. Tapi benangnya tetap tak bisa bersambung, Geya,” Satria menyatukan kedua kepal tangannya di tengah meja dan kembali memandang lekat pada gadis di depannya.
“Kalian berdua sama saja,” Geya menjulurkan jari telunjuknya dan mengusap pelan ibu jari Satria yang menyatu.
Bagai ikan yang memakan umpan, secepat kilat Satria menggamit tangan Geya dan menyimpannya erat dalam genggaman kedua tangannya. “Andai aku bisa membantumu, Ge.”
“The sad part was... you cannot.” Geya menarik napas sembari menarik tangannya. Namun Satria enggan untuk melepaskannya menjauh. “Sad?”
“Biarlah, setidaknya gua cuma bisa melakukan ini,” Satria mengucapkannya dengan tulus sambil memiringkan kepalanya. Mencoba mengejar manik mata gadis di depannya. “Geya?”
Perlahan Geya menangkap kembali tatapan Satra padanya. “Salahnya di gua, Sad.”
Satria memejamkan matanya masih tidak terima jika gadis itu memanggilnya ‘Sad’, namun ia urung mengoreksi. Tidak untuk saat ini. Bukan saat yang tepat.
“Gua melihatnya, gua merasakannya. Bahkan gua bisa menyentuhnya,” dengan tangan lainnya yang bebas, Geya menyentuh tulang pipi Satria lembut. Mengelusnya perlahan, menyusuri tulang pipi tegas itu hingga melewati helaian alis yang lebat teratur. Jemarinya bertemu helaian rambut yang jatuh tepat di dahinya. Ia menyelipkan helaian rambut Satria yang lepas dari ikat buntut kudanya. “Rindu ini terbayarkan hanya dengan melihat lo. Tapi lo bukan dia, Sad.”
“Lo bisa tiap hari kok ke sini,” jawabnya meyakini.
Senyum kembali terbit di bibir Geya, namun kepalanya menggeleng lemah. “Sudah tiga bulan hanya untuk melihat dia yang bukan dia. I’m a sick gurl. Like you’ve always said, sassy.”
“Andaikan gua bisa lebih terangsang dengan lekuk perempuan di banding otot perut yang jadi, maybe we both could go along,” Satria terkekeh.
“And you wanna be your brother shadow for good?” Geya benar-benar menarik tangannya saat terasa genggaman Satria tak seposesif awal.
“If it meant to be, I gonna see it as a Karma that I have to take care of. Glad is, I don’t need to be in that situation.” Kekeh Satria.
“Sandri... Satria... kesempurnaan buah pinang yang dibelah hati-hati. Tak ada cacat, tak ada perbedaan. Kehangatan yang sama dan dingin abadi yang sama. Mungkin kalian berdua kutukan buatku.”
“Sorry not to sorry, gurl.” Satria menyugar rambutnya dengan gaya.
“Gua gak mau nyimpen ini lagi,” ucap Geya setelah selesai mengaduk isi tas kecilnya yang sebenarnya tidak berisi banyak barang. Setelah meletakkan lembaran putih itu di atas meja, dengan khidmat ia menggeser polaroid itu hingga menyentuh siku Satria yang tergeletak di permukaan meja. “Kamu saja yang simpan.”
Satria mengambil lembar kertas polaroid itu. Citra dirinya, gadis di hadapannya yang tepat berdiri di antara ia dan saudara kembarnya, Sandri. Dirinya ingat, foto itu diambil setelah mereka bertiga selesai menonton konser Owl City beberapa tahun silam. Saat mereka masih penuh dengan ambisi-ambisi akan cita dan cinta khas mahasiswa yang berusaha bebas. Geya yang merupakan sahabat dekatnya sejak SMP. Akhirnya bertemu dengan saudara kembar dirinya yang selama masa remajanya bersekolah di Singapura dan kembali ke tanah air saat mengenyam pendidikan S1. Cerita cinta mereka berdua tak terelakkan dan Satria menjadi saksi hidup. Hingga diketahui belakangan, ternyata Sandria pun benar-benar tak berbeda dengan dirinya sendiri. Ketertarikan Sandri pada Geya, sama halnya dengan ketertarikan Satria pada Geya. Geya yang ceria dan energik, penuh tawa dalam tiap ekspresinya mampu menyalakan setiap hari kedua kembar tersebut. Tapi sama sekali tak dapat menyentuh sisi hati maupun cinta. Satria maupun Sandri memang menyukai sesama jenis. Hal pedih itu jelas menyakiti Geya.
“Hold back your river, Geya.” Satria berkata tegas sambil memutar tubuhnya memandang kepergian Geya.
Geya berhenti sembari membuka pintu merah kedai itu lalu menoleh pada Satria yang masih duduk di meja mereka. Ia usap air matanya yang telah lolos di pelupuk matanya. “Will do.”