“Hey, Elise! Tahu tidak kalau hari ini aku...” dan bla bla bla seterusnya. Itu yang selalu kudengar setiap hari, tanpa terkecuali. Seolah aku hanya ada untuk menjadi pendengar setiamu dengan kau yang enggan melakukan hal yang sama. Aku lelah menjadi penonton, aku lelah menjadi pendengar, aku bahkan sudah muak dengan semua yang kalian lakukan. Aku hanya ingin sendiri.
“Kumohon enyahlah. Tinggalkan aku sendiri.” Pintaku dalam hati.
Tapi permohonan seperti itu hanyalah hal yang sia-sia. Mereka tidak akan membiarkanku memiliki waktu untuk diriku sendiri, tak peduli sekeras apapun aku mencoba. Seolah seisi dunia tengah bersekongkol untuk tidak membiarkanku mendapatkan sedikitpun ketenangan untuk diriku sendiri, ketenangan yang kubutuhkan.
...
Ketika jam pelajaran usai, kuputuskan untuk pergi mengelilingi sekolah tanpa tujuan. Sebuah rutinitas tanpa sebab, yang aku sendiri tidak tahu kenapa aku melakukannya. Sebenarnya, hari ini ingin sekali aku membeli sesuatu di kantin. Namun sayangnya, aku tidak memiliki uang untuk itu. Sehingga, mau tidak mau, aku hanya bisa berjalan melewatinya.
Tanpa kusadari, aku sudah berjalan sampai ke koridor sekolah. Disana ada sebuah papan pengumuman yang terdapat banyak sekali poster dan beberapa informasi penting yang ditempelkan petugas sekolah. Sejujurnya aku tak pernah tertarik untuk berhenti menengok, sampai aku memandang secarik poster berukuran A3 dengan tulisan “JOIN US!” yang cukup besar, yang letaknya di tengah sebelum judul poster.
Sekilas mata memandang, gambar poster itu tampak berwarna-warni, menarik. Spontan saja aku langsung penasaran apakah konten di dalamnya semenarik gambar yang mereka sajikan.
Melihat ke satu sudut rasanya tak cukup. Aku mulai mengedarkan pandanganku dari satu sudut itu ke sudut yang lain sambil mencerna setiap kata yang tertera apik di sana.
“Kompetisi debat, hm?” gumamku. Baru kali ini aku melihat ada kompetisi semacam ini. Kukira orang-orang lebih tertarik pada ilmu pengetahuan yang tercetak di selembar kertas bersama nilai, dibandingkan disuruh berargumen.
Ketika masih sedang mengamati poster itu, tiba-tiba, “Hey, Elise!” sapa seseorang yang mendadak muncul entah darimana. Orang itu adalah Mary, seseorang dari masa lalu yang terus melekat bahkan kini merangkap menjadi teman sebangku.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanyanya penasaran.
Aku hanya memandanginya. "Ouh.." ucapku pelan, terkejut tapi tidak terkejut.
Melihat reaksiku yang begitu lambat, Mary lantas melihat ke sekelilingku lalu memusatkan perhatiannya pada papan pengumuman itu. "Oh, kau sedang melihat papan pengumuman ya ceritanya." kata Mary. "Memangnya ada apa disana? Apakah ada sesuatu yang menarik?"
Ia mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh papan pengumuman, kemudian membaca secarik poster yang berada tepat di hadapanku.
“Apa ini, lomba Bahasa Inggris?” tanyanya begitu antusias.
Lihat bagaimana dunia berjalan dengan aneh. Mary selalu muncul secara tiba-tiba ketika aku sedang melakukan sesuatu. Ia seperti debu yang menempel di bajumu, melekat tanpa kau menginginkannya. Berkatnya, perjalananku menjauhi segala bentuk hal yang mengingatkanku tentang betapa menyebalkannya dunia menjadi sirna sudah. Kadang kupikir akan lebih menyenangkan kalau dia hanya sebuah bayangan, tetap diam tanpa perlu kuperhatikan.
Hah, persetan sudah. Kalau sudah begini, mau tidak mau aku harus mengajaknya bicara. “Ya, sebenarnya aku ingin mengikutinya. Siapa tahu ternyata aku lebih mampu dalam bidang ini dibanding ilmu pengetahuan yang lain. Seperti matematika misalnya. Bagaimana denganmu, apa yang sedang kau lakukan disini?” Balasku.
“Oh, tentu aku akan ikut!” serunya yang belum kehilangan rasa antusias. Sebenarnya, itu bukanlah jawaban dari pertanyaanku, dan sudah jelas bukan merupakan jawaban yang aku harapkan. “Kurasa lomba seperti ini pasti lebih menantang, atau.. entahlah. Tapi kuyakin kompetisi debat seperti ini masih tergolong langka. Pasti peluangnya sangat besar! Hadiahnya juga lumayan.”
Tiga kata terakhir itu sempat membuatku tertegun. Peluang ya? Kenapa selalu peluang yang ada di kepalamu? Peluang yang mungkin suatu saat akan membutakan matamu.
Bukannya aku menyalahkan pikiran seperti itu, aku juga tidak menyalahkan apapun yang menunjukkan keberadaan kata itu –peluang. Hanya saja kadang menyebalkan harus mendengar orang membicarakan setiap inchi kehidupan yang bahkan belum dimulai.
Aku menghela nafas dalam.
"Bangunlah, Elise. Siapa yang kau bodohi?" batinku, memaki diri sendiri. Itu semua hal yang manusiawi. Bahkan normal bagi seorang remaja untuk menjadi seperti itu. Dimana seperti yang kutahu, tidak dariku atau hidupku yang memiliki satu kata itu –normal.
Tanpa menunggu lebih lama, aku memutar badanku lalu melenggang pergi tanpa alasan. Berada di sampingnya hanya akan memberikan bahan bakar pada kebencian dan ekspresi muak yang ada di dalam tubuhku.
“Kau mau kemana?” tanya Mary.
Berhenti mengikutiku, urus urusanmu sendiri! Andai aku bisa mengatakan itu. “Entahlah. Mungkin ke perpustakaan, taman, atau sekedar mengitari sekolah. Aku tidak tahu. Kurasa aku hanya sedang ingin jalan-jalan.” balasku ragu.
Kenapa masih mengikutiku? Pergilah ke tempat lain, aku hanya ingin sendiri dan hanya seorang diri untuk saat ini.
Terlambat. Semua kata yang tertahan di kerongkongan itu harus tertelan kembali begitu pertunjukan dimulai. “Elise, tahu tidak kalau di rumah tadi sebelum berangkat tiba-tiba aku bertemu...” Lebih tepatnya sebuah cerita.
Kalau boleh, aku ingin menyumbat telingaku. Bukannya aku keberatan mendengar kisah hidup Mary yang nyaris setiap detik ia kisahkan ibarat dongeng klasik. Aku hanya lelah menjadi bukti keberadaan kisah tersebut. Apa aku terlihat seperti ensiklopedia berjalan yang akan mencatat seluruh sejarah kehidupan umat manusia bagimu?
Namun kurasa bukan itu yang membuatku jengkel. Kurasa aku hanya lelah menanti giliranku.
“Elise, kau jangan marah!”
“A-apa? Kenapa?” kataku sedikit kaget.
“Bukan apa-apa, aku hanya berpikir wajahmu barusan serius sekali. Apa kata-kataku ada yang menyinggungmu?”
“Oh, maaf. Barusan aku mencoba mengingat sesuatu, rasanya seperti ada hal yang terlupa.”
“Haah.. kau ini.” Gumamnya. “Aku benci ketika kau melakukan itu, membuatku kaget saja. Jangan terlalu serius seperti itu, membuat orang panik.”
Begitu ya? Lucu sekali. Kalau kau benci, kenapa kau tak pergi saja.
...
Kalau kau tanya aku, sejujurnya keadaanku di rumah tidak jauh berbeda, malah jauh lebih buruk. Namun meski begitu, aku tetap lebih suka disini –di rumah. Sebab dengan begitu aku bisa mengunci diri di wilayah yang ku kuasai –kamar.
“Ibu, Ayah, aku pulang! Hari ini di sekolah sangat melelahkan.” Ucapku.
Tak ada respon, tak ada suara. Hanya ruangan kosong dengan kesenyapan yang merajalela. Sepertinya mereka belum pulang. Aku ingin tahu kapan mereka akan sampai ke rumah, walau aku tidak berharap mereka benar-benar pulang.
“Mm-hm, tidak buruk.” Gumamku.
Aku berjalan menuju ruang pengasinganku –kamar. Tapi sesaat setelah membuka pintu kamar, entah kenapa aku merasa ruang sempit itu terasa berbeda.
“Halo penjaraku, aku siap mengurung diri.” Gumamku sekali lagi.
Ruangan sempit itu mendadak terasa semakin sempit, padahal di dalam tak ada begitu banyak barang. Hanya ada almari kayu coklat dengan ukiran bunga di sudut ruangan, dan meja belajar putih di baratnya, dimana di atas meja itu terdapat cermin genggam berukuran sedang. Aku jarang menggunakannya, terus terang aku jarang bercermin. Sebab cermin itu memperlihatkan bayangan diriku yang tampak begitu menyedihkan, dan aku benci meihatnya.
Suasana sepi nan damai ini kumanfaatkan untuk tidur, melepas semua beban yang menggelayuti tubuh. Namun sebelum itu, tak lupa aku menyumbat telingaku dengan headset, kemudian memutar MP3 hingga tertidur.
“Tuhan, biarkan aku terlelap dalam singgasana-Mu.” Pintaku.
Baru saja aku singgah ke dunia mimpiku, tiba-tiba suara keras pintu yang seperti didobrak membangunkanku. Itu pasti ibu. Batinku.
“Aku harus menyambutnya.”
“Hai, Ibu. Kau sudah pulang?” ucapku setelah membuka pintu kamar.
“Kau lagi. Pergi ke kamar dan jangan menggangguku!”
“Baik, Bu. Panggil aku jika kau butuh.” Kataku kemudian sambil menutup pintu.
Tak lama setelahnya, dobrakan pintu kedua terdengar. Itu pasti ayah. Semua hal tentang mereka rasanya seperti menghafal rumus di luar kepala. Dobrakan pertama, kedua, hening sesaat, hentakan-hentakan penuh tenaga dan amarah, kemudian...
“Pertunjukan dimulai.” Ucapku pelan sambil memejamkan mata di atas kasur.
Ayah dan ibu bertengkar lagi. Mereka selalu bertengkar, setiap saat, setiap waktu, seolah tidak akan pernah berhenti. Ada banyak hal yang mereka pertengkarkan. Terlalu banyak hingga aku sendiri tidak mengingatnya.
Kadangkala semua pertengkaran itu membuatku heran. Tidakkah mereka sadar bahwa aku ada di sini, mendengar semua yang mereka pertengkarkan, menjadi saksi bisu atas segala pertikaian. Sejujurnya jika mau, mereka bisa pergi, bercerai atau apalah, terserah. Jika aku yang diminta pergi, maka dengan senang hati aku tidak akan menginjakkan kakiku lagi di rumah ini.
“Tapi kenapa aku harus ditawan disini?” desahku pelan.
Aku tidak keberatan berpura-pura buta, tuli, dan bisu. Tapi sampai kapan? Aku sudah lelah. Aku lelah menjadi penonton, aku lelah menjadi pendengar, aku lelah menjadi saksi bisu atas semua yang orang-orang lakukan. Semua itu membuatku lelah. Lelah untuk berpura-pura tidak ada, lelah untuk marah, lelah untuk tersenyum, lelah untuk menangis, bahkan untuk sekedar mengatakan “aku lelah” pun membuatku lelah. Sungguh, aku sudah sangat lelah.
Sebagai pelarianku dari kenyataan, aku memutuskan untuk pergi mengunjungi khayalanku. Aku menulis semua cerita tentangnya, berharap suatu saat ia akan menjadi duniaku. Entah bagaimana aku bisa terjebak dalam ilusi konyol semacam ini. Sedikit berharap tak ada salahnya, kan? Toh, ini membuatku jadi lebih baik.
Menyedihkan.
...
Di sekolah,
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menganggap dunia ini tidak adil.
“Maaf Nak, kuota untuk sekolah kita sudah terpenuhi.” Jelas Ibu Guru.
“Oh begitu, baiklah, terimakasih.”
Satu hal yang kupikir bisa mengubah sedikit saja bagian dari hidupku telah hilang sepenuhnya. Tidakkah ini seperti pukulan telak? Aku gagal sebelum aku sempat memulai.
Tuhan, katakan padaku kalau aku tidak gagal. Tolong katakan bahwa di luar sana masih ada banyak kesempatan. Katakan bahwa semua akan baik-baik saja. Kumohon katakan itu, atau apapun, kumohon katakan sesuatu. Setidaknya itu akan menghiburku.
Aku menggambar senyum di jariku. Berpura-pura kalau itu Elsie, salah satu tokoh dalam duniaku yang lain –khayalanku. Dialah yang menjadi penghiburku sejauh ini, atau mungkin satu-satunya teman yang kumiliki dan kubutuhkan saat ini.
“Jangan khawatir, Elise. Aku akan menemanimu selalu, dimanapun, kapanpun, tak perlu kau khawatir. Semua yang baik akan datang pada waktunya, begitu pula dengan kesempatan. Selalu ada kesempatan di hari lain, walau tidak sepenuhnya sama.” Kata Elsie yang mencoba menghiburku dengan suara lembutnya.
Sebut aku gila atau apa, karena mungkin aku memang sudah kehilangan kewarasanku.
“Elise! Hey, Elise! Aku sudah mencarimu kemana-mana.” panggil Mary dari arah belakang. “Tebak apa, aku sudah mendaftar kompetisi yang kemarin..” lalu bla bla bla, seperti itu lagi.
“Bagus untukmu.”
“Oh ya, aku juga mendaftarkan Caroline.” Ucapnya tenang.
Apa?! “C-Caroline?” balasku.
“Ya, Caroline. Agak menyebalkan sih kalau dia ikut. Tapi Ibu Guru bilang kuotanya tersisa satu lagi setelah aku mendaftar. Kupikir daripada kuotanya tidak penuh, kuajak saja Caroline. Sebenarnya ia tidak begitu tertarik sih. Tapi kurasa dia...”
“Begitu..”
“Ya. Toh biaya pendaftaran ditanggung sekolah. Benar-benar ikut atau tidak ya terserah dia. Aku tidak peduli.” Jelasnya dengan air muka yang begitu tenang namun menyebalkan di saat yang bersamaan. “Nah, akui saja aku memang hebat dan sangat pandai membujuk orang. Hehehe.”
Kau... satu dari sekian banyak siswa disini, kau lebih memilih mendaftarkan Caroline, orang yang tidak begitu kau kenal dan bahkan tidak begitu tertarik. Dari sekian banyak alasan yang bisa kau pilih, kau memilih mendaftarkannya karena ingin menutup kuota? Apakah sedikitpun tergambar sosokku di dalam kepalamu? Apakah mungkin, diam-diam kau begitu membenci keberadaanku? Tidakkah kau mengerti arti teman yang dengan rela mendengar setiap ocehanmu, hingga ocehannya sendiri tak lagi terdengar tanpa kau sadari?
Aku mengerti. Bagaimanapun kau adalah kau, betapa bodohnya aku untuk sempat berpikir hal yang bukan-bukan.
Jantungku mulai berdegup kencang. Rupanya apa yang terbesit di pikiran tidak sama dengan apa yang singgah di hati. Rasanya seperti ada sesuatu yang sedang mengganjal di dada. Aku tidak tahu apa, aku tak bisa menunjukkannya, dan aku ingin menyembunyikan semuanya. Ya, semuanya, dengan tersenyum. Berpura-pura menjadi seperti gila, atau orang gila yang berusaha menjadi seperti orang normal. Yang manapun itu.
Awalnya hanya sebuah senyum, lalu menjadi tawa kecil, hingga mendadak aku mulai terkekeh. Mary yang berada di sampingku spontan saja terkejut.
“Elise, k-kenapa kau?”
Oh, aku tertawa?
“Lucu. Ah, tidak, maksudku...” aku mencoba menghela nafas panjang untuk menghentikan tawaku. “Maafkan aku. Tadi aku tertawa karena mendadak teringat adegan film komedi yang kutonton kemarin malam. Maaf, aku membuatmu takut ya?” jelasku mengarang.
“Begitukah? Hah, dasar kau! Tingkahmu begitu konyol sampai kukira kau mungkin sedang kerasukan. Huh, kalau aku jantungan bagaimana coba?!” dengus Mary.
“Iya, iya, maaf.” Kataku. “Uhm, jadi, aku pulang dulu ya. Sampai nanti!”
...
Elise...
“Elsie, kaukah itu?”
Kenapa kau melarikan diri lagi?
“Apa maksudmu, aku tidak melarikan diri. Aku hanya menyadari tempatku. Pergi adalah jalan satu-satunya dan yang terbaik untuk saat ini. Kau tahu, itu adalah sesuatu yang mulia dan yang paling kau dan aku inginkan.”
Pembohong.
“Oh, jadi kau mengataiku pembohong sekarang?”
Sudahi semua kebohongan ini, Elise!
“Baiklah, aku seorang pembohong. Lalu kenapa?”
Kau pantas mendapat yang lebih baik.
“Apa? Mendapatkan apa? Apa yang pantas kudapatkan? Aku hanya seorang pembohong, Elsie! Pembohong yang kini menjadi seorang badut yang harus menyenangkan hati semua orang. Karena sekarang aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan selain tersenyum dan tertawa. Aku sudah lupa bagaimana rasanya menangis, marah, bahagia, semuanya! Aku hanya bisa tertawa! Tertawa! Seperti sekarang, tertawa! Tertawalah, akan kuperlihatkan banyak hal lucu. Tertawa, ayo tertawa! Tertawalah bersamaku, Elsie!”
Itu tidak lucu, Elise.
“Hm, kau benar. Kalau begitu aku harus lebih banyak tertawa supaya kau ikut tertawa.”
Elise, dengarkan aku, semuanya pasti baik-baik saja. Hentikan, oke?
“Elsie, aku punya cerita lucu tentang seorang gadis yang ingin tinggal bersama khayalannya. Tapi gadis itu bodoh sekali. Ia lupa kalau di dunia khayalan, keadaannya tidak sepenuhnya berbeda. Lagipula dia terlalu bodoh untuk jadi khayalan. Gadis itu bernama Elise. Oh, tunggu, itu namaku! Ternyata gadis bodoh itu adalah aku. Hahaha... tidakkah itu lucu? Aku gadis bodoh yang bercerita tentang gadis bodoh yang ternyata gadis bodoh itu adalah si gadis bodoh itu sendiri. Hahahaha...”
Elise hentikan!
“Maaf aku tidak bisa berhenti. Semua ini terlalu lucu.”
Elise sadarlah!
Elise hentikan!
Elise!
Elise!
Erh...
“Elise, cepat bangun! Kau harus membuatkan sarapan, apa kau sudah lupa?!” bentak Ibu.
Ternyata tadi itu hanya mimpi. Padahal akhirnya aku bisa berbicara banyak dengan Elsie. Dengannya yang terlihat seperti manusia sungguhan. Tidak seperti mereka. Apa aku benar, Elsie?
Aku menganggukkan kepala, kemudian tersenyum tanpa kusadari.
Tiba-tiba, Plak! Ibu menamparku dengan kerasnya. Aku memegang pipiku yang entah mengapa terasa lebih perih dari biasanya. Aku melihat ke telapak tanganku.
Darah? Aku tertegun sesaat. Hm, sepertinya akan meninggalkan bekas.
“Jangan melamun! Ayo cepat bangun dan pergi ke dapur sana!” perintah ibu yang kemudian berbalik memunggungiku.
Aku menghela nafas panjang. Dengan senyum seperti biasa, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada ibuku. “Ibu, kenapa kau membenciku?”
Ibu tak pernah melihatku dengan tatapan senang, aku ingin tahu kenapa. Aku juga tidak tahu kenapa ibu selalu bertengkar dengan ayah, kenapa keduanya jarang pulang, kenapa keduanya terlihat berbeda, kenapa keduanya semakin lama terlihat semakin asing, bahkan aku tidak tahu kenapa aku dibenci. Aku ingin tahu. Apakah aku tak layak dicintai? Bukankah aku darah daging yang seharusnya sangat dikasihi kedua orangtuanya?
Ibu mengernyitkan dahinya, sedikit iba ia memandangku. Mungkin untuk pertama kalinya ia mau membuka hatinya sedikit untukku?
Sayangnya aku salah. “Sudahlah, tutup mulutmu! Entah omong kosong apa yang ingin kau coba bicarakan denganku. Aku sibuk dan aku harus bekerja keras untuk menghidupi anak tidak berguna sepertimu. Jangan membuatku marah dengan omong kosongmu. Aku benci pembicaraan yang tidak bermutu. Kalau tidak hal penting yang ingin kau bicarakan, sebaiknya tutup mulutmu.” Bentaknya.
“Bu, kalau aku tidak cukup baik untukmu, kenapa tak kau buang saja aku?” gumamku pelan.
“Apa? Kau mengatakan sesuatu?”
“Tidak bu, aku hanya bergumam. Aku sangat beruntung memiliki ibu penyayang sepertimu. Maafkan aku yang tidak tahu terimakasih ini ya bu, aku salah. Maafkan aku bu, tolong jangan marah lagi, aku menyayangimu, ayah juga.” Jawabku, tersenyum.
“Sudahlah, cepat ke dapur dan buatkan sarapan!” Ibu tidak mau berargumen atau apapun. Ia hanya diam sambil menatapku dengan tatapan penuh kebencian.
“Hahaha, iya ibu.” Jawabku lagi sambil tersenyum.
Ibu sempat memandangiku sinis sebelum meninggalkanku. Dunia yang aneh. Tuhan, apa aku kurang berusaha? Sepertinya semua tidak kunjung membaik.
...
Selesai menghidangkan makanan, aku berdiri di antara tempat duduk ayah dan ibu. “Ibu, aku... apa boleh aku...”
“Apa sih? Kalau ingin main ya sudah main sana!” Sela ibu. “Kemarin sudah kuberi uang yang banyak, jangan minta lagi!”
“I-iya, kau benar. Hehehe.” Balasku. Padahal bukan itu yang kumaksud. Aku hanya ingin tahu apa bisa kita makan bersama seperti sebuah keluarga seutuhnya.
“Hey, ayah. Menurutmu apa aku...”
“Ayah sibuk, tak ada waktu. Ambil uang ini dan pergilah main dengan teman-temanmu. Tak perlu buru-buru pulang. Tak ada pekerjaan yang bisa kau lakukan untukku hari ini.” ucapnya tanpa sepersen pun rasa peduli.
Tidak apa-apa, mereka sedang lelah. Pekerjaan mereka sangat banyak, sehingga menguras banyak stamina mereka. Sebaiknya aku tidak mengganggu waktu mereka. Pikirku, menghibur diri.
“Terimakasih, Ayah, Ibu, aku pergi dulu.”
...
Aku berjalan gontai menuju mini-market langgananku yang letaknya di seberang sungai. Itu artinya aku harus melewati jembatan yang ada di depanku. Ugh, sepertinya badanku semakin lemas saja. Kuharap aku tidak tiba-tiba pingsan di jalan.
Sebenarnya, aku memang belum makan apapun sejak dua hari lalu, selain dua mie instant. Setelah kupikir-pikir, sepertinya aku terlalu sering makan mie. Sudahlah, kenapa memikirkan itu sekarang. Lagipula aku tidak punya waktu untuk jadi pemilih. Makan mie dan yang lainnya, apa bedanya? Yang penting masih bisa makan.
Selain itu, persediaan makanan di rumah tidak selalu cukup untuk kami bertiga. Jadi untuk lebih menghemat, kuputuskan untuk mengurangi, bahkan mengganti jatahku sendiri dengan makanan lain yang lebih murah. Tak hanya itu, mereka berdua tidak selalu berada di rumah, lebih seperti singgah untuk makan atau sekedar tidur semalam. Kepergian dan kepulangan mereka tidak pernah pasti. Itu sebabnya aku tidak selalu memiliki uang simpanan.
Mini-market yang sedang kutuju itu sebenarnya juga tempatku bekerja paruh waktu. Tapi begitu ayah mengetahuinya, terpaksa aku harus berhenti. Katanya tidak pantas orang ceroboh sepertiku bekerja sambilan. Hanya bisa membuat repot orang saja. Apa yang kulakukan hanya akan membuat malu nama keluarga.
“Elsie, aku lelah. Sepertinya kakiku mulai mati rasa.”
Bertahanlah, Elise! Jangan khawatir, perjalanan menuju mini-market tidak sepanjang itu. Kau pasti bisa.
“Tidak, Elsie. Aku terlalu lemas untuk berjalan. Biarkan aku istirahat. Sejenak saja.”
Jangan! Aku takut kau malah akan jatuh. Lihatlah, tempat ini tidak cocok untuk dijadikan tempat beristirahat. Begini saja, kalau sudah sampai, ayo kita beli sesuatu yang enak. Sesuatu selain mie instant. Ah, aku tahu, bagaimana kalau es krim?
“Baiklah, terserah kau saja.”
Aku berharap seperti apa yang kau harapkan, Elsie. Tapi perasaanku mengatakan hal yang lain. Mungkin, hanya mungkin, aku tidak akan sampai ke tempat yang kita tuju.
Di saat seperti inilah aku ingin sekali mengutuk diri sendiri. Aku benci ketika aku benar.
Dari belakang, seseorang yang tidak kukenal dengan mengendarai motor mencuri tasku. Aku sempat melawan, tapi ia menarik tasku dengan paksa. Membuat fisikku yang lemah ini mulai goyah, kehilangan keseimbangan. Pada akhirnya aku terpental jatuh ke sungai yang kebetulan alirannya cukup deras.
Beruntung sesuatu sempat menahanku masuk ke air. Membuat sebagian tubuhku masih terapung, sampai kemudian arus mulai membawaku pergi. Dengan tubuh lemah seperti ini, aku bahkan tidak mempunyai cukup tenaga untuk menepi.
Elise!
Elise!
Aku merasa ada seseorang yang memanggilku. Siapa itu? Apa itu suara ibu? Bukan. Tentu saja itu juga bukan suara ayah. Namun sepertinya suara itu hanya ada di kepalaku. Itu dia, aku tahu, itu pasti Elsie.
“Jangan khawatirkan aku, Elsie. Aku akan baik-baik saja, seperti katamu. Tenanglah.”
Tapi kau bisa mati!
Mati? Oh aku lupa soal itu.
“Apa kau lupa kalau sejak awal aku tidak pernah dianggap ada. Aku tidak pernah ada. Seseorang dengan nama yang semua orang melupakannya. Seseorang yang bahkan ayah dan ibunya membenci keberadaannya.”
Elise!
Kau bahkan hanya sebuah khayalan, Elsie. Khayalan dari diriku yang menyedihkan ini. Meski begitu, entah kenapa aku merasa cukup bahagia. Kau sudah mengisi kekosongan hidupku dengan suatu cara. Tapi, apakah kau lupa kalau kosong dan hampa itu berbeda? Kekosongan akan penuh ketika kau mengisinya dengan sesuatu, tapi tidak dengan kehampaan. Tidak ada yang bisa kau lakukan di ruangan hampa. Jikapun ada, baik kau ataupun aku mungkin tidak tahu apa itu.
“Hey, kalau aku bisa ke duniamu, ayo kita main?”
Aku memandang sosok khayalanku, Elsie, di atas jembatan. Setelah kupikir-pikir, sosoknya hampir menyerupaiku. Untuk beberapa saat, aku merasa mungkin akulah sang khayalan. Aku tahu itu terdengar aneh, tapi entahlah. Otakku sudah tak dapat berpikir jernih. Sosok Elsie semakin lama semakin kabur dan menjauh.
Tidak, kesadaranku mulai menghilang.
Tubuhku terus hanyut, mengikuti kemana arus sungai ini mengalir. Meski begitu, aku masih saja tersenyum dan tertawa seolah tidak terjadi apa-apa.
Ah, itu benar...
Sebut aku gila atau apa, karena mungkin aku memang sudah kehilangan kewarasanku.
...
Aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi. Entahlah, aku sudah mulai lelah. Jadi biarlah aku memejamkan mata, membiarkan arus ini membawaku pergi, hilang dari muka bumi.
...