Setelah ditinggalkan oleh pacarku, aku jadi bosnya.
Barisan kata tersebut selaras dengan peristiwa kualami saat ini. Pun judul yang pas bila dijadikan kisah di stasiun televisi. Diri terpegun menatap lelaki—mantan kekasihku semasa kuliah dua tahun lalu—di ruang kantor.
Seminggu aku ke luar kota, lelaki ini sudah kerja di kantor yang aku pimpin. Senyumnya masih sama seperti dua tahun lalu. Garis bibir itu berhasil menawan hati ini menjadi pacar dari lelaki tersebut. Baru beberapa bulan jadian, dia pun memutuskan hubungan asmara yang terjalin di antara kami. Sedang sayang-sayangnya, aku ditinggalkan. Oh, miris memang!
Kala itu dia menjadikan sahabatku sebagai pacar barunya. Apa salahku? Sampai hari ini, tak kutemukan jawaban dari bibir lelaki itu. Aargh! Sungguh sangat menyakitkan.
"Luna!" Dia menghampiriku.
"Stop! Don't touch!" Aku memegang kepala yang terasa pusing dengan sebelah tangan, satu lagi menghentikan dia menyentuh diri ini.
"Maaf, kalau aku lancang. Kamu gak apa-apa?" Dia terlihat cemas.
"Saya pimpinan di sini. Tolong yang sopan memanggil nama saya. Silakan Anda duduk."
"Eh, iya. Makasih, Bu." Lelaki itu duduk di hadapan dengan meja kerjaku sebagai penghalang. "Ibu Luna gak apa-apa?"
"Ada keperluan apa Anda di ruangan Saya? Oh, apa Anda karyawan di sini?" Aku mengabaikan pertanyaannya.
Bukannya menjawab, dia malah menatapku dengan mata teduh serta lekuk bibir yang menawan itu. Aku tak kuasa menahan gejolak rasa membakar jiwa, meluluh lantakkan dinding selama dua tahun ini kubangun agar tak mengulang lara. Namun, degup jantung ini kembali merenyut, memompa darah ke sekujur tubuh dengan cepat.
Hal tersebut mempengaruhi pipi yang berubah menghangat. Aku mengambil remote dan mengarahkanp ke AC, menurunkan suhunya ke level paling dingin. Namun, tetap saja ruangan ini masih terasa panas. Apa yang salah dari benda pengurang panas ini?
"Kalau Anda tak ada kepentingan di sini, silakan keluar." Aku menunjuk ke arah pintu.
"Luna, sudah dua tahun kita berpisah, ternyata kamu belum berubah."
Lagi, dia tak mengindahkanku. Malah dengan bebas perkataannya memprovokasi emosi diri. Aku harus bisa menahan luapan rasa ini.
"Apa Anda tak paham dengan ucapan saya? Silakan tinggalkan ruangan saya kalau Anda tak punya kepentingan. Pintu keluar ada di belakang Anda."
"Luna, apa sekarang kamu masih marah sama aku?"
Pertanyaan itu terdengar bodoh di telingaku. Apa selama ini dia tak sadar? Bukan hanya marah saja yang aku rasakan. Perbuatannya pun sudah berada di level mengecewakan diriku.
Kenapa air mata terlalu mudah jatuh bila berkaitan dengan dirinya? Tak bisakah bertahan sebentar saja wahai embun bening yang mulai menyeruak di indera penglihatanku? Apa kamu senang mempermalukanku di depan lelaki ini?
Aku sedikit menengadah agar air mata ini tak sampai menyentuh pipi. Namun, bukannya susut, malah membuat embun bening itu meleleh. Aku melengos lalu menghapus dengan punggung tangan.
"Luna, maafin aku," katanya lagi.
"Cukup, Leo! Silakan pergi dari ruanganku. Aku tak mau melihatmu lagi!" Mataku menatapnya tajam.
Senyum dan tatapan teduhnya seketika menghilang. Dia bergeming seakan tak percaya dengan sikap yang aku perlihatkan. Jelas sekali, aku gagal mengontrol emosi.
"Baiklah. Aku akan pergi. Ini laporan keuangan bulan lalu yang kamu minta. Sebelum cuti, Mbak Dini udah memberitahu semuanya." Leo meletakkan map berwarna merah di mejaku.
Dia bangkit dari tempat duduk dan melangkah keluar. Sebelum menghilang, ku memandang bahu lebarnya, begitu kokoh menahan kepala ini bila bersandar di sana. Huh! Rasa rindu mengotori otakku.
Kala mencapai daun pintu, dia membalikkan tubuh lalu menatapku kembali dengan senyum yang memikat. Aku berpaling, tak mau lagi jatuh di lubang yang sama. Beberapa saat kemudian terdengar pintu ditutup.
Air mataku kembali rebas. Isak tangis ini pecah memenuhi ruangan. Memori masa lalu bersama Leo memutar di ruang pikiranku. Mulai dari awal kami bertemu, hingga hubungan berakhir begitu saja karena keinginannya.
Aku melirik penunjuk waktu di tangan. Jarum pendek menempati angka lima sedangkan panjang tepat di posisi dua belas. Aku pun bangkit meninggalkan ruang kantor. Ingin segera sampai di apartemen, merebahkan tubuh yang terasa lelah termasuk hati ini.
Sejak lahir, aku dan kedua orang tua tinggal di Bandung. Namun, empat tahun lalu Papi meninggal. Aku sangat merasa kehilangan sosok lelaki yang paling memanjakan dan menyayangi diri. Sementara Mami terlalu asyik dengan dunianya sendiri.
Aku pun pindah ke apartemen karena sering cekcok dengan wanita yang melahirkan diri ini 24 tahun silam. Sebelum meninggal, Papi mengajarkanku ilmu dalam berbisnis. Sebab itu aku menjadi pimpinan di perusahaannya.
Beberapa karyawan yang berpapasan, menunjukkan sikap hormat padaku dengan menyapa sembari sedikit menunduk. Aku pun membalas mereka dengan senyuman. Langkah ini terhenti di depan mobil berwarna putih kesayangan.
Aku naik dan duduk di kursi kemudi. Setelah menekan tuas, kendaraan roda empat pun melaju menuju apartemen mewah yang ada di pusat perkotaan. Dalam perjalanan, ada panggilan masuk dari Mami. Dengan males, aku menekan headset bluetooth yang tersampir di telinga.
"Lun, nanti malam Mami tunggu dinner di rumah Mami."
"Maaf, Mi kayaknya Luna gak bisa. Luna mau istirahat, capek banget hari ini."
"Lun, please ... hanya hari ini Mami minta waktu kamu. Apa kali ini kamu gak mau juga penuhin permintaan Mami."
"Aku usahain."
"Pokoknya kamu harus dateng. Mami punya surprise buat kamu. Mami tunggu."
"Ok."
Aku mengembuskan napas panjang setelah memutus panggilan dari Mami. Memang benar, aku tak pernah lagi menginjak rumah beliau sejak pindah ke apartemen. Yang ada, kami pasti bertengkar setiap kali berada di rumah itu bila bertemu.
Roda mobil putih kesayanganku berhenti di depan rumah Mami. Aku turun dan menutup pintu. Ada kendaraan lain yang terparkir di sana. Punya siapa? Apa Mami mengundang orang lain?
Dengan pikiran yang penuh tanda tanya, aku melangkah menuju pintu utama lalu memencet bel. Tak lama, Mami membukakan pintu. Senyum lebarnya menyambut sembari memelukku.
"Makasih, Sayang. Kamu udah penuhin permintaan Mami." Mami melepas pelukannya.
"Karena Mami terdengar memaksa. Aku gak bisa nolak," kataku santai."
Senyum Mami sedikit sirna. "Gak masalah bila itu alasanmu. Yang penting kamu udah di sini. Ayo masuk, suprise Mami udah nungguin di ruang makan.
Surprise? Benda apa yang hendak Mami tunjukkan? Sebegitu semangatnya beliau mengajakku ke ruang makan.
Perlahan aku mengikuti langkah Mami sembari memegang tas tangan. Saat berpijak di ruang makan, manik ini disuguhkan dengan seseorang duduk di kursi. Lelaki yang sangat aku kenal. Seperti biasa, dia mengikat diri dengan senyumnya.
Dia kah surprise yang Mami maksud? Mataku membeliak menatapnya. Apa lelaki itu mengenal Mami?
"Surprise!" Mami menunjukkan lelaki itu dengan kedua tangannya.
"Apa kabar Luna?" Leo bangkit dari kursinya.
"Leo, kamu di sini?" Aku masih menatapnya dengan sorot mata melebar.
"Iya, Mami kamu mengundangku dinner."
"Mi, apa maksud Mami?"
"Dinner ini ngerayain satu bulan hubungan Mami sama Leo."
Hah? Aku terhuyung memegang sandaran kursi. Tak hanya dua bola mata, mulutku pun terbuka lebar. Mami benar-benar memberikan surprise yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.