Dalam perjalanan kembali ke Ksatrian dari arah Sumedang, Chalik memutar otaknya untuk mencari alasan menghindar berdekatan dengan Weli. Walau pikiran dan bahkan hatinya merindukan sosok Weli, namun demi menjalankan amanah dari Eyang Kyai Pamungkah, Chalik bertekad untuk menjauhi Weli, meski itu harus menyakiti hatinya.
“Kamu baik-baik saja kan Chal?” tanya Abah melirik ke arah spion tengah untuk sekilas menatap pada mata anak bontot-nya itu. Abah menyadari, bahwa Chalik lebih menyerupai dirinya daripada putri sulungnya. Mereka berdua sama-sama orang yang supel dalam bergaul, namun sangat sulit untuk menyukai seseorang lebih dari seorang teman. Maka ketika mereka menetapkan hati pada seseorang, mereka akan berjuang dengan sekuat tenaga mereka untuk bisa bersamanya. Teringat dulu bagaimana Abah memperjuangakan cinta Nyak, yang merupakan putri tunggal seorang Ulama, yang juga Pendiri sebuah Sekolah Tinggi ternama di Jakarta Selatan, dan demi untuk bisa menjadi pendamping Nyak, Abah harus diuji dengan banyak tantangan, baik dari keluarga besar Nyak maupun dari para saingan Abah yang juga ingin meminang Nyak.
“Iya ‘bah, Chalik baik-baik saja.. Cuma aga bingung bagaimana menjelaskannya ke Weli untuk menjauhi Chalik sementara ini? Khawatir dia tersinggung dan ga terima aja..” jawab Chalik dengan mimik bingung yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Sabar ya Chal.. kalau si-Weli itu memang niat serius sama kamu, seharusnya dia bisa mengerti dan ga akan tersinggung. Malah seharusnya dia akan merasa bersalah karena kamu bisa saja tersakiti gara-gara permasalahan dia, dan pastinya dia akan segera menyelesaikan apapun masalah di masa lalunya itu demi bisa bersama kamu nak..” Nyak menjawab kegusaran hati Chalik dengan lembut dan senyum yang menenangkan.
“Iya Nyak.. Cuma ini baru pertama kali Chalik menyukai laki-laki, yang juga sepertinya cocok dengan Abah dan Nyak, tapi kog ya ada permasalahan seperti ini ya?” ujar Chalik nelangsa.
Abah mengakui dalam hatinya, bahwa ia juga sudah mulai menyukai Weli dari pertemuan pertama mereka dan seiring waktu rasa simpatiknya kepada Weli juga semakin besar. Di mata Abah, Weli adalah pemuda yang kharismatik dan punya masa depan yang cerah namun tetap dapat rendah hati dan tidak sombong. Sikap dan sifatnya yang sederhana namun relatif bijaksana untuk pemuda seusianya, sepengamatan Abah, lebih dari cukup untuk dapat membahagiaan putri bontot-nya tersebut. Namun ketika mendengar penjelasan dari Eyang Kyai Pamungkah, tentang santet kiriman yang masih ada kaitannya dengan masa lalu Weli, mau tidak mau Abah juga ikutan geram dan bahkan ingin meminta pertanggungjawaban Weli.
Kalau dikata dunia ini berputar, maka kejadian yang menimpa Abah, terulang kembali ke putri bontotnya. Dulu Abah perlu perjuangan keras untuk mendapatkan putri impiannya, yang seakan sedang terkunci di dalam sebuah istana berpenjagaan ketat. Sekarang, putrinyalah yang harus berjuang keluar dari istana tersebut untuk bisa bersama dengan kekasih hatinya.
Tanpa sadar Abah kembali menghela nafas panjang. Nyak yang memperhatikan, menepuk-nepuk tangan Abah, dengan pandangan mereka saling mengingatkan untuk berdoa bersama untuk kebahagiaan anak bontot yang sangat mereka sayangi ini.
***
Belakangan, Chalik sedang duduk bersebelahan dengan Weli di tangga Balairung yang menghadap ke arah parkiran dan Masjid. Suasana aga temaram sore hari ini, belum semua lampu taman dan jalan menyala. Praja juga kebanyakan baru akan kembali ke Ksatrian besok, karena itulah batas akhir cuti semesteran mereka. Chalik dan Weli memang telah berjanji untuk kembali sehari lebih awal ke Ksatrian. Dan disinilah mereka berdua melepas kerinduan masing-masing.
Chalik hampir saja melupakan tekadnya untuk menjauhi Weli, yang ada di pikirannya hanya Weli dan bagaimana perasaan yang ditimbulkannya. Kebahagiaan yang manis sekaligus getir memenuhi diri Chalik ketika Weli menggenggam tangannya lembut. Bahu dan bagian samping tubuh mereka menempel dan Chalik dapat mencium aroma Weli memenuhi dirinya.
Chalik hampir melupakan permasalahan santet akibat masa lalu Weli.
Ia hampir melupakan tekadnya untuk menjauhi Weli sementara waktu ini.
Hampir, namun tidak sepenuhnya.
Chalik menghela nafas perlahan dan entah bagaimana Weli semakin mendekatkan dirinya.
“Ada apa Chal?” bisik Weli di telinganya dan menambahkan: “Tidakkah Chalik senang kita dapat bertemu dan berdekatan lagi seperti ini?”
Chalik memejamkan matanya dan menjawab lirih: “Saya sungguh senang..”
“Bagus.” Weli berjongkok di depan Chalik dan menggenggam kedua tangan Chalik erat. Lalu mendekatkan telapak tangan kanan Chalik yang terbuka ke wajahnya dan menciumnya dengan kemesraan yang mendasar. Sesuatu yang terasa menyerikan tiba-tiba mengaduk jatuh dalam diri Chalik, ia gemetar dan Weli tiba-tiba berdiri, menarik tubuh Chalik dalam pelukannya.
Sementara tubuh mereka menempel, Chalik dapat merasakan setiap garis keras dari tubuh Weli. Jantung Chalik mulai berdetak lebih keras dan dalam hati ia bertanya: ‘Apakah Weli tahu bagaimana perasaannya? Bagaimana ia dapat mulai menyampaikan permasalahan santet tersebut? Ada apa sebenarnya dengan masa lalu Weli? Oh betapa ia sangat merindukan laki-laki ini..’
Setelah aga puas menikmati aroma Weli, Chalik mendongakkan wajahnya, mata mereka sempat terpaku sesaat, sebelum Weli semakin mendekatkan bibirnya ke arah bibir Chalik.
Chalik sebenarnya tidak ingin mengalihkan wajahnya. Ia menginginkan Weli menciumnya dengan sungguh-sungguh. Menciumnya hingga darahnya memanas seperti yang ia rasakan di kincir ria dulu. Bahkan sekedar memikirkan hal tersebut dapat membuat jantung Chalik bergemuruh di dalam dadanya dan lututnya terasa lemah. Gairahnya begitu kuat, ia yakin Weli juga merasakan hal yang sama.
Namun udara saat itu seakan memiliki pengaturannya sendiri. Tiba-tiba Chalik merasa harus bersin dan membutuhkan kedua tangannya untuk menutup wajahnya, yang membuat pelukan mereka terlepas dan badan keduanya pun berjarak.
“Hhaaaccchhhhhiiii... Maaf Weli..” ujar Chalik kemudian.
Weli hanya tersenyum dan tampak mengulurkan tangannya. Untuk waktu yang lumayan aga lambat, Chalik mengira Weli akan segera menariknya untuk meneruskan niat berciuman yang tidak kesampaian tadi. Namun jemari tangan Weli hanya mengusap pipi Chalik dan dengan lembut berkata: “Udaranya sudah semakin dingin, sebaiknya kita kembali ke wisma yuks!”
“Sebentar dulu Weli, ada yang perlu saya sampaikan. Kita perlu duduk dulu, tapi jangan terlalu berdekatan. Tolong jangan potong kalimat saya sampai saya selesai berbicara ya!” ujar Chalik kemudian. Entah bagaimana, ia merasa seperti putri di istana yang perlu diselamatkan.
***