Luna Pov
Hai semua, namaku Luna. Umurku 15 tahun. Aku memiliki seorang kembaran bernama Luca. Kami berdua selama ini hidup bahagia bersama kedua orang tua kami. Sampai suatu hari, kedua orang tua kami kecelakaan dan meninggal dunia.
"Huhuhu.. Kak Luna, kita harus gimana sekarang? kita ga punya siapa siapa lagi" Ujar Luca sambil terisak isak di pelukanku. Sementara aku sendiri tak berhenti mengusap usap kepalanya supaya dia tenang.
Mulai dari hari itu, Aku terpaksa mengambil alih perusahaan papa. Semua hal berkaitan perusahaan akulah yang mengelolanya. Belum lagi aku masih harus mengurus Luca. Sungguh, sebenarnya aku sangat lelah hidup seperti ini. Tapi mau bagaimanapun, aku tak punya pilihan lain.
Jika Luca yang kusuruh melanjutkan perusahaan papa, karakteristiknya yang naif dan kekanak kanakan itu takkan mampu untuk menyelesaikan segala urusan perusahaan. Bisa bisa perusahaan hancur di tangannya. Jadi mau tak mau aku terpaksa mengambil alih perusahaan, demi kelangsungan hidup kami berdua.
Tahun tahunpun berlalu begitu cepat, kami sudah menjadi wanita dewasa. Namun, tetap saja sifat Luca tak berubah dari dulu.
"Kakakkk!! lihat nih Luke ngechat aku! Aaaa dia ngechat aku kakk!!!" Ujar Luca dengan wajah gambira. Sementara aku hanya tersenyum tipis melihatnya.
"Luca taruh dulu ponselmu. Makan dulu" Kataku mengingatkan. Tapi sayangnya dia terlalu keras kepala. Dia tak mau melepaskan ponsel itu meski aku menyuruhnya berkali kali.
"Ummm.. Uwah.. Uhuk uhuk!" Karena terlalu semangat saat ngechat Luke, dia pun tersedak.
"Luca, sudah kubilang taruh ponselnya dulu!"
Keesokan harinya, aku dan Luca segera bersiap siap lalu sarapan. Hari ini aku ada meeting penting dengan klien yang tidak boleh dilewatkan. Sementara Luca sendiri ada janji kencan dengan gebetannya, Luke.
"Kak, kakak ga punya pacar apa?" Tanya Luca padaku. Mendengar pertanyaan Luna aku jadi kaget dan tersedak saat sedang makan.
"Uhuk! Uhuk Uhuk!"
"Eh.. kok malah keselek sih?"
Selesai sarapan Luca terlihat menunggu Luke datang menjemputnya. Sementara aku masih harus mengunci pintu dan gerbang rumah.
"Luca!" Panggil seseorang dari atas motor. Yup, dialah Luke. Cowok yang menurut Luca itu bagai matahari dihidupnya. Entahlah, kadang aku tak mengerti pikiran Luca.
"Ah iya bentar!"
"Kak Luna, aku jalan dulu ya! doain kencannya mulus oke??" Ujar Luca lalu mencium pipiku.
"Byeeee!!!" Dia melambaikan tangannya kearahku sambil berjalan menuju motor milik Luke.
"Bye.."
Akupun bergegas masuk ke mobil yang sudah kusiapkan di depan gerbang rumahku. Lalu mengemudikannya menuju kantor.
Sayangnya saat itu aku tak menyadari kalau Luke sepertinya tertarik padaku. Dan itulah yang membuat hubunganku dan Luca merenggang.
Luna Pov End
Normal Pov
Sepanjang perjalanan Luca tak henti hentinya berbicara dengan Luke. Dan Luke juga terlihat antusias dengan pembicaraan mereka. Semua berjalan lancar, sampai suatu saat.
"Lu-Luke, aku menyukaimu!" Ujar Luca dengan pipi merona. Luke yang mendengarnya juga ikut merona sesaat. Tapi tiba tiba tatapannya pada Luca berubah.
"Uh.. Maaf Luca, tapi sepertinya aku menyukai orang lain" Jawab Luke. Sedikit tak enak hati pada Luca.
"Eh? Ng.. baiklah. Tapi kalau boleh tau siapa yang kau sukai?" Tanya Luca, berusaha tersenyum semaksimal mungkin. Padahal dalam hatinya dia sedang mengutuk orang yang disukai Luke.
"Aku.. suka pada kakakmu, Luna
Dan kata itu langsung mengubah pandangan Luca terhadap Luna.
-Di sisi lain-
"Akh! Kepalaku!"
Luna memegangi kepalanya yang terasa berdenyut denyut. Pegawai lain yang melihat hal itupun menjadi panik.
"Nona? nona? apakah anda baik baik saja?"
Brukkk..
Luna kemudian pingsan di hadapan para pegawainya. Salah seorang pegawai membawa Luna ke rumah sakit. Lalu kembali ke kantor untuk mengambil alih tugas Luna. Setelah 2 jam pingsan, Lunapun akhirnya sadar.
"Nona Luna, apa anda yakin masih tak mau mengambil program cuci darah tiap bulannya?" Tanya sang dokter.
"Tidak dok, lagian saya sudah tau kanker saya ini tak mungkin bisa disembuhkan. Sekarang saya hanya ingin menghabiskan waktu bersama adik saya. Karena saya merasa waktu saya sudah tidak banyak" Jelas Luna. Sang Dokter menghela nafas panjang kemudian kelas keluar dari ruangan tersebut.
Selesai mengurus administrasi, Luna segera pulang kerumah lalu memasak makanan kesukaan adiknya. Tak lama, adiknya pulang dengan penampilan awut awutan.
"Eh, Luca kamu kenapa?" Tanya Luna khawatir.
"Gapapa"
"Emm makan dulu yuk, kakak dah buat makanan kesukaan kamu"
"Aku sudah makan diluar" Jawab Luca kemudian pergi kekamarnya. Meninggalkan Luna seorang diri di ruangan itu.
'Sepertinya begini juga bagus' batin Luna sambil tersenyum miris.
Hari hari berikutnya, Luca bahkan tak pernah menyapa Luna. Dia bahkan mengacuhkan ucapan Luna saat di meja makan. Seolah olah Luna tak ada disana. Tapi Luna tetap tersenyum. Ia terus memperhatikan adiknya. Merekam setiap memori yang mereka jalani di otaknya. Berharap bahwa Luca tak akan lupa padanya saat dia sudah tiada nanti.
Luna terus terusan memperhatikan Luca, meskipun dia juga hanya diacuhkan. Lama kelamaan Luca pun kembali luluh. Dia merasa bersalah karena sudah menjauhi Luna. Ia ingin segera minta maaf.
"Tinggal 10 hari lagi.. Huft" Gumam Luna pelan.
Sementara Luca melihatnya dari balik pintu kamarnya. Memperhatikan gerak geriknya.
'Lebih baik besok aja minta maafnya.. lagian besokkan ulang tahun kami' batin Luca lalu tersenyum.
Keesokan harinya Luca bangun lebih awal, ia ingin meminta maaf pada kakaknya kemudian merayakan ulang tahun mereka. Namun sayang sang kakak sudah berangkat ke kantor pagi pagi sekali.
"Huh.. terpaksa jemput kakak nih!" Gerutu Luca.
Karena tak ada kendaraan, Luca pun berjalan kaki menuju kantor. Tapi sayangnya, ditengah jalan dia ditusuk oleh pemuda yang tak dikenal. Tepat di bagian jantungnya.
Beberapa hari kemudian, Luca bangun setelah melakukan operasi donor jantung. Tepat disebelahnya ada Luke yang sedang menatapnya nanar.
"Hei Luke, kenapa kau ada disini? dimana kak Luna?" Tanyanya.
Luke tak menjawab, Ia hanya memberikan sebuah surat dan menaruh kotak besar di dekat Luca. Kemudian pergi meninggalkan ruangan.
"Dia kenapa ya?"
Kemudian Luca membuka surat yang sudah Luke tinggalkan padanya. Ia mulai membaca surat tersebut.
[For Luca
Hai Luca, kau sudah bangun ya? untunglah operasimu berjalan lancar! Aku sangat senang melihatmu mau membaca suratku! Kupikir kau akan tetap marah padaku, hehe..]
"Ah.. inilah tulisan kakak" Gumam Luca.
[Maafin kakak ya Luca, kakak mulai sekarang gak bisa nemenin kamu lagi. Waktu kakak sudah habis]
Luca mengernyitkan dahinya, pertanda bingung
[Luca tau ga? kakak takut banget pas tahu jantung Luna ditusuk orang ga dikenal. Tapi Luca tenang aja, Luna sudah ngasih jantung Luna supaya Luca tetap hidup]
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Luca.
[Anggap saja jantung itu sebagai hadiah ulang tahun dariku untuk Luca. Kamu juga gak perlu sedih kok, dari dulu aku memang terkena kanker. Aku juga tau hidupku gak akan lama. Dari awal aku tidak bilang padamu karena aku tak mau membuatmu sedih. Luna mau lihat Luca tersenyum, bukan menangis. Semoga Luca mau maafin Luna ya..
Pokoknya mulai dari sekarang Luca harus mandiri ya! Luca harus bisa jaga diri sendiri. Jangan lupa, tetap tersenyum ceria seperti biasa. Seperti Luca yang kakak kenal. Karena kakak suka Luca yang ceria!
Kotak itu hadiah perpisahan dari kakak, buat Luca. Semoga Luca suka ya!
Tolong jaga jantung Luna baik baik ya, Luca jangan lupain Luna juga ya. Luca adalah saudara terbaik kakak! Luna sayang banget sama Luca! Luca harus bahagia ya meski Luna gaada lagi disamping Luca.
Jika ada kehidupan selanjutnya, Luna mau kita jadi saudara lagi! Luna mau ketemu lagi sama Luca!
Sudah ya Luca, kalau diterusin Luna bakal nangis nih, hehe...
Goodbye! See you next time, Luca!
From : Luna]
"Hiks.. hiks.."
Luca menangis tersedu sedu. Hatinya terasa perih. Ia bahkan belum sempat meminta maaf pada kakaknya. Ia juga tak tau bahwa kakaknya terkena kanker selama ini. Ia sangat menyesal telah menyianyiakan waktu mereka selama ini.
Tiba tiba tatapannya menatap kotak yang diletakkan Luke tadi. Jari mungilnya membukanya. Setelah melihat isinya, tangisannya semakin keras.
Foto foto mereka selama ini terkumpul di dalam kotak, begitupun barang barang pemberian Luca untuk kakaknya dulu. Ternyata Luna sangat memperhatikan hal hal yang berhubungan dengan adiknya..
kemudian ada sepucuk surat kecil yang berisikan :
Bintang terasa indah karenamu
Juga terasa hampa karenamu
Izinkan aku untuk menjagamu
Sampai waktu kan menjemputku
Jaga diri baik baik, Luca adikku.
"Good bye, see you next time, Luna" Gumam Luca sambil memeluk foto kakaknya.
Arwah Luna yang melihat itu kemudian tersenyum dan perlahan lahan menghilang. Seolah tak pernah ada disana.
Tamat