Didunia ini tuhan telah menciptakan pasangan masing masing, siang malam, hitam putih, kotor dan bersih. Begitupun manusia yang sejatinya ialah makhluk yang paling sempurna, manusia juga diciptakan berpasang pasangan antara laki laki dan perempuan.
Begitu pula aku, aku seorang perempuan bernama Dira yang hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Aku hanyalah perempuan biasa yang terlahir didesa dan ekonomiku juga biasa saja, aku pendiam pemalu dan tidak banyak bicara. Jujur saja aku belum pernah berpacaran selama ini hanya bisa mengagumi dalam diam ketika aku menyukai seseorang.
"Ra.." Panggil ibuku yang kemudian duduk di sebelahku
"Teman ibu memiliki anak laki laki, ia bekerja dikota usianya sudah cukup untuk berumah tangga dan ia sedang mencari calon istri"
"Terus?" Sahutku
"Kamu mau?" Tanya ibu
Sempat ragu, aku terdiam sejenak dan berfikir teman ibu yang mana? Anaknya seperti apa? Kenapa harus aku? Apa dia akan menyukaiku? Aku ini kan jelek. Aku memang orang yang tidak percaya diri dan insecure
"Kalau mau, nanti ibu akan kasihkan nomor teleponmu kepada teman ibu. Kamu tahu kan bu Rina?"
"Ohhh iya iya bu tahu" Jawabku singkat seraya masih berfikir takut takut tidak cocok
"Ya sudah nanti ibu kasihkan ya? Kenalan saja dulu siapa tau cocok, dia itu soleh,rajin ibadah dan pekerja keras" Ujar ibuku
"Dia itu jadi Tentara disana" dengan polosnya ibuku mengatakan bahwa laki laki itu berpangkat TNI dikota besar sana. Tidak aku jawab sedikitpun karena aku saja masih ragu lalu ibuku pergi begitu saja.
Beberapa hari kemudian ada pesan masuk dengan kata (Assalamu'alaikum), belum ku balas karena memang aku tidak mengenali nomor tersebut
(Ini Dira ya?) Aku mengkerutkan dahiku memutar bola mataku kearah kiri "Siapa ya kok dia tau namaku?" Tanya ku dalam hati
(Ini Rian anak bu Rina) Sedikit kaget, secepat itu berarti ibuku sudah memberikan nomorku pada bu Rina.
Tiba tiba ibuku menghampiriku dengan tersenyum menggodaku
"Gimana ada gak?? Namanya Rian, udah ada hubungin kamu" Tanya ibuku
"Ohh ada bu"
"Ya sudahh" Colek ibuku meledek
Pesan singkat itupun berlanjut hingga ke panggilan suara, bahkan dia sempat minta bertukar foto dan mengutaran bahwa ia sedang mencari calon istri. Saat ia mengirimkan fotonya padaku aku tak berfikir Rian itu tampan atau tidaknya aku melihat dari sisi bahwa laki laki ini memang ingin mengenaliku lebih dalam dan ingin mempersuntingku walaupun kita belum pernah bertemu satu kalipun.
Setelah lama kita komunikasi via telepon akhirnya Rian mengajakku untuk bertemu di kota Jakarta yang kebetulan ada adik ibuku (Bibi) yang sudah menetap dikota tersebut.
Kesan pertama bertemu dengannya, membuat jantungku berdebar aku masih ingat tatapan dan senyumannya
"Ya tuhann.. sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama" Gumamku dalam hati
Rian masih saja tersenyum padaku sambil ngobrol ngalor ngidul dan tak hentinya ia tersenyum padaku saat berbicara
"Gimana aku mirip bu Rina gak" Tanya nya, aku menatapnya dengan serius
"Mirip" Sahutku malu malu
Setelah pertemuan pertama dan aku menetap dirumah bibiku untuk sekian bulan, Rian tak henti hentinya menelepon dan mengirim pesan singkat hanya untuk mengingatkanku ibadah makan dan lain lain tak lupa juga mengunjungiku, mengajak aku keliling ibu kota. Sungguh sangat romantis dan ia membuat aku benar benar jatuh cinta
Pertemuan yang kesekian kalinya Rian mengajakku makan tapi tiba tiba ia memegang tanganku, aku merasa kaget jantungku benar benar berdegup kencang
"Ra.. kamu tau kan kalau aku ini sedang mencari calon istri?" Ujarnya msih memegang tanganku
"Emm iya" Jawabku
"Kamu mau jadi pacar aku?"
Degggg ya tuhann aku kaget dan aku benar benar diam mematung nafsu makanku hilang seketika, Rian masih menatapku dan menunggu jawaban dariku
"Iyaa mau" Jawabku malu malu dan gugup
Rian reflex tersenyum dan mengucapkan terima kasih, saat itu aku benar benar bahagia baru kali ini aku jatuh dan sebahagia ini. aku tidak melanjutkan makanku nafsu makanku benar benar hilang saat itu
Kita melanjutkan untuk pulang setelah makan, diperjalanan Rian tak henti hentinya memegang tanganku
"Peluk" Kata Rian
"Hahh?" Sahutku karena memang suara Rian tidak begitu jelas
"Peluk aku.." Ujar Rian sekali lagi
Belum sempat aku memeluknya namun tangan Rian sudah menarik tanganku terlebih dahulu. Aku hanya terdiam dan malu merasa masih tidak nyaman dengan keadaan seperti ini
Sesampainya dirumah bibiku Rian tidak langsung pulang, sialnya bibiku meninggalkanku hanya berdua dengan Rian
"Aku pengen cepet cepet menikah sama kamu, aku bakalan meminta izin pada atasanku rencana pernikahanku ini. Akan aku kabarin nanti ya doakan semua berjalan dengan lancar" Ujar Rian panjang lebar
"Aminnn" Jawabku singakat
Sesekali kita bercanda dan tertawa tak lupa ia menanyakan rumahku disebelah mana, padahal Rian sudah sering main ke kampungku, tapi ia tak mengetahui letak rumahku. Saat pembahasan kita sudah habis kita berdua hening dan terdiam
"Cup"
Tiba tiba Rian mengecup bibirku, aku merasa kaget karena itu adalah ciuman pertama dalam hidupku, aku melepaskan ciuman yang mendarat dibibirku
"Nanti ada yang lihat lhoo" Ujarku gugup
"Ngga ada tenang" Sahutnya
"Ya sudah aku pulang dulu ya, ini sudah malam hehe"
Lanjut Rian cengengesan
Tak lupa Rian pamit pada bibiku sebelum akhirnya ia benar benar pergi.
Pertemuan demi pertemuan terjadi hingga akhirnya aku harus pulang kampung karena sudah terlalu lama dirumah bibiku, jauh hari sebelum aku pulang aku sudah bilang pada Rian bahwa hari minggu aku akan pulang.
Tibalah hari minggu dimana aku harus benar benar pulang dan menjalani hubungan jarak jauh
"Aku pulang ya mas" Pamitku pada Rian
"Iya sayang, kamu hati hati jangan nakal disana nanti aku main kerumah titip salam buat ibu bapak dikampung" Sahut Rian
Setelah dikampung aku membicarakan pada ibu bapakku niat Rian yang ingin menikahiku bahkan ia akan main dalam waktu dekat kerumah, tak disangka niatan Rian sangat di sambut dengan baik oleh keluargaku sampai sampai ibukku membeli kursi tamu baru untuk keluarga Rian.
Teleponan, pesan singkat masih lancar pada saat itu, namun setelah beberapa minggu Rian tidak ada kabar sampai berhari hari tak ada balasan saat aku mengiriminya pesan singkat di telepon pun Rian tak menjawab.
"Ya allohhh ada apa ini" Ujarku dalam hati sambil menangis
"Kamu kemana mas.." Lirihku menangis
"Kenapa tak ada kabar? Aku telepon pun kamu gak angkat" Tangisku menjadi jadi
Seminggu Rian tak ada kabar, tiba tiba jam tiga malam ia mengirimiku pesan banyak dan sangat panjang
Pesan Rian :
(Dira.. Maafin aku, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Atasanku gak ngizinin aku menikah dengan wanita yang hanya lulusan SMP beliau mengatakan boleh menikah tetapi dengan wanita lulusan S1 paling minimal SMA gak apa apa, sebetulnya aku sangat ingin menikah sama kamu rancanaku menikah sama kamu itu bulan Januari tapi saat aku meminta izin sama atasanku ia tak mengizinkan, sangat kecewa tapi mau gimana aku tak bisa apa apa. Sampaikan maaf sama bapak dan ibu ya, sekali lagi aku minta maaf)
Gugup, kaget, kecewa, sedih, sakit semua campur aduk jam tiga malam aku menangis sesegukan sampai sampai ibuku yang sedang melaksanakan shalat tahajud pun mendengar tangisanku
"Dira.. kamu kenapa?" Tanya ibuku
Aku tak bisa menjawab aku hanya menangis dalam sakitku, aku merasa bahwa aku sangat sangat rendahan dimata mereka.
"Diraa.. cerita sama ibu, Rian ya? Rian kenapa?" Tanya ibu sekali lagi
"Rian mutusin aku bu..." Jawabku sambil menangis dan ibupun memelukku dan ikut menangis
"Ya allohhhhh" Seru ibuku, ia juga pasti sakit hati karena ia sudah membeli sofa untuk kedatangan Rian dan keluarga
"Kenapa bisa Rian mutusin kamu?" Tanya ibuku sesegukan
"Pendidikanku rendah bu.. Rian ga boleh nikah sama aku yang lulusan SMP" Jawabku masih menangis memeluk erat ibuku
"Ikhlaskan nak.. kita orang tak punya kita tidak bisa apa apa"
"Kamu harus janji sama ibu kelak kamu harus jadi orang yang sukses yaa biar taidak ada satupun orang yang berani merendahkan kita" Kata ibu menghapus air mataku
Berhari hari aku mengurung diri dikamar hanya bisa menangis menangis dan menangis, sakit dan malu karena berita pernikahanku sudah tersebar diseluruh kampung.
Tahun demi tahun berlalu, aku sudah ikhlas mungkin memang Rian bukan jodohku, kini Rian sudah menikah dengan seorang guru dan sudah memiliki anak. Usiaku pun sudah menginjak dua puluh tiga tahun walaupun belum bahagia seperti Rian tapi aku selalu bersyukur dengan kehidupanku sekarang
Semoga bahagiaa ya Rian
End~~~~