Tak ada yang bisa menebak kepada siapa cinta akan jatuh nantinya, kita sebagai manusia hanya bisa menerima dan menjalani baik buruknya takdir, suka dan duka sebuah hubungan tawa dan air mata yang mengiringi hidup. Namun apa salah jika Yuna hanya meminta cinta tulus dari orang yang ia cintai.
Tentang cinta yang akan tetap bertahan meski takdir menghianati, meski hidup melukai dan keadaan yang mengharusnyannya untuk menyerah. Inilah kisah cinta yuna, yang berawal dari awal masuk sekolah mengenal Dirga cowok yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, Yuna gadis ceria dan pecicilan, jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.
Dirga adalah siswa terpomus di SMU kartini banyak kakak kelas dan teman seangkatannya yang mengidolakannya, tidak hanya itu ia juga pintar dan aktif dibidang olah raga.
“sumpah Dirga makin hari makin ganteng aja.” Ucap yuna yang terus memperhatikan Dirga dari jauh.
“lo seriusan suka sama Dirga yun?” tanya Vivi salah satu sahabat yuna. Kini mereka bertiga tengah berada di depan kelas.
“ya iyalah, yakali gue becanda, kurang kerjaan banget kalo misalnya cuman becanda, bela-belain dihukum pas upacara hanya karna Dirga dihukum.” Ucap Yuna yang mengingat kejadian minggu lalu.
“Din, menurut lo Dirga ganteng nggak?’ tanya Yuna ke Dinda yang juga sahabatnya. Berbeda dengan Vivi, Dinda lebih terkesan pendiam, dan tertutup.
“hmm lumayan!” jawab Dinda singkat, ia memang tak terlalu tertarik dengan urusan cowok, sampai sekarang belum ada yang berhasil menaklukan hati Dinda, padahal tidak sedikit cowok SMU Kartini yang menyukai Dinda.
“lo seriusan nanya sama Dinda? kayak nggk tau Dinda aja lo, sejak kapa ia peduli dengan cowok yang ada dihidupnnya cuman buku, buku dan buku.” Ucap Vivi, dinda memang anak pintar dan kutu buku.
“ya gue nanya sama Dinda karna gue tau Dinda nggk pernah bilang cowok ganteng, karna menurut dia semua cowok sama, kalo sampe dia bilang Dirga lumayan berarti Dirga emang bener-bener ganteng.” Ucap Yuna dengan cengirannya.
“lebay lu.” Ucap Vivi seraya menoyor bahu Yuna.
***
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat kini Yuna telah memasuki kelas XII, soal kisah cintanya dengan Dirga, Yuna berhasil menaklukan hati Dirga perjuangannya tak sia-sia, terhitung sudah hampir dua tahun mereka pacaran, Yuna begitu bahagia saat Dirga akhirnya membalas perasaannya.
Suasana kantin SMU kartini yang begitu ramai, karna sekarang sudah memasuki jam istirahat hampir semua siswa menghabiskan waktu di kanti begitu pula dengan Yuna dan kedua sahabtanya.
“Nana!” panggil seorang cowok, yang mulai menghampiri Yuna. Semua penghuni kantin menoleh kearah sumber suara.
“Dirga! Kamu udah selesai olah raganya?” tanya Yuna, ya itu memang Dirga most wanted sekolah yang kini telah menjadi kekasih Yuna.
“ udah.” Ucap Dirga seraya duduk dibangku sebelah Yuna, dengan penuh perhatian Yuna mengelap keringat yang memenuhi wajah Dirga, hal itu membuat banyak orang iri dan ingin berada diposisi Yuna.
“woy, alay banget sih kalian serasa dunia milik berdua yang lain ngekos.” Ucap Vivi yang cukup kesal melihat kemesraan pasangan sejoli yang tak tau tempat ini, apa mereka tak menghargai para kaum jomblo yang udah ngenes makin ngenes pas liat adegan ini.
“iri bilang Bos!” ucap Yuna dengan cengiran.
“dih pengen gue tabok tuh muka pake cireng mbak nani.” Ucap Vivi yang tak mau kalah.
“santai mbak jangan marah-marah gue paham jiwa jomblo lo meronta-ronta liat adegan romantis, sapa suruh lo putusin Fahmi cuman gara-gara ngepost foto Lisa BP.” Ledek Yuna, Dirga yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala seraya mengelus rambut Yuna. Begitu pula dengan Dinda yang hanya bisa memperhatikan perdebatan diantara kedua sahabatnya.
“diem lu, nggak usah bahas-bahas mantan, bawaannya gue ppengen makan orang kalo denger namanya. Dah lah Din yok kita kekelas, ogah gue jadi obat nyamuk.” Ucap Vivi seraya berajak dari tempat duduknya.
“yaudah gue duluan ya.” Ucap Dinda ke Yuna dan Dirga.
“eh tunggu Din.” Panggil Dirga yang menghampiri Dinda.” Nih ponsel lo ketinggalan.” Ucap Dirga seraya menyerahkan ponsel Dinda.
“eh iya makasi ya Dir.” Ucap Dinda dengan senyumannya yang lebar.
“tumben banget tu anak mau senyum, biasanya muka dah kaya kanebo kering.” Gumam Yuna.
“ oh ya Ga kamu kemarin kemana aja? aku hubungin kok nggak diangkat, aku chat juga nggak dibales, padahal aku mau minta kamu temenin aku ketoko buku.”
Kemarin Yuna memang menghubungi Dirga tapi Dirga tak menjawab telpon Yuna, bukan hanya kemarin akhir-akhir ini Dirga memang selalu sibuk dan susah dihubungi. Dirga nampak berpikir dengan pertanyaan yang ditanyakan Yuna.
“oh, kemarin aku ada urusan, nemenin mama kerumah saudara.” Ucap Dirga dengan senyumannya.
“oh, yaudah gimana kalo nanti pulang sekolah kamu temenin aku ketoko buku.”
“maaf Na, hari ini aku juga nggak bisa, aku udah janji sama anak-anak basket untuk ngumpul.” Ucap dirga denga wajah menyesal.
“yaudah gak papa, bsok kan juga bisa.” Ucap Yuna dengan senyuman Yuna memang sangat pengertian. Bisa dibilang yuna memang bucinnya Dirga.
“makasi ya na.” Dirga yang merangkul pundak Yuna.
***
Saat pulang sekolah Vivi memaksa Yuna untuk menemaninya ke Mall, awalnya Yuna menolak namun Vivi terus merayunya bahkan Vivi sudah minta izin ke orang tuanya Yuna, akhirnya Yuna mengalah dan kini mereka sudah berada di mall Dinda tak bisa ikut karna katanya sih nemenin mamanya berobat.
Saat tengah asik berbelanja tanpa sadar Yuna seperti melihat cowok yang mirip Dirga bersama seorang cewek didepan penjual es krim, yuna hendak menghampirinya namun cowok itu keburu pergi dan Yuna kehilangan jejak mereka.
“Yun lo mau kemana? Tungguin gue!” teriak Vivi mengejar Yuna.
Yuna masih diposisinya dengan wajah bingun dan terus mencari keberadaan cowok itu, ia tak mungkin salah lihat itu memang seperti Dirga lalu siapa cewek yang berada disampingnya kenapa postur tubuhnya seperti tidak asing.
“Yun, lo lagi cari siapa?” tanya Vivi yang melihat Yuna yang terus melihat kearah depan.
“nggak. Gue tadi kaya liat Dirga, tapi kayaknya salah liat. Lo udah selesai? Kita pulang yuk pala gue tia-tiba pusing.” Ucap Yuna yang tak sepenuhnya bohong, wajahnya nampak memucat.
“lo nggak papa kan yun? Muka lo kok pucar tangan lo juga dingin.” Vivi yang mulai kawatir.
“nggak papa kok, kita pulang sekarang ya.” Ucap Yuna yang dibalas anggukan oleh Vivi.
Diperjalanan pulang Yuna terus memikirkan tentang kejadian di mall, apa benar itu Dirga atau hanya mirip? Jika benar lalu siapa gadis yang ia gandeng mereka nampak mesra.
Keeseokan harinya, Yuna berangkat sekolah seperti biasa, meski masih dengah wajah yang pucat, sebenarnya orang tuanya sudah melarangnya untuk berangkat sekolah namun Yuna memaksa karna ia ingin menemui Dirga seharian kemarin Dirga tak bisa dihubungin, perasaan Yuna makin tak enak.
“lo kenapa sekolah Yun? Bukannya lo sakit?” tanya Vivi.
“nggak kok udah mendingan, Dinda mana?” tanya Yuna soalnya bangku Dinda kosong padahal tasnya ada tak biasanya Dinda keluar kelas apalagi ini masih pagi.
“katanya tadi mau ke toilet.”
“oh, yaudah kalo gitu gue juga mau kekelas Dirga.” Ucap Yuna yang menaruh tasnya lalu beranjak kekelas Dirga.
Sesampainya dikelas Dirga, nampaknya Dirga tak ada dikelas padahal kata temannya Dirga sudah datang. Yuna coba mencari Dirga kelapangan basket sapa tau Dirga ada Disana namun saat melewati taman yang sepi Yuna seperti mendengar suara Dinda.
“Gimana kalo dia tau? Gue nggak mau ngecewain dia.” Samar-samar Yuna dengar pembicaraan Dinda membuat Yuna penasaran dan menghampiri Dinda yang tengah berada dibalik pohon besar.
“dia nggak akan curiga Din kamu tenang aja, kamu jangan nangis kaya gini.” Ucap lawan bicara Dinda seraya menghapus air mata Dinda dan Yuna melihat semua kejadian itu, ia membeku ditempat saat ia tau orang yang sedang bersama Dinda adalah Dirda.
“aku nggak mau sampai ketahuan jadi selingkuhan kamu Dir, Yuna sahabat aku, aku nggak mau kehilangan dia. Seharusnya hubungan ini tak ada sejak awal aku nyesel.” Ucap Dinda dengan tangisannya, Dirga yang masih berusaha menenangkan dengan memeluk Dinda erat, lalu bagaimana dengan Yuna ia tak percaya sahabatnya sendiri menghianatinya, bukan hanya itu bahkan Dirga orang yang sangat ia cintai begitu tega menghianatinya, kenapa, kenapa hal ini harus terjadi kepadanya, kenapa orang-orang yang ia sayangi dan percaya malah menusuknya dari belakang, kesalahan apa yang sudah ia lakukan sampai harus menerima kenyataan yang begitu menyakitkan.
“apa yang kalian lakukan disini?” Yuna yang sudah taksanggup diam ia menghampiri mereka berdua.
“yu yuna.” Dinda yang nampak kaget langsung melepas pelukan Dirga.
“apa magsud omongan lo tadi Din, bilang sama gue kalo itu bohong, lo nggakmungkin hianatin gue Din,” Yuna dengan tangisannya terus menggoncang tubuh Dinda.
“JAWAB DIN!” ucap nya teriak.
“bilang semua ini bohong Ga, kamu nggak mungkin selingkuh,” Yuna yang menghampiri Dirga namun mereka berdua hanya diam tanpa menjawab pertanyaan yuna.
“apa salah aku Ga?apa aku terlalu manja sama kamu? Apa karna aku terlalu egois?apa aku pernah buat kamu marah? Jawab Ga kenapa kamu tega hianati aku Ga?” yuna yang terus memukul dada Dirga, sedangkan Dirga hanya diam membiarkan yuna memukulnnya.
“maafin aku Yun,” Dinda yang mulai membuka suara masih dengan tangisannya.
“maaf? Semudah itu lo bilang maaf Din, lo udah selingkuh sama pacar sahabat lo sendiri Din,” Yuna yang nampak emosi.
“aku cinta sama Dirga yun,” ucap Dinda yang langsung mendapat tamparan begitu keras dari Yuna.
“ini bukan salah Dinda, ini salah aku na, aku yang duluan suka sama Dinda jauh sebelum aku suka sama kamu, tapi Dinda menolak aku karna kamu juga suka sama aku.” Dirga yang menjelaskan.
“sejak kaan kalian pacaran?” tanya Yuna yang tak memperdulikan ucapan Dirga.
“JAWAB!” teriak Yuna.
“ se sejak 3 bulan yang lalu.” Ucap Dinda lirih yang membuat yuna semakin emosi, ia tak menyangka sudah selama itu tapi mengapa ia tak sadar, apa ia yang terlalu percaya dengan Dirga atau ia yang terlalu bodoh, Yuna mendorong Dinda keras sampai kepalanya membentur pohon.
“YUNA” teriak Dirga seraya menampar Yuna.
“kamu, tega nampar aku Ga,” yuna dengan tangisannya ia tak sangka Dirga akan membela Dinda sampai harus menamparnya, ia sudah tak kuat, yuna berlari meninggalkan mereka berdua, hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya. Alam seakan ikut menangis dan merasakan kesedihan Yuna, hujan memuat Yuna ingat saat Dirga menyatakan perasaannya di tengah hujan.
“kamu alasan aku menyukai hujan Ga, dan sekarang kamu juga yang membuat ku membenci hujan. Aaaa” teriak yuna kencang.
“kamu kenapa Yun?” tanya Vivi, Yuna menghampiri Vivi dan lansung memeluknya.
“Sakit Vi! Hati gue sakit Vi, kenapa takdir mempermainkan gue, kenapa mereka harus hianatin gue? Kenapa? Kenapa orang-orang yang gue sayangin tega hianatin gue?” Yuna dengan tangisannya kelas heboh melihat keadaan yuna banyak dari teman mereka menghampiri Yuna.
“lo kenapa Yun?” Vivi yang masih bertanya, dengan tangisannya tanpa sadar air matanya jatuh saat melihat sahabatnya yang begitu terluka tanpa ia tau alasannya, tak ada jawaban dari Yuna tubuh Yuna melemas dan terjatuh dari pelukan Vivi, Yuna pingsan hidungnya mengeluarkan darah.
“yun, lo kenapa? Bangun Yun!” Teriak vivi, saat Vivi terus berusaha membangunkan Yuna Dinda dan Dirga datang.
“Yuna kenapa?” tanyan Dirga.
“seharusnya gue yang nanya sama lo? Apa yang udah lo lakuin sama Yuna? Jangan bilang kecurigaan gue selama ini bener kali berdua udah hianatin Yuna!” teriak Vivi ke arah Dirga dan Dinda. Vivi memang mulai curiga saat tanpa sengaja ia melihat Dirga dan Dinda jalan berdua namun ia tak mau negatif tingking.
“maafin gue Vi.” Dinda dengan suara lirihnya.
“dasar lo penghianat, lo tega hianatin sahabat lo sendiri Din, yuna begitu baik dan sayang sama lo DINDA.” Teriak Vivi dan menampar wajah Dinda.
“udah Vi sekrang lebih baik kita bawa yuna kerumah sakit.” Ucap salah satu teman kelasnya, kelas menjadi gaduh tak sedikit orang yang memandang Dinda sinis.
***
Kini Yuna sudah ditangin oleh dokter, nampak Vivi yang begitu menghawatirkannya, bukan hanya Vivi disana juga ada Dirga, ia sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi, tapi kembali lagi pada keadaan tak ada yang tau hal yang awal mendatangkan kebahagian tanpa sadar hal itu adalah bom waktu yang akan menghancurkan semua pihak.
Setelah hampuir satu jam menunggu akhirnya dokter yang menangani Yuna, keluar dari ruang ICU. Dirga dan Vivi lansung menghampiri sang dokter.
“gimana keadaan Yuna dok?” tanya Vivi, dengan wajah kalut.
“pasien sudah sadar, dia mencari seseorang dengan nama Dirga.” Ucap dokter itu.
“saya Dirga dok, apa isa kami menemui Yuna?”
“silakan, tapi usahakan tidak terlalu banyak mengajak pasien berkomunikasi.” Ucap sang dokter.
Dirga dan Vivi memasuki kamar rawat Yuna, nampak Yuna yang sedang melamun dengan air mata yang tak hentinya menetes, wajah yang begitu suram.
“Yuna!” panggil Vivi, yang menyadarkan Yuna dari lamunannya, Vivi langsung berlari memeluk Yuna.
“kamu, sebenarnya kenapa Yun, kenapa akhir-akhir ini kamu sering sakit?” enar yang diucapkan Vivi, sudah sering yuna absen sekolah karna sakit.
“aku nggak papako Vi.” Kata singkat namun tak memberi penjelasan.
“Na!” panggil Dirga menyaarkan mereka berdua bahwa disana masih aa Dirga.
“maafin aku Na!” ucap irga senu, tanpa disaari kata itu, membuat hati Yuna tambah terluka, ia berharapkejaia tadi hanya mimpi namun ketika menengar kata maaf ari Dirga, iasadar ini nyata, orang dia cintai telah menghianatinya.
Irga beranjak menekati Yuna, Vivi yang paham menjauh ari samping Yuna memberikan dirga kesempatan.
“ini semua salah aku Na, aku yang sudah tega hianatin kamu, aku cowok paling bodoh yang udah nyakitin cewek seperti kamu.” Nampak raut wajah Dirga yang kalut, Yuna masih diam.
“kamu boleh benci aku na, kamu boleh maki aku, tapi jangan salahkan Dinda,” Deg kata itu seakan menikam hati Yuna, nama orang yang tega menghianatinya.
“Ga, apa boleh aku minta sesuatu dari kamu?” tanya Yuna dengan suara lirihnya, Dirga tak paham dengan magsud pertanyaan Yuna namun ia menganggukan kepalanya.
“iya.” Jawab Dirga.
“apa boleh aku minta, kita kembali seperti semula, anggap semua ini tak terjadi, aku ingin membenci mu tapi aku nggak bisa Ga karna jujur cinta ku lebih besar dari pada rasa benci ku, aku ingin egois, apa boleh aku meminta mu lupakan Dinda, dan kembalilah menjadi Dirga ku, aku akan berusaha melupakan semuanya dan akan menjadi pacar yang baik untuk mu Ga.” Uca Yuna dengan air mata yang tak hentinya membasahi pipinya, tak hanya Yuna bahkan Vivi tak tahan mendengar permintaan Yuna, ia sadar Yuna sangat mencintai Dirga, melebihi segalanya.
“Na,,,” ucapan Dirga terpotong saat suara ponselnya berdering, Dirga ingin mengabaikan panggilan itu, namun ponselnya tak berhenti berdering, hingga ia memutuskan untuk menjawabnya.
“halo tan! Kenapa?” tanpak Dirga berbicara dengan sang penelpoon.
“apa! Dinda kecelakaan.” Terlihat wajah Dirga yang begitu panik.” Aku akan segera kesana,” ucapnya lalu memutuskan sambungan.
Yuna dan Vivi mendengar percakapan mereka bagaimana tidak suara Dirga yang begitu keras saat mengetahui Dinda kecelakaan.
“maaf Na, aku harus pergi melihat kedaan Dinda.” Ucap Dirga menghampiri Yuna. Saat ia ingin beranjak Yuna meraih tangannya, dan menggegamnya erat.
“apa boleh aku minta kamu jangan tinggalkan aku Ga, bahkan kamu belum menjawab pertanyaan ku.”ucap Yuna yang terus menggenggam tangan Dirga erat seakan tak rela melepas Dirga pergi.
“maaf Na, kali ini aku nggak bisa, Dinda lagi keritis di UGD” Ucapan Dirga seperti pisau yg menusuk dalam di relung hati Yuna apa begitu besar cintanya Dirga ke Dinda, Yuna menyadari wajah kawatir Dirga yang kentara, apa mungkin sejak awal Dirga memang tak mencintanya, apa sebenarnya dia yang menjadi penghalang diantara Dirga dan dinda, namun lagi-lagi rasa egois itu muncul, ia tak peduli yang jelas dirga adalah kekasihnya.
“tapi ga!”Yuna yang masih menahan kepergian Dirga, namun tanpa perasaan Dirga melepas paksa genggaman tangan Yuna. Dan berajak pergi namun saat hampir sampai dipintu, suara Yunamenghentikannya.
“Jika kamu pergi sekarang aku pastikan kita takan pernah bertemu lagi Ga!” ucap Yuna keras, Dirga hendak melanjutkan langkahnya namun lagi-lagi suara Yuna menghentikannya.
“apa begitu besarnya cinta mu kepada Dinda Ga? Apa kamu akan tetap pergi jika seandainya ini adalah saat terahir kita bertemu?” tanya Yuna yang penuh harapan.
“maaf Yun!” hanya kata itu yang diucapkan dirga lalu pergi meninggalkan ruangan tempat yuna berada.
Vivi menghampiri Yuna dan memeluk Yuna erat iya ingin Yuna menumpangkan semuanya, andai bisa iya ingin Yuna membagi rasa skit itu biar tidak hanya Yuna yang merasakannya sendiri.
“kenapa Dirga tega Vi? Kenapa Dirga tinggalin gue? Apa salah gie Vi? Apa selama ini gue nggak jadi pacar yang baik buat Dirga sampai ia tega selingkuhi gue? Apa selama ini gue nggak jadi teman yang baik buat Dinda sampai dia tega rebut Dirga?itu pertanyaan yang selalu Yuna tanyakan.
“ini bukan salah lo Yun, mereka yang jahat, Dirga yang bodoh udah ninggalin cewek sebaiklo. Gue pastiin dia bakal nyesel ninggalin lo Yun.” Vivi yang berusaha menguatkan Yuna.
“hati gue sakit Vi, apa gunanya gue hidup kalo semua orang yang gue sayangin pergi dan ninggalin luka.”
“lo nggak boleh ngomong gitu Yun, gue paham lo terluka tapi masih ada gue yang bakal selalu ada disis lo, masih ada orang tua lo yang sangat menyayangi lo Yun.” Ucap Vivi panjang lebar namun ada yang aneh Yuna diam tak bergerajk, saat Vivi menjauhkan yuna dari pelukannya nampak Yuna yang sudah pingsan.
“Yun bangun Yuna. Teriak histeris Vivi, saat yang bersamaan datang orang tua Yuna dan dokter.
“Yunaaa!” teriak mamanya dengan histeris
“nak, kamu kenapa bangun Yun.” Teriak mamanya.
Papa yuna berusaha menenangkan istrinya, suster mempersilahkan mereka untuk menunggu diluar karna dokter akan meriksa keadaan Yuna.
“pa, yuna nggak bakal pergi ninggalin kita kan?” tanya mama Yuna yang masih menangis.
“kamu nggak boleh ngomong gitu anak kita kuat ma.”
“sebnarnya Yuna sakit apa tan, om?”tanya vivi
Saat papa Yuna ingin menjawab dokter keluar dari ruangan Yuna
“gimana keadaan anak saya dok?” tanya mama Yuna.
“sepertinya kita harus melakukan oprasi itu sekarang, keadaan Yuna semakin memburuk, sudah tidak bisa menundanya bu, pak.” Ucap Dokter itu. Yang membuat mama Yuna menangis dengan histeris.
“operasi?” Vivi yang namak heran.
“kanker yang berada di kepala pasien sudah tak bisa ditangani hanya dengan kemoterapi, keadaan pasien makin memburuk.” Jelas sang dokter lagi.
“lakukan dok, apapun itu asal bisa menyelamatkan anak saya.” Ucap sang ayah
“baik kalo seperti itu bapak bisa mengurus surat persetujuan diruangan saya.” Uca sang dokter.
“Yuna sebenarnya kenapa tan?” tanya Vivi yang sekarang duduk disebelah mama yuna.
“Yuna sakit kanker otak sejak dua tahun yang lalu, tante sudah melakukan segala cara untuk menyembuhkan Yuna, bahkan Yuna sudah menjalankan kemo dan itu lumayan membantu, namun akhir-akhir ini penyakit Yuna memburuk.” Jelas mama Yuna.
“nggak mungkin, Yuna selalu terlihat baik-baik saja,” ucap Vivi yang tak percaya, Yuna memang tak pernah menunjukannya, ia selalu berusaha terlihat baik-baik saja didepan semuanya oleh sebab itu hanya orang tuanya yang mengetahui, meski memang yuna sering absen dari sekolah.
“Yuna selalu ingin terlihat baibaik saja, ia tak mau memuat kalian kawatir atau merasa kasian, apa lagi Dirga. Ia tak ingin membuat pacarnya itu kawatir.” Ucap sang mama pilu, dia memang mengetahui hubungan Yuna dengan Dirga, karna Yuna selalu menceritakan tentang Dirga setiap saat kepada orang tuanya.
***
Sedangkan dirumahsakit yang sama namun diruangan yang berbeda nampak Dirga dan kedua orang tua Dinda yang masih menunggu didepan ruang UGD, keadaan Dinda sangat buruk, mamanya yang terus menangis dipelukn suaminya. Nampak dokter yang keluar dari ruangan Dinda.
“keadaan anak saya gimana Dok?” tanyak ayah Dinda.
“keadaan pasien sangat buruk akibat, benturan yang sangat keras didadanya membuat jantung pasien rusak, tidak hanya itu kerusakan juga terjadi pada kedua kornea mata pasien akibat pecahan kaca mobil.” Jelas Dokter yang membuat semuanya syok.
“lalu gimana dok? Anak saya pasti bisa selamat kan dok.” Ucap sang mama yang terus menangis.
“kirta harus mencari donr jantung secepatnya, jika tidak kemungkinan besar pasien tidak bisa diselamatkan.”
Hal itu membuat mamanya Dinda pingsang.
***
Vivi dan kedua orangtuanya Yuna sedang menunggu didepan ruang oprasi, tak henti-hentinya mereka berdoa untuk kelancaran oprasi Yuna, mamanya Yuna yang terus menangis dan Vivi yang berusaha membantu ayah Yuna menenangkannya.
Setelah beberapa jam dokter nampak keluar dari ruang operasi, Vivi dan orang tua Yuna langsung menghampiri dokter.
“bagaimana keadaa anak saya dok?” tanya orangtua Yuna.
“kita sudah bersaha semampunya, sekarang kita hanya bisa menyerahkan kepada tuahan, keadaan pasien makin memuruk.” Ucap sang dokter yang membuat semuanya syok.
“pasien ingin menemui keluarganya.” Ucap sang Dokter.
Mereka bertiga menemui Yuna, terlihat Yuna yang berbaring masih dengan alat antu pernapasan..
“ma, pa! Maafin Yuna yang selama ini sudah nyusahin kalian, maafin yuna jika Yuna pernah membuat kalian marah, maafin yuna yang nggak bisa nepatin janji untuk selalu ada disis kalian.” Ucapan yang membuat sang mama menangis histeris bahkan sang ayah juga ikut menangis sambil menggenggam erat tangan sang putrinya.
“ma, Pa Yuna sayang kalian, Yuna sudah nggak kuat, sakit ma, Yuna nggak bisa.” Ucapnya dengan senyuman.
“kamu harus bertahan, mama hanya punya kamu, kamu anak mama, kamu nggak boleh ninggalin mama sama papa,mama akan lakuin apapun agar kamu bisa sembuh mama akan bawa kamu keluar negri mencari rumah sakit yang terbaik.” Ucap sang mama yang hanya dibalas senyuman oleh Yuna.
“kamu harus bertahan nak, papa hanya punya kamu.” Tak kuasa menanhan air mata sang papa menangis pilu padahal ia yang selalu tegar menguatkan istrinya namun mendengar kata yang diucapkan anaknya membuatnya takut, ia mencoba kuat tapi air mata tak bisa ia tahan, saat seorang ayah yang selalu nampak kuat dan menangis berarti ia sangat merasa sakit dan ketakutan.
“maaf ma, pa, yuba sayang kalian.” Ucapnya.
“Vi!” panggil Yuna, Vivi yang sudah menangis sejak memasuki ruang oprasi mendekati Yuna.
“gimana keadaan Dinda?” tanya Yuna.
“stop Yun, aku tau kamu seorang sahabat yang baik tapi saat ini kamu hanya perlu memikirkan kesehatan mu, jangan pikirkan orang lain.” Ucap Vivi yang marah.
“bagaimana pun Dinda sahabat kita sejak kecil Vi, bagaimana aku bisa tenang jika dinda terluka.” Vivi menangis mendengar perkatakan Yuna, begitu sayangnya Yuna terhadap sahabatnya yang sudah jelas menghianatinya.
“kata mamanya Dinda kritis, dia butuh donor jantung.” Ucapnya singkat karna ia masih malas membahas Dinda.
“aku boleh minta tolong, aku mau bicara dengan Dirga, aku minta tolong hubungin Dirga.” Ucap Yuna,Vivi langsung mengambil ponsel dan menghubungi Dirga, telpon tersambung.
“halo Vi” terdengar suara Dirga.
“ini aku Ga, Yuna.”
“halo Yun, keadaan kamu gimana?”
“aku baik Ga,Gimana keadaan Dinda?” suara Yuna yang nampak lirih.
“Dinda keritis.’ Jawab Dirga singkat.
“ga aku cuman mau bilang, makasi. Makasi udah jagain aku selama ini, makasi udah jadi pacar terbaik untuk ku, makasi sudah mengijinkan aku menjadi bagian dari hidup mu, makasi untuk setiap detik waktu yang kamu berikan, aku isa merasa bahagia bahkan sangat bahagia karna mu, maaf aku nggak bisa jadi yang terbaik unukmu.” Ucap Yuna dengan tangisannya, Dirga masih tak paham dengan apa yang diucapkan Yuna dia hanya diam mendengarkan setiap kata yang diucapkan Yuna.
“maaf na, aku udah nyakitin kamu, setelah ini aku janji akan kembali sama kamu dan ngulang dari alam.” Ucap Dirga entah kenapa ia merasa kawatir dan takut.
“sttt dengerin aku Ga,” ucap Yuna menghentikan ucapan dirga.
“Ga LOVE YOU, baik-baik ya, jaga kesehatan kamu, jangan suka telat makan, dan satu lagi jangan terlalu memaksakan diri saat kamu lelah beristirahatlah.” Ucap Yuna tanpa menunggu jawaban dirga ia memutuskan panggilan.
Yuna tersenyum menggenggam tangan kesua orang tuanya, “ma pa paboleh aku meminta kalian untuk memberikan kesempatan hidup untuk orang yang kusayangi. Biarkan dia melanjutkan hidupnya dengan jantungku” Orangtua yuna yang mendengar itu tak bisa berkata apa.
“ma dingin!” ucap Yuna pelan “ma, pa aku minta kalian peluk aku, dingin ma, pa!” ucapmnya yang membuat kedua orangtuanya langsung memeluk yuna erat, setelah beberapa saat pelukan Yuna lepas saat mereka melihat Yuna sudah menutup matanya.
Sedangkan disis lain Dirga yang langsung berlari meninggalkan ruangan Dinda saat yuna tiba-tiba memutuskan panggilannya, entah kenapa ia merasa takut, ia terus berlari hingga ia melihat Vivi yang menangis didepan ruang oprasi.
“Vi Yuna mana?” tanya Dirga, namun Vivi tak isa memberikan jawaban, ia hanya isa menangis tanpa sanggup bicara. Dirga yang tak sabaran langsung memasuki ruangan dan melihat orang tua Yuna yang menangis dengan dokter yang mulai melepas alat bantu Yuna.
“Yuna kenapa tan, om?” tanyanya lagi namun lagi-lagi ia tak menemukan jawaban. Ia langsung menghampirii Yuna yang sudah terbarik dengan mata yang tertutup rapat.
“dok Yuna kenaopa?” tanya nya sambil mengenggam erat tangan Yuna.
“maaf fasien sudah meninggal.” Ucap sang dokter yang membuatnya terjatuh disebelah tempat tidur yuna.
“Na! Bangun ini aku Dirga Na, kamu harus bangun.” Ucapnya lemah.
“yuna nggak mungkin pergi bilang ini hanya bohong, dok Yuna ppasti baik-baik sajakan, Yuna selama ini sehat-sehat saja, yuna nggak pernah sakit mana mungkin yuna tiba-tiba pergi.”
“itu semua karna dia sayang sama kamu, dia nggak mau buat orang yang dia cintai kawatir, tapi kenapa disaat terahir kamu nggak ada disis anak saya!” ucap mama Yuna marah.
“nggak! Yuna nggak mungkin pergi, bangun Na, aku mohon.” Ucap Dirga yang langsung memeluk tubuh Yuna yang sudah tak bernyawa lagi.
“maafin aku na, kamu jangan hukum aku kaya gini, lebih baik kamu pukul atau marahin aku Na, jangan diemin aku Na.” Teriak Dirga yang terus mengguncang tubuh Yuna namun semuanya hanya siasia. Yuna sudah pergi untuk selamanya, rasa penyesalan dan rasa bersalah yang begitu dalam membuat Dirga tak bisa menopang tubuhnya lagi-llagi ia terjatuh disebelah Yuna.
AWALNYA MAU BUAT NOVEL TAPI KARNA MALES BUAT CERITA YG PANJANG, NYOBA BUAT CERPEN
KALO MAU DILANJUTIN KOMEN YA HEHEHE.