Malam terasa kian dingin, angin yang berhembus terasa menusuk sumsum tulang, Sudah berbatang-batang rokok yang aku nyalakan, tumpukan puntuntung rokok diasbak sudah menggunung.
Pikiranku berputar tak tentu arah seakan jauh di dalam diriku ada hasrat yang merontah-rontah, kesedihan makin meremas-remas batinku seolah mecabiknya hatiku menjadi 321 bagian kecil-kecil.
Malam yang kian larut suasana hening mulai menyelimuti kota tempatku tinggal. Namun selarut ini seakan kantuk tidak mau singgah bahkan untuk sekedar mampir di beranda rumah.
Pikiranku berputar-putar pada kejadian seminggu yang lalu, ketika bibik pembantu memanggilku karena ada telpon.
"Nak Bisrun ada telpon" kata bik ina waktu itu
dengan malas aku melangkah menuju meja telpon.
"Hallo... ini dengan siapa ya?" sapaku
"ini dari Ririn, Run aku ingin ketemu sama kamu, ada yang harus aku bicarakan"
Dalam pendengaranku ada guratan kesedihan dari Ririn yang memang harus dia bicarakan.
"Baik Rin, kita ketemu di tempat biasa" jawabku
"Baik Run, aku tunggu jam empat sore di tempat biasa"
Begitu telpon di tutup aku langsung melihat jam, sekarang jam 14.30 Wib, berarti masih ada waktu, maka tanpa buang waktu aku langsung mandi dan segera berangkat menuju ketempat biasa aku ketemu dengan Ririn.
Dari jauh aku melihat Ririn menunggu dengan gelisah memakai baju berwarna pink dan stelan celana jeans, penampilan ini adalah penampilan ketika aku pertama kali melihat Ririn dan itupun di tempat ini
Waktu berjalan menghampirinya, tak ayal hatiku berdebar-debar dengan sebuah tanda tanya besar mengira-ngira apa yang ingin perempuan pujaanku ini bicarakan.
"hei...sudah lama menunggu" sapaku begitu jarak sudah dekat.
"Aku kira kamu tidak akan datang..." jawabnya ketus seperti biasa.
Lama ku pandang wajah Ririn, wajah cantik dan ayu yang sudah sekitar setahun aku pacati. Wajah yang selama ini selalu menghantui hari-hariku wajah yang menambah semangatku untuk menapaki hari demi hari dalam kehidupan yang tidak menentu ini.
Setelah lama saling pandang aku melihat ada butiran bening yang mengalir fi matanya, dengan tangisnya yang perlahan-lahan mulai menjadi-jadi dia memeluku dengan erat seakan tidak mau melepaskannya untuk beberapa tahun lagi.
"Tenang rin, sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku merasa serba salah
"Run kamu masih menyayangi aku kan?" tanya nya dengan nada manja
"Rin, aku masih diriku yang dulu, yang akan selalu menyayangimu apa adanya sampai kapanpun" aku menjawab sambil membelai rambutnya, sementara aku membelai rambutnya dia tambah mengerutkan pelukannya.
"Tapi Run....." kata-katanya terputus oleh suara tangisannya yang makin kencang.
"Sudah, kamu tenangkan dirimu, kemudian ceritakan pelan-pelan" aku mencoba menenangkan "kita duduk disitu sambil minum dulu" Lanjutku
Lalu aku mengajaknya duduk di bangku dan memesan es kelapa.
"coba ceritakan apa sebenarnya yang terjadi?" tanyaku setelah melihat dia mulai tenang.
Wajah Ririn yang dari tadi tertunduk perlahan-lahan mulai terangkat dan memandang kepadaku.
"Run, mulai sekarang kamu harus melupakanku..." Ririn berbicara dengan lugas
"Masalahnya apa rin?, tiba-tiba bicara begitu" jawabku kaget
"pokoknya kamu harus melupakan aku, kamu harus bisa run melupakan aku" jawabnya mantap
Seandainya saja ketika itu ada petir yang menghantam tepat di depanku aku tentu tidak akan sekaget ini, namun kata-kata ini keluar dari mulut orang yangnpaling ku sayangi aku merasa dunia di depanku seperti terjungkir balik.
"Rin, kamu bercandakan?" tanyaku tidak percaya
"Run aku tidak bercanda, aku tidak pernah bercanda tentang hubungan kita dan aku juga tidak bercanda dengan apa yang aku katakan ini, aku serius run, lupakan aku" jawabnya dengan serius
"tapi ada apa ini, kenapa kamu bilang begitu" aku semakin tidak mengerti
"Aku sayang sama kamu bukan di buat-buat, begitupun hatiku sudah aku berikan sepenuhnya kepada kamu, aku rela mengikuti kamu dalam keadaan apapu, tapi kenyataan ini berkata lain aku tidak punya kuasa melawannya" Jawabnya dengan tangis yang mulai pecah kembali
"Baiklah, coba kamu ceritakan, kamu jelaskan semuanya ada apa semua ini supaya aku bisa menerimanya"
'"Aku di jodohkan oleh orang tuaku" jawabnya sambil menangis
"lantas kamu menerimanya begitu saja?" aku mencoba mencari kepastian.
"Aku mau bagaimana lagi, orang tuaku telah ambil keputusan dan aku sudah berkali-kali menolaknya namun keluarga besarku bersikeras tidak menggubriskan penolakanku" jawabnya
"kalau begitu kita kabur dari sini...." ajaku kepadanya
"Aku sudah berpikir tentang kabur, tapi aku takut akan melukai orang tuaku, bapaku mempunyai penyakit jantung yang kronis, dia nemohon-mohon agar aku menerima permintaan terakhirnya ini, aku takut kalau kabur aka terjadi apa-apa pada bapaku" jelas Ririn.
Akubhanya terdiam tak bisa berkata apapun juga, mendengar apa yang di katakan oleh Ririn.
"kamu harus janji untuk nelupakan aku" pintanya
"Rin, tidak akan semudah itu untuk melupakan kamu, semua yang kita jalani tidak akan mudah untuk aku lupakan" jawabku tanpa bisa membendung air mata.
"Rin, terima kasih untuk semuanya selama inj, aku tahu ini berat tapi walau bagaimanapun kita harus tetap melanjutkan hidup kita" jawab ririn
"Semuanya selesai rin, sebab kamu dan keluargamu sudah memutuskan tapi satu hal yang harus kamu tahu aku akan selalu mengingat kamu" jawabku
"iya run, aku juga tidak akan pernah melupakan mamu, semoga kamu menemukan yang terbaik kedepannya" jawab Ririn
Kembali ku lihat wajah yang indah itu di aliri airmata, perlahan-lahan aku mendekati wajah itu dan ku hujani dengan ciuman "kamu yang terbaik rin, ingat satu hal telpon aku jika kamu bersedih"
Ririn kembali memeluku dengan erat, sambil menumpahkan airmatanya di bahuku.
"Sudah sore run, ayo kita pulang..." ajaknya kemudian
"kamu pulang saja duluan, aku masih ingin disini dan mungkin ini menjadi yang terakhir aku ketempat ini" jawabku
Perlahan aku melihat Ririn melangkah pergi, namun beberapa langkah dia berjalan dia berbalik dan berlari memeluku.
"Selamat tinggal Run..." bisiknya di telingaku
"Selamat tinggal, jangan lupa telpon aku jika kamu merasa bersedih" jawabku
Sepeninggal ririn lama aku berada disitu menikmati semuanya dan seperti kataku mungkin ini kali terakhir aku menginjakan kakiku disini.
mengingat kejadian itu semua membuat hatiku kembali berduka, malam ini duka itu kembali menyayat hariku, luka yang mengobrak-abrik segenap pertahananku. Dari jauh aku dengar kokok ayam bersahut-sahutan menyambut pagi, namun pagi itu akankah mapir di kehidupanku, akankah sepeninggal Ririn ada pagi yang baru buatku. perlahan hatiku mulai merasakan kesunyian-kesunyian dari goresan luka yang terjadi dan Luka itu adalah ririn.
####
terima kasih.
follow ya IG: @yoyong_amilin_