Zein Abdalah atau yang biasa disapa Zein usianya 22 tahun dan dia sangat menyukai cewe yang parasnya cantik dan berkulit putih bersih.
tapi sejak Zein kenal dia... ada yang berbeda dari diri nya dan Zein pun baru menyadari itu setelah sekian lama Zein kenal sama dia.
dia atau cewe yang bernama Qirana ini seorang cewe yang polos dan hidup apa adanya,dia ga cantik terbilang biasa saja parasnya kulitnya juga ga seputih dan sebersih wanita yang biasa jadi incaran Zein. ya dia lah Qirana cewe polos dan biasa saja yang bisa membuat Zein selalu tertawa dan sedih kalau tau dia sedang ada masalah.
Zein juga heran dengan perasaan ini tapi ini sungguh terjadi begitu saja mengalir dengan apa adanya.
Qirana teman sekantor Zein sejak 2tahun lalu usianya lebih muda 2tahun dari Zein,mejanya bersebelahan sama Zein,tapi dia ga pernah sadar kalau Zein diam-diam jatuh cinta sama dia.
Qirana si gadis biasa wajahnya Indonesia banget kulitnya coklat muda rambutnya kriting gantung,dia ga cerdas tapi entah apa yang menarik dari dia Zein juga ga tau kenapa malah bisa jatuh cinta sama dia.
hari ini Zein liat dia sedang seruis ngerjain laporan yang di suruh bos dan ga tau kenapa Zein iseng sama dia.
"Qi...serius banget"kata Zein sambil ngeliat dia kerja.
"Iya ka...bis minta laporannya cepet selesai mau di bawa meeting katanya"jawab Qirana sambil mengetik keyboard.
"oh..."Zein coba cuek tapi ga bisa,Zein balik lagi ke samping mejanya yaitu meja Qirana.
"Qi... kan lu pinter ngitung nih ya..."kata Zein dan Qirana pun menoleh ke arah Zein
"coba lu bantuin gue ngitung"
"Ngitung apa ka?"tanya nya polos.
"Asik mangsa sudah mau masuk ke dalam jebakan"kata Zein dalam hati
"Jadi begini"kata Zein dan Zein melihat Qirana dah mulai serius
"Ada sebelas burung bertengger di pohon dan satu burung di tembak berapa sisa burung yang ada di pohon?"
Qirana terlihat serius
"Sebelas yang ke tembak satu ya sisa sepuluh lah ka"dia mulai terlihat antusias.
"salah"kata Zein
"ko salah?"tanya nya polos.
"yang bentul ga ada sisa burung di pohon"kata Zein dan Zein liat dia dah lupa sama kerjaanya karena ngeladenin Zein.
"ko ga ada sisa kan yang ketembak cuma satu ka"dia mulai penasaran dan ini yang Zein suka dari dia.
"ya iya lah yang di tembak satu tapi yang lainnya kabur terbang karena denger suara tembakan"kata Zein yang langsung kembali ke meja kerjanya.
dan Qirana terlihat kesal karena lelucon dari Zein.tapi entah kenapa dia begitu imut kalau lagi kesal begitu.
sore hari saat mau jam pulang bekerja seorang teman membagikan undangan pernikahan.
"Wah... akhirnya si Sopian jadi juga sama Maida"kata Zein pas ngeliat undangan pernikahan.
"Kaka kapan nyusul kawan kaka sudah duluan nih"kata Qirana sedikit meledek.
"Entar lah belum ada yang mau sama saya"kata Zein cuek.
"kamu sendiri emang sudah mau nikah?"tanya Zein iseng.
"hehe ga ka belum saya belum bisa nyenengin orang tua"
Zein pun cuma tersenyum mendengar kata-katanya.
seperti biasa kita pulang berkerja masing-masing.
ke esokan harinya di kantor ada karyawan baru seorang cewe cantik berkulit putih bersih berwajah oriental dah betul-betuk mirip artis korea. dan cewe itu lewat di depan Zein boleh di bilang Zein terpesona dengannya. sementara Qirana cuek ajah ga ada reaksi apa-apa.
"Qi... ada artis korea Qi"kata Zein yang masih terpesona.
"mana"Qirana polos.
"ah kamu mah ga peka"kata Zein kesal.
"huh...kaka tuh ya ga bisa liat cewe mulus dikit"kata Qirana meledek.
"Ah... kamu"kata Zein singkat dan Zein langsung melanjutkan perkerjaan yang tertunda.
"Qirana tolong bantu Mia ya"kata pak menejer ketika menghanpiri meja Qirana.
"ya coba kalian kenalan dulu"kata pak menejer.
"Qirana"
"Mia" mereka saling berjabat tangan.
"Zein"Zein juga ikut mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"oh...iya ini ka Zein dia senior saya disini kamu juga bisa minta bantuannya kalau ada yang kamu kurang faham"kata Qirana.
Gue cuma tersenyum pada mereka semua termasuk menejer.
"ya sudah kalian kerja sama yang baik ya... saya tinggal keruangan saya dulu"kata menejer sambil berlalu dari kami semua.
Zein pun memulai pekerjaan yang menumpuk dan tertunda tadi.
saat isirahat Zein liat Qirana sedang bersama Mia si anak baru mereka terlihat asik mengobrol di kantin,Zein pun menghampiri mereka berdua.
"Asik bener ngobrolnya"kata Zein
Qirana dan Mia menoleh kearah Zein.mereka tertawa bersama.dan akhirnya kita pun ngobrol bersama.
Hari berlalu dan kami semakin akrab.dan hari ini adalah hari pernikahan Sopian kami semua memutuskan datang ke pesta pernikahan Sopian bersama-sama semua teman kantor seusai pulang bekerja.
ketika di acara pernikahan Sopian Zein liat Qirana duduk sendirian sambil meminum air mineral Zein deketin dia.dan duduk di samping nya.
"woi...liat kita serasi ga nih"kata Zein pada teman-teman didepannya sambil nunjuk kearah mereka berdua.
dan mereka hanya tertawa saja ngeliat tingkah Zein begitu pun Qirana.
"lu pasti mengira ini candaan kan Qi padahal ini serius"kata Zein dalam hati sambil tertawa bercanda bersama Qirana dan juga teman-teman.
hari terus berlalu Zein selalu mendekati Qirana ketika sedang ngobrol dengan teman-temannya,tapi dia tak pernah menyadari kalau yang di suka Zein adalah dia,malah dia mengira kalau Zein suka sama anak baru.
Malam ini saat di rumah,Ayah Zein ingin bicara serius dengan Zein.
di ruang keluarga sekarang berhadapan dua orang laki-laki seorang ayah dan anak nya.
"Ayah ingin bicara serius sama kamu nak"ucap ayah.
"ya ayah"kata Zein "asal jangan masalah perjodohan ajah yah"kata Zein dalam hati.
"Zein...tolong lah kamu urus dan pimpin usaha ayah di luar kota itu"kata kata ayah membuat Zein terkejut melebihi perkataan perjodohan.
"ayah serius?"tanya Zein masih ga percaya.
"Iya mumpung kamu masih lajang jadi tidak ada alasan kamu untuk bilang tidak kan?"
"tapi yah.."Zein belum selesai bicara ayah bicara lagi.
"ga usah kerja di kantor orang lagi,kamu sendiri bisa jadi bos buat apa kerja sama orang"kata Ayah ketus.
"Yah Zein ingin mandiri"kata Zein membantah
"Zein ayah itu punya usaha dimana-mana, buat apa kalau anak sendiri malah jadi bawahan orang lain?ayah fikir kamu sudah cukup belajar di luar sana dan kamu sudah pantas menjadi pemimpin nak"
Zein masih terdiam.
"fikirkan lah nak ini semua juga untuk masa depan mu,suatu saat kamu akan punya keluarga sendiri dan kamu pasti akan memahami perasaan ayah sekarang ini"
Zein masih terdiam.
"beri waktu Zein berfikir yah"
"baik ayah beri waktu tiga hari"
"ya ampun ku kira ga di batesin mikirnya"kata Zein dalam hati.
Zein pamit pada ayah ibu nya untuk kembali ke kost an karena rumah orang tua Zein terlalu jauh dengan tempat kerja Zein karenanya ia memilih kost di daerah dekat kantornya. dan tempat kost itu pun tak jauh dari rumah Qirana.
ketika dia melajukan motor nya saat ia melewati depan rumah Qirana malam itu,ia sempat menghentikan motornya dan memandangi rumah Qirana berharap ia keluar dari dalam.tapi yang di harapkan tak kunjung tiba.ia hanya tersenyum dan berlalu dari halaman rumah Qirana.
"Qi...sepertinya hanya sampai disini aku mengejar mu,semoga saat aku kembali kita bisa bersama bukan hanya sebagai kawan tapi lebih dari itu."kata Zein dalam hati.
Zein pun memutuskan untuk memimpin bisnis ayahnya di luar kota dia pun mengundurkan diri dari tempatnya bekerja.saat berpamitan pada semua temannya termasuk Qirana,tapi saat melihat gadis polos itu hatinya seakan berat meniggalkan ini semua tapi senyum Qirana dan perkataannya membuatnya akhirnya pergi walau dengan hati yang berat.
"Sukses selalu ka,jangan lupakan aku ya"
"ya aku ga akan pernah lupa sama kamu Qi..."
"oia aku punya sesuatu buat kamu simpan sebagai kenangan"Zein memberikan sebuah bingkisan pada Qirana.
lima tahun kemudian
Zein tiba di ibu kota sudah lama ia meninggalkan ibu kota dan kenangan bersama Qirana.Pagi ini ia ingin menemui Qirana entah kenapa selama lima tahun walau ia tak bertemu dengannya ia tak.pernah lupa dengannya.
terakhir ia mendapat kabar di medsos kalau Qirana mendirikan toko kue dan roti di kota ini,ia pun berencana untuk menemuinya disana.
"selamat datang"sapa seorang pelayan di toko roti itu.
Zein melihat lihat jajaran roti dan cake yang terpajang di lemari kaca.tapi ada sesuatu yang membuatnya terdiam menatap kesuatu di depan dinding yqng berjajar bersama gambar-gambar roti dan cake.itu adalah bunga yang di awetkan dan di pres kaca itu adalah hadiah kenangan yang ia berikan untuk Qirana saat perpisahan kantor.
"ternyata dia masih menyimpannya"kata Zein dalam hati.
"pak ingin pesan apa?"tanya seorang pelayan
"oh...ya saya mau pesan ini dan ini"kata Zein menunjuk dua buah cake.
"kalau menurut saya lebih enak yang ini ka"
suara itu membuatnya menoleh kesamping
"Qi..."kata Zein terkejut.
Qirana tersenyum lebar.
"tolong kalian siapkan buat bapak ini ya cake terbaik punya kita"Kata Qirana pada anak buahnya.
"wah hebat sudah jadi bos kamu rupanya"puji Zein
"ah...ga ko ka yu duduk dulu sudah lama kita ga ketemu"ajak Qirana untuk duduk di bangku dalam tokonya.
"kamu masih simpan itu Qi?"tanya Zein sambil menunjuk pajangan kaca berisi bunga.
"iya itu bawa hoki hehe"dia tertawa polos masih sama seperti lima tahun yang lalu.
"kamu ga berubah Qi"Zein tiba-tiba serius.
Qirana jadi kikuk di buatnya.
"mau berubah bagaimana ka memang aku super hero yang bisa berubah kalau nolong orang gitu"
"tuh kan polosnya masih sama tapi syukurlah"kata Zein dan ini lebih membuat Qirana keki.
"kamu sudah menikah Qi?"tanya Zein.
"belum ka belum ada yang mau"Qirana tersenyum.
"kaka sendiri gimana? sudah nikah dan punya anak berapa?"
"sama aku juga belum ada yang mau"jawab Zein asal.
"masa sih ga ada yang mau sama bos yang ganteng dan lucu ini"ledek Qirana
"bener Qi ga ada yang mau karena mereka fikir saya sudah ada yang punya"
"masa sih?oia Mia juga baru menikah tahun ini kaka masih ngarepin dia ya?"goda Qirana.
"tuh kan masih ga peka"kata Zein dalam hati.
saat pelayan mengantarkan pesanan ke meja Qirana dan Zein Qirana pun membantu pelayan menaruh piring dan cangkir kopi tapi saat Qirana ingin menaruh cangkir kopi di atas meja Zein berkata.
"Qi...nikah yu..."
prang cangkir itu pun pecah jatuh ke lantai.Qirana terkejut dengan pernyataan Zein.
"kaka becanda buat aku kaget saja"Qirana masih menganggap Zein tidak serius.
pelayan pun langsung membereskan pecahan cangkir dan tumpahan kopi di lantai.
"aku serius Qi"kali ini tatapan Zein serius dan tajam.
"ka... aku tau cewe seperti apa yang kaka suka jadi itu ga mungkin aku kan?soalnya aku kan ga ada sama sekali dalam kriterika kaka hahaha"
"nah itu Qi yang aku bingung kamu ga seperti cewe tipe ku tapi kamu selalu mengusik hati ku selama ini"
Qirana makin bingung.
"jujur Qi kamu selalu buat aku tersenyum kamu selalu buat aku ceria,bahagia dan aku ga tau kenapa ga bisa liat kamu murung dan sedih seperti kejadian dulu waktu kamu putus dengan pacar mu,aku mati-matian menghibur mu hingga kamu bisa tertawa lepas sampai menangis"
Qirana mengingat kejadian waktu ia putus dari pacarnya dan ya memang Zein menghiburnya bahis-habisan hingga membuatnya tertawa lepas dan menangis.
"ka...apa kaka akan sama seperti ini saat kita menikah?apa kaka akan selalu menghibur ku dan membuat ku tertawa?"Qirana cemas.
"ya tentu Qi"
"aku takut bila kita menikah kaka akan menjadi orang lain dan bukan ka Zein yang ku kenal dulu"
"apa sekarang ini aku sudah berubah Qi di mata mu?"
"tidak"Qirana polos
"aku tak akan pernah berubah menjadi apa pun dan menjadi siapa pun saat kita menikah nanti ku pastikan itu"kata Zein sambil meraih tangan Qirana.
"berikan aku waktu berfikir dulu ka"
"baiklah sepuluh menit fikirkan lah"
"apa!"Qirana terkejut"yang benar saja ka"
"kan kamu minta waktu ya aku kasih waktu aku ga bisa nunggu lama-lama"
"ya ampun...kamu masih belum berubah ya?masih suka se enaknya"
"ya waktu habis apa jawaban mu mau atau tidak menikah dengan ku"
"hahaha"Qirana tertawa lepas dan dia menyadari kalau hanya orang yang didepannya ini lah yang selalu membuatnya tertawa dan menjadi diri sendiri,orang yang di depan nya ini lah yang tak pernah menuntutnya menjadi orang lain,tidak seperti laki-laki yang pernah menjadi pacarnya.
"baiklah aku mau menjadi istri mu"
Zein melompat kegirangan mendengar pernyataan Qirana.
cinta atau kasih sayang perasaan yang sesungguhnya yang kita rasakan pada seseorang itu muncul secara alamiah bukan karena paras dan warna kulit kadang perasaan itu muncul sendirinya dan sulit pergi kerena perasaan yang tulus tak memandang tapi dirasakan.
Tamat