"MINGGAT SANA KALAU TIDAK NURUT BAPAK"
Akhirnya kata - kata yang tidak pernah ku sangka dan terpikir olehku keluar juga dari mulut bapak.
Saat itu aku bengong dan nangis,dengan perasaan sedih aku pergi ke rumah tetangga sebelah rumah untuk sekedar menumpang tidur malam itu.
Tapi mataku sulit terpejam,pikiranku melayang kemana mana.
" Aku akan pergi,aku akan buktikan kalau aku bisa hidup tanpa bapak, tekad ku kuat.
****
Namaku Dewi astari ,aku berasal dari daerah kecil
di sebuah kota di Jawa Tengah.
Aku sulung dari tiga bersaudara,umurku masih belasan.
Meski hidup kami pas - pasan tapi semua terasa baik - baik saja,seperti layaknya hidup di desa.
Bapak ku pensiunan TNI sehingga sehari - hari terbiasa bersikap tegas terhadap kami bertiga.
Ibu ku hanyalah ibu rumah tangga biasa dan saat ini sedang sakit keras.
Sebagai anak tertua yang agak bandel,kadang kenakalanku menjadi pemicu kemarahan bapak.
seperti sore ini aku pulang terlambat,dari tempat teman mainku.
hukuman siap menanti ku.
Bapak dengan wajah marah berdiri di depan pintu sambil membawa sapu lidi siap mendera tubuh kecilku.
"Dari mana kamu Wi !! sudah bapak bilang ibu sedang sakit tapi kamu malah main tidak tahu waktu,rumah berantakan bla bla bla.....sambil tangannya tak henti mengayunkan dan mengarahkan sapu lidi ke badan ku.
Aku hanya bisa menangis ,tapi enggan memberi alasan.
kedua adikku ketakutan hingga ikut menangis bersamaku.
kurasa lelah meringkuk dalam tangis dan tertidur.
Lembut tangan meraih dan memelukku ,seolah ingin meredakan sakit ku,ngilu semua tubuhku.
di sela isak tangisnya kudengar suara ibu ku bertutur : " Nduk ....kamu sudah besar kurangi main ,jangan nakal.
Kamu harus bisa jadi contoh baik buat kedua adikmu.
jangan bikin bapak marah .
Kamu harus bisa menjaga diri "
Setelah itu kurasakan belaiannya melemah dan tubuhnya jatuh di sampingku.
Emaaaakk .....!! bangun ...bapak tolong emak jatuh..
aku sungguh tidak mengira jika itu adalah pesan terakhir emak buat ku.
seisi rumah terbangun dan menangisi kepergian emak.
semua orang sibuk mengurus pemakaman emak...
hari berjalan lambat kami benar - benar kehilangan seperti anak ayam kehilangan induknya.
selang 40 hari pemakaman emak,tiba- tiba bapak membawa pulang seorang perempuan separuh baya ke rumah kami.
Dewi....Bayu...Dian sini kumpul ,perintah bapak.
kenalkan ini ibu baru kalian ...
kalian harus memanggilnya ibu.
sontak aku protes ,aku gak mau punya ibu baru dan memanggilnya ibu...
pikirku apa hubunganku dengannya
mengapa harus memangil ibu
mengapa cinta dan sayang bapak ke emak cuma sampai disini?
Apa arti tangis dan air mata bapak?
sedang tanah makam emak masih merah?
Disinilah awal aku tak percaya pada lelaki,aku benci bapak ,aku gak suka emak baru.
Setiap saat ada saja yang kami ributkan,setiap kali istrinya mengadu ,setiap kali itu pula bapak menghajarku...
sampai suatu hari terlontar kata - kata yang tiada terpikir akan tega bapak ucapkan.
" MINGGAT SAJA KAMU DARI RUMAH KALAU SUSAH DI ATUR"
hatiku sangat sedih,bingung tapi aku juga tidak betah di rumah hidup bersama emak tiri ku.
***
Subuh menjelang ku langkahkan kakiku pergi ke terminal bus antar kota antar provinsi,bersama teman sekampungku.
Aku memaksanya supaya dia membawaku ikut serta pergi ke kota tempat dia bekerja,tanpa sepengetahuan keluargaku.
Aku betul - betul menerima pengusiran bapak .."MINGGAT"
Tanpa bekal apapun selain beberapa pasang pakaian layak pakai,ku tinggalkan kampung halamanku,menuju masa depan yang belum pasti.
Sepanjang jalan aku berdoa ,semoga semua baik - baik saja.
Ku pasrahkan hidup pada Pencipta untuk memulai babak baru dalam perjalanan hidupku.
Aku tidak dendam pada bapak
Aku tidak benci hanya kekesalan dan emosi ..