"Mas, ini noda lipstik siapa?!"
Bella terus mengomel saat menemukan noda lipstik pada kemeja kerja suaminya yang hendak ia cuci.
"Kemarin sekertarisku tersandung lalu jatuh mengenaiku, mungkin noda lipstiknya tidak sengaja nempel di baju," jawab Rey, suaminya.
Bella mendengus sebal. Tentu ia tak langsung percaya dengan alasan itu. Bukannya mau su'udzon. Tapi kejadian ini bukan kali pertama terjadi. Sudah beberapa kali Bella memergoki perangai mencurigakan dari suaminya itu.
Bella pernah menemukan dua box perhiasan berisi kalung dengan inisial yang sama 'B'. Mana mungkin suaminya membelikannya dua kalung dengan inisial dan model yang sama. Itu sangat mencurigakan. Namun Bella bukan orang yang akan langsung menuduh suaminya. Ia butuh bukti. Tuduhan tanpa bukti hanya akan membuat mereka bertengkar dan membuat si pelakor senang, karena ia berhasil menjalankan misinya untuk memecah belah suatu hubungan yang harmonis.
Saat ini Bella sudah ada di kantor Rey. Ia ingin tau seperti apa sekertaris baru suaminya.
"Maaf Bu, pak Reymon sedang tidak ada di ruangan, " ujar resepsionis saat melihat kedatangan Bella.
"Kemana suami saya? "
"Sedang ada meeting di restoran Rise, bu. "
"Bersama sekertaris barunya? " Bella memastikan.
"Iya bu. "
"Siapa nama sekertaris baru suami saya? "
"Btari, bu. "
"Oh."
Dugaan Bella semakin kuat. Fix suaminya berselingkuh dengan sekertarisnya yang bernama Btari itu. Inisial 'B' menguatkan dugaannya. Bella pun segera menuju restoran yang dimaksud.
Manik mata Bella dengan jeli mengubek-ubek isi restoran sebelum akhirnya ia menemukan sosok yang dicari. Ternyata dugaannya salah, suaminya memang sedang meeting dengan klien. Namun Bella tidak akan menyerah begitu saja. Ia harus tetap mencari bukti yang konkrit.
Bella mencari tempat yang strategis. Ia duduk tak jauh dari meja tempat mereka meeting namun tersembunyi dari pandangan.
"Hmm, masih muda ternyata. Cantik juga, " gumam Bella menilai penampilan sekertaris baru suaminya.
"Mau pesan apa, kak? "
"Eh?! "
Suara seorang pelayan mengagetkan Bella yang sedang fokus mengamati suaminya.
"Jus strawberry saja. "
"Baik, ditunggu pesanannya ya kak. "
"Hush.. Hush.. Sana. Ganggu aja!" omel Bella yang tidak didengar si pelayan karena sudah lebih dulu pergi dari sana.
"Lah! Mereka udah mau pergi aja?!" pandangan Bella tak lepas dari gerak-gerik dua insan yang berjarak empat meja di depannya.
Ia pura-pura bermain ponsel sambil menutup wajah dengan sebelah tangannya saat suaminya dan si sekertaris melewati mejanya. Beruntung suaminya tidak mengetahui keberadaannya.
Setelah suaminya sudah berada di jarak radius 250 meter di depannya, ia pun mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Eh, kak ini pesanannya, " cegah pelayan yang baru sampai dengan nampan yang sudah berdiri jus strawberry di atasnya.
"Buat kamu aja, " sahut Bella asal sambil menaruh satu lembar uang di atas nampan.
"Kembaliannya kak! " teriak si pelayan yang sudah tidak dihiraukan Bella lagi.
*
Fine, pengintaian Bella tempo hari memang tidak membuahkan hasil. Namun hal itu tak menampik kemungkinan bahwa Rey memang bermain api dibelakangnya.
Bella berjalan di koridor rumah sakit. Ia merasa pusing akhir-akhir ini. Mungkinkah ia terlalu banyak pikiran atau memang sedang tidak enak badan saja. Entahlah.
Namun betapa terkejutnya Bella ketika ia melewati poli kandungan dan menemukan Rey sedang duduk di salah satu kursi tunggu. Otomatis Bella segera menyembunyikan tubuhnya di balik tembok.
'Ini aneh. Benar-benar aneh,' pikirnya.
Entah mengapa jantung Bella tiba-tiba berdebar tak karuan. Ia benar-benar takut pikiran buruknya jadi kenyataan. Tidak mungkin suaminya berbuat sejauh ini.
Ceklek.
Bella tersentak saat mendengar suara pintu terbuka. Begitu pula dengan Rey yang langsung berdiri kemudian menghampiri sekertarisnya yang baru keluar dari ruang periksa.
"Bagaimana?"
Karena ruangan yang sedang sepi, Bella dapat mendengar suara samar suaminya.
"Positif."
Kata yang dapat Bella dengar dengan jelas walau sedikit samar dari seorang wanita dihadapan suaminya itu bagai petir yang menyambar tubuhnya. Tubuh Bella merosot dan terjatuh di atas lantai bersamaan dengan bulir air mata yang sudah membasahi pipinya. Sakit. Hatinya seperti disayat-sayat oleh kenyataan.
Tunggu!
Bisa saja Bella salah kira. Wanita itu tidak sedang mengandung anak dari suaminya kan? Tolong. Dia hanya bilang 'positif'. Dan itu belum menjelaskan kebenarannya kan? Perlahan Bella bangkit sambil menyeka air matanya. Ia butuh penjelasan.
Dengan langkah yang mantap Bella keluar dari persembunyiannya lalu menghampiri suami dan Btari yang masih berdiri tak jauh darinya.
Rey tampak sangat terkejut saat melihat Bella melangkah ke arahnya. Terlihat jelas ekspresinya menunjukkan kepanikan.
"B-Bella?! Kok kamu ada di sini sayang? Kamu sakit?" Rey menghampiri Bella masih dengan ekspresi kagetnya.
"Pelakor itu hamil? Anak siapa, mas?!" tanya Bella tanpa babibu lagi.
Rey terdiam. Bella yang sudah tak sabar akhirnya mendekati Btari yang berdiri tertunduk. Sebenarnya tangannya sudah gatal ingin menjambak surai wanita itu. Namun ia masih punya etika. Ini tempat umum.
"Kamu hamil anak siapa?!" tanya Bella dengan nada tak bersahabat.
Btari masih tertunduk.
"Jawab!!" nada suara Bella naik satu oktaf.
Rey pun tak tinggal diam. Ia sadar ini tempat publik, tak seharusnya membicarakan hal sensitif di sini. Bahkan beberapa orang yang lewat sudah memandangi ke arah mereka.
"Ayo sayang, kita bicarakan di tempat lain, " bujuk Rey.
Bella patut bersyukur, meski hatinya sedang hancur namun otaknya masih mampu berfikir dengan rasional. Dengan langkah berat ia mematuhi ajakan suaminya untuk pergi dari sana. Btari membuntuti suami-istri itu dari belakang tanpa ada seuntai kata terucap dari lisannya. Ekspresinya nampak gelisah.
Tanpa diduga, Rey malah mengajak istri dan sekertarisnya pulang ke rumah. Bella hanya diam disepanjang perjalanan. Kepalanya terasa lebih pusing dari sebelumnya. Ia takut jika tak kuat mendengar pengakuan suaminya.
Rey memeluk Bella ketika mereka baru sampai di ruang tamu.
"Maaf.. " lirih Rey.
"Dia hamil anak mas? " Bella menatap suaminya dengan harap-harap cemas.
"Iya, Btari hamil anak aku. Tapi kami tidak sengaja melakukannya. Sungguh, " jelas Rey sambil menggenggam tangan Bella.
Bella menatap lekat iris coklat milik suaminya. Tak nampak keraguan di sana. Namun tetap saja hati Bella hancur mendengar pengakuan itu. Bella hanya diam ingin mendengar penjelasan Rey lebih lanjut. Ia tak sanggup berkata apa-apa sekarang.
"A-aku tak sengaja menjamahnya saat mabuk. Aku memaksa Btari untuk melakukan hal itu denganku. Maaf, Bella. Maafkan aku, " Rey menunduk dalam. Tersirat rasa penyesalan dari wajahnya, Bella dapat melihat itu dengan jelas.
Suaminya jujur. Masih patutkah ia marah dengan takdir? Ya, janin yang tumbuh di rahim wanita lain itu adalah takdir.
Btari sudah meneteskan air matanya. Ia juga sedih akan nasibnya dan nasib calon bayi yang entah bagaimana nantinya.
"Gugurkan janin itu. "
Pernyataan yang membuat Rey dan Btari terbelalak. Bagaimana bisa Bella sekejam itu ingin merampas hak hidup calon bayi yang bahkan tidak berdosa sama sekali, di saat Rey begitu mendambakan kehadiran buah hati yang sudah ia tunggu 5 tahun lamanya.