Abah menyadari sepenuhnya, meskipun sekarang sudah zaman modern, tetapi praktek-praktek santet, atau ilmu gaib masih sering digunakan untuk mencelakai seseorang dan keluarganya. Beberapa tanda yang menguatkan dugaan Abah kalau rumah mereka telah dikirimkan santet atau mahluk gaib, antara lain:
Pertama, Abah sempat melihat ada kilatan cahaya dengan warna yang kemerah-merahan di atas rumah mereka dan cahaya itu terlihat seperti akan masuk ke dalam rumah, terjadi pada sore hari ketika Abang baru saja pulang dari rumah Kumpi. Awalnya Abah mengira itu hanyalah kilat pertanda akan segera turun hujan, namun ternyata tidak terjadi apa-apa setelahnya. Bunyi gelegar petir pun setelah Abah ingat-ingat lagi, tidak terdengar setelah kilatan cahaya tersebut menghilang.
Kedua, suasana rumah jadi terasa panas, padahal sebelumnya terasa sangat nyaman, namun secara tiba-tiba menjadi panas dan hawanya tidak nyaman, meskipun penyejuk udara sudah dinyalakan.
Ketiga, Nyak sempat berujar tadi kalau rumah mereka tiba-tiba beraroma tidak enak sore tadi, ada bau-bau yang tidak sedap atau aneh, terkadang baunya malah sangat busuk walau hanya sekilas, sehingga Nyak segera membakar beberapa bongkah kecil kayu Gaharu di pojokan ruangan, sebagai pengharum.
Dan yang keempat adalah mimpi menyeramkan yang dialami Chalik pada dini hari tadi. Chalik tadi mengatakan telah bermimpi menyeramkan seperti, dikejar oleh banyak sosok makhluk yang menyeramkan dari alam gaib, sampai dia menjadi ketakutan dengan teramat sangat, padahal sepengetahuan Abah, Chalik adalah anak yang pemberani dan cenderung tomboy karena selalu berusaha hidup mandiri walaupun senantiasa dalam perlindungan ketat pihak keluarga yang menyayanginya.
Beberapa pertanda ini menguatkan dugaan Abah, bahwa rumah mereka sudah terkena santet/sihir atau ilmu gaib, entah dikirim oleh siapa dan mengapa.
***
Maka demi terbebas dari kejahatan gaib berupa santet, yang memang sangat sulit untuk dibuktikan dengan pengetahuan modern, Abah akan melakukan segala hal yang tidak bertentangan dengan ajaran agamanya, antara lain:
Pertama, semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahuwata'ala. Dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, maka tidak akan ada kekuatan selain kekuatan Allah yang akan berkuasa atas mereka. Abah percaya, sekuat apapun jenis santetnya, pasti tidak akan berdaya jika mereka selalu ada dalam naungan Allah Subhanahuwata'ala.
Kedua, menggunakan merang kerang hitam, yang dipercaya sebagai salah satu cara menghindari santet saat tidur, selain juga dapat menangkal segala macam ilmu gaib yang akan datang. Dulu Eyang Kyai Pamungkah pernah mengajarkan cara sederhana yang dapat dilakukan sendiri, yaitu cukup menyimpan sekantong merang ketan hitam di dalam dompet atau di bawah bantal tidur.
Ketiga, adalah dengan Kurma Ajwa. Mereka telah menanam pohon kurma Ajwa di depan rumah. Walau sampai dengan saat ini pohon itu belum pernah berbuah, namun dipercaya pohon Kurma Ajwa ini sangat ditakuti oleh kaum syaitan dan jin. Selain itu, beberapa pemuka agama juga pernah mengajarkan Abah tentang bagaimana dalam Shahih Al-bukhari dan Shahih Muslim yang dikaitkan dalam hadis sahabat Saad Bin Waqqas dan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir.” (Hadits riwayat Al-Bukhari Nomor 5769 dan Hadits Riwayat Muslim nomor 204). Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani mengutip perkataan dari Imam Kotobi tentang keistimewaan dari Kurma Ajwah. Yaitu kurma ajwah bermanfaat untuk mencegah racun dan sihir. Hal ini dikarenakan doa keberkahan dari Rasulullah Shallallahu Wassalam terhadap kurma Madinah, bukan karena zat kurma itu sendiri, dari Fathul Bari Syariah Al Buchori oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani 9239.
Keempat, yaitu dengan menggunakan bunga mawar merah. Cara menghilangkan santet yang ada di rumah bisa dengan menempatkan bunga mawar merah ini. Selain menjadi simbol dari sebuah cinta, Mawar Merah ternyata juga mampu menjadi salah satu tumbuhan penangkal santet dan sihir. Bunga mawar ini secara khusus dikaruniai Tuhan dengan khasiat yang bisa menangkal energi negatif yang ada di rumah. Hal-hal negatif tersebut dipercaya akan ditangkap oleh Mawar Merah ini dan kemudian disalurkannya lagi menuju tanah.
Namun abah tetap percaya bahwa seluruh yang terjadi di muka bumi ini sudah sepatutnya disandarkan kepada Allah Subhanahuwata'Ala, termasuk ikhtiar dan usaha yang kita kerjakan untuk menangkal santet tersebut.
***
Singkat cerita, mereka bertiga telah sampai ke rumah Eyang Kyai Pamungkah di Sumedang. Rumah Eyang berbentuk rumah panggung yang walaupun keseluruhan bangunannya terbuat dari kayu namun tetap terlihat kokoh dan kuat.
Chalik tidak ingat kalau ia sudah pernah dibawa Abah ke tempat ini sebelumnya, namun ia merasa nyaman dan familiar dengan struktur rumah yang banyak diisi dengan perabot yang juga terbuat dari kayu, yang katanya tergolong sebagai kayu anti ular, seperti kayu liwung, kayu setigi, kayu nagasari dan kayu minging.
Eyang Kyai Pamungkah sendiri terlihat di mata Chalik sebagai sosok kakek yang bijak, ramah dan murah senyum. Ia menggunakan beberapa aksesori seperti tasbih, gelang dan kalung yang juga berbahan dasar kayu. Beliau tetap terkesan trendi, jauh dari kata kramat walau konon dikenal kebal dari segala jenis santet.
“Jadi ini Chalik ya? Sudah gadis ya sekarang..” sapa Eyang ketika Chalik memberikan salam perkenalan. Lalu tanpa disangka-sangka, Eyang bertanya: “Jadi sudah berapa lama kamu kenal dengan anak laki-laki dari Banyuwangi itu?”
“Eh, Eyang kenal dengan Weli?” tanya Chalik bingung.
“Tidak kenal dekat, hanya tau saja..” jawab Eyang dengan tersenyum bijak.
“Kami baru beberapa waktu ini kenal Eyang, kami teman sekelas di Ksatrian Jatinangor.” jawab Chalik cepat ketika teringat pada pertanyaan Eyang Kyai Pamungkah sebelumnya.
“Oh begitu.. kalau Eyang minta Chalik menjauhi-nya dulu untuk sementara waktu ini, apa Chalik akan keberatan?” tanya Eyang lagi semakin mengejutkan Chalik.
“Kalau boleh tau, kenapa ya Eyang?” Chalik merasa harus mengajukan pertanyaan tersebut sebelum akhirnya menjawab permintaan Eyang Kyai Pamungkah yang sangat janggal tersebut.
“Karena itu adalah hal terbaik yang dapat Chalik lakukan sekarang-sekarang ini. Hm, bagaimana Eyang menjelaskannya ya? Ada kekuatan gaib yang menaungi pemuda itu. Kekuatan gaib yang berhubungan dengan masa lalunya. Mungkin terkait dengan perempuan yang pernah dekat dengannya atau pernah punya dendam atau mungkin juga ada janji yang belum tergenapi. Eyang juga tidak tau secara pasti, perlu waktu untuk mengetahuinya secara pasti. Nah, sebelum pemuda itu dapat berdamai dengan masa lalunya atau sebelum Eyang bisa mencarikan pemecahan permasalahan ini, sebaiknya Chalik menjauhi pemuda tersebut. Bisakah Chalik melakukannya?” tanya Eyang lagi dengan penuh kesabaran.
Chalik hanya terdiam dan tepekur berpikir.
“Jadi perlu Eyang jelaskan ya, ada empat golongan energi santet, yaitu: kuning untuk pelet, merah untuk pemikat, warna putih untuk penyembuhan dan warna hitam untuk santet yang bisa menyakiti. Santet hitam inilah yang mempunyai energi yang paling negatif dan sudah pernah beberapa kali dikirimkan ke rumah kalian. Tujuan utamanya untuk menyakiti Chalik. Semakin Chalik dekat dengan pemuda dari Banyuwangi itu, akan semakin kuat santet yang dikirimkan. Eyang dapat pastikan kalau bukan pemuda itu yang mengirimkannya, namun karena terkait dengan dirinya, maka sebaiknya dihindari dulu.” Penjelasan Eyang Kyai Pamungkah membuat Abah dan Nyak mengangguk-angguk, namun Chalik tetap terdiam tidak percaya.
“Mungkin sulit untuk dipercaya pikiran muda, tapi kami yang sudah lebih banyak makan asam-garam kehidupan, pastinya hanya akan mengungkap kebenaran dan mengatakan hal-hal baik, yang dimaksudkan semata untuk kebaikan anak-anak yang kami sayangi saja. Chalik percaya kan kalau Eyang, Abah dan Nyak kamu itu hanya ingin yang terbaik untuk Chalik?” kalimat Eyang yang ditutup dengan pertanyaan ini akhirnya menguatkan Chalik untuk mengambil keputusan.
“Baik Eyang, Chalik akan berusaha menjauhi Weli sampai dia bisa berdamai dengan masa lalunya.”
“Atau sampai Eyang bisa mencarikan pemecahan permasalahan ini ya Chalik..” kata Eyang Kyai Pamungkah kembali dengan senyum yang penuh kedamaian.
***