Setelah ditinggalkan oleh pacarku, aku menjadi bosnya. Aku akan balas dendam atau lupakan pengkhianatannya?
Ya, aku kini adalah seorang CEO di perusahaan terbesar di kota ini. Perusahaan berskala internasional ini bergerak di bidang industri kreatif. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa perusahaan yang sedang naik daun ini adalah milik daddy-ku. Tidak teman-temanku, apalagi Aldo, mantan kekasihku.
Pada hari ulang tahunku yang ke dua puluh lima, daddy menunaikan janjinya padaku. Pria terhebatku itu memberikan kepercayaannya padaku untuk memimpin perusahaan yang sebelumnya dipimpin oleh Mas Setyo, kakak sulungku, putera pertama di keluarga Kertarajasa.
Daddy memiliki beberapa perusahaan besar di negara ini. Ada yang bergerak di bidang teknologi pertanian, farmasi, dan yang termuda ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri kreatif.
Mas Setyo memimpin dua perusahaan sekaligus, perusahaan farmasi dan perusahaan industri kreatif yang berkecimpung dalam bidang periklanan. Mas Wira, anak tengah daddy tidak tertarik sama sekali dalam bidang bisnis.
Berbeda dengan Mas Setyo, Mas Wira menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja sebagai seorang dokter spesialis di sebuah rumah sakit pemerintah. Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang dokter spesialis, Mas Wira juga masih menyempatkan diri menjadi dosen tamu di berbagai fakultas kedokteran di kota ini.
Aku, Alya, seorang gadis yang baru saja lulus dari magister ilmu komunikasi akhirnya berhasil lolos dari berbagai tes yang dilakukan oleh daddy dan Mas Setyo untuk mempersiapkan diriku memimpin perusahaan Youth Advertising.
Daddy telah menganalisa dan mempertimbangkan bahwa aku akan siap untuk memimpin perusahaan termuda ini pada usia 25 tahun. Tentu saja aku tidak mengecewakan harapan daddy dan Mas Setyo. Kedua lelaki konglomerat itu kini bisa bertepuk dada dengan bangga melihat diriku mampu meneruskan perjuangan mereka dalam dunia bisnis.
Alya, sosok gadis polos yang rajin dan pintar, itulah anggapan teman-teman sepergaulanku selama ini. Kacamata tebal yang selalu aku kenakan mampu menyamarkan penampilan wajahku yang sesungguhnya.
Walaupun itu hanya sebuah kacamata biasa tanpa lensa minus atau plus, tentu saja. Aku hanya menggunakan lensa anti radiasi untuk menjaga kesehatan mataku dari paparan radiasi berbagai jenis gadget yang selalu menemaniku setiap waktu.
Bagi Aldo, aku hanyalah seorang gadis culun yang sukses dia manfaatkan untuk kepentingan pribadinya menyelesaikan kuliah magister.
Dia kira aku sebodoh itu!
***
Aku dan Aldo dipertemukan oleh Tuhan di kampus magister ilmu komunikasi dua tahun yang lalu. Sebagai mahasiswa baru pada program studi yang sama, kami secara tidak sengaja saling mengenal dan berinteraksi setiap harinya.
Kuliah pascasarjana selalu membutuhkan fokus ekstra. Seabreg tugas presentasi, baik individu maupun berkelompok, kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat harus dijalani oleh setiap mahasiswa.
Sungguh bukan keinginanku untuk selalu sekelompok dengan Aldo. Namun sepertinya Tuhan benar-benar menginginkan aku mengambil pelajaran dari manusia sialan itu di masa depan.
Kami sering mendapat kesempatan berada dalam kelompok yang sama. Kusadari kerap kali Aldo mengupayakan agar kami berdua bisa sekelompok. Hingga pada suatu hari teman-teman mulai mencomblangi kami dan akhirnya pada semester kedua kuliah, kami resmi berpacaran.
Percayalah, itu salah satu hal terbodoh yang pernah kulakukan!
Aku bahkan begitu benci walaupun hanya mengingatnya!
Sebenarnya aku sudah pernah mendengar suara-suara miring temanku tentang sifat asli Aldo. Tetapi kelihaian Aldo menutupi semua sifat buruknya di hadapanku membuat mata dan telingaku tertutup sempurna akan hal itu.
Rivaldo Wardhana, seorang mahasiswa yang aktif dalam berbagai kegiatan UKM mahasiswa benar-benar sangat mempesona. Dia lihai berkomunikasi dengan siapapun. Dia memang pantas mengambil studi lanjutan di bidang ilmu komunikasi.
Didukung oleh wajahnya yang cukup tampan, Aldo memiliki fans tersendiri di kampus. Banyak gadis yang mengidolakan dirinya, tak terkecuali dari kalangan mahasiswa sarjana.
Banyak mahasiswi yang melabrak dan mengancamku untuk memutuskan hubungan dengan Aldo. Mereka berusaha membuatku merasa tidak nyaman dengan berbagai cara. Benar-benar gadis bodoh. Mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.
Tapi sesungguhnya aku memang bodoh! Cinta palsu dari Aldo telah sukses membodohiku selama ini. Aku benar-benar bodoh. Bisa-bisanya aku tidak menyadari betapa Aldo telah memperalat diriku semasa kuliah.
Aku hanya dijadikan sebagai alat untuk memudahkan dirinya lulus kuliah secepatnya. Kami memilih supervisor yang sama, bidang penelitian yang sama, berjuang bersama hingga sidang magister terlaksana dengan sukses, semuanya kami lakukan bersama dalam suka-cita.
Ya, semuanya kami lakukan bersama untuk tujuan yang sama. Sama-sama ingin lulus kuliah secepatnya. Sama-sama ingin berjuang untuk masa depan yang sukses. Finally, kami berhasil meraih gelar cummlaude.
Fuck!!
Si pengkhianat itu bisa mendapatkan gelar itu karena perjuanganku!
Aku merasa seperti menolong seekor anjing. Setelah ditolong, dia malah balik menggigit.
***
"Ini makanan pesanan anda, Tuan." Ucapku mantap.
Aku berusaha setengah mati menetralkan intonasi suaraku agar terdengar tenang dan meyakinkan.
"OK, mba. Letakkan saja di atas nakas itu." Ujar Aldo tanpa melihat ke arahku berdiri. Dia masih sibuk dengan ponselnya.
"Beib, kamu sudah selesai?" Aldo bertanya pada seseorang yang ada di kamar mandi.
"Sebentar sayang." Suara seorang perempuan terdengar jelas di telingaku.
Aku berusaha mengatur irama detak jantungku. Otakku terasa mulai memanas. Seorang perempuan keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang panjang dan basah. Tubuh perempuan itu hanya berbalut handuk yang disediakan hotel.
Aku mencoba tidak percaya dengan apa yang kulihat saat itu. Tapi aku harus membuktikannya sendiri. Dengan mata kepalaku sendiri. Dan kini... Terbukti dengan jelas. Jelas sekali aku melihat Aldo, sang kekasihku, sekamar dengan perempuan lain di hotel ini.
Aku sudah sering mendengarnya dari mulut sahabatku, Hani. Hani juga yang menyarankan aku untuk menyelidikinya. Well, aku memutuskan akan melakukannya sendiri.
Aku tidak membutuhkan asisten pribadi untuk menyelidikinya. Dengan kemampuanku yang di atas rata-rata, dengan mudah aku dapat melacak keberadaan dan kegiatan Aldo selama ini. Aku tahu Aldo menginap di hotel ini dan aku mulai menyusun rencana untuk memergokinya.
Dia fikir dia bisa menipu diriku. Sejak lulus kuliah tentu kami jarang bertemu. Namun itu tidak menjadi kendala sama sekali bagiku untuk menyelidiki aktivitasnya sehari-sehari.
Namun kesibukanku yang mulai padat sebagai seorang CEO perusahaan mau tidak mau membuat pergerakanku untuk menyelidiki aktivitas Aldo sempat terhambat.
Aku kemudian mempertimbangkan untuk menggunakan jasa orang lain dalam hal ini. Aku memiliki segudang orang suruhan yang siap menerima perintah untuk melacak manusia pengkhianat itu.
Semua data-data yang sebelumnya telah dikumpulkan oleh orang-orang suruhanku kini sudah terbukti kebenarannya. Perempuan ini bukan satu-satunya. Sepertinya dia mulai sering berganti wanita. Free sex benar-benar telah menjadi hobi barunya. Menjijikkan!
Hubungan LDR yang kami jalani selama tiga bulan akhirnya mampu membuka mata dan fikiranku. Perbedaan sikapnya mulai terlihat mencolok. Aku memutuskan untuk menemuinya secepatnya.
Aldo mengira aku tidak akan bisa menyusulnya ke kota itu. Gadis bodoh sepertiku dia anggap tidak pernah bepergian kemanapun. Dia tidak pernah tahu, jangankan hanya ke luar kota, ke luar negeri saja aku sudah sangat terbiasa!
"Ada lagi yang ingin kamu pesan, Aldo?" Akhirnya aku mengeluarkan suaraku yang biasa.
Cowok yang paling aku cintai setelah daddy dan kedua kakak laki-lakiku itu terlihat shock. Wajahnya panik luar biasa ketika melihat dengan seksama ke arah petugas room service yang sedang berdiri dengan tegak di hadapannya.
Ranjang yang masih acak-acakan sama semrawutnya dengan fikiranku saat itu. Aku masih mencoba berdiri tegak. Mencoba tenang, walaupun rasanya ingin meledak.
Aldo menatapku dengan seksama, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia sepertinya masih mencoba meyakinkan dirinya.
"Kamu?" Tanya Aldo gelagapan.
Perempuan berambut basah tadi mendekati Aldo dan duduk di sampingnya. Perempuan itu melirik ke arahku dan kemudian bertanya pada Aldo, "Kamu kenal dia?"
Aldo tercenung sejenak. Dia mulai tersenyum sinis. Wajahnya tidak sepanik tadi. Aku masih berusaha diam dan tenang. Aku ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Aldo.
Aku berharap Aldo akan mengeluarkan kata-kata yang bisa sedikit menenangkan amarahku. Setidaknya ada klarifikasi yang mungkin bisa menjadi pertimbangan bagi kelanjutan hubungan kami berdua.
"Dia? Hemmm... Iya, dia temanku. Teman sekelasku waktu kuliah dulu." Ujar Aldo santai.
"Apa kabar, Alya? Kau sekarang bekerja di sini?" Tanya Aldo dengan nada meremehkan.
Aku masih terdiam. Otakku yang masih terasa mendidih membuatku tak mampu berkata-kata. Aldo tidak mengakui diriku sebagai kekasihnya. Apa-apaan ini?
"Siapa dia?" Nada suaraku mulai berubah.
Aku menatap sinis perempuan yang sedang duduk di samping Aldo. Dia sedang merapikan rambutnya yang basah dengan jemarinya.
"Aku, maksudmu?" Tanya perempuan itu.
"Aku pacarnya Aldo." Jawab perempuan murahan itu tanpa rasa bersalah.
"Apa?" Aku mengernyitkan dahi.
"Aldo, ada yang ingin kamu jelaskan?" Tanyaku dengan suara yang mulai meninggi.
Perempuan berambut basah itu melongo. Dia melihat ke arahku kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Aldo.
"Ada apa sih ini?" Perempuan itu mulai merasa ada hal yang aneh di antara kami.
"Hei kamu! Belagu amat. Cuma pelayan di hotel, berani-beraninya kamu ga sopan di kamar orang!" Bentak perempuan itu.
Amarahku sudah berada di ambang batas. Aku tidak biasa dibentak. Oleh siapa pun. Daddy tidak akan segan-segan mempersulit kehidupan manusia yang berani berkata-kata kasar padaku.
Tetapi saat ini aku tidak butuh pembelaan daddy. Aku bisa membereskan sendiri manusia-manusia sampah di dalam kamar hotel ini.
Aku berjalan mendekat dan melayangkan tanganku dengan cepat ke arah wajah perempuan itu. Namun Aldo dengan sigap menangkap tanganku. Tanganku terkepal di udara. Aldo mencengkeram tanganku dengan kuat.
"Alya! Apa-apaan kamu! Udah gila ya?" Bentak Aldo.
Aku benar-benar ingin memaki Aldo saat ini, namun mulutku masih terkunci. Aku masih belum bisa mengeluarkan kata-kata apapun.
"Bener-bener ga sopan ya teman kamu ini! Mau mukuli aku, hahhh?" Perempuan itu terlihat semakin berang.
"Aku laporin kamu ke manager di sini, baru tahu rasa!" Perempuan itu mulai mengancam.
"Sudah... Sudah... Stop!" Ujar Aldo sambil menghentakkan tangannya yang sejak tadi mencengkeram erat tanganku.
"Ah..." Aku meringis tertahan dan mengelus pergelangan tanganku yang mulai memerah.
"Alya, beraninya kau bersikap tidak sopan di sini. Mau jadi pengangguran ya?" Ujar Aldo.
"Keluar dari kamarku! KELUAR!!" Bentak Aldo.
"Ternyata kau cuma cewek rendahan. Pelayan di hotel. Seorang master. Hanya segini kemampuanmu? Kamu benar-benar mempermalukan almamater kita. Hahahaha..." Aldo berkata sambil geleng-geleng kepala.
"Kamu yang rendahan, Aldo. Aku ga nyangka... Kamu... Kamu ternyata serendah ini!!" Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Aku sudah tidak tahan lagi berada di kamar itu. Aku ingin berteriak, berteriak sekuat-kuatnya. Tapi tidak di sini. Tidak saat ini. Aku tidak ingin terlihat lemah. Aku bergegas keluar kamar dan meninggalkan pintu kamar dengan suara bantingan yang kuat.
Aku berjalan cepat di koridor. Ternyata Aldo berlari mengikutiku dari belakang.
"Alya, berhenti!" Seru Aldo.
Aku spontan menghentikan langkahku. Aku berbalik dan melihat Aldo berjalan mendekatiku.
"Dengar Alya! Jangan pernah bersikap begitu lagi di depan pacarku!" Ancam Aldo.
"Pacar? Bukankah aku yang selama ini menjadi pacarmu?" Tanyaku berang.
Aldo tertawa terbahak-bahak. "Mungkin itu hanya angan-anganmu, Alya."
Aku terbelalak. Apa yang diucapkan Aldo terasa menyakitkan.
"OK... OK... Anggap saja kita udah putus, OK?!" Ujar Aldo sekenanya.
"Jujur aja, sebenarnya selama ini aku ga pernah punya rasa sama kamu. Tapi ya sudahlah, itu kan masa lalu. Lupakan saja." Ucap Aldo enteng.
"Apa?" Ujarku tak percaya.
"Lagian mana level aku pacaran sama pelayan hotel? Dasar culun!" Aldo masih mengeluarkan kata-kata yang menghujam ke dalam hati.
Aku lagi-lagi mengepalkan tanganku. Kini dia berani menghinaku dengan lidahnya. Antara percaya dan tidak. Tapi rasa sakit ini begitu nyata. Ini tidak mungkin mimpi. Tidak mungkin!
"OK, Alya!? Kita udah PUTUS!!! Camkan itu, jangan ganggu hidup aku." Aldo berkata dengan nada tegas.
"Hemmm... Satu lagi, carilah pekerjaan yang lebih baik. Kasihan gelar cummlaude mu itu! Hahaha..." Sambung Aldo sebelum dia kembali ke kamarnya.
"Kamu ga perlu mengajariku! Selama ini juga aku yang sering ngajarin kamu!" Ucapku sinis.
Aldo menghentikan langkahnya sejenak, namun dia tidak menoleh ke arahku. Sepertinya dia mendengar ucapanku.
Aku hanya menatap kepergian Aldo dan kemudian bergegas ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Aku telah memerintahkan orang suruhanku untuk mengendalikan CCTV di hotel, sehingga tidak ada jejak kehadiranku yang tertinggal di sana.
***
Aku menghela nafas dalam-dalam. Sebuah gelas kristal hancur berkeping-keping di lantai.
Sudah hampir tiga bulan sejak kejadian di hotel itu, namun aku masih meradang jika mengingatnya.
"Permisi, Nona Muda." Suara seorang office boy di depan pintu mengembalikan kesadaranku.
"Ya, masuk!" Aku berseru dari dalam ruang kerjaku.
Sang office boy masuk dan dengan cepat membersihkan pecahan gelas kristal yang kupecahkan tadi. Setelah dia yakin semuanya sudah bersih, dia berpamitan padaku dan meninggalkan ruangan.
Aku beranjak mendekati sebuah cermin hias besar di ruangan. Aku mematut diri di cermin.
Nona Muda Falya Kertarajasa, CEO sebuah perusahaan yang sedang melejit namanya, adalah seorang wanita muda yang cantik, pintar, memiliki postur tubuh semampai, berkulit putih bersih dan mulus.
Polesan make up yang sederhana sudah cukup membuat penampilanku terlihat begitu elegant. Siapa saja yang bertemu denganku akan dengan mudah mengetahui bahwa aku adalah wanita berkelas.
"We'll see... Apakah kau akan mengenaliku..." Aku bergumam di depan cermin.
"Laki-laki sampah seperti kamu akan sangat menyesal." Senyuman sinis tersungging indah di bibirku.
Aku sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Aldo ketika mengetahui bahwa aku adalah CEO perusahaan ini.
Aku yakin dia akan mengemis lagi padaku kali ini. Mengemis cinta agar bisa bertahan di perusahaan ini. Agar perutnya kenyang terisi.
Hahaha...
Aku sudah hafal mati isi otak laki-laki sampah itu!
"Dan aku ingin lihat, apa yang bisa kau lakukan kali ini..." Aku membatin sendiri dalam hati.
Ponselku bergetar di atas meja. Aku meraihnya dan melihat sebuah nama tertera di sana.
Tuan Andrew memanggil.
Aku segera menerima panggilan dari sekretaris pribadiku. Dia pasti telah mempersiapkan laporan yang kubutuhkan.
Seorang pria muda yang tampan memasuki ruang kerjaku dengan langkahnya yang tegap. Tuan Andrew berusia tiga puluh tahun.
Tuan Andrew sebelumnya adalah sekretaris pribadi Mas Setyo. Setelah tampuk pimpinan perusahaan Youth Advertising ini diserahkan daddy kepadaku, secara otomatis Tuan Andrew menjadi sekretaris pribadiku.
Mas Setyo menaruh kepercayaan besar pada Tuan Andrew untuk menjagaku dan perusahaan ini. Sejauh ini dia benar-benar bisa diandalkan.
"Selamat pagi, Nona Muda." Sapa Tuan Andrew.
"Selamat pagi, Tuan Andrew." Balasku sambil tersenyum tipis.
"Silahkan duduk. Saya sudah tidak sabar mendengar laporan anda." Aku langsung to the point.
Tuan Andrew duduk dengan tegap di depan meja kerjaku dan menyerahkan sebuah map berisi beberapa lembar kertas.
"Silahkan dibaca, Nona Muda." Ucap Tuan Andrew sopan.
Perlahan aku membuka lembar demi lembar laporan yang diserahkan Tuan Andrew.
"Oh... Hemmm... Assistant manager personalia..." Aku menggumam pelan.
Tuan Andrew mengangguk. Pria tampan itu kemudian menjelaskan proses recruitment dari awal hingga pada akhirnya Aldo berhasil terpilih untuk posisi bergengsi itu.
Sejujurnya aku tidak ragu dengan kemampuan Aldo pada tahap interview. Sejak di bangku kuliah aku sudah sering melihatnya.
Aku sudah sangat berpengalaman dengan kemampuan public speaking Aldo yang mengesankan.
Harus aku akui, dia memang punya kelebihan dalam hal itu. Dia mudah membuat orang percaya dan simpati.
Aku sebagai saksi hidup sekaligus korban!
What the fuck!
Aku tidak bisa menyalahkan divisi personalia dalam hal ini. Aldo berhasil lolos di seleksi perusahaan ini ketika perusahaan masih di bawah pimpinan Mas Setyo.
Andaikan saja pada saat itu aku sudah menjadi CEO di sini, aku pastikan Rivaldo Wardhana tidak akan pernah menginjakkan kakinya yang kotor itu di sini.
Sepertinya rasa cinta yang dulu tumbuh subur di hatiku telah berguguran dan berganti dengan dendam yang membara.
Aku sungguh kecewa. Terlalu kecewa. Terlalu sakit. Sakit tapi tidak berdarah. Dia telah menyakiti hatiku. Dia telah menghancurkan kepercayaan yang selama ini aku berikan. Aku tidak pernah menyangka dia setega itu.
"Meeting dengan para manager dan assistant manager akan dilaksanakan Selasa depan, Nona Muda." Tuan Andrew mengingatkan kembali agenda pertemuan internal kami.
"Oh... OK, Tuan Andrew. Saya percaya anda bisa mengatur segalanya!" Ujarku mantap.
"Siap, Nona Muda!" Ucap Tuan Andrew sigap.
Aku membalas dengan senyuman tipis dan wajah optimis.
"Pertemuan kita semakin dekat. Bersiaplah Aldo. Semoga jantungmu kuat." Aku terkekeh sendiri di dalam hati.
***
Semua mata menatapku dengan tatapan terpesona. Ya, aku sudah mulai terbiasa dengan tatapan mereka.
Aku duduk dengan anggun dan penuh wibawa di kursi terbesar di meeting room. Kursi yang dulunya selalu diduduki oleh Mas Setyo. Kini akulah ratu di kerajaan ini.
Aku tersenyum dalam hati membayangkan ekspresi wajah Aldo nanti setelah dia menyadari siapa CEO di sini.
Semua anggota rapat yang sudah hadir duduk mengitari meja besar di tengah ruangan. Aldo terlihat duduk di sisi kiri, selang lima kursi dari kursi CEO yang sedang aku duduki. Dia sepertinya belum menyadari siapa aku.
Menjijikan sekali melihat dia memasang wajah sok berwibawa. Cuiiiihhh!
"Terima kasih atas kehadiran anda semua." Aku mulai menyampaikan kata-kata pembukaan setelah Tuan Andrew membuka rapat sesi pertama.
"Sebagaimana penjelasan Tuan Andrew sebelumnya, saya persilahkan masing-masing divisi untuk mempresentasikan progress kerja sebulan terakhir." Aku menatap satu per satu anggota rapat yang hadir.
Ketika tatapan mataku bertemu dengan tatapan mata Aldo, aku bisa melihat kilatan cahaya yang berbeda.
"Hahaha... You're trying to flirt me..." Aku tertawa dalam hati.
Aldo sedang berusaha menampilkan pesonanya di depanku. Dia benar-benar belum menyadari siapa aku. Dasar bodoh!
Ternyata begitu cara dia menarik simpati para wanita selama ini. Ya Tuhan... Dia sungguh tidak sadar diri. Apa dia fikir seorang CEO seperti aku akan bertekuk lutut mencintai bawahan sekelas dirinya?
Dia pasti tidak menyadari dengan siapa dia berhadapan saat ini, gadis culun yang pernah pura-pura dia cintai demi tercapainya cita-cita dia dan keluarganya.
Tiba giliran Aldo untuk presentasi. Dia berusaha keras tampil paripurna. Aku ingin muntah di ruang meeting ini. Perutku terasa mual akibat jijik melihat gayanya yang sok berwibawa.
Dasar laki-laki murahan!
Kamu pikir aku akan terpesona?
Aku memang pernah sebodoh itu. Memberikan hatiku untuk seorang pengkhianat yang rendahan. Namun aku buka seekor keledai, yang bisa jatuh ke lubang yang sama.
Aldo, kamu telah mengusik tidurku yang nyaman.
Aku bersumpah kau akan menerima pembalasan yang sesuai!
***
Setelah semua divisi selesai melakukan presentasi, aku berdiam diri sejenak. Aku mengevaluasi laporan mereka dengan cepat. Aku menghela nafas sejenak.
"Bapak Tirta, dari semua presentasi yang kita saksikan bersama pagi ini... Divisi personalia menghasilkan progress yang menurun." Aku mulai memberi komentar pada sesi kedua.
"Ada kendala apa di bagian HRD? Mungkin anda bisa menjelaskan sesuatu." Ujarku dengan nada tegas.
Suasana di ruang rapat mendadak sunyi. Semua terdiam. Semua tatapan terpusat pada Bapak Tirta, sang manager HRD.
Pak Tirta terlihat sedikit gelagapan. Pria itu melirik bawahannya, tak lain tak bukan adalah mantan kekasihku, Aldo.
"Izin menjawab... Kami akan segera membenahi beberapa masalah tadi, Nona Muda." Ucap Pak Tirta disusul anggukan Aldo yang duduk di sebelahnya.
"Hemmm... OK. Saya tunggu laporan anda besok pagi." Sahutku.
"Tuan Andrew, silahkan diatur kembali meeting jajaran HRD dengan saya. Sepertinya sementara ini kita harus lebih fokus pada hal ini." Aku memberi perintah pada Tuan Andrew.
Pak Tirta terlihat menelan ludah. Wajahnya masih terlihat tegang. Sedangkan Aldo terlihat lebih tenang. Dia pikir aku akan kagum sekali dengan kehadirannya di ruang meeting ini.
Aku merasa puas melihat ekspresi Aldo yang mulai menunjukkan ketertarikannya padaku. Sure, dengan cepat aku bisa menilai hal itu.
Playboy kaleng-kaleng itu sungguh tidak tahu diri! Sepertinya dia terlalu pede dengan dirinya sendiri. Sampai-sampai dia menyangka dirinya akan bisa menarik perhatian CEO Youth Advertising. Dasar tolol!
Dua jam sudah berlalu. Aldo masih belum mengenali siapa diriku. Aku bisa melihat dari kerlingan matanya, dia sangat terpesona padaku. Tentu saja! Hanya laki-laki idiot yang tidak akan tertarik padaku. Aku memiliki semua yang diinginkan setiap laki-laki.
Bahkan banyak para gadis di luar sana yang ingin berada di posisiku sekarang. Hal itu juga yang menyebabkan aku terus merahasiakan identitasku yang sebenarnya dalam pergaulan semasa duduk di bangku kuliah.
Mommy khawatir akan banyak orang yang iri dan itu akan membuatku tidak nyaman dalam bergaul. Mommy juga takut akan ada orang-orang yang memanfaatkan diriku untuk kepentingan mereka jika mereka mengetahui bahwa aku adalah anak seorang konglomerat di kota ini.
Firasat mommy ada benarnya. Ternyata aku memang dimanfaatkan oleh cecunguk itu, kekasihku sendiri. Padahal aku hanya terlihat sebagai gadis biasa.
Bagaimana lagi jika dia dulu tahu siapa aku sebenarnya? Mungkin dia akan menjadi penjilat terbaik di dunia. Shit!
Anyway, aku sudah tidak sabar menunggu esok pagi tiba. Esok pagi Aldo akan menyadari dengan siapa sesungguhnya dia sedang berhadapan.
***
"Gila! Aku ga nyangka CEO baru kita itu betul-betul cantik!" Seru Aldo pada rekan-rekan kerjanya.
Aldo dan teman-temannya sedang menikmati waktu istirahat siang mereka di sebuah resto tak jauh dari perusahaan.
Seorang waitress menghidangkan secangkir mocha latte panas di atas meja untuk Aldo.
"Terima kasih, mbak." Ucap Aldo.
"Mbak, tambahan dimsum satu porsi ya." Ujar seorang wanita yang duduk di depan Aldo.
"Baik, mbak. Silahkan ditunggu pesanannya. Ada lagi tambahan?" Tanya waitress itu.
Setelah mencatat semua tambahan pesanan, waitress itu berlalu pergi untuk menyiapkan orderan makanan berikutnya.
"Kayaknya kamu terpesona sekali, Aldo! Hahaha..." Seloroh seorang gadis di antara mereka.
"Hemmm... Ya, dia perfecto! Apakah dia masih single?" Tanya Aldo tanpa basa-basi.
Seorang laki-laki di antara mereka menjawab, "Denger-denger sih Nona Muda itu sudah diputusin pacarnya beberapa bulan yang lalu."
"Really? Bego bener itu cowok! Kalau aku sih ga bakal mutusin cewek sebening itu. Tajir melintir lagi!" Seru Aldo penuh semangat.
"Ehh... Lo ga usah ngimpi, bro! Cowok sekelas elo mah ga di level dia!" Seorang cowok lainnya mulai julid.
Aldo terlihat sedikit emosi. Dia merasa direndahkan oleh rekan kerjanya itu.
"Ahh... Sepele kamu! Cewek itu asalkan diberi perhatian aja, bakalan klepek-klepek sendiri. Ya ga?!" Ujar Aldo penuh percaya diri.
"Banyak bacot elo, Aldo! Mimpi sih boleh, tapi jangan ketinggian. Ntar jatuhnya sakit! Hahaha..." Rekan kerjanya berkata sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Semua yang mengelilingi Aldo sontak ikut tertawa ngakak. Aldo merasa kesal sendiri diremehkan begitu. Namun ia malas memperpanjang urusan.
"Belum tau mereka, general manager aja bisa bersimpuh di kakiku mengemis cinta! Main sama cewek kelas atas sih bukan hal baru buatku!" Batin Aldo.
"Lihat saja, aku pasti bisa dapatin hati si Nona CEO itu!" Aldo berkata dalam hati dengan penuh rasa percaya diri.
Aldo tidak sabar menunggu esok pagi tiba. Pak Tirta sore ini akan berangkat ke luar kota sehingga Aldo akan menggantikannya besok pagi menghadap Nona Muda.
"Bukankah itu sebuah kesempatan emas? Aku akan menunjukkan kemampuanku. Nona Muda itu pasti akan terkesan!" Batin Aldo.
Aldo sibuk sendiri dengan fikirannya yang berlebihan akan kehebatan dirinya. Dia memang laki-laki yang memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Dia terlalu bangga dengan kemampuan dirinya memikat banyak wanita kaya.
Oleh karena itu, Aldo sangat yakin kali ini dia akan berhasil. Apalagi Aldo merasa Nona Muda diam-diam memperhatikan dirinya selama berada di ruang meeting tadi. Ini sebuah pertanda yang baik, fikirnya.
"Hemmm... Kalau benar dia jomblo, semua akan lebih mudah!" Aldo menggumam dalam hati.
***
Aku memperhatikan jam tanganku. Aku sudah bersiap-siap untuk bertemu Aldo.
Tuan Andrew juga sudah stand by mengikuti apapun perintah yang akan aku titahkan nantinya.
"Tuan Andrew, tetaplah di ruangan ini selama dia berada di sini." Pintaku.
"Siap, Nona Muda." Tuan Andrew menjawab dengan sigap.
"Dia pasti akan menyusun rencana baru setelah mengetahui siapa saya sebenarnya." Ujarku getir.
Tuan Andrew menatapku dengan serius. Namun pria tampan itu tidak berkata apa-apa. Sepertinya dia menunggu kalimat-kalimat berikutnya terlontar dari bibirku.
"Saya ingin dia tidak pernah menginjakkan kaki lagi di lingkungan Youth Advertising." Aku berkata dengan suara tegas.
"Siap, Nona Muda. Itu bukan hal yang sulit dilakukan." Ujar Tuan Andrew.
"Hemmm... Ya, anda benar! Saya sudah cukup mengenal karakternya. Pasti ada celah untuk mengeluarkan dia dari sini." Desisku.
"Baik, Nona Muda. Saya siap menunggu perintah anda selanjutnya." Ucap Tuan Andrew sopan.
Aku mengangguk mantap sambil tersenyum. Aku tahu, Tuan Andrew bisa diandalkan.
Aku cukup mengenali sifat ambisius Aldo. Dia akan menghalalkan berbagai cara untuk mencapai keinginannya, meskipun itu berbahaya bagi dirinya.
"Kau akan enyah dari sini tanpa perlu aku mengotori kedua tanganku." Aku mendesis sinis di dalam hati.
***
Aldo menatap dirinya di cermin dengan tatapan puas. Sambil tersenyum sumringah, dia berkata dengan penuh kebanggaan pada dirinya, "Wanita mana yang akan menolak seorang eksekutif muda sepertiku?"
Setelah yakin penampilannya sudah maksimal, dia keluar ruangan sambil membawa sebuah laptop dan beberapa file penting.
Aldo melangkah dengan gagah menuju ke ruangan CEO perusahaan Youth Advertising. Tuan Andrew menyambut dan mempersilahkan Aldo masuk ke dalam ruangan kerja Nona Muda Falya Kertarajasa.
Aldo merasa otaknya menjadi lebih segar ketika menatap Nona Muda Falya Kertarajasa yang sedang berdiri menatap berkas-berkas yang berada di tangannya.
"Wanita ini benar-benar sempurna." Batin Aldo.
Nona Muda Falya Kertarajasa terlihat begitu cantik dan elegant dalam setelan pakaian kerjanya.
Wajahnya begitu cantik dengan bibir merah yang merekah. Rambutnya yang berwarna hitam kecokelatan sangat serasi dengan kulitnya yang putih bersih.
"Kau akan terkesan padaku, Nona Muda." Aldo sedang mensugesti dirinya sendiri.
Aldo segera memasang gaya maskulin ketika Nona Muda Falya menoleh ke arah dia berdiri.
Nona Muda Falya menatapnya nanar beberapa detik. Aldo menangkap sorot mata itu, namun dia tidak mampu memahami arti sorotan mata pimpinannya.
Dia terlalu percaya diri. Setan sepertinya betul-betul berhasil menutup otak sehatnya untuk lebih sadar diri dan posisi.
***
"Selamat pagi, Nona Muda dan Tuan Andrew!" Sapa Aldo sok ramah.
Baik aku maupun Tuan Andrew tidak membalas sapaannya.
"Silahkan duduk, Pak Rivaldo." Ucapku datar.
Aldo duduk di sebuah kursi yang ada di hadapan meja kerjaku. Aku kembali ke kursiku setelah melihatnya duduk dengan tegak.
"Bagaimana laporan kerja yang ingin kamu sampaikan, Aldo?" Ujarku dengan nada suara yang berbeda dari sebelumnya.
Aldo terlihat agak shock. Sepertinya dia terkejut mendengar nada bicaraku. Dia lalu meletakkan file yang dibawanya di atas meja.
"Ini laporan terbaru, Nona." Ucap Aldo.
Aku membaca lembar demi lembar dengan cermat. Aku tahu Aldo sedang memperhatikan wajahku saat ini. Kami duduk berhadapan dengan meja kerjaku sebagai pembatasnya.
Aldo terlihat sedikit tercenung. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah dia mulai mengenali siapa wanita yang saat ini ada di hadapannya.
"Tidak ada kemajuan sama sekali." Ujarku sinis dan menyerahkan kembali laporan itu pada Aldo.
Aldo terlihat mulai gugup. Sepertinya dia sudah mulai terintimidasi.
"Cuma segini kemampuanmu, Aldo?" Aku mulai mengeluarkan kata-kata serangan awal.
Aldo terhenyak di kursinya. Sepertinya dia sudah mulai terintimidasi. Otaknya pasti sedang bekerja keras memikirkan fakta yang sedang dia hadapi saat ini.
"Aku udah sering ngajarin kamu, tapi ternyata... Kemampuan masih segitu-gitu aja!" Aku mendesis sambil tertawa sinis.
Aldo terbelalak! Dia kini benar-benar melihatku dengan wajah bengong yang sungguh terlihat dungu di mataku.
"Lulusan cummlaude katanya! Tapi kok seperti kura-kura. Bagaimana bisa perusahaan besar ini menerima manusia idiot seperti kamu!" Aku mendengus.
Aldo tersentak hebat. Mulutnya ternganga. Aku yakin dia mulai curiga dengan suaraku yang biasa didengarnya dulu.
"Tuan Andrew, sepertinya kita harus segera melakukan kegiatan evaluasi khusus pada beberapa jajaran direksi." Aku mulai memberi titah lagi pada sekretaris pribadiku yang sejak tadi duduk di sofa dalam ruangan ini.
"Siap, Nona Muda." Sahut Tuan Andrew.
"Aldo, sepertinya kau harus bekerja lebih keras jika masih ingin berada di posisi itu!" Aku mulai mengintimidasi.
Aldo terlihat mulai berkeringat. Padahal udara di ruang kerjaku cukup dingin. Pendingin ruangan bekerja dengan sempurna. Namun rasa gugup membuat Aldo merasa meriang sendiri.
"Ada lagi yang ingin kamu sampaikan?!" Tanyaku sambil merapikan rambutku dengan jemariku yang lentik.
"Maaf... Kamu? Kamu siapa?" Tanya Aldo terbata-bata.
Aku tertawa terbahak-bahak. Tuan Andrew tetap duduk dengan tenang melihat apa yang terjadi di antara kami berdua.
"Ternyata kamu memang idiot! Dari dulu sampai sekarang, tetap saja kamu bodoh! Aku sungguh menyesal mengetahui kamu bisa lolos seleksi di sini." Aku mulai menggerutu.
"Alya... Ka... Kamukah itu?!!" Aldo menatapku tak percaya.
"Perusahaan ini punya target yang tinggi. Sedangkan pencapaian divisi personalia masih jauh dari target." Aku menjelaskan panjang lebar.
"Sebagai CEO di sini, aku harus mengambil sikap tegas. Demi kemajuan perusahaan." Ujarku menutup pidato singkatku pada Aldo.
"Alya... Ini tidak mungkin!" Aldo semakin panik.
"Hemmm... Aku sudah cukup lama mengajarimu di bangku kuliah. Sekarang kau adalah karyawan di sini. Harusnya kau bisa cepat beradaptasi." Ucapku sinis.
Aldo menyeka keringat di dahinya. Wajahnya nyaris pucat pasi.
"Aku udah lama tahu tentang kamu. Tapi kamu ternyata tidak tahu apapun tentang diriku. Hahaha... Dasar idiot!" Aku tergelak sendiri.
"Makanya, jangan kebanyakan tidur sama perempuan-perempuan murahan itu. Otakmu jadi ga jalan." Aku terus mengeluarkan kata-kata yang menjatuhkan.
"Tuan Andrew, sepertinya tidak ada lagi yang ingin dia sampaikan." Aku memberi tanda pada Tuan Andrew.
"Waktuku sangat mahal, Aldo. Silahkan kembali ke ruangan, lanjutkan pekerjaanmu." Perintahku pada Aldo sambil melirik arloji di pergelangan tanganku.
Aldo seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Aku bisa merasakan kebingungan dan kepanikannya. Aku tidak kasihan, bahkan aku ingin sekali tertawa. Tetapi aku harus jaga wibawa, jadinya aku berusaha terlihat tenang.
Tuan Andrew sudah berdiri dengan tegap di belakang kursi Aldo.
"Silahkan Pak Aldo." Ujar Tuan Andrew sambil memberi aba-aba agar dia segera keluar dari ruang kerjaku.
Aldo terlihat sedikit gemetaran. Dia berjalan keluar dari ruanganku dengan langkah gontai, tidak segagah tadi.
"Rasakan! Huhhh... Ini baru permulaan, Aldo!" Aku menggerung di dalam hati.
***
Aldo terduduk lemas di kursi kerjanya yang empuk. Matanya menatap layar laptop-nya, namun tatapannya kosong.
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" Aldo berteriak dalam hati.
Namun di sisi lain, Aldo harus mengakui bahwa Nona Muda Falya Kertarajasa adalah Alya, temannya semasa kuliah di pascasarjana dulu.
Lebih tepatnya, mantan kekasihnya. Ya, mereka pernah berpacaran. Meskipun sesungguhnya itu hanya cinta palsu dari Aldo.
Aldo tidak pernah benar-benar tertarik pada Alya. Dia terlalu polos dan culun. Alya juga tidak pernah mau melakukan hal-hal negatif selama mereka berduaan. Sehingga Aldo hanya memanfaatkan Alya untuk kepentingan studinya saja.
Tapi kini Alya secantik itu. Rasanya mustahil. Namun setelah Aldo memperhatikan dengan seksama tadi, tidak ada keraguan lagi bahwa Nona Muda adalah Alya.
Tanpa kaca mata tebal, mata Alya yang indah sungguh mempesona. Aldo menyesal tidak menyadari hal itu sejak dulu.
Namun ada yang lebih disesali Aldo. Alya ternyata bukan wanita sembarangan. Dia adalah anak seorang konglomerat ternama di kota ini. Bahkan, dia kini adalah CEO perusahaan keren ini.
Aldo merasa bangga sekali ketika diterima sebagai assistant manager HRD di perusahaan ini. Sebuah posisi bergengsi yang ramai diperebutkan.
"Alya... Falya... Falya Kertarajasa..." Gumam Aldo.
Sungguh Aldo tidak menyadari nama itu sejak awal.
"Ohh... Aldo... Kau benar-benar bodoh!" Aldo tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri karena dulu telah mengabaikan cinta Alya pada dirinya.
Kini Aldo berada di bawah tekanan. Dia harus bekerja lebih keras dan lebih baik lagi agar bisa bertahan pada posisinya saat ini.
Aldo semakin panik membayangkan jika dirinya kehilangan posisi ini. Dia telah melakukan banyak pinjaman di berbagai bank, belum lagi kartu kreditnya yang tak terhitung jumlahnya. Mobil mewah merk Ford yang baru saja dibelinya secara kredit, rumah besar yang sudah ditanda tangani proses pembangunannya...
Bagaimana dia akan membayar itu semua jika dia tidak lagi di posisi assistant manager.
"Tidak! Semua asetku yang berharga bisa lenyap!" Aldo merasa oksigen di ruang kerjanya mendadak berkurang.
"Ohhh... Alya... Bagaimana bisa aku sebodoh itu! Melepaskanmu begitu saja..." Aldo mendesah putus asa.
***
"Nona Muda, Mr. Rodriguez akan bertandang esok pagi." Ujar Tuan Andrew.
"Hemmm... Maksud anda, Tuan Martin Rodriguez?" Aku memastikan lagi informasi yang telah kudapatkan sebelumnya.
"Benar sekali, Nona Muda." Ucap Tuan Andrew.
"OK. Diatur saja." Ujarku singkat.
"Perusahaan Mr. Rodriguez sudah setahun menjalin hubungan dengan perusahaan kita. Tuan Muda Setyo juga bersahabat baik dengan beliau. Silahkan dipelajari file ini, Nona Muda." Tuan Andrew menyodorkan setumpuk file lagi untuk aku baca.
"Saya menunggu perintah anda selanjutnya." Kata Tuan Andrew.
"Baik, Tuan Andrew. Saya akan mempelajari file ini. Anda bisa kembali ke ruangan." Aku tersenyum tipis.
"Baik, Nona Muda. Terima kasih." Tuan Andrew lalu beranjak dari ruanganku.
Aku segera membaca file kerja sama perusahaan kami dengan perusahaan Tuan Rodriguez.
Tuan Martin Rodriguez adalah warga negara Spanyol. Ia adalah CEO sebuah perusahaan konstruksi dan manufaktur yang sedang berkembang di kota Madrid, kota kelahiran mommy-ku.
Mommy dan daddy berkenalan di Madrid, saling jatuh cinta, hingga akhirnya mommy bersedia menikah dan ikut daddy ke Indonesia.
Aku pernah berlibur di Madrid beberapa kali namun belum pernah bertemu dengan Tuan Rodriguez, kolega Mas Setyo. Otomatis kini beliau akan menjadi kolegaku.
Aku bersandar di kursi kerjaku yang nyaman. Fikiranku kembali berputar pada Aldo. Aku merasa puas melihat ekspresi wajahnya yang pucat tadi pagi.
"Hahaha... Kena kau! Sekarang kau pasti menyesali semua kebodohanmu." Aku terkekeh sendiri.
***
Aku menyambut kehadiran Tuan Martin Rodriguez dan sekretaris pribadinya, Nyonya Gomez.
Nyonya Gomez adalah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun. Sedangkan Tuan Martin Rodriguez ternyata adalah seorang pria muda yang sangat tampan rupawan.
Postur tubuhnya yang tinggi, tegap, dan atletis sangat sempurna dengan perpaduan wajah latinnya yang memukau.
"Kenapa Mas Setyo ga pernah cerita punya kolega setampan ini?" Batinku dalam hati.
Kami berbincang santai sebagai topik awal pembukaan. Menit demi menit kemudian, kami berdiskusi lebih fokus tentang rencana project kerjasama kami berikutnya.
Tuan Martin Rodriguez terlihat sangat antusias dan bersemangat. Aku merasakan atmosfer yang sangat bersahabat di ruang kerjaku saat ini.
"Nona Muda Falya, senang sekali melanjutkan kerja sama ini dengan anda. Mohon sampaikan salam hangat saya untuk kakak anda." Tuan Martin Rodriguez menyunggingkan senyuman yang mempesona.
"Baik, terima kasih Tuan Rodriguez." Sahutku sambil tersenyum tipis.
"Saya berharap anda berdua tidak akan melewatkan makan siang bersama kami di sini." Aku berkata sambil tersenyum ke arah Nyonya Gomez.
"Ohhh... Penawaran yang menarik sekali! Sayang sekali ya, Nyonya Gomez. Kita harus segera kembali ke Madrid siang ini." Ujar Tuan Martin Rodriguez dengan gurat sedih di wajahnya.
"Hemmm... Kami akan bertandang kembali ke sini di lain waktu. Semoga kami masih bisa mendapatkan kembali penawaran ini." Tuan Martin Rodriguez tertawa pelan.
"Tentu saja Tuan Martin. Saya akan menunggu kehadiran anda berikutnya." Sahutku ramah.
Kami tergelak bersama. Tuan Andrew menyerahkan selembar kertas penting untuk aku tanda tangani.
Setelah itu Tuan Andrew menyerahkan selembar kertas lainnya untuk ditanda tangani oleh Tuan Martin Rodriguez.
Meeting telah selesai. Aku menginstruksikan Tuan Andrew untuk mengantar kembali Tuan Martin Rodriguez bersama Nyonya Gomez menuju bandara.
Ada rasa yang berbeda ketika Tuan Martin Rodriguez menyalamiku dengan hangat. Seperti ada sesuatu yang terjadi di hatiku.
"Sepertinya Tuan Martin ini baik..." Aku menggumam di dalam hati.
***
"Gimana dengan Martin?" Tanya Mas Setyo di sela makan malam kami di rumah daddy.
Tentu saja aku sudah menyampaikan salam hangat dari Tuan Martin Rodriguez kepada Mas Setyo.
Aku menduga Mas Setyo beserta istrinya sengaja datang ke rumah daddy untuk membicarakan ini denganku.
Mommy tersenyum ceria. Aku mulai curiga dengan suasana makan malam yang terasa berbeda ini.
"Hemmm... Semuanya berjalan lancar." Ujarku santai.
"Next time... Undang dia untuk ikut makan malam bersama kita di rumah daddy." Mas Setyo seolah memberi perintah padaku.
Aku buru-buru mengambil segelas air putih di depanku. Sesuatu terasa nyangkut di tenggorokan.
Aku bernafas dengan lega setelah menenggak segelas air putih tadi. Mas Setyo tertawa terbahak-bahak. Daddy ikut senyam-senyum.
"Apaan sih?" Ujarku galak.
"My dear, mommy sangat bahagia jika kamu dan Martin bisa lebih dekat." Mommy tiba-tiba mengeluarkan kata-kata yang tak terduga.
"Hemmm... Mommy, ada apa ini? Mengapa topik pembicaraan malam ini terasa aneh?" Tanyaku penasaran.
"Hahaha... OK... OK... Begini, Alya. Martin tadi sore menghubungi aku. Katanya dia sangat senang bertemu denganmu." Jelas Mas Setyo.
Aku melirik ke arah istri Mas Setyo. Wanita itu mengedipkan sebelah matanya.
"Ya Tuhan... Aku makin gagal paham!" Aku menggumam pelan.
"Dan tadi dia minta no handphone kamu. Sudah Mas kasih ya. Mungkin dalam waktu dekat dia akan menghubungi kamu lagi." Ujar Mas Setyo.
"Ohhh... OK. No problem. Tuan Rodriguez bisa menghubungi aku kapan saja." Aku tersenyum manis.
Semua menatapku dengan tatapan bahagia. Terkhusus Mas Setyo dan mommy.
"Idihhh... Ada apa ini? Mereka kok mendadak jadi lebay gini? Hemmm..." Kecurigaan mulai menghantui fikiranku.
Kami melanjutkan makan malam dengan santai. Mommy terlihat ceria sekali. Topik utama pembicaraan pada sesi makan malam ini adalah tentang Tuan Martin Rodriguez. Daddy juga terlihat sangat antusias membahas tentang saham perusahaan Tuan Martin Rodriguez.
Finally, aku mendapatkan kesimpulan bahwa mommy berharap aku dan Tuan Martin dapat menjalin hubungan lebih dari sekedar hubungan bisnis.
Hemmm...
Sepertinya mommy ingin punya menantu orang Spanyol!
***
"Halo, Nona Falya. Mohon maaf jika aku mengganggu waktu istirahat anda." Sebuah pesan masuk di WA ku.
Aku melihat sebuah nomor asing muncul di ponselku, namun aku mengenali wajah tampan nan berkelas yang ada di foto profilnya.
"Tuan Martin..." Desisku.
"Can I call you now?" Pesan berikutnya muncul lagi.
Aku berfikir sejenak bagaimana balasan terbaik yang seharusnya aku kirimkan.
"Yes, please..." Aku mengetik balasan.
Beberapa detik kemudian, ponselku berdering. Ya Tuhan! Dia benar-benar menelponku.
Sambil menahan rasa grogi, aku menerima panggilan dari Tuan Martin Rodriguez.
"Halo, Nona Falya." Sapa Tuan Martin di seberang sana.
"Halo, Tuan Martin." Aku balas menyapa.
"Hemmm... Panggil saja aku Martin." Ujar pria Latin itu.
"Oh... OK." Aku menjawab singkat.
Sungguh aku bingung sekaligus nervous. Mengapa malam ini tiba-tiba dia menghubungi aku?
"Aku dan sekretaris pribadiku akan berkunjung ke Indonesia akhir pekan nanti." Ujar Tuan Martin tanpa kutanya.
"Sounds great!" Aku berusaha terdengar bersemangat.
"Ya, aku akan menyempatkan untuk berkunjung ke Youth Advertising setelah semua pertemuan selesai." Sambung Tuan Martin.
"Kami akan sangat senang menerima kunjungan anda lagi." Aku berkata sambil tersenyum.
Entah mengapa, tapi rasanya aku senang jika bertemu lagi dengannya.
"Apakah voucher undangan makan-makan untukku masih berlaku?" Tuan Martin mulai berkelakar.
"Tentu saja, Tuan Martin..." Kata-kataku terputus karena disela oleh Tuan Martin.
"Martin saja..." Ucap Tuan Martin tegas.
"Hehehe... OK... Sorry... Martin..." Aku merasa sedikit salah tingkah.
"Kakakmu mengancam akan membunuhku jika menolak undangan makan-makan darimu. Berhubung usianya jauh di atasku, aku sedikit merasa takut dengan ancamannya." Ujar Tuan Martin asal.
Aku tertawa mendengar guyonannya. Ternyata Tuan Martin ini humoris juga. Tidak terasa sudah tiga puluh menit kami mengobrol di telpon. Akhirnya dia berpamitan padaku untuk mengakhiri panggilan.
Aku merasa sedikit bahagia. Tuan Martin seru juga. Semoga dia benar-benar pria yang baik hati. Tidak seperti Aldo, si pengkhianat itu!
***
Waktu seolah berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, weekend sudah di depan mata. Tuan Martin sudah menghubungiku. Dia mengatakan akan berkunjung lagi ke Youth Advertising sore ini.
Aku menanti kedatangannya dengan hati gembira. Lebih tepatnya berbunga-bunga.
Sepertinya aku mulai tertarik dengan Tuan Martin yang ramah dan bersemangat itu.
Ponselku berdering. Sial. Beraninya manusia sampah itu menghubungi aku.
"Huhhh... Mau mengemis padaku?!" Aku merutuk kesal.
Aku mengabaikan panggilan dari Aldo. Namun dia berkali-kali menelpon, membuat suasana di ruang kerjaku menjadi bising. Akhirnya aku menerima telponnya.
"Alya... Alya... Aku mohon maaf. Aku tahu selama ini aku udah banyak salah sama kamu..." Aldo mulai mengiba.
"Aldo, aku rasa kau sudah tahu tata tertib di perusahaan ini. Beraninya kau menghubungi ke nomor ponselku!" Ujarku berang.
"Iya, maaf... Aku tahu. Seharusnya aku menghubungi Tuan Andrew dulu." Ujar Aldo.
"Tapi... Sebagai temanmu... Kita bahkan pernah berpacaran..." Sambung Aldo.
"Oh... Mungkin itu hanya angan-anganmu, Aldo. Bersikaplah lebih sopan jika kau masih ingin bekerja di sini." Aku berkata dengan suara tegas.
"Ba... Baik, Alya. Maafkan aku..." Ujar Aldo terbata-bata.
"Apa aku juga yang harus mengajarimu lagi bagaimana cara memanggil bosmu di perusahaan ini?!" Aku kembali mengintimidasi Aldo.
"Ma... Maaf, Nona Muda Falya." Suara Aldo terdengar lemah.
Aku ingin tertawa, namun berusaha setengah mati menahannya. Aku harus bersikap tegas dengan Aldo.
"Jangan pernah menghubungi ke ponselku. Jika ada yang ingin kau sampaikan, silahkan berkoneksi dengan sekretaris pribadiku." Tegasku lagi.
"Baik, Nona Muda Falya." Ucap Aldo dengan suara pelan.
"Selamat sore, Aldo!" Ujarku sebelum menutup telpon dari Aldo.
***
Diam-diam Aldo menatap Alya yang sedang berjalan bersama seorang pria asing yang gagah dan sangat tampan.
Mereka diiringi oleh sekretaris pribadi masing-masing dan beberapa orang penting perusahaan.
Alya dan pria asing itu terlihat sangat serasi. Aldo merasakan hatinya panas hingga ke ubun-ubunnya.
Dia sudah sering mendengar tentang profil pria asing itu. Namun baru kali ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri sosok pria tersebut. Sial! Dia nyaris sempurna!
Aldo juga sering mendengar rekan kerjanya bercerita tentang kedekatan hubungan antara Alya dan keluarganya dengan pria asing yang tampan itu.
Aldo juga baru mengetahui bahwa Alya adalah blasteran Indonesia-Spanyol. Pantas saja Alya bisa secantik itu. Dan dia begitu bodoh, tidak menyadari hal itu selama ini.
Rasa kesal dan penyesalan melingkupi relung hati Aldo. Melihat pria asing itu begitu peduli dan memperhatikan Alya membuat dirinya semakin merutuk kesal di dalam hati.
"Heiii.. Playboy kaleng-kaleng!" Seorang rekan kerja Aldo menepuk pundak Aldo dengan kuat.
"Tuh pacar bu boss yang baru. Masih ngimpi mau ngejar juga?" Ledek pria itu.
"Makanya, kalau ngehalu... Jangan ketinggian masbro! Kasihan deh lo! Hahaha..." Ujar seorang wanita yang juga merupakan rekan kerjanya.
Beberapa karyawan lain yang ada di sana ikut tertawa melihat reaksi teman-teman Aldo yang terus menyindir dan mem-bully dirinya.
Aldo malas terlibat perang mulut. Dia memilih meninggalkan mereka yang tak henti-hentinya menertawai dirinya. Dia berjalan cepat menuju ke ruang kerjanya.
"Huhhhh... Seharusnya aku tidak sebodoh itu! Sial!!!" Aldo membanting ponselnya di lantai.
Ponsel itu pecah dan berhamburan di lantai. Aldo membanting tubuhnya di kursi kerjanya. Dia mencengkeram kepalanya kuat-kuat. Kepalanya terasa pusing tujuh keliling.
Sekarang dia harus memikirkan bagaimana caranya agar bisa survive di perusahaan ini. Dia tidak ingin kehilangan posisi yang sudah berhasil diraihnya dengan susah payah.
Aldo butuh uang untuk bertahan hidup dan pamer gengsi kepada teman-temannya. Dia harus bekerja lebih keras. Dia berjanji dalam hati akan membuktikan pada Alya, bahwa dirinya pantas bekerja di perusahaan Youth Advertising.
Dia tidak ingin menjadi gembel di dunia ini. Namun Alya, yang sudah terlanjur dendam dan kecewa, tidak akan pernah terkesan dengan usaha apapun yang akan dilakukan oleh Aldo.
*** TAMAT ***