Tau rasanya disuruh pisah pas lagi sayang-sayangnya? Itu yang sedang aku rasakan saat ini. Lembaran surat remisi yang diberikan sipir tadi pagi masih juga kutangisi. Salahku juga yang mau saja ketika disuruh mengumpulkan berkas untuk persyaratan mendapatkan hak remisi.
"Bahagia sekali tampaknya kau peluk-peluk surat itu sepanjang hari." Peggi, kawan satu sel denganku yang sangat kusayangi rupanya salah paham dengan kelakuanku.
"Iya, sampai bosan aku lihat dia seperti itu," timpal Ira, artis yang terjerat kasus penyiksaan. Dia juga satu sel denganku, dan juga sangat kusayangi.
Ah, mereka tak tahu betapa aku tak senang mendapatkan remisi ini. Jatah penjaraku seharusnya masih enam bulan, tetiba mau dipangkas dua bulan. Aku kan, sedih.
Di luar sana aku tak punya siapa-siapa. Tak pernah ada sorang pun yang mengaku pernah melahirkanku. Wajar kalau aku sempat curiga kalau aku adalah saudaranya Sun Go Kong yang muncul ke dunia dari batu yang terbelah.
Keluargaku ada di sini, di lapas Tebing Tinggi bersama 32 narapidana wanita lainnya. Bagaimana aku tidak sedih, di sini semua orang terasa hangat dan sering membuat perutku kaku kram karena tertawa. Macam-macam pula perangainya. Kalau tak percaya, kalian bisa buktikan dengan membaca satu per satu kisah mereka di link di bawah ini ... eh, mana? Tunggu hari ke dua, ya, biasanya ada link lengkap di kolom komentar. Awas saja nanti ada yang kira kalian gila gegara ketawa sendiri.
Lagipula, ngeri juga keluar lapas di saat seperti ini. Sementara orang-orang di luar sana pada mengunci diri di dalam rumah, takut tertular Covid19 yang sedang naik daun saat ini karena sudah membunuh ribuan jiwa di seluruh dunia dalam beberapa bulan saja. Hufh! Semoga wabah ini cepat berlalu
***
Ira dan Peggi menertawaiku saat kubilang tak mau keluar dari lapas ini. Mereka bilang aku bodoh, sementara semua penghuni lapas malah ingin segera meninggalkan bangunan suram ini.
"Kamu kan bisa bikin keluarga sendiri di lingkungan bebas sana. Menikah, lalu punya anak-anak," ucap Madam Koba, kepala sipir yang kusayangi. Pokoknya semua di lapas ini tidak ada yang tidak kusayangi. Kecuali ... Kana. Entah mengapa tiap dia datang ingin sekali kurapal mantra hingga dia pergi ke luar angkasa, hipothermia di kutub utara, hilang di samudra Antartika, dan jangan kembali.
Hari ini aku merencanakan sesuatu. Kudengar, tahanan yang dalam enam bulan terakhir pernah memasuki ruang hitam, tidak bisa mendapatkan remisi. Aku berniat membuat ulah supaya bisa dijebloskan ke ruang hitam. Meskipun, seperti namanya, ruangan itu gelap dan lebih suram dari sel yang kami tempati selama ini.
Namun, aku tak menemukan ide apapun. Heleh, pantas saja mereka selalu meragukan kemampuan kriminalku. Aku baru sadar kalau berbuat baik ternyata lebih mudah dari pada merencanakan kejahatan. Lalu, bagaimana aku bisa sampai dibui?
Jika ingat peristiwa itu, aku selalu menghela nafas yang panjang untuk sekedar melonggarkan sesak di dada karena menyayangkan akhir tragis yang dipilih oleh Madam Mori, majikan yang kusayangi.
Wanita lembut dengan dandanan menor sepanjang waktu itu menemukanku saat sedang memunguti sisa kue yang dibuangnya di belakang rumahnya . Semenjak itu, aku yang belum pernah mencicipi bangku sekolahan pun akhirnya disekolahkannya hingga tamat SMA, dengan syarat mau menjadi pembantunya.
Kasihan, dia. Di usia yang saat itu kutaksir sekitar setengah abad, dia hidup sebatang kara. Dia pernah bercerita kalau dia ditinggalkan suaminya begitu saja setelah tahu bahwa dia terlibat banyak hutang dengan beberapa orang. Suaminya itu, bukannya menolong malah menceraikan dengan membawa anak lelaki satu-satunya.
Namun, tak lama setelah itu, akhirnya Madam Mori berhasil bangkit kembali setelah meraup banyak untung dari bisnis jual-beli perhiasannya. Meskipun naas, dia memilih akhir hidup yang sungguh menyedihkan. Sebuah headline di koran lokal memberi judul 'Makelar Perhiasan Tipu-Tipu Ditemukan Tewas Setelah Menenggak Satu Liter Cairan Desinfektan'. Bayangkan, di saat seperti ini, harga desinfektan sedang melambung tinggi, sayang sekali, 'kan? Mending dijual bisa jadi duit. Tapi itu sekitar dua tahun yang lalu, ya. Orang-orang belum merasa perlu menyediakan benda itu di rumahnya masing-masing.
Aku, mau tak mau terkena imbasnya. Sebagai asisten setianya, mereka menganggap aku telah ikut andil dalam penipuan yang dilakukan Madam Mori. Akhirnya aku pun dimasukkan sel tahanan ini. Rupanya, di sini aku malah menemukan keluarga.
"Meong!"
Suara kucing menyadarkanku dari lamunan. Tiba-tiba terbersit ide di kepalaku. Kucing itu adalah kesayangan kepala sipir. Dia pasti akan marah jika aku menyakiti kucing berbadan semok ini. Sialnya, aku tak tahu cara menyakiti kucing tanpa membuat kucing itu tersakiti. Bagaimana mungkin aku tega?
"Leooonnnn!!!" Suara Madam Kobe terdengar nyaring memanggil kucing kesayangannya.
Ah, kesempatan. Begitu kudengar langkah kaki Madam Kobe mendekatiku di depan kamar mandi umum tahanan, aku segera mengangkat kucing bernama Leon itu tinggi-tinggi dengan kedua tanganku mencekik lehernya.
"Leooonnn!!!" pekik Madam Kobe, dia pasti sedang menahan emosi melihat perlakuanku pada kucing kesayangannya.
"Bunga!" Nah, kan. Dia sekarang pasti akan menghardikku dengan cacian-cacian. Selama ini aku hanya sering mendengarnya mencaci tahanan lainnya, belum pernah aku sekali pun mendapatkan caciannya.
"Oh, Leon. Ternyata kamu di sini, anakku sayang." Di luar dugaan, Madam Kobe terlihat begitu lembut mengambil alih Leon dari tanganku.
"Terima kasih, Bunga. Sudah seminggu ini aku mencari anak nakal ini," ujarnya lalu meninggalkanku begitu saja. Lah, apalah ini?
***
Aku masih merenung mencari cara agar dijebloskan ke bilik hitam saat suara Kana terdengar nyaring memekakkan telinga.
"Hi ... hi ... hi ...."
Meski sudah sering, tetapi mendengar tawanya selalu membuat bulu kudukku berdiri. Baru saja hendak kuusir dia dengan bacaan ayat kursi, tetapi dia buru-buru menyela.
"Aku ada ide," bisiknya mendesah di telingaku.
"Pa-an?"
"Kamu, kan, gak tegaan. Biar kubantu bikin pingsan si kepala sipir. Aku kan bisa ngilang, jadi dia taunya kamu yang mukul."
Wajahku langsung semringah mendengar usulannya.
"Kana ...," ucapku.
"Apa? Aku cerdas? Yo-i lah." Kana mengusap-usap ujung hidungnya.
"Bukan itu, kamu kok baik, sih. Kirain cuma bisa bikin serem." Aku melanjutkan.
"Ah, yaiya lah. Aku kan juga sedih kalau kalian satu per satu meninggalkan lapas ini, hiks!" Tak kusangka kuntilanak yang namanya dipelesetkan penghuni Lapas Tebing Tinggi bagian selatan menjadi Kanalitnuk ini cengeng juga. Aku kan, jadi pen nangis juga. Sruut!
***
"Mawar, ada tamu," ucap sipir Martha menghampiriku. Aku tercengang, menerka-nerka siapa kiranya yang sudi mengunjungiku.
Kurapikan rambut dan baju, lalu cuci muka pakai sabun mandi batangan.
Sipir Martha mengantarkanku ke ruangan bertuliskan 'Tempat Kunjungan'. Selama tinggal di sini, baru kali ini aku tahu ada ruangan seperti ini.
Tempat ini penuh sesak. Beberapa napi wanita" berbaju orange tampak berbicara dengan beberapa orang berpakaian biasa. Ada yang kulihat sedang menangis, ada yang dimarahi, ada pula yang marah-marah. Aku sendiri masih belum menemukan seorang pun yang wajahnya mungkin kukenali sebagai kerabat lama.
"Mawar!" Seorang pemuda berkulit bersih menyapaku di meja paling pojok. Sipir Martha memberi isyarat kepadaku untuk menemuinya, lantas segera berbalik badan meninggalkanku.
Ragu, kudekati pemuda yang memanggil tadi. Aku tak sedikit pun merasa mengenal wajahnya. Hanya saja, dia memiliki lesung pipit di pipi yang mengingatkanku pada Madam Mori.
"Samsul, putranya Madam Mori," pemuda itu menjulurkan tangannya kepadaku.
Jadi benar, dia adalah anak Madam Mori yang selama ini dirindukan mendiang majikanku itu .
"Kudengar, kamu akan segera dibebaskan," ucapnya
"Aku sudah bilang Papi kalau aku ingin mempersuntingmu."
Degh. Drama apa lagi ini? Tak ada angin tak ada hujan ....
"Papi setuju, apalagi setelah menyelidiki rekam jejakmu sebagai napi yang berkelakuan baik," lanjutnya.
"Ta-tapi, kenapa?" Aku benar-benar gugup dan takut. Kepala sipir sering memperingatkanku agar tidak mudah termakan tipu rayu orang. Katanya, banyak napi dijebloskan penjara bukan karena mereka bersalah, tapi karena dimanfaatkan oleh orang jahat. Seperti Peggi yang dimanfaatkan pacarnya untuk mencuri laptop milik orang.
"Aku sering mengamatimu bersama Mami. Aku dan Papi sangat berterimakasih karena kamu menemani Mami hingga akhir hayatnya. Dan, saat sudah tak lagi dapat mengamatimu karena terhalang jeruji besi, aku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta."
Mulutku menganga demi mendengar penjelasannya. Tak pernah kusangka akan ada jalan takdir seperti ini. Apakah itu artinya napi sepertiku akan bisa memiliki keluarga baru seperti kata Madam Kobe?
"Uhuk!"
Kurasakan ada benda terbang masuk ke tenggorokanku. Itu pasti lalat sialan. Glek. Kutelan saja makhluk jorok itu hidup-hidup. Terpaksa. Aku tak ingin merusak momen ke-bucin-an yang baru pertama kali ini kualami.
"Jadi, bersikap baiklah agar Papi tidak berubah pikiran. Nanti di hari pembebasanmu, aku dan Papi akan menjemput," ucap lelaki yang sungguh manis mulutnya ini.
***
Aku meninggalkan tempat kunjungan dengan angan yang melayang-layang. Kakiku serasa tak menapak tanah. Mungkin penampakanku seperti orang gila di jalan-jalan, berjalan dengan mulut tersenyum lebar, tapi tatapannya kosong.
Kulihat di depanku Madam Kobe sedang berbincang dengan salah seorang napi. Entah mengapa hari ini aku ingin sekali memeluk dan menularkan perasaan bahagiaku padanya. Aku sedikit berlari ke arahnya, tapi dari belakang seperti ada sesuatu yang mendahuluiku dan ....
Bugh!
Hantaman keras Kana mengenai kepala sang kepala sipir. Sebelum ambruk ke tanah, wanita malang itu menatap tajam ke arahku kemudian pingsan.
Kakiku lemas. Aku ikut ambruk ke tanah.
"Jadi, bersikap baiklah agar Papi tidak berubah pikiran ...."
Kalimat itu terngiang di kepalaku, entah nasip apa lagi yang akan menimpaku setelah ini.
TomaT