Memang aneh rasanya menyukai sesama jenis,
gembira rasanya saat dekat dengannya
dan sakit hati ketika melihatnya pergi
Setiap malam aku selalu berkhayal kalau dia ada di sampingku, bisa menatap matanya yang indah, berbicara penuh kehangatan, dan memeluknya saat aku kedinginan
Setiap hari aku akan selalu berada di sekolah lebih pagi, agar bisa melihatnya dari luar gerbang sekolah sampai dia masuk ke ruang kelas
dengan begitu aku bisa merasakan ketenangan dengan hanya ada kami berdua di sana
sejak saat itu aku mulai lebih giat belajar agar aku bisa berada di sampingnya, dia memang sedikit bodoh, "dengan pintarnya diriku mungkin aku bisa membantunya" aku berfikir dengan ini juga aku bisa mendekatinya
"Hai! selamat pagi," ucapku
"ah! pagi, ah..." kulihat dia mengaruk garuk kepalanya setelah ku sapa
"sepertinya kau kesulitan, apa boleh aku bantu?" sungguh, sebenarnya aku merasa sedikit gugup saat berbicara dengannya
"ah! apa kau bisa menyelesaikan yang ini?" dia berkata sambil memberikan aku selembar kertas
"ini cukup mudah, kalau kau mau aku bisa mengajarimu,"
"sungguh?"
"ya,"
"baiklah, belajar dengan mu mungkin aku bisa lebih paham di banding dengan ajaran ibu" ketusnya mencibir
"hahahaha, baiklah kita mulai dari yang pertama, kau seharusnya meletakkan ini di depan, lalu menyempurnakan bagian tengahnya, kemudian..."
mulai dari sini lah, aku mengenalnya lebih dalam
aku merasa seperti bermimpi, mimpi yang indah
bisa berteman dengan orang yang ku suka, ku rasa tidak masalah,
dia mulai sering membawa ku berjalan jalan pergi ke tempat tempat yang belum pernah aku kunjungi, aku merasa sekarang hidupku lebih terang, lebih cerah, dia seperti matahari yang datang membawaku pergi dari kegelapan,
sampai saat itu, aku tidak pernah menyangka akan ada hal seperti ini terjadi
"apa?!" ucapku kaget
"kau benar benar ingin pergi?!"
"aku juga sebenarnya tidak ingin, tapi kondisi yang menyuruhku kembali, tidak apa apa, kau punya ponsel bukan? kita bisa berhubungan jarak jauh, ini nomor telepon ku" dia memberi ku sepotong kertas
dan ini mengingatkan ku saat pertama kali aku memberanikan diri mendekatinya, dia juga memberi ku kertas, aku merasa diriku seperti lembaran kertas yang di bawa angin dan jatuh kedalam laut yang sangat gelap, matahari ku pergi dan aku tak lagi punya cahaya, kapan? aku seperti dulu lagi seperti saat bersamanya? samar-samar, aku mendengar suara kereta dari kejauhan datang
"keretanya sudah datang, aku berangkat dulu, sampai jumpa Mitsuki!!" dia pun pergi melambaikan tangannya sambil berlari membawa koper masuk kedalam kereta
aku hanya bisa berdiam diri di situ sampai kereta itu berangkat dan menghilang masuk ke dalam rel
tanpa sadar, aku menangis dan air mata itu sudah jatuh ke tanah, tiba tiba seseorang berteriak
"maaf tuan!! apa kereta nomor 13 sudah berangkat?" petugas itu berbicara terengah-engah
"sudah,"jawabku jujur
"APA?!! BAGAIMANA INI!! AKU HARUS SEGERA MENGHUBUNGI PENGEMUDI KERETA ITU!!"kulihat dia sedang menelepon seseorang dengan ponselnya
"memangnya ada apa dengan kereta itu?" tanya ku lesu
"Nak, kereta itu ada kerusakan pada bagian mesinnya dan belum di perbaiki tapi pengemudi itu lupa kalau kereta itu rusak," petugas itu terlihat pasrah
rusak? di perbaiki? bukannya kalau tadi di perbaiki dulu mungkin aku masih ada kesempatan untuk bersamanya
"TUNGGU!! TADI KAU BILANG RUSAK!! BAGAIMANA PENUMPANG YANG ADA DI DALAMNYA?!! Aku sungguh baru sadar kalau itu sebuah malapetaka
"Hais,... aku juga hanya bisa pasrah" keluh petugas itu
"PASRAH?!! TIDAK!! AKU TIDAK BISA TERIMA INI!!" Aku pun langsung menghidupkan motorku dan melaju pergi dengan sangat cepat
"sungguh bodoh!! kau tidak boleh mati!!
tapi apa daya, setelah aku sampai di sana, yang kulihat hanya kereta yang terbakar dan dia yang terbaring di tanah dengan kepalanya yang penuh darah
"BORUTO!!" Aku langsung menghampirinya dan memeriksa detak jantungnya, ada sedikit harapan tapi kalau aku membawanya ke rumah sakit juga tidak sempat
"Mitsuki,..."tangannya meraih wajahku
"walaupun ini sangat aneh, tapi aku tidak bisa berbohong...."
"sepertinya aku, menyu...kai..,mu." tangannya langsung terlepas dari wajahku bersama dengan berakhirnya perkataannya
"Aku, juga...sama...,Hiks,"
saat itu aku merasa sangat sakit pada bagian dadaku, sepertinya penyakit jantungku kambuh lagi, tapi begini juga bagus, aku bisa menyusulnya
aku harap, aku bisa bertemu matahari ku lagi di alam lain
aku merasa kepala ku sangat berat, dan aku langsung terbaring, aku mencoba meraih tangannya
"di waktu seperti ini pun, aku masih bisa melakukan hal ini?" kegembiraan ku di susul dengan kematian ku
walaupun aku mati, tapi ada dia di sampingku, aku tidak perduli lagi akan hidup dan mati ini