Ada sebuah detinasi liburan baru di kota. Blazt Avenue. Disana ada tempat yang sedang hype. Bernama Goreland.
Singkatnya itu rumah hantu. Kau pernah liat rumah hantu di jepangkan yang menyeramkan itu, mereka juga menggunakan gedung rumah sakit kosong. Nah ini, mengadaptasi tempat itu.
Lani sangat ingin kesana. "Win ke Goreland yuk" ajaknya pada Winda sahabatnya.
"Lu malam minggu ada acara tak kita kesana aja yuk" Winda masih sibuk dengan novelnya. Mereka menunggu kelas dimulai.
"Guys pak Romi, gak dateng, kita disuruh absen aja hari ini" Wira mengulurkan kertas absensi ke udara. Semua anak menyambut suka cita. Ya siapa yang tak suka jam kosong diakhir kelas ya kan.
"Hari ini aja." Winda menandatangani absennya.
"Woi Rob, Pak Romi gak dateng nitip absen gak?" Lani sibuk dengan ponselnya.
"Win tandatangani punya Robi, punya gue juga" Diangguki Winda. Lalu menandatanggani asal absensi milik Lani dan Robi. Lani menutup ponselnya.
"Jadi nih, ajak yang lain yuk" Sekali lagi Winda hanya mengangguk.
"Wir, Yon, Ndis ikut ke goreland yuk, gue sama Wind mau kesana" Wira, Dion dan Gendis.
"Sorri gak ikut mau balik hibernasi eug. Begadang selesein ini tadi malem. Eh si dosen kagak dateng." Kesal Gendis.
"Gue juga mau nyelesein drakor." Kata Dion lelaki lenje pecinta oppa korea itu.
"Gimana Wira mau ikut tidak ada Winda lho" Lani menaik-naikan alisnya, menggoda Winda yang memang suka dengan Wira.
"Yuk aja sih gue" Dengan mengambil kertas absensi.
"Narok ini dulu ke mbak Wulan"
"Uhhuy jadi kita bertiga ya" Lani bersemangat.
"Sekalian turun, Bareng mobil eug, Mobil lo tarok sini aja, Wir" Wira mengangguk.
Macet + tengah kota dan hari jumat, jalan jam 2 siang baru nyampe Blazt Avenue menjelang magrib. Super... padahal kalo lancar dari kampus mereka cuma butuh 30menit untuk sampai ke tempat tujuan.
Maklum kota metropolitan, waktu lebih banyak habis dijalan ketimbang kumpul bareng sesama manusia. Walaupun ada kumpulan manusia, tapi siapa yang mau mengobrol dengan orang asing.
Mereka individual, jika ada yang mengajak mengobrol mereka akan memasang tameng jutek diwajahnya. Waspada lebih tepatnya, Untuk melindungi diri. Kota besar, banyak manusia, ada yang baik pasti juga ada yang jahat.
Mereka mengantri "Wah rame juga ya"
Celetuk Wira.
"Namanya juga lagi Hype" Lani mengarahkan tangannya pada petugas, untuk dicap.
"Tapi kalo banyak gini didalem mana seru" Ucapnya lagi.
"Jangan kuatir Tuan, anda akan mendapatkan apa yang anda inginkan" si petugas menjawab lirih. Winda, Lani dan Wira. Terdiam. Merasakan angin halus yang membuat mereka merinding.
Winda mengerjap pelan kemudian mendorong Lani dan Wira masuk. "Ayo guys antrian makin panjang"
"Gile kaget gue dipanggil tuan"
"Ya kan konsepnya anjir keren" Lani bangga pilihannya kemari memang tepat.
Didepan mereka, ada petugas lain dengan kostum suster dengan ada bercak darah. Tersenyum pada mereka.
"Selamat datang Tuan dan Nona" suster memberikan mereka perban. "Ini lilitkan terserah dimana"
Lani menyengir gembira. Menerima ia membebatkan perban pada tangannya. Wira pada kepalanya, sedangkan Winda pada pinggangnya.
"AH! tunggu sebentar" Suster itu menghentikan langkah ketiga orang itu yang tak sabar masuk kedalam.
"Ada dua aturan. Disini."
"Jangan melihat kebelakang!"
" Dan yang kedua, Jalan terus!"
Suster itu berbisik lirih dengan tangan telunjuk didepan bibirnya.
Winda melihat kilatan mata yang aneh dari suster itu. Bukan hanya suster tadi tapi juga penjaga tiketing yang ada didepan.
"Ingat! Jangan melihat kebelakang dan Jalan terus!"
Suster itu memengang lengan Winda. Dingin. Memperingatkannya sekali lagi.
Tapi Winda tak menghiraukannya. Ia anggap itu akting bagian dari konsep rumah sakit hantu ini. Agar membuat pengunjung merasa lebih nyata.
Udara dingin menyapa, gelap menyelimuti mereka. Winda merasa atmosfernya berbeda. Punggungnya meremang. Degupan jantung semakin kencang.
Winda berjalan cepat mengikuti langkah Lani juga Wira yang juga cepat.
Ia menarik kaos Lani pelan. "Gue kok ngeri ya, jangan jauh jauhan ya"
"Iya" agak kesal ini baru mulai sedangkan Winda sudah takut saja. Lani mendengus. Manja dasar makinya.
Mereka dihadapkan dengan ruangan gelap ada brangkar juga tirai yang mengayun. Hanya boneka yang tidur di brangkar.
"Win jangan narik kenceng baju gue" Lani berbisik.
"Iya" lirih Winda. "Wira jangan kenceng kenceng jalannya, nikmatin dong" Lani menarik tas Wira.
"Ngeri ah Lan" Jawab Wira membuat Lani berdecak.
"Cemen banget lo jadi cowok" Wira tak menanggapi Lani tapi ia memperlambat langkahnya. Mereka keluar ruangan. Mereka saling menatap satu dengan yang lain.
Lani mencoba mengintip. Hanya terlihat lorong panjang dan kosong. Dengan berani Lani berjalan. Di kanan kirinya ada banyak ruangan.
Brak!
"AAAARRRGHHH" Jerit ketiganya.
Pintu disamping kirinya terbuka. Menampilkan dokter dengan wajah yang acak-acakkan berjalan bak zombie mendekati mereka.
Mereka terus bejalan dengan cepat tak ingin tertangkap zombie itu.
"Inget guys jangan lihat kebelakang, jalan terus." Winda memutar wajah Lani yang akan melihat zombie dokter itu.
"Yaelah, lo sama aja kayak Wira, aturan itu cuma bust kita makin kerasa horornya."
"Bener juga kata lo Lan" Wira menyetujui tapi tidak dengan Winda. Ia percaya. Jika ada sesuatu yang berbeda.
Sedari masuk Winda merasa tak enak badan. "Lan kok gue pusing ya" mereka mendapati wajah Winda yang pias, pucat.
"Lo duduk dulu Win" Wira menarik kursi dan mendudukan Winda.
"Kita jalan terus aja" Tolak Winda. "Lani berdecak.
"Ck! Kalo gitu jangan ngeluh, Udah Wir jalan aja" Lani menarik tangan Wira berjalan didepan.
Lani berjalan cepat. Winda menyusul dengan agak sempoyongan. Lani dan Wira semakin jauh.
Winda tak kuat ia menyadar pada tembok. Ingin rasanya ia berteriak pada kedua temannya didepan sana untuk menunggunya.
Kedua temannya itu menghilang dibalik kegelapan lorong. Kepala Winda berdenyut kencang. Merasa bulu kuduknya meremang.
Ia masih ingat aturannya. Walau entah apa yang membiatnya ingin sekali menengok kebelakang.
Tubuhnya bergetar. Keringat dingin bercucuran didahinya. Wajahnya pias.
"Jangan melihat ke belakang!" Suara pelan membisikinya.
"Terus berjalan" lirih seperti angin.
Dadanya berdegub kencang. Winda menyusuri lorong yang sangat panjang itu dengan tertatih.
Ia bingung kemana ia akan dibawa, tanpa peduli sakit kepala yang membuatnya tak fokus.
Ia melihat bayangan. "Lani" teriaknya pelan. "Wira" lanjutnya. Tapi bayangan itu tak meresponnya.
"Lan... Lani" Winda berusaha melangkah cepat.
Greb
Winda tersentak dengan sesuatu yang mencengkram bahunya.
"Jangan pergiiii" Winda terus melangkah. Walau kakinya susah sekali ia gerakan. Ia mencoba bergerak maju.
"Win, liat sini" bisikan serak itu, coba tak ia hiraukan. Winda membungkam mulutnya. Ketakutan amat sangat menyeruak.
Winda menggeleng. "Ikut aku" terus menolaknya. Ia berusaha terus berjalan.
Apa ini juga akting para talent hantu. Masih Winda berpikir logis. Walau sedari masuk ia merasakan ada yang janggal pada rumah hantu ini.
Ia memasuki sebuah ruangan. Ah tangga darurat. Ia melongok ke bawah. Melihat sekelebat bayangan.
"Tunggu" akhirnya ada orang lain disana, pikirnya. Pening kepalannya mulai berkurang.
Ia turuni tangga dengan cepat mengejar bayangan tadi. Winda sempat berfikir. Kenapa suasananya sepi padahal yang mengantri bersamanya cukup banyak tadi.
Winda masih tak melihat kedua temannya yang meninggalkannya tadi. Keterlaluan mereka. Tapi ia tak menemukan bayangam yang tadi ia lihat.
Winda menyusuri ruang itu. Banyak kelambu juga, meja doktor. Satu kelambu menutupi jalannya. Ia geser.
"BAAA..."
"AAARGHH" jerit Winda dengan menutup matanya. Wira, terbahak kencang.
Winda yang tahu itu Wira. Langsung memberinya pukulan. Bertubi.
"Sori sori Win, sori, aduh" Wira mengadih tapi tetap tertawa kencang.
"Lo tuh jahat, gak tau apa gue takut banget!" Kesal Winda.
"Ya sori, habis seru liat muke lo yang pucet"
"Gila lo! Mana Lani?" Masih dengan kesalnnya Winda tak melihat Wira bersama temannya itu.
"Enggak tahu gue juga kepisah sama dia"
Wira menggaruk kepalanya.
"Lanjut aja ayok, jangan berhenti, lo ingetkan aturannya"
"Lo masih ikutan aturannya?" Winda mengangguk.
"Dasar! Yaudah bentar lagi kita sampe pintu luar kayaknya" lanjut Wira.
Dahi Winda berkerut. "Dari mana lo tahu?" Winda menyusuri ruangan ia melihat ada pintu di ujung ruanga itu.
"Insting" Wira menjawab dengan kekehannya.
"Ck!" Decakan Winda, ia pikir Wira menyusulnya dan ia telah menemukan jalan keluar. Winda telah mencapai pintu itu. Pintu besar.
Tangannya mendorong pintu itu, membuka, sinar matahari masuk didepan sana.
"Wir lo bener, ayo Wir" Winda melangkah. Cengkraman keras ia rasakan di bahu kirinya,
"Wiiinn tunguuuu wiiiinnn" Mulutnya tercekat saat melihat tangan pucat kurus dengan kuku panjang berada di bahunya.
Tapi ia tahu itu suara Lani.
"Terus bejalan Win" Dorongan keras membuatnya berbalik melihat apa yang ada dibelakangnya.
Mata Winda melebar. Ia mundur perlahan. Disana, di pintu itu ia melihat Lani yang berantakan dan lusuh mencengkram belakang leher Wira.
Winda mundur dengan ketakutan. "Pergi Win" perintah Wira dengan suara pelan.
Wajah Lani mendongak dengan menyetak keras, matanya melotot lebar. Memerah.
Menatap Winda. Rambutnya awut awutan.
"WIIIIINNN TUNGGUUUU" Tangan Lani menjulur panjang ingin meraih Winda.
"LARI WIN PERGI!" Sekuat tenaga Wira berteriak menyadarkan Winda yang bukannya berlari ia malah mematung di tempatnya.
Winda tersentak. Ia pun berlari kearah sinar matahari. Ia masih melihat Wira yang telah lemas, dicengraman Lani. Winda menangis sedari tadi. Ia tak tahu cara menyelamatkan Wira.
Ia sudah berada diluar. Memandang sekitar. Ia tak tahu berada dimana. Dengan tangisnya semakin kencang ia tak menemukan pintu yang membuatnya keluar tadi. Bagaimana ini? Bagaimana dengan teman-temannya? Lelah.
"Jangan melihat ke belakang! Terus berjalan!" Sesaat terdengar lirih, sebelum kegelapan merenggutnya.
Putih. itu yang ditangkap oleh matanya. Seruat wajah tuanya lelah. Wanit paruh baya itu mendekati wajah anaknya yang mulai sadar.
"Sudah siuman, ibu panggil dokter dulu"
Dokter datang dengan suster. Memeriksa Winda. Ada beberapa memar juga luka-luka kecil. Besok ia boleh keluar dari rumah sakit.
"Buk Winda kenapa?" Tanyanya
"Haus" ibu memberikan Winda segelas air dengan sedotannya.
"Kamu pingsan didepan gedung tua, kok bisa kamu kesana?" Ibuknya penasaran, gimana anaknya ditemukan tak sadarkan diri dibangunan tua tak berpenghuni bekas rumah sakit itu.
"Winda kesana sama Lana dan Wira buk, terus teman Winda dimana bu" ibu mengambil gelas Winda dan meletakkan di nakas samping brankarnya.
"Teman apa? Kamu sendirian"
"Bener buk Winda kesana bareng temen Winda bu"
"Hp Winda mana buk" ibunya memandang anakanya tajam.
"Istirahat dulu kamu itu baru bangun" tapi si ibu tetap mengulurkan tas pada Winda.
Winda sibuk membuka tasnya. Aneh, ada beberapa pesan dari temannya. Wira juga Lani yang menanyakan keberadaannya yang tak masuk kelas Pak Romi.
Kebingungan. Pasti. Apa yang dilaluinya kemarin, itu tak mungkin hanya mimpi lha wong dia ditemukan pingsan di depan gedung itu.
Apa sebenarnya terjadi.
*****
cerita ini nanti masuk ke novel teror gedung kosong ya guys, yang ada di akunku bisa diceki ceki ya kalau berminat. bisa di like komen juga boleh hehe makasih
hv a gud day ^^
lazyafternoon