Tahta tak menjanjikan dirinya abadi. Dia hanya manusia yang dipinjamkan kekuatan untuk menjaga keseimbangan semesta putih.
Hidupnya pun beriringan alam menyerap usianya ditiap upacara pemurnian setahun sekali. Oleh karena itu ia membutuhkan kontrolisasi Roh abadi.
Benar.
Inilah rahasia dibalik Chioni yang memerintah Castil Salju. Menyatakan bahwa anak yang terpilih menjadi Chioni, haruslah mengikat kontrak jiwa dengan roh bayangan penjaga kuno (Pnevma).
Roh itu telah mengabdikan dirinya selama ribuan tahun, Roh itu adalah pilar berdiri kokohnya pemimpin Castil dari generasi ke generasi.
Karena dukungan dan kontrol Pnevma, para Chioni melakukan tugasnya dengan baik.
...
[Castil Salju Kerajaan Kabut.]
"Ugh!! Huekk!"
"Nea !!" meraih cepat raga tuannya yang melemah, tudung dari jubah hitam yang pria itu kenakan jatuh, menampilkan raut cemas lewat sorot mata birunya.
"Nea! Nea, kau baik-baik saja?!" dia membawa serta tubuh Nea kedalam pangkuan. Tubuh ringan nan pucat itu di baringkannya ketempat tidur beralas bulu domba.
"Shou, aku--"
"Meski kau adalah Chioni yang memimpin Castil Salju, sudah ku bilang jangan memaksakan dirimu! Pikirkan susunan tubuhmu yang tidak bisa menerima sembarang makanan, Nea!" - "Apa kau ingin mengorbankan dirimu secepat ini?!"
Shou, sang roh bayangan lagi-lagi menampil wajah kesalnya. Shou tak mengerti. Baginya antara marah dan sedih, kepribadian tuannya di generasi ini sangatlah menguras energi.
Sejak ribuan tahun melayani keturunan dan leluhur Castil Salju, baru kali ini Shou menghadapi Chioni yang begitu lugu. Gadis ini membuatnya tidak bisa mengalihkan mata.
Meski hanya sedetik.
"Nea..." Shou berlutut menundukkan kepalanya. Dia menjeda kalimatnya namun, gemetar tangannya yang menggenggam erat jemari Nea terasa dengan jelas.
"Sial! Seolah jika kusentuh lebih dari ini dia akan hancur. Tubuhnya lemah... Dia pun tahu itu, lalu mengapa? Bagaimana kamu bisa menanggung lusinan beban dengan tubuh selemah ini, Nea?!" batin Shou tak kuasa mengutarakan. Dia hanya tertunduk kelu, menahan kekhawatiran hatinya kala Nea begitu baik pada semua orang.
Tak terkecuali pada wanita tua tadi. Beliau adalah salah satu penduduk desa yang menyajikan makanan laut ke Castil sebagai tanda terimakasih, karena sang Chioni selalu memurnikan lingkungan desa mereka dalam upacara pemurnian.
"Shou... Aku hanya memakannya sedikit,"
"Lalu? Efeknya sama saja bukan?" Shou mendesis. "Apa dengan mengorbankan dirimu menuruti keinginan mereka dan melakukan upacara pemurnian yang mengikis diri, kau merasa senang?" tanya Shou memicing mata. Sebagai roh penjaga, Shou tahu pertanyaannya barusan sedikit lancang.
Tapi bukan Shou namanya jika tidak demikian. Ini adalah bukti bahwa Shou mengkhawatirkan kesehatan Nea.
"Aku tidak berpikir melakukan upacara pensucian adalah mengorbankan diriku sendiri, Shou..."
Shou melebar mata. Untuk sesaat genggaman tangannya pada jemari Nea merenggang.
"Apa maksudmu, tuanku?"
Dilihatnya pipi pucat nan mulus milik Nea memerah menatap langit-langit kamar. "Aku hanya senang saat alam dan penduduknya merasa senang ketika salju pemurnian turun. Aku puas mendengar alam bernyanyi untukku saat kekuatanku diserap diatas altar upacara... Aku melakukannya atas kehendakku, jadi..." Nea menyentuh pipi Shou yang menatap lurus matanya.
"Jangan khawatir. Nenek itu hanya ingin berterimakasih pada kita. Dia sudah datang jauh-jauh untuk mengabarkan pangan laut di desanya sangat melimpah setelah upacara tahun lalu... Tolong jangan marah," pinta Nea seraya memutar haluan tubuhnya membelakangi Shou yang menahan nafas.
Shou merasa hina hekarang.
Ia baru saja mendukung tuannya bersikap egois pada tahta dan nafsu pribadi ketimbang menjadi Chioni yang bijaksana? Shou sungguh malu. Meski sejak awal dia tahu Nea berbeda dari Chioni-Chioni sebelumnya, entah mengapa ketulusan hati Nea mengganggu relung Shou.
"Pola pikirnya jauh melampaui imajinasi ku... Aku dapat merasakan kenapa Alam mempercayakan tanggung jawab sebesar ini pada gadis se-lugu dia," Shou menarik selimut menutupi tubuh tuannya. Tangan Nea tiba menyentuhnya.
"Shou... Jangan pergi sampai aku tertidur, yah?"
Shou hanya tersenyum. "Sesuai keinginan anda, tuanku." sahutnya meraih kursi kedekat tempat tidur.
Kali ini pandangannya tertuju pada helaian putih rambut Nea yang serupa hamparan salju.
"Alam percaya padamu dan dirimu pantas dipercaya oleh alam, Tuanku." batinnya.
***
Sejak ribuan tahun, penduduk Castil Salju telah dipercayakan alam menghasilkan generasi Chioni.
Chioni adalah gelar yang diyakini masyarakat Castil sebagai anak dewa. Chioni memiliki kekuatan yang dapat memurnikan dan mengontrol semesta putih tetap berseri. Kekuatannya diberikan dan diperuntukkan kembali pada alam setahun sekali.
Chioni pun di puja dan dihormati. Mereka tak bedanya raja yang memimpin Castil. Namun, dimata Shou... Chioni hanyalah tumbal yang dipilih alam untuk menstabilkan dataran dingin. Shou mengatakan demikian karena sebagai Pnevma, Shou sudah lama mengamati para Chioni.
Chioni itu lemah dan hidup dalam kekangan. Mereka dilahirkan untuk alam hingga tidak satupun Chioni dalam sejarah yang berumur panjang. Hanya 22 tahun batas maksimal usia mereka dan mirisnya, dalam waktu singkat itu, tubuh Chioni yang seharusnya masih dalam pertumbuhan akan merenta, dalam artian lemah sebelum masa tuanya.
Itulah Chioni yang sebenarnya.
Sebab itulah pula penduduk Castil yang terpilih menjadi Chioni seringkali tak sanggup bertahan.
Keyakinan dan tekad Chioni yang lemah lah, yang menjadi tugas utama Shou sebagai pnevma. Kehadiran Shou ditujukan mendukung dan mengontrol para Chioni. Shou dipercayakan alam untuk mendampingi setiap Chioni selama masa memimpin.
Tapi sejak ribuan tahun, baru kali ini Shou mendapati dirinya melanggar tugas. Perubahan pola pikir dan tujuannya sebagai Pnevma disebabkan oleh ketulusan hati Nea... Nea yang membuatnya berpikir, "Apa Chioni hanya hidup untuk alam saja? Apa Chioni tidak memiliki keinginan pribadi dalam hidupnya?" Persepsi itu mendasari intimidasi Shou pada Nea di dalam kamar.
Rasanya menyakitkan menyadari gadis itu tak pernah mengeluh menjalani tanggung jawabnya. Tidak seperti Chioni pendahulunya yang akan memohon kepada Shou untuk membunuh mereka, ketimbang mereka melakukan upacara pemurnian. Nea selalu melakukan upacara dengan hati gembira.
Meski konon, tekanan yang didapatkan Chioni saat upacara sangatlah menyiksa, Shou tahu itu adalah takdir mereka. Shou pun tega mengabaikan keinginan Chioni dan memilih berfokus pada tugasnya.
"Upacara pemurnian ditujukan menstabilkan alam dengan menyerap keluar energi Chioni. Apa kau baik-baik saja Putri?" tanya Shou beriringan langkahnya mengekor Nea yang tengah memakai jubah upacara.
Yeah, sejak dipilih menjadi Chioni sembilan tahun lalu, hari ini adalah upacara pemurnian ke sembilan Nea. Usianya sudah menginjak 19 tahun yang artinya, tersisa beberapa tahun lagi sampai tubuhnya mengikis diatas altar. Kematian Chioni yang melakukan upacara pemurnian adalah kehormatan.
"Pfft... Kau pikir, sudah berapa kali melakukan upacara, Shou? Aku sudah terbiasa,"
Shou tersenyum miring. Rasanya berat melihat Nea begitu senang melakukan upacara pemurnian yang menyakitkan. "Kau mencoba membohongi ku, putri? Para leluhur mu akan merengek memintaku membatalkan upacara ini. Dahulu, mereka mengatakan rasanya sangat sakit seolah nyawamu ditarik diantara dua dunia,"
Nea terkekeh "Memang sakit."
"Huh?" Dan menepati tolehan kepala Nea menatap teduh dirinya, Shou tertelan kedalam arusnya.
"Mereka mengatakan yang sebenarnya dan memang begitulah adanya... Sangat menyakitkan hingga air mata saja tak cukup menggambarkan rasa sakitnya, Shou." Jawab Nea merenguh jubah. Shou terdiam.
"Lalu dimana penolakanmu, Nea?"
"Jika sebegitu menyakitkan rasanya, kenapa kau tidak pernah mengeluh? Kenapa kau tidak pernah memintaku menghentikan kelangsungan upacara?"
"Apa kau bisa?"
"Eh?"
Baru merasa perkataan batinnya dijawab Nea. Shou membelalakkan matanya. Tapi Nea justru memampang senyum manis seraya mengulur sebuah pita.
"Apa kau bisa membantuku menghias rambutku, Shou?"
DEG.
"Hey... Meski hanya aku yang bisa melihatmu, aku tak mau kau ikut naik ke altar dengan raut seperti ini!" Canda Nea.
Sedangkan Shou semakin tertelan dalam pikirannya. Shou pun beranjak menuruti permintaan Nea yang tak lagi bicara didepan kaca rias. Dengan kedua tangannya, Shou hanya merasakan helaian rambut Nea begitu halus dan lembut layaknya sutra. Helaian ini serupa dengan kepribadian Nea yang sentiasa menjalani semua tugas dengan ketulusan.
"Dia begitu pasrah..."
"Dia terlalu lugu untuk menanggung beban ini..."
"Dia terlalu muda untuk tiada demi mengorbankan diri..."
"Tidak bisakah aku menggantikannya agar hidupnya berlangsung lebih lama?"
"Seperti halnya gadis-gadis seumurannya diluar castil, aku ingin melihatnya bahagia..."
"Sial!"
"Shou?"
Tanpa Shou sadari. Raut sedihnya terpantul dikaca rias didepan mereka. Buru-buru Shou mengalihkan muka menahan air mata. Shou pun sama terkejutnya dengan Nea yang kebingungan dengan sikapnya.
"Apa kau baik-baik saja? Shou, jika kamu merasa sakit, lebih baik--"
"Tidak apa-apa, Putri." potong Shou. Ia selesai mengikat pita pada rambut Nea.
"Shou?"
"Upacara pemurnian akan segera dimulai, para pelayan akan membantumu bersiap... Aku kan menunggu didepan kamarmu, Putri Nea," pamit Shou berlalu keluar tanpa menoleh kebelakang.
Hampir bahaya...
Jika perbincangan itu dilanjutkan, Shou khawatir dirinya akan menyarankan pada Nea membatalkan upacara pemurnian. Jika hal itu terjadi, keseimbangan alam akan terganggu. Semesta putih mungkin akan mencair dan takkan ada lagi tempat bagi penduduk tinggal di Wilayah ini.
"Apa yang harus kulakukan?!"
Shou berada dalam dilemanya tidak ingin melihat Nea tersiksa diatas altar dan tugasnya sebagai Pnevma. Meski sudah ribuan kali ia melihat para Chioni tersiksa saat upacara pemurnian berlangsung, baru kali ini Shou enggan melihatnya.
"Kendalikan dirimu Shou! Tidak seharusnya Pnevma menaruh hati pada Chioni yang dilayani!"
***
[Altar]
Aurora dengan lima warna yang menghias langit malam menjadi pemandangan spesial ditiap upacara pemurnian. Semua warna berkumpul seperti halnya para penduduk yang memenuhi Glora disekitar Altar.
Yeah. Memang meriah. Sebab upacara pemurnian ini tak bedanya perayaan yang dinanti semua orang setiap tahun... Semua bergembira menanti salju pemurnian turun dan menstabilkan alam disekitar mereka. Semua bahagia, kecuali Shou yang mengetahui fakta dibalik turunnya salju pemurnian itu.
Tap... Tap... Tap...
Dengan anggun.
Berbalut jubah berwarna toska dan mahkota permata, gadis itu keluar dari singgasananya menuju altar upacara. Para dayang mengiringi langkahnya membentuk lingkaran hingga ia tiba menaiki altar utama kedua.
Melodi dari lagu yang dinyanyikan paduan suara pun terdengar, mengheningkan bising para penduduk yang seketika terpaku pada keanggunan Nea, sang putri Castil Es yang mendapat gelar Chioni generasi ini. Semua membinarkan mata melihat kecantikan dan aura Nea yang menghiasi altar.
Semua hanya melihat Nea berdiri sendirian diatas Altar megah itu. Semua tak menyadari gadis itu tengah bergenggaman tangan dengan roh bayangan penjaga yang takkan pernah meninggalkannya.
"Yang mulia Chioni," sebuah tongkat es diberikan seorang tetua yang menghampiri Nea dengan segala hormat. Nea mengambil tongkat itu dan merasakan sedikit energinya terserap mengaliri tongkat. Ia pun sedikit merintih hingga Shou melirik cepat.
"Nea?!"
Nea tersenyum canggung. "Terimakasih, aku akan segera melakukan upacaranya." tutur Nea memberi isyarat pada Shou kalau dirinya baik-baik saja. Tetua itu beranjak menuruni altar.
"Nea. Apa kau yakin?"
Nea mengangguk. Netranya memandang keseluruhan penduduk yang menanti upacara dimulai. "Sudah waktunya Shou, kau bisa turun dari altar." Lirih Nea hendak melepas genggaman tangan mereka.
"Shou?" Namun Shou tak bergeming. Sorot matanya seolah meminta Nea menyerah melakukan upacara pemurnian ini. Namun sayangnya setelah beberapa saat, ketika Shou menyadari para penduduk mulai kebingungan kenapa chioni belum juga memulai upacara, Shou menyadari perbuatan lancangnya telah melewati batas. Ia pun menatap gama pada Nea yang terdiam.
"Bisakah kau pastikan dirimu akan kembali padaku?" ujar Shou seraya melepas tautan tangan mereka.
Nea sontak membelalakkan mata.
"Eh?"
Karena beberapa alasan, air mata Nea jatuh sambil menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Shou. Baru kali ini Nea mendengar Shou naif meminta sesuatu darinya. Shou telah bersama dengannya sejak penobatan penerus Chioni sembilan tahun lalu. Hanya Shou yang sangat sangat memahaminya melebihi keluarganya. Tapi sebagai seorang Chioni...
"Waktuku sudah berhenti untukku, tapi masih ada masa depan bagimu dan castil ini, Shou." Nea memutar haluan tubuh.
"Nea?!"
Dengan tongkat yang berada dalam genggaman, Nea berjalan menaiki tangga altar utama. Senyum manisnya terukir kala melirik Shou dibelakang. Shou pun membeku merasakan aliran energi upacara hampir dimulai.
"Tidak... Nea," Shou sangat ingin menghampiri Nea, tapi, Altar itu tidak pernah membiarkannya mendekati Chioni saat Upacara berlangsung. Seolah ada dinding yang memisahkan mereka. Hanya suara hati Chioni yang sampai ke telinga Shou.
"Hei... Jangan menatapku begitu. Kau tahu inilah tugasku, aku akan baik-baik saja, Shouka~" batin Nea yang sampai pada Shou dibawah altar utama.
Shou pun menundukan kepalanya saat penduduk bersorak menyambut dimulainya upacara pemurnian. Saat itulah Nea mengangkat tongkatnya ke udara, memperlihatkan pada semesta wujud tongkat yang menjadi penyalur energi alam dan tubuhnya, akan segera menyerap dan menyebarkan energi itu ke bastala.
"Ukh!" Nea tiba merasakan rasa sakit yang luar biasa. Ia namun mencoba kuat dihadapan seluruh penduduk, tak terkecuali didepan Shou yang mengeraskan rahang menyadari kesakitan Nea.
"Kau akan membimbing Chioni yang lebih hebat dan tulus dariku, Shou. Terimakasih atas segalanya..."
DEG.
"Tidak... TIDAK!!!"
Sadar akan pesan tersebut, Shou akhirnya melawan menerobos dinding penghalang disekitar altar.
"NEA HENTIKAN UPACARANYA!!!"
BRAKK!
Namun alam menolak tindakannya. Ia pun terpental hingga ke halaman Altar.
"Shhh!" Shou mulai mendesis merasakan inti rohnya mengurai ke udara. Wujudnya melemah dan tepat saat itulah puncak upacara pemurnian dimulai didepan matanya... Shou tak dapat menghentikan upacaranya hingga dari tempatnya tersungkur, ia melihat tubuh Nea bersinar memancarkan cahaya.
"Nea... JANGAN NEAAA !!"
Alam sudah menyerap energi Nea. Alam menyalurkannya kedalam tongkat es sebelum di tembakan pada langit untuk menurunkan salju pemurnian.
Tik... tik...
Ini berbahaya.
"NEA, HENTIKAN !!!"
Entah mengapa Shou merasakan energi yang berbeda sedang gadis itu salurkan kedalam tongkatnya. Shou kembali berlari menghampiri Nea yang tak lagi melihat sekeliling. Bola mata gadis itu telah berubah putih menuju puncak pemurnian, ketika tongkatngay menembakan inti energi Chioni keatas langit dipenuhi Aurora.
"Tidak... Tidak Nea... Jangan bilang kau--"
"HIDUP PUTRI NEA! HIDUP CHIONI!"
"NEAAAAA!" Sayangnya, hanya Shou yang menyadari makna dibalik berubahnya warna mata Nea. Shou pun berlari menangkap tubuh Nea yang mengambang di akhir upacara. Ia merengkuh tubuh lemah yang tak lagi bernafas ditangannya.
"Nea! Nea tolong jangan begini! Apa yang ku lewatkan hingga kau menyerahkan dirimu di upacara secepat ini?! Hiks!" Shou terisak ditengah sorakan para penduduk yang berbahagia melihat salju pemurnian turun. Mereka tak menyadari sang Chioni telah menyerahkan segalanya.
Kepada alam.
Demi kelangsungan hidup semua orang. Gadis itu menyerahkan nyawanya lebih cepat dari dugaan.
"Nea!!!"
Shou terisak. Dalam dekapnya pada tubuh Nea yang mulai mengurai, ia menyadari beberapa penduduk ikut terkejut menyaksikan raga Chioni mereka mengalami penguraian.
"Bukankah ini belum saatnya putri Es mengurai? Putri Nea telah tiada?"
"Tidak mungkin, usianya masih 19 tahun!"
"Pu-putri Nea..."
Pada akhirnya, suasana ramai saat turunnya salju pemurnian berubah sendu, beriringan para tetua menaiki altar melihat penguraian tubuh Nea dalam suasana kabung. Tak satupun dari mereka dapat menyelamatkan Nea dari hukum yang mengikat Chioni.
Tak terkecuali Shou.
"Hiks... Nea! Aku mengerti kenapa aku sangat takut kehilanganmu sekarang... Hiks, Chioni yang tidak menjerit sakit diatas altar, Chioni yang mengembang senyuman tulus saat energimu diserap... Hanya kau, Nea..." Tutur Shou sebelum tubuh Nea benar-benar menghilang dari dunia.
Shou menyesal. Pada akhirnya hanya Shou yang berdiri diatas altar tanpa bisa menghentikan Nea dari penyerahan diri pada alam. Nea sudah berakhir tepat didepan mata Shou sang roh penjaga.
"Hiks... Takkan kubiarkan terulang... Kembalilah, Nea~"
***
Setahun kemudian.
Setelah upacara pemurnian yang menghabisi nyawa Chioni muda. Pemilihan Chioni baru dilakukan dengan membiarkan alam menurunkan inti cahayanya pada anak-anak yang telah dikumpulkan diatas altar.
Chioni adalah gelar terhormat. Chioni adalah masa depan untuk Castil Salju. Jadi secara diam-diam, ini adalah tugas Shou mengamati ke arah mana inti energi alam memilih kandidat baru.
"Tumbal baru, tepatnya?" Miris Shou...Sejak tadi Shou menyaksikan puluhan anak dikumpulkan di altar namun anehnya belum sekalipun, Shou melihat inti energi alam mendekati mereka.
"Permisi! Permisi, maaf... Apa kami terlambat?"
"Tidak nyonya. Tolong bariskan anakmu di atas altar,"
"Eh? Bariskan? T-tapi..."
Awalnya, suara ragu dari seorang wanita yang baru datang kedekat altar Shou abaikan.
"Ada apa nyonya?"
SRING!
"Anakku... Dia baru berusia sebelas bulan. Dia belum bisa berdiri dengan kakinya sendir--"
"Chouka~"
"Eh?" Wanita itu membelalakkan mata. "I-ini pertama kalinya dia bicara... Siapa Chouka, nak?" ujarnya melirik tetua Castil yang juga kebingungan.
Shou pun menoleh mendengar namanya terpanggil oleh bibir mungil itu.
Di sisi lain, tetua yang menyambut kehadiran wanita dengan bayinya itupun mengizinkan sang wanita menaiki altar bersama anaknya.
"Chouka!" Anak itu lalu menunjuk ruang kosong disudut altar disana.
"Chouka! Chouka!" Ia nampak bersemangat hingga melengkung senyuman lebar menampakkan gigi-gigi susunya.
"Siapa yang kau maksud dengan Chouka, Neara? Ibu tidak melihat siapapun disana."
"Chouka~ !!"
Yeah... Hanya anak itu yang dapat melihat kehadiran Shou disudut altar dan sebaliknya, hanya Shou yang dapat melihat inti energi alam memilih anak itu sebagai penerus Chioni selanjutnya.
"Chouka!!"
"Ssst! Ssst! Jangan berisik Neara~"
Shou terkekeh menyadari tingkah apa yang dilakukan tuannya... Shou takkan salah mengenali energi milik mendiang Nea yang mengalir didalam tubuh balita itu disana.
"Jadi pada akhirnya... Kau kembali padaku, putri?"
"Chouka!!! Hiks! Chouka!"
Disaat anak itu mulai menangis, Shou berjalan menghampiri dan mengambil raga kecilnya dari Sang ibunda.
"Eh? Chi-Chioni?!"
Orang-orang yang melihat balita melayang itu akan langsung berpikir dialah yang terpilih menjadi Chioni...
"Alam sudah memilih Chioni! alam sudah memilih!"
Gelar Chioni pun dijatuhkan pada sosok kecil yang tengah melakukan reuni bersama mantan Roh penjaganya.
"Chouka?"
Shou menetas air mata bahagia nya.
"Dengan segala hormat... Takkan kubiarkan kau menanggung semuanya sendiri lagi, Tuanku. Aku sudah menemukan cara agar Chioni mendapatkan kesetaraan Hak dan berumur lebih panjang sebagai manusia."
"Chouka!"
"Yeah. Terimakasih sudah kembali padaku, Putri."
***End***