“AAAAAaaaaaggggghhhhhhhh……” terdengar suara teriakan di tengah malam buta ini, membangunkan Abah dan Nyak dari tidur nyenyak mereka.
Awalnya mereka sempat tidak mengetahui mengapa mereka tiba-tiba terbangun, tetapi kemudian teriakan kedua dan kesekian kali dari Chalik kembali terdengar dan mereka berdua bergegas bergerak ke arah kamar Chalik.
Tok..tok..tok.. Abah mengetuk pintu kamar Chalik, namun tidak terdengar jawaban melainkan hanya teriakannya yang kembali membahana memecah kesunyian malam.
“Chalik, sayang, kamu di dalam kamar nak?” Tanya Abah sambil kembali mengetuk pintu kamar Chalik.
“Kita masuk saja kale ‘bah, takutnya Chalik kenapa-kenapa!” saran Nyak.
Ketika Abah akhirnya membuka pintu, tampak Chalik yang telah berkeringat dingin menggoyang-goyangkan badannya kaku, namun masih dalam kondisi mata tertutup dan seperti ia sedang bermimpi buruk.
Dengan sigap, Nyak menghampiri tempat tidur dan menguncang-guncangkan tubuh Chalik, pertama dengan perlahan namun semakin kuat ketika Chalik tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera terbangun.
“Astaghfirullah Wa Atubu Ilaih.. Istighfar Chalik!” seru Nyak yang semakin panik melihat kondisi anak bontotnya tersebut.
Lalu Abah, yang berdiri di dekat kaki Chalik, merasakan hawa dingin dan seakan mencekam hingga terasa tak nyaman dan membuat gelisah dari arah tubuh Chalik yang terbaring. Ia segera paham dan dengan keras namun hikmad melafalkan doa-doa dan setelah beberapa saat akhirnya Chalik terbangun kembali.
“Istighfar nak..” kata Nyak lagi setelah memeluk Chalik yang masih menggigil ketakutan.
“Hayu ditemenin anaknya ambil wudhu Nyak, trus kita Sholat bareng!” perintah Abah setelah menamatkan doa-nya.
***
Beberapa saat kemudian mereka bertiga telah mengambil posisi untuk Sholat dan setelahnya Abah membalikkan badan dan bertanya kepada Chalik: “Apa yang baru saja terjadi Chalik?"
"Chalik mimpi buruk 'bah, mimpi yang benar-benar terasa nyata.. Chalik dikejar mahluk-mahluk menyeramkan dan pada akhirnya mereka berhasil mengerumuni Chalik. Mereka itu mahluk-mahluk astral dalam berbagai jenis yang menyeramkan. Mereka mengurung Chalik dalam lingkaran rapat. Tidak memberikan celah sedikitpun untuk bisa kabur." Chalik menjawab, tanpa sadar kembali menggigil seakan merasakan kembali kehadiran para pengganggu dalam tidurnya tersebut dan setelah menenangkan diri, dia kembali berkata: "Mereka tampak marah namun tidak menyentuh ataupun menyakiti Chalik, mereka seperti memperingatkan. Ada satu mahluk hitam aga kecil jika dibandingkan dengan mahluk-mahluk lainnya dan ia terlihat bungkuk, seperti orang tua, tapi Chalik ga jelas itu kakek-kakek atau nenek-nenek. Tangan kurus dan keriputnya terlihat jorok penuh tanah, ia menunjuk ke dekat wajah Chalik dan seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi lalu Chalik terbangun dan langsung bersyukur masuk dalam pelukan Nyak.."
"Astaga, apa itu artinya Abah? Apa ada hantu kiriman yang datang ke rumah kita ini? Kenapa dia harus menakuti Chalik? Anak bontot kita ini kan ga pernah aneh-aneh Abah, selama ini Chalik selalu taat aturan dan ga pernah bandel, apalagi sengaja ngelanggar adat.. Kog ada yang jahat sama anak kita Abah?" tanya Nyak bertubi-tubi, sambil menggenggam tangan Chalik entah untuk menenangkan dirinya sendiri atau anak bontotnya tersebut.
"Entahlah Nyak.." jawab Abah sekilas kepada Nyak dan setelahnya menolehkan wajahnya kembali ke Chalik sambil bertanya Abah lagi: "Coba Chalik kamu ingat-ingat lagi apa ada hal janggal yang kamu lakukan belakangan ini yang melanggar aturan atau adat setempat?"
"Seingat Chalik seh enggak ya 'bah, tapi ga tau juga kalau hal tersebut tidak sengaja atau Chalik tanpa sadar melanggar adat setempat yang Chalik tidak tahu.." jawab Chalik sambil terus mengingat-ingat.
"Ya sudah, kamu pakai dulu kalung ini! Jangan pernah dilepas dengan alasan apapun!" ujar Abah kepada Chalik sambil menyerahkan sebuah kalung platinum tipis dengan bandul asma Allah, sesaat setelah melepaskannya dari lehernya sendiri, lalu kembali berkata: "Kamu lanjut tahajut sendiri ya nak, trus istirahat. Nanti siang biar Abah dan Nyak yang akan anter kamu ke Jatinangor."
"Ach Chalik ga usah diantar Abah, repot nanti, kan jaraknya lumayan jauh ituh.." bantah Chalik merasa kasihan pada orang tua-nya, sambil berusaha memakai kalung tipis tersebut sendiri, namun karena tidak berhasil mengaitkan di belakang lehernya, Nyak akhirnya membantunya. Entah bagaimana, rasa tenang dan damai kini seakan membanjiri tubuh Chalik.
"Abah perlu ketemu, bersilaturahmi dan berkonsultasi dengan Eyang Kyai Pamungkah. Kita sudah lama tidak sowan ke rumah beliau di Sumedang. Beberapa hari yang lalu, Kumpi sempat nyuruh Abah juga seh ke sana, tapi belum ada kesempatan. Besok sepertinya waktu yang baik." jawab Abah tidak terbantahkan dan dengan tatapannya mengajak Nyak untuk beranjak meninggalkan Chalik.
"Baik Abah.." kata Chalik lagi dengan takjim.
***
“Nyak, tolong simpen ini di bawah tempat tidur Chalik dan besok pagi petik beberapa kuntum bunga mawar merah yang banyak tumbuh di taman depan ya, trus pajang di beberapa meja kita..” Abah memberikan arahan kepada Nyak ketika mereka telah berada di luar area dengar Chalik, yang masih menunaikan Sholat Tahajut-nya.
“Apa ini Abah?” tanya Nyak tidak mengerti, melihat kepada kantong kecil (seperti kantong teh celup) yang diserahkan Abah untuk dilatakkan di bawah kasur Chalik.
“Kantong ini isinya merang ketam hitam Nyak. Salah satu cara ampuh untuk menghindari santet saat tidur.” jawab Abah perlahan.
“Apa rumah kita sedang diserang santet ‘bah? Padahal kan pohon Kurma Ajwa yang kita tanam di depan rumah sudah cukup besar. Apa itu tidak cukup menakuti syaitan dan jin kiriman tersebut?” tanya Nyak lagi, menahan rasa takut dan penasarannya.
“Nyak, seluruh yang terjadi di muka bumi ini sudah sepatutnya kita sandarkan kepada Allah Subhanahuwata'Ala. Kita hanya bisa berikhtiar dan berusaha, bagaimana hasilnya ya terserah berkat dari Tuhan saja. Mungkin yang dikirim ini kekuatan dan kekuasaannya tergolong besar. Jadi kita juga perlu melakukan beberapa hal, seperti menempatkan beberapa benda atau mengerjakan ritual yang tidak termasuk dalam kategori musyrik.” jawab Abah mencoba menjelaskan kepada Nyak, setelah terdiam sesaat Abah kembali melanjutkan berkata: “Abah juga masih belum jelas terhadap apa yang terjadi ini, makanya kita perlu bersilaturahmi ke rumah Eyang Kyai Pamungkah di Sumedang sana. Mungkin beliau bisa menngetahui apa yang terjadi dan menjelaskan kepada kita orang awam ini.”
“Baik Abah..” akhirnya Nyak berkata.
“Oh iya Nyak, kalau tidak salah kita masih punya persediaan buah Kurma Ajwa kan ya?” tanya Abah ketika tiba-tiba teringat hal lain yang bisa mereka lakukan juga untuk menangkal santet kiriman ini.
“Masih ada beberapa kotak ‘bah. Tadinya Nyak mau simpen buat persiapan puasa nanti.” jawab Nyak.
“Besok pagi keluarin saja 1 kotak Nyak. Kita makan masing-masing 7 buah sebagai sarapan, sebelum berangkat ke Sumedang.” kata Abah sambil bergerak ke arah pintu depan, untuk kembali mengecek keamanannya dan termasuk juga jendela-jendela rumah mereka.
***