Daniar berjalan tergesa-gesa memasuki ruang lobby kampus. Dia mendapatkan surat panggilan itu untuk mengajar di Kampus ternama di kota A. Hatinya senang karena akhirnya rencananya pergi menjauh dari kota kelahirannya itu berhasil. Dan dia dapat memulainya dari awal. Meninggalkan orang tua memang berat akan tetapi mau bagaimana lagi. Demi keluarga juga harga diri dan kebaikan semua orang.
Braakkk. Tak sengaja dia bertabrakan dengan seorang pria muda. "Ah, maaf." Hanya itu yang di ucapan Daniar dengan tergesa-gesa menatap wajah orang yang ditabraknya pagi itu. Tampan, Batinnya. Pemuda itu juga balas menatapnya sambil tersenyum. Ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi di sana, Daniar melangkah menuju ke lift terbuka lebar secara cepat dia melesak masuk.
Dia harus laporan ke HRD universitas tersebut bahwa dia bersedia untuk mengajar. Semua sudah berjalan lancar saat dia keluar dari kantornya HRD universitas. Dia berjalan-jalan melihat kampus itu dan menghafal rutenya berdasarkan brosur peta yang didapatkan dari HRD universitas.
"Cantik. Ketemu lagi disini ?" Sapa seorang pemuda. Daniar menatapnya lekat. "Aryo Penangsang. Kamu pindahan dari mana ? Atau mahasiswi baru ?" Tanyanya sambil mengulurkan tangannya. Daniar hanya menangkupkan tangannya di depan dadanya. "Assalamualaikum, saya dosen baru. Besuk Senin saya bertugas, saya harusnya laporan besuk. Namun saya ingin mengenal lingkungan kerja saya. Permisi." Jawabnya sopan kemudian berlalu. Rasanya sungguh tidak nyaman berdiri dengan murid lelaki begitu banyaknya, mereka ada empat orang tak ada Wanitanya. Bisa timbul fitnah, pikir Daniar. Sementara itu Aryo menjadi bahan tertawaan rekan-rekan mahasiswanya.
"Wah baru kali ini seorang Aryo di tolak. Dan itu dosennya ?" Gavin tertawa terbahak-bahak diikuti oleh yang lain.
"Tapi dia Imut, lihat badannya kecil juga wajahnya seperti anak-anak kuliah. Mana ada dosen seimut ini." Sahut Farel. "Mobilnya juga imut tuh warna kuning si Brio. Aku lihat dari kacanya ada pernik-pernik girly gitu. Parah sumpah." Steven ikut angkat bicara disela tertawa kecil.
"Benakah ? Udah nikah belum?" Tanya Arya penasaran. "Tahu dech. Kita nanti cari info dulu." Jawab Farel yang lain tertawa kecil dan mengangguk setuju. Mereka berjalan beriringan menuju kantin untuk makan.
Keesokannya harinya Daniar saat mengajar mendapatkan sambutan hangat dari mahasiswa dan mahasiswi. Mereka tak menyangka akan mendapat dosen yang mini seperti dia. Yah, gara-gara keminiannya dia ditinggalkan oleh tunangannya. Fajri memilih adiknya yang bohay berdada montok dan pinggul menonjol daripada dia yang mini seperti itu. Siapa juga minta dilahirkan berbadan seperti anak kecil ? Dihelanya nafasnya. Saat-saat ini jauh dari keluarga adalah terbaik. Daripada melihatnya bercumbu ria didepan mata, lebih baik maju selangkah lagi meninggalkan semuanya.
Empat jam menyetir mobil sendiri tak masalah. Sekarang sudah mendapatkan kost enak, juga pekerjaan bagus. Sudah mau apa lagi. Jodoh ? Biarkan yang diatas yang mengatur. Jalani saja apa adanya, Batinnya. Daniar mengaduk bakso di depannya. Rasa laparnya menguap manakala melihat sepasang kekasih di depannya saling suap-suapan. Dia teringat adik dan mantan tunangan, yang berbuat sama sang adiklah yang berinisiatif untuk melakukan hal itu. Sehingga terjadi hubungan antara keduanya. Awalnya dia tidak curiga namun setelah sekian lama terungkaplah bahwa mereka lebih dari itu. Bahkan sudah hamil tiga bulan sebelum ijab Kabul. Keluarga besar keduanya shock bahkan mantan calon ibu mertua masuk IGD karena itu. Pernikahan juga sederhana, walau adiknya nekad minta resepsi megah dengan aneka dramanya namun ditolak tegas keluarga lelaki. Karena malu pengantin wanita berubah tidak sesuai keinginan mereka. Miris sekali.
Setelah selesai makan Daniar pulang ke kostnya dengan menenteng bungkusan makanan. Dia lega akhirnya lamaran- lamaran yang dia kirimkan ada jawabannya yang paling jauh adalah kota A. Biar saja dia berpikir dua kali jika datang mengganggu aktivitas kehidupannya lagi. Hadapi saja adikku yang manja dan pemalas itu, batinnya. Cantik tak selamanya pintar, jelek tak selamanya bodoh. Kan ada kan pepatah seperti itu ?
"Ibu Daniar ?" Sebuah sapaan hinggap di telinga Daniar. Wanita itu menghentikan pergerakannya saat hendak masuk ke mobilnya.
"Maaf ?" Tanyanya sambil berdiri mensejajari tinggi lelaki di depannya.
"Alexandre. Temannya Fajri ? Kita bertemu saat pernikahan mereka ?" Tanyanya dengan tersenyum lebar.
"Ah, ya. Yang datang belakangan seusai pestanya ? Assalamualaikum ada perlu apa ya ?" Tanya Daniar menatap tajam.
"Walaikum salam. Saya senang bertemu lagi. Tinggal disini ?'" Tanyanya.
"Iya. Saya mengajar di universitas xx?" Jawabnya ringan.
"Wah baguslah. Kita akan sering bertemu. Dan ini bagus. "Kata Alexandre antusias. Padahal Lelaki itu lah yang mengatur tentang surat panggilan kerja. Lelaki itu tertarik pada Daniar saat pertama kali bertemu di acara pernikahan Fajri. Dia sungguh tidak mengetahui jika dia mantan tunangannya. Sungguh ironis dia memilih adiknya yang bertolak belakang dengan saudara perempuannya.
Semenjak kejadian itu Alexandre sering bertemu dengan Daniar. Selain membahas pekerjaan mereka sering bertemu di Gasebo kampus dan ada beberapa mahasiswa yang menemani ngobrol jadi dia menghargai prinsip wanita itu.
"Jika ada lelaki yang mau menikahi kamu. Apakah kamu bersedia ?" Alexandre bertanya saat mereka berdua duduk di gazebo di halaman kampus.
"Siapapun saya bersedia yang penting seiman. Juga bertanggung jawab juga mapan. Masalah lainnya insyaallah dapat saling melengkapi." Jawab Daniar dengan duduk membaca buku novel favoritnya.
"Kalau begitu kamu mau jadi istri saya ?" Alexandre menatapnya dan memberikan cincin berlian di dalam kotak. Daniar terperangah melihat ekspresi Alexandre yang menatapnya lekat.
"Kamu pernah bilang tidak mau pacaran atau tunangan. Jadi aku lamar langsung mau kan ?" Alexandre masih menatap menunggu jawabannya. Daniar mengangguk perlahan. "Saya bersedia." Baginya sudah cukup mengetahui Alexandre wakil rektor saja, dan dan tidak ada cela, single juga hidup sendirian bersama adiknya. Mereka pun menikah hanya dihadiri ibunya karena ayahnya sudah meninggal tak lama setelah pernikahan adiknya, Ayahnya masih tidak percaya jika putrinya berani menikung kakaknya yang selalu mengalah padanya. "Ibu menetap saja sama aku di sini. Biarkan dia mandiri bersama Fajri. Dia sudah dewasa tak perlu susah-susah ibu membantu nya." Daniar bermanja-manja di pangkuannya setelah prosesi pernikahannya. Yang masih berpakaian pengantin.
"Ibu boleh tinggal di sini, kalau ibu sungkan ibu boleh bekerja seperti di tempat ibu. Berjualan kuliner. Nanti saya carikan tempat berjualan dengan seorang tenaga harian lepas buat bantu ibu. Uangnya buat simpanan ibu." Sahut Alexandre di depan pintu kamar, tersenyum melihat tingkah istrinya. Sang ibu hanya tersenyum menatapnya dan mengangguk. Daniar benar sudah waktunya dia melepaskan diri dari keterlibatan dalam kehidupan putri bungsunya yang manja.
Sang adik dan Fajri terkejut mengetahui jika Daniar menikahi Alexandre yang notabene juga seorang pengusaha, rumahnya mewah terlihat dari foto-foto yang dikirimkan ibunya via WA. Dan itu membuat iri adiknya berbeda dengan Fajri dia kecewa karena istrinya manja dan kekanakan. Ibunya selalu menyindirnya jika mereka berkunjung. Mau dikata apa masa lalu ya hanya masa lalu tidak dapat di ulang lagi.