Suatu hari di Indonesia, terjadi pengesahan sebuah undang-undang. Undang-undang ini tidak diterima oleh masyarakat karena beberapa pasalnya. Banyak orang yang kemudian melakukan peretasan pada akun-akun milik negara, men-DM seorang anggota DPR yang dibenci, dan para mahasiswa melakukan aksi demo besar-besaran.
Aksi demo ini bahkan menjadi berita di beberapa negara. Negara yang menayangkan demo di Indonesia ini diantaranya Jepang, Korea Selatan, USA, Qatar, dll. Demo ini terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia.
Salah satu daerah yang melakukan aksi demo yakni Palembang. Pada hari setelah disahkannya undang-undang yang tidak dapat diterima masyarakat itu, mahasiswa di Palembang melakukan aksi demo.
Di sana terlihat banyak mahasiswa dan mahasiswi yang siap untuk turun ke jalan. Mereka turun ke jalan dengan penuh percaya diri untuk mengaspirasikan keinginan masyarakat.
Di saat para mahasiswa sedang berteriak teriak mengajukan keinginannya sebagai masyarakat, tiba-tiba mereka dilempar dengan gas air mata.
Seorang mahasiswa laki-laki bernama Reno lari menjauh dari gas air mata tersebut. Tapi, saat sedang berlari ia melihat seorang mahasiswa yang terkena gas air mata dan ditinggalkan oleh teman-temannya. Sang mahasiswa bernama Sani.
Reno menghampiri Sani yang sedang jongkok sambil menutup mukanya dengan tangan, menahan rasa perih akibat terkena gas air mata.
"Kamu ngga papa?" tanya Reno.
Sani hanya membalas dengan gelengan kepala pada Reno, ia tak sanggup lagi untuk bicara.
"Ayo ikut aku aja" kata Reno lalu memapah Sani dan mereka berjalan menjauh dari tempat pelemparan gas air mata tadi.
Saat sudah cukup jauh Reno pun mengeluarkan air minum miliknya lalu mengelap wajah Sani dengan air minum miliknya. Reno mengelap dengan penuh perhatian. Setelah selesai, Reno kemudian mengelap wajah Sani menggunakan tisu.
"Masih perih?" tanya Reno.
"Udah nggak terlalu kok" kata Sani.
"Kamu kok bisa kepisah dari temen kamu?" tanya Reno.
"Aku tadi pas lari tiba-tiba kena gas air mata jadi ya aku berenti dan temen aku masih pada lari semua" kata Sani.
"Ya udah kita di sini aja dulu" kata Reno.
"Iya" jawab Sani.
"Kamu mau aku beliin sesuatu?" tanya Reno.
"Eh ngga usah, nanti aku nggak ada temen lagi dong.
"Owh ya udah aku di sini aja" kata Reno sambil tersenyum.
"Iya" jawab Sani.
Mereka pun duduk bersama sambil istirahat. Saat Sani sedang memandangi pendemo lain, diam-diam Reno memperhatikan Sani.
"Emm aku boleh minta username Ig nya?" tanya Reno.
"Owh boleh" jawab Sani.
"Ini" Sani memberikan sebuah kertas yang sudah ditulis username Instagram miliknya.
"Iya makasih" kata Reno.
"Aku boleh minta tolong ngga?" tanya Sani.
"Iya" kata Reno.
"Aku mau ke toilet, aku nitip ini ya" Sani memberikan buku miliknya kepada Reno.
"Oh iya, tar balik sini lagi ya" kata Reno sambil menerima buku dari Sani.
"Iya" kata Sani.
Sebenarnya Reno takut terjadi apa-apa pada Sani, tapi kalau dia bilang mau menemani Sani takut tidak sopan.
"Weh bro lari ada polisi!!!" kata temen Reno yang lewat.
Reno pun spontan langsung ikut lari bersama teman-temannya. Walaupun mereka tidak salah, tapi ada polisi yang ****** (tahu sendiri lah ya). Reno berlari meninggalkan tempatnya tadi bersama Sani.
Sani kembali dari toilet, melihat tidak ada Reno di sana.
"Loh kok orangnya ilang, haduh buku gua gimana dong?" Sani memegang kepalanya frustasi.
"Tunggu bentar kali ya" kata Sani.
Sani menunggu hampir setengah jam, tapi Reno tak kunjung datang. Hingga demo akan berakhir.
"We San ayo pulang" kata teman Sani yang baru datang.
"Eh iya, iya ayo" Sani akhirnya pulang dengan temannya dan mengikhlaskan bukunya.
Disisi lain Reno baru ingat bahwa ia membawa buku Sani.
"Weh ini buku siapa lu bawa" kata teman Reno.
"Eh iya gua lupa kebawa, haduh gimana dong" kata Reno frustasi.
"Emang buku siapa? kok buku farmasi. Lu mau jadi tukang obat" kata teman Reno.
"Ini ngga tau buku pendemo tadi kebawa" kata Reno.
"Ya udahlah ntar aja" gumam Reno.
Aksi demo selesai sudah, Reno dan teman-temannya pulang. Reno membawa buku milik Sani.
Sampai di rumah, setelah mandi dan makan. Reno membuka kembali tas yang ia bawa saat demo. Ia melihat sebuah kertas yang Sani berikan. Disana tertulis sebuah username Instagram milik Sani.
Reno pun men-DM Sani.
"Halo, aku yang tadi ikut demo" Reno.
"Oh hi, buku aku masih di kamu?" Sani.
"Iya buku kamu masih di aku. Mau aku anterin atau gimana?" Reno.
"Nggak usah, kita ketemuan aja bisa nggak?" Sani.
"Oh bisa bisa, kapan?" Reno.
"Besok bisa?" Sani.
"Bisa, jam berapa?" Reno.
"Jam 10 pagi gimana?" Sani.
"Iya bisa, dimana?" Reno
"Nanti aku kirim tempatnya" Sani.
"Iya" Reno.
"Udah dulu ya aku mau tidur" Sani.
"Iya" Reno.
Keesokan harinya seperti yang telah dijanjikan Sani mengirim nama sebuah cafe beserta alamatnya pada Reno. Reno dan Sani pun bertemu di cafe itu.
Setelah memberikan buku milik Sani. Reno meminta nomor telepon Sani.
"Eh Sani aku boleh minta nomor teleponnya nggak?" tanya Reno.
"Boleh.... nih" Sani memberikan nomor teleponnya dan dicacat oleh Reno.
Di sana akhirnya mereka bertukar nomor telepon. Setelah acara tukar-menukar nomor mereka pulang. Reno mengantar Sani pulang, karena tadi Sani naik grab berangkatnya.
Setelah beberapa minggu mereka berdua berkomunikasi lewat ponsel. Mereka akhirnya pacaran karena adanya kecocokan satu sama lain.
Mereka berpacaran selama kurang-lebih 2 tahun, hingga mereka sama-sama sudah lulus kuliah dan sudah bekerja. Pekerjaan mereka terbilang cukup baik. Akhirnya Reno melamar Sani dan Sani beserta keluarganya menerima Reno dengan baik.
Reno dan Sani pun menikah dan menikah lalu memiliki keluarga kecil yang bahagia.
~Semoga yang ikut demo kemaren ada yang kayak gini ya~
~Stay safe buat kalian semua~
~Jangan lupa mampir ke novelku ya~
- Myself In Your Body"
- Dicintai Oleh Seorang Idol-