"Haish... Kenapa hidupku begitu hampa. Aku juga ingin mempunyai pacar".
Namaku Klara. Aku adalah wanita pekerja kantoran biasa yang masih singgel di usia yang sudah 25 tahun.
Teman-teman sialan mereka memamerkan kebahagiaan mereka di depanku. Ada yang baru dilamar ada yang sudah pacaran ada yang sudah menikah.
"AAA~ AKU JUGA PENGEN SEPERTI MEREKA !"
Aku tidak tahu kapan jodoh yang ditakdirkan buatku muncul. Tapi yang jelas aku ingin jodohku segera muncul di depanku.
"Hey nak~ apakah kau ingin jodohmu cepat muncul ?"
Aku melihat ada nenek tua dengan bola naga berwarna biru. Yah... bisa ditebak kalau nenek itu adakah seorang peramal. Tapi... ada yang aneh dengan nenek ini.
"Hey nek apakah nenek tidak tahu ini jam berapa ? Ini sudah jam sebelas malam nek~ kenapa nenek masih berada dipinggir jalan ?"
Kalau masih sore sih tidak masalah, tapi kenapa tengah malam begini masih ada seorang peramal ? Ini membuatku jadi bingung dengan sikap nenek ini.
"Hoho.. Cu~ nenek tahu kamu ingin segera mendapatkan pacar kan ?"
"Aku bukan cucumu nek~ Tapi memang sih aku ingin segera dapat pacar".
Nenek itu lalu mulai mengelus ngelus bola naganya dengan kedua telapak tangannya itu. Dia samar samar membacakan mantra yang aneh. Aku tidak tahu mantra apa itu. Jika dituliskan maka mantranya akan terdengar seperti ini.
°¢°✓%===€#&:*--(
Sama aku juga tidak mengerti ataupun paham apa yang diucapkan nenek itu.
"Hoho~ Cu~ meskipun takdirmu memang sangat menyedihkan seperti kaleng penyok, tapi percayalah. Besok semua itu akan berubah menjadi takdir yang tidak pernah kau lupakan. Dan besok juga kamu akan bertemu dengan cinta sejatimu".
"Apa maksudmu nek ?" Aku tidak tahu apa yang dimaksud nenek ini tentang takdir.
"Hehe... kamu tunggu saja besok Cu~ Ngomong-ngomong apakah orang yang disana itu ayahmu ?"
"Apa ayah ?"
Aku langsung menengok ke arah yang ditunjuk oleh nenek ini. Tapi saat ku tengok tidak ada siapa-siapa disana.
Saat aku sadar nenek ini membohongiku aku langsung menengok ke arah nenek ini. "Kemana nenek tadi pergi ?" Seperti pada umumnya orang misterius pasti akan hilang begitu saja.
Tapi ya sudahlah katanya mulai besok takdirku akan berubah. Akan ku nantikan itu.
Besoknya karena ini akhir pekan aku jadi tidak usah bekerja. Hari ini aku jalan-jalan sambil menikmati suasana kota yang cukup ramai.
"Hari ini kemana ya enaknya ?"
Tiba-tiba aku jadi teringat kalau akan ada karnaval di alun-alun kota. Tapi letaknya cukup jauh kalau harus jalan kaki dari sini.
"Bodoh amat nonton karnaval aja deh. Lagian aku juga tidak tahu harus ngapain lagi".
Aku lalu berjalan untuk menuju ke tempat karnaval itu berlangsung. Berjalan dan terus berjalan. Ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai sana.
"Duh... Gila~ kenapa jauh banget sih ?"
Aku melihat ada mesin minuman dipinggir jalan. Karena ku haus, aku lalu mendekat ke mesin itu.
"Pilih mana nih ? Pocariswet ?"
Aku lalu mengeluarkan uangku dari saku, tapi saat ingin ku masukkan tiba-tiba entah kenapa uangku terjatuh dan menggelinding ke dalam mesin itu.
Aku lalu mencoba meraihnya tapi tidak bisa karena tanganku yang pendek.
"Mau ku bantu ?"
'Huh ? Suara siapa itu ?' Aku menengok ke belakang. Dan saat ku lihat. Aku langsung terkejut dengan orang yang ada di belakangku.
'Sialan aku ternyata terlalu berharap' pikirku.
Orang dibelkangku adalah seorang pria paruh baya yang sedang bertugas menyapu dipinggir jalan.
"Ah, tidak apa-apa pak. Saya bisa sendiri kok".
Aku mulai berjuang sekuat tenaga untuk mengambil uangku yang jatuh. 'Ayo ayo sedikit lagi'. Tanganku mulai sedikit demi sedikit mendekat ke uangku yang jatuh ini.
'Dapat !'
Akhirnya aku mendapatkan uangku ini. Aku lalu segera memasukkannya ke mesinnya dan memencet pocariswet.
"AH ! SEGARNYA !"
aku lalu mulai melanjutkan perjalananku untuk menonton karnaval. Saat sampai ditempat sana, aku mulai melihat dan merasakan keramaian orang serta karnaval yang sedang berlangsung.
Berbagai macam tarian dan budaya terlihat oleh mataku di karnaval itu. Ini sungguh memanjakan mataku. Iringan musik yang menyertai membuat suasana semakin meriah.
Aku mulai menjinjit jinjit untuk menonton karnavalnya. Tapi tidak sengaja ada orang yang menyenggol ku sehingga membuatku terjatuh.
"Akh !"
"Hati-hati !"
Seperti pangeran yang menangkap dan menolong sang putri. Aku merasakan kalau tubuhku tidak sakit dan malahan terasa di rangkul oleh tangan orang. Perlahan kubuka mataku. Terlihat seorang pria yang menolongku.
Aku terpesona dengan ketampanannya yang terlihat jelas didepan mataku. Matanya yang indah dan jernih membuatku tenggelam dalam sesaat. Wajah kami saling berdekatan hingga membuat suasana sedikit canggung.
"Apa kau baik-baik saja ?" tanya pria yang menolongku. Seperti menunjukkan wajah yang khawatir. Dia bertanya dengan nada yang mencemaskan orang.
"Ah... Aku tidak apa-apa" Aku mulai berdiri kembali sambil memalingkan wajahku darinya. Saat ini aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahku saat dilihatnya. Ini sungguh memalukan.
"Apakah kau kesini juga ingin menonton karnaval ?"
Aku mulai melihat ke arah wajah pria di sampingku. "Umh !" jawabku.sambik mengangguk.
"Apa kau ingin ikut denganku ? Aku tahu tempat yang nyaman untuk menonton karnaval".
Kami lalu pergi kesebuah tempat yang dimaksud oleh pria yang menggandengku ini. Saat sampai di sana aku tidak menyangka kalau ku bisa melihat semuanya dari sini.
"Wow... ini sangat menakjubkan melihat dari sini !" Aku merasa senang dan bahagia saat ini.
Menakjubkan fantastis itulah yang terpikir olehku. Kesenangan yang belum pernah aku rasakan ini bisa aku rasakan sekarang. Apakah pria ini yang di katakan nenek waktu itu ?
Kami menonton karnaval cukup lama sampai tidak terasa bahwa hari sudah mulai sore. Beberapa orang mulai pergi begitu juga dengan kami berdua.
Kami berdua istirahat sebentar di toko serba yang dekat dengan lokasi kami berdiri tadi.
"Oh ya, ngomong-ngomong aku belum memperkenalkan diriku. Perkenalkan namaku Ash".
Seperti bunga tulip yang indah dan elegan dia memperkenalkan dirinya dengan sopan kepadaku.
""Ah namaku Klara".
Saat aku sebutkan namaku entah kenapa dia langsung berlutut sambil memegang kedua tanganku.
'Apakah dia akan menembak ku ? Tapi bukankah ini terlalu mendadak'. Aku malu wajahku sedikit merah saat dia memegang tanganku.
"Klara maukah kamu menjadi pacar palsuku ?"
"Apa ?"
"Ya pacar palsu. Apakah kamu mau ?"
Aku kira dia akan menembak ku dan menjadi pacarnya. Tidak tahunya dia ingin aku menjadi pacar palsunya.
Ternyata takdir tidak bisa dipercaya. Mulai sekarang aku tidak akan percaya dengan takdir.