Saat itu bel tanda pulang sekolah telah berbunyi, tepatnya pukul 12.00 WIB. semua murid mulai meninggalkan kelas dengan hati yang penuh kegembiraan, namun tidak denganku. ketika aku harus pulang menapaki jalanan yang tak kusukai.
"ka Tio..." teriak ku pada seorang lelaki yang lebih tua dariku, dia adalah teman baik sepupuku.
dengan sedikit tersenyum dia menghampiriku "Dev tadi Raka bilang padaku, dia pulang duluan katanya mau daftar untuk bimbel"
aku hanya mengangguk setelah itu ka Tio mulai menghilang dari pandanganku.
ini sangat menyebalkan, harus pulang berjalan kaki sendirian adalah hal yang menakutkan bagiku. maklum saja anak kelas 5 SD yang jarak rumahnya lumayan jauh harus berjalan sendirian melewati jalanan yang lumayan sepi dan melewati pemakanan umum yang luar biasa besarnya.
"Dimas, aku pulang duluan ya. nanti kabari saja kalau mau kerumahku," ucapku pada Dimas teman dekatku yang sedari tadi mematung di dekatku dan mendengarkan semua percakapnku dengan ka Tio.
setelah itu aku mulai berjalan perlahan tanpa melihat sekitar, dapat kurasakan ada beberapa orang yang melewatiku mungkin mereka teman satu sekolahku
dalam hati aku sedikit berbicara 'jika nanti bang Raka sudah masuk SMP, mungkin aku akan pulang sendiri seperti ini setiap hari nya'
tak terasa aku sudah sampai di persimpangan jalan, arah ke rumahku ini ke sebelah kiri sedangkan kebanyakan orang berjalan ke arah kanan, dengan kuat hati aku mulai berjalan perlahan sembari menendang kerikil yang ada di hadapanku.
"kalau kamu merasa takut, lari sekencang mungkin" bang raka pernah berkata seperti itu kepadaku ketika kami melihat ada 2 ekor anjing yang ada tak jauh dari tempat kita berjalan.
ketika aku mulai memasuki area pemakaman umum, rasa takut dan hal lain bercampur aduk, kupegang erat tas gendongku, lalu nafas yang mulai tak beraturan ini kutarik sedalam mungkin dan.....
"mamahhh......." teriakanku menggelegar saat itu, dengan larian yang lumayan kencang membuat dedaunan yang ada di samping jalan mulai bergoyang.
aku mulai merasa lelah dan tak kuat untuk berlari lagi, saat itu sudah terlihat rumah dan pemukiman sehingga membuatku berjalan agak pelan.
sesampainya dirumah, aku hanya melakukan hal sewajarnya anak kelas 5 sd lakukan. tanpa mengingat kejadian sepulang sekolah tadi.
****
Setiap harinya aku mulai berani untuk pulang sendiri, karena bang raka ini sudah mulai sibuk menyiapkan ujian nasionalnya.
hari itu adalah tahun ajaran baru, aku menginjak kelas 6 sd. aku sudah mulai terbiasa untuk pulang sendiri, tapi hari itu kulihat ada seorang anak perempuan yang menyebrangi persimpangan jalan menuju arah rumahku.
tak disangka, selesainya ia menyebrang hujan yang lumayan lah untuk membasahi baju seragam itu turun tiba-tiba.
gadis itu berteduh di sampingku, aku baru melihatnya. Ia cantik, dengan rambut yang diikat dua dan tas selempang berwarna merah muda sangat memancing perhatianku.
dengan sangat berani, aku mulai membuka percakapan ditengah hujan yang gemercik ini. kebetulan saat itu hanya ada kami berdua yang berteduh di sebuah gubuk kecil yang dulunya adalah sebuah warung.
wajar saja jalan menuju rumahku sepi, karena letak sekolahku dan rumahku beda Desa, jadi untuk menuju rumah aku harus melewati perbatasan Desa seperti pemakaman besar itu. dan jarang sekali orang yang bersekolah ke Desa sebelah karena terlalu jauh. padahal untuk ke pusat kota jarak rumahku lebih dekat, tapi aku memilih sekolah di desa sebelah karena katanya turun temurun dari Omah dan Ayah yang dulunya sekolah disana.
"hai aku baru melihatmu, baru pindah rumah ya?"
tanyaku pada gadis itu yang mulai terlihat pucat karena cuaca yang lumayan dingin
"iya, baru pindah" jawabnya singkat
"kenalin, namaku Davian. kamu bisa panggil Dev biar gampang hehe..." kuulurkan tanganku dengan senyuman yang mulai merekah.
dia menjabat tanganku, dingin rasanya. mungkin karena hujan "namaku Delfi, panggil aku Ifi" ia tersenyum tipis.
sejak saat itu aku berharap kita akan berteman baik, walaupun kami dari sekolah yang berbeda tapi kami bisa bertemu setiap sepulang sekolah di persimpangan jalan, dan pulang bersama menuju rumah.
***
"hai ifi, tumben pulangnya agak telat" ucapku ketika delfi menyebrangi jalanan dan saat ini ada tepat disampingku
"ada latihan untuk ujian dulu" ucapknya singkat
sudah seminggu ini kita selalu pulang bersama, walaupun baru kenal tapi ia sangat asyik sekali untuk diajak bercanda.
dengan mukanya yang pucat, mungkin ia tak bermolek karena anak SD mana yang menggunakan pemerah bibir seperti Ka Caca saudara perempuanku.
"mau mampir kerumahku dulu Fi?" ketika aku sudah berada tepat di depan gerbang rumahku dengan percaya diri kutawarkan ifi untuk berkunjung
"engga dev, aku banyak tugas" lagi lagi senyum tipisnya terlihat, ia lalu berjalan menjauh dibalik belokan yang ada dekat rumahku.
aku penasaran ia tinggal dimana, dan dia sekolah dimana, tapi ia tak pernah menceritaknnya. dia hanya bercerita kesehariannya yang sangat mengasyikan itu, dia sangat mengagumkan bagiku.
***
seperti biasa, di pertigaan menuju rumahku. aku berdiri sembari menendang kerikil kecil, menunggu si gadis manis untuk pulang bersama.
ini hari ke 10 aku mengenalnya, aku merasa senang karena aku tak pulang sendiri. lebih tepatnya aku senang karena ada dia hehe.
setelah setengah jam aku menunggu, ia tak nampak juga. aku mulai duduk di gubuk kecil tempat pertama kali aku mengenal gadis manis itu.
"kemana ya dia, apa aku pulang duluan aja?" tanyaku pada diriku sendiri.
tanpa menjawabnya lagi, aku mulai terdiam dan menunggu nya.
1 jam sudah aku menunggu, dia tak datang. aku memutuskan untuk pulang, dengan hati yang lumayan kecewa karena hari ini tak dapat melihatnya.
setiap pagi tak bisa menjumpainya, kesempatan hanya ada saat pulang sekolah. tapi hari ini tidak.
***
Sudah 1 minggu aku pulang sendiri, dia tak terlihat lagi. aku mencoba untuk mencari rumahnya, takut saja bila dia sedang sakit jadi aku tak bisa menemuinya sepulang sekolah. ya mungkin dia terlalu sibuk jadi dia pulang larut, tapi itu lebih baik daripada kudengar kabar buruk.
"pak, disini ada warga yang baru pindah?" tanyaku pada seorang satpam yang sedang duduk di pos kamling
"ada dek, 3 minggu yang lalu tapi. kalau hari ini tidak ada" ucapan pak satpam itu membuatku sedikit gembira, karena tepat sekali aku bertemu delfi 3 minggu yang lalu
"boleh minta anter ke rumahnya pak?" tanyaku dengan sangat antusias
"boleh dek, tapi mau apa?" satpam itu kembali bertanya
"antar saja pak, saya ada perlu"
satpam itu melihatku dengan tatapan bingung, wajar saja anak dengan seragam sekolah dasar sepertiku berkata seperti itu ya membuatnya heran mungkin.
sesampainya didepan rumah yangditunjukan satpam itu, aku memencet bel nya.
tak lama keluar seorang perempuan dengan jilbab warna hitam, kulihat wajahnya persis seperti Delfi. hidungnya yang kecil, pipinya yang sedikit cabi dan matanya yang indah. dia persis seperti Delfi tapi versi besar, aku yakin dia ibunya.
"ada apa ya dek?"
setelah dibukakan gerbang, ia bertanya kepadaku. wajahnya terlihat pucat dan lesu persis seperti Delfi
kuraih tangannya, lalu kucium dengan keningku tanda bahwa aku sangat menghormatinya
"saya Davian, saya teman nya Delfi dari blok sebelah tante"
terlihat wajahnya yang sedikit tercengang setelah mendengar ucapanku, mungkin diusia kami sekarang sangat mengagetkan jika berteman terlalu dekat sampaienyusul ke rumahnya seperti yang aku lakukan ini
"ayo masuk dulu nak, kita bicara didalam"
ajaknya padaku, aku langsung mengikutinya dan duduk tepat di kursi ruang tamu yang menghadap ke foto besar yang menggantung di dinding
'ada Delfi di foto itu, dia sangat cantik' lirihku dalam hati
"Delfi nya ada tante?" tanyaku memastikan, tapi saat itu ekspresi wajah ibu delfi sangat tercengang mendengar ucapanku
dia langsung duduk disampingku dan memegang pundakku
"kamu bukan teman sekolahnya Delfi kan? seragammu beda, kamu kenal dimana?" saat itu nada nya begitu serius terdengar di telingaku
"hmm saya kenal 3 minggu lalu saat Delfi pindah kemari, kami kenal ketika pulang sekolah tante. kami sering pulang bersama" ucapku terbata bata
setelah mendengar ucapanku, dia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia tersedu dan menangis didepanku, aku yang kebingungan dan hanya terdiam melihatnya menangis
"ada apa?" seorang lelaki dengan tubuh yang kekar menghampiriku
"dia masih mengikuti kita mas, dia masih ada" ucap ibu delfi pada suaminya sambil sedikit terisak
"kamu bilang apa? mana ada, kita sudah disini jangan mengada ngada" ucap laki laki itu lantang
aku hanya terdiam, aku bingung apa yang sedang mereka bicarakan
tanpa berkata sedikitpun kepadaku, mereka pergi ke ruang sebelah entah membicarakan apa, aku hanya terdiam dan masih memandangi wajah Delfi yang manis di foto yang ada didinding itu
"nak lebih baik kamu pulang, delfi tidak ada disini" tiba tiba lelaki kekar tadi menghampiriku dan duduk disampingku
"memangnya delfi kemana om? sudah seminggu juga aku tak melihat delfi, biasanya kami selalu pulang bersama" ucapku lantang
"dengar nak, Delfi sudah meninggal 2 bulan yang lalu. kami mengalami kecelakaan parah ketika berlibur dan Delfi tak terselamatkan. teman satu sekolahnya sudah tau malah menjenguknya kerumah kami yang dulu, makanya ibu delfi tadi sedikit kaget mendengar perkataanmu"
aku sangat kaget mendengar ucapannya, aku hanya terdiam dan terus mendengarkannya menjelaskan
"setelah satu minggu delfi tiada, ibunya selalu merasa bahwa dia belum pergi meninggalkan kami, ibunya selalu menangis dan seakan akan Delfi masih ada, jadi kami memutuskan untuk pindah ke rumah ini. jadi mungkin yang kamu temui selama ini bukan Delfi, dia sudah tidak ada nak. pulanglah"
tepukan dipundakku saat itu membuyarkan lamunanku, tanpa ada kata apapun aku langsung pulang saat itu, karena ucapannya saat itu sangat mengejutkan.
siapa yang selama ini kutemui dan kuajak bicara sepulang sekolah? siapa yang kukagumi senyum manisnya selama ini?
selama perjalanan ke rumahku yang lumayan singkat aku masih memikirkan hal itu
***
setelah hari itu, hari dimana aku mendatangi rumah Delfi. seperti biasa aku pulang berjalan kaki sendiri, tak ada siapapun. aku berjalan dengan kepalaku yang tertunduk, merasa belum menerima bahwa gadis manis itu tak nyata.
ada rasa kesal dan sedih, kenapa dia ada hanya sementara dan kenapa dia tak nyata.
ketika tepat memasuki pemakaman umum, bulu kuduk ku berdiri tak seperti biasanya.
aku mulai mempercepat langkah kakiku, nafasku mulai terengah. aku mulai berlali, tapi seperti ada seseorang yang itu berlari dibelakangku.
"hhsssshh.....hhshhh....hhhsssshh...." aku berhenti sejenak, kupegang lututku yang sudah mulai tak kuat.
kutengokkan kepalaku ke belakang, tak ada siapapun. tak ada yang mengikutiku
"Delfiii jika itu kauu jangan menakutikuu.. mari berteman tapi jangan menggangguku...." teriakku saat itu yang hanya mendapat balasan angin yang meniup dedaunan.
dirasa tenagaku mulai terkumpul, aku mulai berlari lagi. dan mulai terlihat rumah rumah yang berbaris itu
"kalau pulang jangan lari dek, nanti jatuh"
ucap kakak perempuanku saat itu, ketika melihat aku yang terengah engah dan bercucuran keringat
"aku takut ka, tadi pulang sendiri" ucapku sembari meneguk air putih
"memang setiap hari begitu kan" celetuk kakaku yang berlalu melewatiku
aku hanya terdiam, ingin membantah ucapannya bahwa beberapa hari yang lalu aku tak pulang sendirian, aku bersama orang lain.
****
ini sudah 1 bulan sejak aku tau bahwa perempuan itu hanya ilusi, tapi setiap harinya aku merasa bahwa ada yang mengikutiku sepulangs sekolah.
aku selalu berlari, menghindari rasa takut itu. rasa takut yang entah apa yang bisa membuatnya seperti itu, setiap hari aku merasa takut.
"hhsshhh....hssshhhhh....hhhssshhh...." lagi lagi aku berlari, aku takut. seperti ada yang mengejarku.
aku dapat tidur lelap setelahnya tapi ketika terbangun aku merasa ketakutan itu muncul lagi, aku akan melewati jalan itu dipagi hari dengan berlari dan sepulang sekolah aku akan merasakan hal itu lagi
"nak, ayo bangun nanti telat kesekolah," ucap ibuku saat itu membangunkanku
"dev izin gak sekolah ya mah, dev gak enak badan" kutarik lagi selimut menutupi seluruh badanku
"yaudah, kalo gitu nanti sarapan kebawah yah. mamah berangkat kerja dulu" ia berlalu meninggalkan kamarku dengan kecupan dikeningku
rasa takut itu kini mulai mendatangiku setiap saat, bukan hanya diperjalanan sepulang sekolah. tapi setiap harinya aku dihantui rasa takut.
entah itu apa, yang jelas aku merasa ini menakutkan.
ketika ada bayangan hitam yang mengejarku, aku menjerit dalam hati, kupejamkan mataku, aku hanya bisa diam
***
tepat 2 bulan setelah hari itu, keadaanku semakin buruk. setiap hari aku diantar oleh ibuku ke sekolah, aku sudah menceritakan semuanya pada ibuku.
"baik hari ini pembelajaran akan sampai sore, karena akan dilaksanakan persiapan untuk ujian"
ketika tubuhku mulai lelah, kata kata yang sangat menyebalkan keluar dari mulut seorang pemberi ilmu itu
waktu berjalan begitu saja, dengan soal soal yang dipertontonkan diatas papan tulis dan hanya mendapat kedipan mata dariku, tanda bahwa aku mengerti dan aku tak ingin melakukan apapun selain diam.
"iihhh apaaa ituu ada darahhh" terika temanku sembari menunjuk kebawah kursi salah satu perempuan dikelasku
"ada darahhh pakk... darahhh..." seketika semua orang merasa panik ketika ada darah yang menggenang dibawah kursi salah satu teman kami
"tenang saja itu hanya darah menstruasi, anak lelaki semuanya keluarr. anak perempuan bantu untuk membersihkan" ucap si pemberi ilmu alias guruku saat itu
aku berjalan keluar setelah melihat genangan darah yang sangat banyak itu, aku duduk disalah satu kursi dekat kelas dan aku hanya terdiam
itu sangat menakutkan bagiku, aku baru melihatnya. rasa takutku bertambah kali ini.
***
seperti biasa, kali ini aku berlari begitu cepat. dia mengejarku begitu cermat. aku tak tau itu apa dan siapa, aku hanya ingin berlari
jika itu dirimu, jangan takuti aku. jika bukan tetap saja jangan takuti aku.
karena ibuku mulai resah dengan semua yang kukeluhkan, ia membawaku ke salah satu psikolog terkenal di daerahku. saat itu aku merasa bahwa apapun yang ibuku lakukan yang penting aku tak merasa takut lagi
"nama kamu siapa nak?" tanya seorang perempuan cantik memakai jas berwarna putih yang duduk tepat didepanku
"namaku, davian" jawabku
semua yang ia tanyakan padaku sudah kujawab semua, sampai ibuku masuk keruangan dan menggenggam tanganku
"sudah selesai?" tanya ibuku
"sudah, mungkin minggu depan Dev bisa kemari dan bercerita lagi"
senyumnya mengingatkanku pada seseorang, dia pescis seperti gadis itu.
***
keadaanku semakin memburuk, itu kada ibuku. padahal apa yang kurasakan saat ini hanya 'aku ingin diam'
aku merasa sangat takut ketika aku sendiri, kadang aku tertawa ketika sedang duduk sendiri lalu setahnya menangis kencang.
atau aku berlari sekencang mungkin lalu terduduk dan menangis, aku hanya ingin diam agar tak ada seorangpun yang mengikutiku.
aku ingin diam.
jangan ikuti aku, entah siapa dan apa yang ada dibelakangku sehingga membuatku merasa sangat takut.
tolong pergi.