Semua benda-benda yang ada di dalam kamar berterbangan di udara dan seperti terkena angin topan semuanya berantakan hancur porak-poranda. Jika ada orang di dekatnya pasti akan tergidik ngeri banget karena keadaan rumah itu sepi tanpa berpenghuni. Jauh di depannya di pos satpam seorang lelaki menunggui seseorang dan munculah seorang wanita dengan motor matic nya mendekati lelaki itu. "Maaf Pak. Terlambat ! Saya memerlukan bantuan dari Anda sekarang. Maaf sudah merepotkan Anda, sekali lagi terimakasih." Katanya sambil mengulurkan tangannya. Lelaki itu menyalaminya. Tinggalkan barang disini saja mbak. Besuk pagi saya bantu. Ini kuncinya, kamar kedua sebelah kanan setelah anak tangga." Kata lelaki itu. " Baiklah terima kasih atas pertolongannya." Clarissa menjabat tangannya penuh hormat. "Kalau begitu saya mohon permisi karena saya harus kembali ke rumah, ada keperluan mendesak." Kata lelaki itu. Clarissa membawa kardus berisi buku dan tugasnya dan satu travel bag kemudian mengendarai sepeda motornya mendekati gedungnya. Karena itu adalah rumah mewah dia memakirkan motor matic miliknya di samping pintu masuk utama. Maafkan aku jika lancang, aku terpaksa karena Tante ku sudah tidak mau menampung aku. Rumah ayahku entah kenapa menjadi berubah nama tante. Maafkan aku tidak sopan parkir sembarangan. Batinnya tak lama kemudian dia membuka pintunya. Karena dari SMS masuk berkata pintu masuk tidak dikunci hanya gerbang pagar saja. Katanya hari ini Pak Karyo ada keperluan jadi tidak berjaga. Dan pintu memang tidak pernah dikunci agar Pak Karyo bebas masuk untuk mengambil keperluan, seperti kopi dan Snack atau makan. Katanya dari pintu masuk jika melangkah ke kiri menuju ke arah pantry dan tembus pandang ke taman. Dan ke kanan menuju ruang tamu dan ke kolam renangnya. Gadis itu mengikuti keterangan yang di SMS masuk, dia hanya mengikuti saja instruksi itu. Benar adanya rumah ini mewah benar-benar tidak bisa betah. Harga sewanya bersahabat dengan kantong. Tanpa disadari gadis itu diikuti oleh xsosok lelaki kasat mata. Semoga aku bisa betah di sini, gumamnya lirih. Dia pun mengangkat barang miliknya dan masuk ke dalam ruang kamar. Wow indahnya, diapun tiduran di kasurnya empuk. Dia mengunci pintu kamar kemudian menata buku-bukunya serta merapikan ruang itu. Membuka balkon lantai dua " Wow indah. Apakah begini rasanya menjadi kaya." Teriaknya sambil berjalan melihat pemandangan malam.
"Sudah ayo istirahat besuk kuliah dan ada kuisioner dari dosen galak itu." Ia pun berlalu tidur.
Paginya dia bertemu dengan seorang wanita paruh baya "Bi Karti ?" Sapanya. Wanita itu tersenyum.
"Saya parkir motor di depan. Garasinya sebelah mana bi ?" Tanyanya. Wanita itu mengajaknya dengan menggandeng tangan menuju ke ruangan samping pantry sebelah kiri ada pintu kamar dari pantry sebelah kiri ternyata ada garasi rumah besar ada mobil dan motor laki-laki yang rusak. Dia seperti mengenal motor nya namun dia tepisnya. Dia pun membuka pintu garasi juga tidak ada kuncinya. Apa tidak takut dicuri ? Batinnya bermonolog. Kemudian dia bergegas menuju motornya dan melajukan menuju ke kampus. Aktivitas seperti biasa ke kampus dan kerja part time di Cafe zona. Kost dan kampus serta tempat kerja berdekatan, sungguh menghemat waktu dan tenaga serta tabungan bertambah. Walaupun tak seberapa namun berarti baginya. Dia juga memasang pamvlet berdasarkan tulisan tangannya dan mempromosikan tempat kost nya. Semoga bermanfaat dan aku mendapatkan teman, batinnya. Lagi-lagi dia bertemu dengan mereka, Damian Marley dan Vanessa Hudgens. Dia hanya berlalu saja, namun keduanya serempak menyapa. Masa bodoh dengan kalian ! Batinnya malas. Ia langsung menyambar motornya dan berlalu pergi. Damian Marley hanya memandang sekilas Vanessa Hudgens dan meninggalkan wanita itu tanpa menghiraukan ucapannya.
"Damian bantu aku bicara tentang David Moyes dengan nya. Ku mohon !" Serunya.
Pemuda itu melajukan mobilnya berlalu. Di cafe Clarissa bekerja dengan melamun, sudah dua tahun dia berusaha menahan diri tidak memaki Vanessa Hudgens namun wanita itu masih saja berusaha untuk mendekatinya. Bahkan juga meminta teman sekelasnya menjebak bertemu dengan dia. Sampai kapan saja aku tak akan memaafkan kalian. Batinnya marah sambil terus membersihkan meja makan itu. "Mejanya bisa patah kamu tekan seperti itu !" Tegur Fredly menatapnya lekat. "Maaf Boss". Gadis itu mengangguk berlalu. "Ada apa kamu melamun sendiri ? Walaupun belum ada complain namun tetaplah itu mengganggu!" Tegur nya. "Maaf." Clarissa menunduk. Fredly sudah mencoba berbagai cara mendekati cewek pintar ini namun jaraknya sekitar mereka terlihat jelas. Padahal dulu dia type Wellcome, sekarang sering melamun dan penyendiri. Dia hanya dapat mengobrol dengan anak-anak kecil. Ada apa sebenarnya? Batin Fredly.
Di ruangan istirahat. Clarissa ingat saat itu David Moyes dan Vanessa Hudgens berciuman di root top sekolah tempat rahasianya dengan David Moyes. Mereka berjanji akan kuliah bersama, namun saat pengumuman kelulusan sekolah yang ada adalah keduanya bertukar Slavina saling menuntut. Bahkan ia melihatnya seragam putih itu tersingkap ke atas. Bukan tidak kesengajaan, mereka saling bercumbu. Jelas ! Detik itu dia benci David Moyes dan semua pria karena di hari yang sama ayahnya meninggal. Aku benci lelaki mereka pembohong ! Teriaknya dalam hati. Matanya menatap tajam ke arah lantai. Karena dia duduk dilantai itu.
Keesokannya ada yang masuk kost di rumah mewah itu. Hingga seterusnya ada yang menanyakan dan tertarik untuk menyewanya. Clarissa senang hati karena dia mempunyai teman di rumah itu jika liburan kerja. Gadis itu bekerja dan kuliah biaya sendiri, ada program beasiswa sehingga dia dapat tertolong. Dia sudah sebatang kara maka tak peduli lagi sekitarnya. Hanya ingin kuliah dan bekerja.
"Clarissa kita harus bicara !" Seru Vanessa sambil memegang tangan. Clarissa menepisnya dan berlalu. "David Moyes mencintai mu. Hanya kamu yang.." Belum selesai Clarissa sudah memotong kalimat itu. "Mau cinta seperti apa aku tak peduli ! Nyatanya dia bercumbu dengan mu di root top sekolah ?" Vanessa Hudgens terbelalak melihat Clarissa.
" Itu.."
"Pergilah ! Jauh dari aku, jauhi kehidupan aku ! Aku jijik dengan sifat munafik dan pembohong !" Teriaknya sehingga sekeliling mereka berhenti mendengar suara Clarissa berteriak lantang. Vanessa Hudgens melepaskan tangannya gemetar melihatnya semua orang. Clarissa hanya menatapnya penuh kemarahan. "Minta maaf itu mudah ! Tapi melupakan rasa sakit itu yang sulit !". Katanya ketus dia pun berbalik dan berlalu. Damian Marley ada disana terpaku menatap keduanya juga makhluk kasat mata itu meneteskan air mata.
Di kamarnya Clarissa menangis ingatannya kembali ke masa sekolah. Kenapa David Moyes mengkhianati ku ? Waktu berlalu tinggal sidang skripsi dan jika lancar dia langsung masuk perusahaan itu yang dia lamar beberapa waktu lalu. Tangannya masih asyik dengan masakannya. Aroma menguar wangi. "Masak apa mbak ?" Sofia menyapanya saat mengambil botol minuman dingin di almari pendingin.
"Capjay goreng seafood. Tolong ambilkan piring !" Sofia tertegun menatap piring itu melayang ke arahnya Clarissa. Gadis ini tidak percaya cerita tentang hantu dari teman-temannya yang kost bersama ternyata dia melihat benar adanya. "Terimakasih." Gadis itu menerimanya tanpa melihat ke arah belakangnya. Asyik dengan masakannya dan mengambil air dan nasi saat hendak ke mejanya Sofia sudah tidak ada. Namun ia mengacuhkan saja.
Di kampus Damian Marley menghadap Clarissa, mereka saling menatap." Kamu harus keluar dari tempat itu ! Kost kamu itu rumah David Moyes yang kamu benci. Bahkan ada yang melihatnya dia mengikuti kegiatan kamu. Dia mungkin mau bicara sama kamu mengenai hal-hal yang belum di sampaikan ke kamu." Damian Marley menjelaskan. "Tapi aku tidak mau melihat atau mendengar tentang dia. Dan jika benar rumah itu milik orang tua nya maka aku akan keluar detik ini juga." Jelasnya. "Aku tahu ayo aku sudah mencari kost yang aman buatmu. Di rumah guru ngaji semoga membantu kamu lebih kuat, maafkan dia agar dia bisa tenang. Kamu masih menyimpan dendam." Kata Damian Marley memberikan pengertian. Mereka berjalan beriringan menuju ke rumah itu dan berpamitan pada pembantu rumah. Damian membantu membawa barang bawaan dengan mobilnya, motornya Clarissa sudah dikirimkan ke tempat kost baru melalui bantuan teman Damian. Mereka berjalan beriringan menuju ke mobilnya. Di balkon kamar berdiri sosoknya David Moyes berseragam abu-abu putih memandangi kepergiannya dengan sedih. Gadis itu sudah membencinya dan tak ingin bertemu dengan aku, gumam David Moyes. Dan dalam hati Clarissa hanya berkata." Carilah kehidupanmu sendiri David. Aku membencimu namun aku juga tidak mau kamu celaka. Mari kita cari jalan hidup masing-masing sesuai ajaran kepercayaan diri sendiri.
Flashback. Clarissa sampai dikamar nya ada Damian Marley di pintu dan pembantu bi Karti. "David jangan ganggu aku. Cintaku hanya sebatas itu. Kau sudah mengkhianati dan aku benci itu. Hatiku sakit karena di hari yang sama Ayahku meninggal jadi maaf aku tidak mau bertemu apalagi mendengar tentang kamu. Aku tak bertanya kenapa kamu bercumbu di root top sekolah kita. Namun itu sudah pertanda kami tidak secinta itu sama aku. Mari kita cari jalan terbaik untuk kita masing-masing. Lupakan dan lakukan apa yang harus dilakukan." Kata Clarissa.