Menurut teman-temanku, ponsel adalah benda yang harus dimiliki oleh setiap orang. Aku tidak memiliki ponsel. Orang tuaku juga tidak memilikinya. Aku hidup hanya bersama orang tuaku. Kami tidak memiliki keluarga lain sehingga ponsel tidak terlalu dibutuhkan.
Namun ayahku membelikanku sebuah ponsel berwarna ungu gelap saat aku kelas dua SMA. Aku sangat senang saat masa-masa memiliki ponsel. Aku tidak sabar untuk segera pulang ke rumah karena ingin bermain ponsel.
Namun tidak dalam waktu lama, ponselku jatuh ke dalam danau saat seorang laki-laki menabrakku.
Ayahku adalah seorang kuli bangunan. Ibuku menjual nasi dan lauk pauk setiap pagi. Kami adalah keluarga sederhana. Tidak kaya dan tidak miskin.
Untuk membeli sebuah ponsel, aku tidak bisa membayangkan betapa kerasnya ayahku bekerja. Pada saat yang sama, dia tidak cukup mengerti tentang ponsel. Aku tidak tahu apakah ponsel yang dibeli ayahku asli atau palsu.
Saat laki-laki ini menabrakku dan menyebabkan ponselku jatuh ke dalam danau, aku langsung membayangkan orang tuaku yang dipenuhi keringat karena bekerja keras. Aku segera menangis sambil membeku.
"Sorry, aku nggak sengaja. Maaf ya Liana, nanti aku ganti ponselnya."
Meskipun mengatakan seperti itu, tapi nadanya tidak seperti orang yang merasa bersalah. Aku dalam sekejap membenci orang ini. Saat aku menoleh, aku menemukan wajah yang tidak asing.
Seorang anak laki-laki memakai seragam yang sama sepertiku. Tingginya tidak jauh dengan tinggiku.
Aku sering melihatnya di sekolah. Apa dia sengaja menabrakku? Benar-benar biadab.
"Liana, aku minta maaf. Ini ponselku ambil saja!"
Dengan tidak tahu malunya, dia memegang tanganku dan meletakkan sebuah ponsel di tanganku. Aku langsung menarik tanganku dan menyebabkan ponselnya jatuh ke tanah.
Aku benar-benar sangat marah pada anak ini. Bagaimana bisa dia menabrakku? Aku tidak merasakan ada orang lain yang datang untuk tujuan mengejar anak ini. Biasanya seseorang menabrak orang lain karena dia sedang dikejar.
Apa dia menabrakku karena tidak melihatku? Itu terasa tidak masuk akal sehingga tidak mungkin.
Aku segera mengelap air mataku. Aku tidak tahu kedalaman danau ini. Aku juga tidak bisa menyelam. Dan jika ponselku ditemukan, tentu saja kemungkinan besar ponselku rusak.
Jika ayah dan ibuku mengetahui ini, barangkali mereka akan mengacuhkanku selama beberapa hari. Aku tidak ingin diacuhkan.
"Liana. Aku benar-benar minta maaf. Ini pakai ponselku. Aku janji bakal menggantinya."
Aku tidak tahu sama sekali nama anak di depanku. Tapi aku sering melihatnya berjalan bersama teman-temannya di koridor. Dia satu angkatan denganku jadi aku mengira wajar jika dia tahu namaku.
"Beri aku waktu tiga Minggu Li. Aku janji bakal ganti ponselmu sama yang baru."
Tiba-tiba dia memberiku ponselnya. Aku memandangi ponselnya sejenak. Ponselnya lebih besar dan tipis dari ponselku. Warnanya hitam pekat dan layarnya terlihat sangat jernih padahal sudah jatuh ke tanah.
Sepanjang kehidupanku, aku tidak pernah berurusan dengan laki-laki seumuranku atau umurnya tidak jauh denganku. Anak ini telah menabrakku dan menyebabkan ponselku jatuh ke dalam danau sehingga aku membencinya.
Jika aku berurusan dengannya dalam kondisi yang sedikit lebih baik, kemungkinan besar aku akan malu.
Aku cukup memahami diriku sendiri. Aku mulai memiliki dendam pada anak ini. Aku ingin menghancurkannya.
Aku segera mengambil ponselnya dengan kaku tetapi cepat. Aku langsung memandang ke danau.
"Setiap pulang sekolah buatmu. Tapi kalau di sekolah gantian ya! Terserah kamu mau apa di ponselku. Kalau paketan habis, kamu tinggal bilang saja!"
Jika ponselku tidak hancur, aku akan memuji dia sebagai orang baik. Tetapi dia telah menyebabkan ponselku masuk ke dalam danau sehingga aku tidak terpengaruh sama sekali dengan kebaikannya ini.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Aku benar-benar minta maaf."
Suara sepatunya terdengar pelan seolah-olah dia sedih. Tetapi aku tetap tidak terpengaruh sama sekali. Aku membencinya.
Kemudian aku segera menatap ponsel di tanganku.
***
Aku menceritakan apa yang ku alami dengan jujur pada orang tuaku. Ayahku tidak marah karena anak laki-laki itu akan bertanggung jawab mengganti ponselku. Sementara ibuku sedikit memarahiku.
"Kamu jangan hapean terus makanya! Itulah akibatnya!" Bentak ibuku.
Keesokan harinya, anak laki-laki itu datang ke kelasku dan meminta ponselnya dan berkata akan memberikannya padaku kembali saat pulang sekolah. Tiba-tiba beberapa temanku berteriak menggoda kami.
"Kamu harus menghitung hari mulai sekarang karena aku akan menggantinya."
"Tentu." Jawabku.
Indra memenuhi janjinya. Saat pulang sekolah dia memberiku ponselnya kembali. Aku telah mengunduh beberapa aplikasi di ponsel Indra. Rasa ingin kepuasan ini adalah pengaruh dari kemarahan terhadap Indra. Aku ingin melakukan apapun sesuka hati pada ponselnya Indra. Namun perasaan ini sepertinya karena ini adalah pertama kalinya aku memiliki ponsel.
"Liana, semalam tidur jam berapa?" Tanya ibuku dengan tajam dan nadanya diselimuti kemarahan.
Aku bermain game sampai pukul setengah tiga pagi. Aku mencoba berhenti bermain, tapi tidak bisa. Aku jarang berbohong pada orang tuaku. Tetapi untuk saat ini, aku berbohong.
"Jam sepuluh. Aku tidur lampunya sengaja dinyalakan." Jawabku.
Ibuku langsung percaya.
Dalam waktu yang cukup lama, aku telah kecanduan game. Selain bermain game, aku juga menulis novel. Aku selalu tidur pagi. Bahkan aku tidur di sekolah dan dihukum. Aku tidak pernah mengira akan menjadi seperti ini.
Ibuku menjadi setiap hari memarahiku. Bahkan masalah besarnya, ayahku menyuruhku untuk mengembalikan ponselnya pada Indra. Mereka sudah tidak percaya padaku lagi.
"Liana, kamu lupa ya?".
Hah. Indra tiba-tiba berkata dan langsung mengingatkanku pada janjinya yang akan memberikanku ponsel baru. Aku langsung meminta janjinya. Indra menolak. Aku langsung marah. Sangat marah.
"Sebelum kamu berubah seperti semula, nggak bakal ada ponsel baru. Aku berani ingkar janji."
Aku terdiam membeku saat Indra berkata dengan sangat dingin dan meninggalkanku.
Tetapi kemudian dia berhenti dan menoleh padaku. Dia tersenyum meremehkan sambil berkata, "Aku sengaja menabrakmu waktu itu karena aku tahu kamu bakal jadi seperti ini."
Indra tidak lagi memberikan ponselnya padaku. Bahkan selama berbulan-bulan. Saat aku mencoba memintanya memohon-mohon, dia malah bertanya dengan meremehkan, "Apakah kamu sudah jatuh cinta padaku, Liana?"
Aku sangat ingin memukul Indra. Benar-benar ingin membantainya.
Hanya dalam beberapa minggu aku dapat menikmati bermain ponsel. Orang tuaku sama sekali tidak marah pada Indra. Bahkan mereka berterima kasih.
Aku ingin bermain ponsel lagi. Namun...entah kenapa, aku sudah tidak frustasi.
Setiap malam aku jadi teringat pada pertanyaan Indra. Apakah kamu sudah jatuh cinta padaku, Liana?