Setelah ditinggalkan oleh pacarku, aku menjadi bosnya...
Tentu saja tidak. Dia tetap menjadi bosku. Bos yang semakin hari semakin menyebalkan. Tingkahnya berubah seperti semakin dingin dan tidak mencerminkan sosok baik hati yang pernah aku kenal dua bulan yang lalu.
Dia selalu membuatku berada disekelilingnya. Memintaku membuat ini dan itu, mengerjakan laporan yang kanan dan kiri, dan itu sangat melelahkan. Dia sama sekali tidak memberi ruang gerak untukku bernafas sedikitpun ketika berada di kantor.
Dan hari ini, kami menghadiri meeting bersama klien di perusahaan tetangga yang akan menjadi partner kerja kami. Alih-alih kembali ke kantor setelah jam meeting berakhir, dia membawaku ke restoran yang dulu sering kami kunjungi ketika masih pacaran.
“Mau pesan apa?” tanyanya dingin, tanpa melihat kearah ku dan sibuk membaca menu yang seharusnya sudah sangat ia hafal. Kami tidak hanya sekali datang kesini. Kami pelanggan tetap mereka.
“Cumi Adam manis.”
Nah, berhasil. Dia terlihat menyorotku tajam.
For your information, aku bukan makhluk yang bisa mengkonsumsi makanan laut. Aku punya alergi dan akan jatuh sakit jika tetap memaksanya masuk kedalam tubuh. Pernah, dulu sekali ketika aku masih kecil. Ibu memasak ikan yang entah apa itu namanya, diberi tetangga, dan ibu mengolahnya untuk dijadikan makan malam. Singkat cerita, aku memakannya dan keesokan harinya, aku diare dan badanku penuh dengan bintik-bintik merah yang terasa gatal bukan main. Kata dokter, aku alergi makanan laut, dan tidak disarankan untuk mengkonsumsi berbagai jenis olahan laut untuk menghindari hal serupa.
Kembali ke realita. Dia kembali menurunkan sorotnya menuju buku menu, lalu mendikte pramusaji yang masih berdiri.
“Terserah kamu mau makan apa. Itu bukan urusanku lagi.” gumamnya yang masih bisa aku dengar dengan jelas. Intinya, dia sudah tidak lagi mau peduli padaku karena aku bukan kekasihnya. “Saya pesan pasta keju dengan ayam kecap diatasnya, dua porsi. Satu ayam kremes dan satu jus apel tanpa gula.”
God. Itu semua menu favoritku disini. Untuk apa dia memesan itu? Untuk membuatku berlibur? Aku menyesal memilih seafood. Pasti aku sakit nanti.
Untuk beberapa menit, kami menunggu pesanan kami datang sambil tetap berdiam diri. Tidak ada yang perlu kami bicarakan lagi kecuali untuk urusan pekerjaan, dan pekerjaan kami sudah clear. Intinya, kami tidak perlu saling beramah tamah dengan mencari topik obrolan.
Pesanan datang. Jantungku berdebar ketika menatap makanan yang tersaji didepan mataku.
Buset. Aku akan benar-benar tumbang hari ini. Porsinya tidak tanggung-tanggung dan... sudahlah.
Aku mengambil sendok dengan telapak sedikit bergetar. Aku tidak bisa membayangkan akibatnya nanti, dan cuma bisa berharap akan baik-baik saja. Ya, baik-baik saja.
“Yakin mau makan itu?” tanyanya memastikan. Aku terjingkat dan sendokku jatuh diatas piring. Ah, ini sangat memalukan.
“Y-yakinlah..” jawabku sembari kembali memungut sendok yang jatuh mengenaskan, kemudian menyendok cumi dan meletakkannya kedalam piring. Ya Tuhan, berikan aku kekuatan.
Aku memasukkan satu sendok besar nasi plus cumi-cumi yang sudah dibumbui sedemikian rupa itu kedalam mulut. Memejamkan mata untuk menahan apapun rasa yang sedang menyapa lidah untuk pertama kali.
Enak. Makanan ini enak, dan tanpa sadar aku melahapnya hingga habis.
Sore hari sesampainya dirumah, tentu saja setelah kembali dari kantor dan makan siang bersama pak bos. Tubuhku mulai terasa seperti terbakar, perutku mendadak sakit dan mual. Aku mencoba melihat lenganku, dan disana, sudah ada beberapa bintik yang muncul.
Tamat. Aku akan tumbang hari ini juga.
Dua jam kemudian, aku sudah lima kali pergi ke kamar mandi untuk buang air besar, aku diare. Tubuhku lemas kehilangan banyak cairan dan masih terasa seperti dibakar. Sekujur tubuh terasa gatal bukan main, dan aku baru sadar jika aku bertingkah bodoh dan konyol hari ini. Aku butuh bantuan seseorang.
Saat aku ingin kembali bergelung dengan selimut. Ponselku bergetar, sebuah pesan masuk.
'Kamu, baik-baik saja?'
Pesan dari Harlan, pak bos yang tidak memiliki belas kasih. Sang mantan yang tidak mempunyai perasaan. Bagaimana tidak, dia membiarkan aku mengkonsumsi makanan yang jelas-jelas ia tau tidak boleh kumakan, dengan alasan konyol 'Kami bukan lagi sepasang kekasih' pula.
’Tidak. Aku sedang tidak enak badan.’
Balasku tanpa mau menutup-nutupi. Aku butuh pertolongan dan aku harap dia peka.
Tapi, tidak ada balasan. Aku diacuhkan, dan sialnya, perutku kembali sakit dan harus berlari ke kamar mandi lagi. Aku hanya berharap ada seseorang yang melihat dan menemukanku jika aku pingsan seorang diri nanti.
Aku menghela nafas. Tubuhku lemas setelah bolak-balik kamar mandi. Lalu, pintu diketuk tidak sabaran. Siapa yang datang malam-malam bertamu tanpa sopan santun seperti itu? Menyebalkan sekali.
Aku berjalan sempoyongan kearah pintu, menilik siapa yang datang. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat Harlan berdiri didepan pintu. Ia membawa kantong berisi penuh yang entah apa isinya.
Aku tidak mau munafik. Aku butuh dia untuk menolongku yang pasti terlihat menyedihkan ini. Ku ayun terbuka pintu rumah kontrakan yang aku tempati seorang diri. Tatapan kami bertemu, dan entah mengapa perasaanku menjadi lega hingga tanpa sadar aku meneteskan airmata.
Kejadian dua bulan lalu yang menyebabkan kami putus itu hanya salah paham. Dan ego kami yang sama-sama besar mendukung untuk kami saling benci dan berakhir berpisah.
“Pak Harlan?” tanyaku basa-basi. Tapi tidak menyangka juga jika dia akan benar-benar datang.
“Bodoh!” cerocosnya, sambil mendorong keningku dengan jari telunjuknya yang panjang.
Aku tertunduk, menangis seperti anak kecil karena merasa benar dengan ucapan Harlan. Dia datang membawa obat alergi yang pernah aku tunjukkan kepadanya, dan membawa beberapa roti dan juga susu untukku.
“Masuk dan minum obatnya. Kamu masih saja bodoh dan suka seenaknya sendiri.” lanjutnya, masih dengan nada menjengkelkan.
Aku tidak mempersilahkan dia masuk, tapi dia berlalu begitu saja seperti rumah sendiri. Aku tidak melarang apalagi mengusirnya. Aku butuh pak bos, aku butuh Harlan yang pernah mengisi penuh hatiku, dan tentu saja masih hingga saat ini.
Dia menyiapkan semua yang aku perlukan. Obat, segelas besar air putih, beberapa sobek roti yang sudah diberi lelehan susu diatasnya.
“Terima kasih.” ucapku sembari mengambil airputih dan obat dari atas meja, kemudian meminumnya.
“Lain kali, jangan sok-sokan begitu. Jadi begini, kan?”
Benar. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku kapok tujuh turunan.
“Dan—” Harlan menjeda, dia menatapku tajam hingga membuatku hampir tersedak air. “—jangan dekat-dekat dengan Fino. Aku tidak suka.”
Dia cemburu ya? Wah, diluar dugaan.
“Kenapa? Dia baik kok.”
“Baik sebelum kamu jadi mangsanya. Kalau dia sudah tau bagaimana rasanya dirimu, aku yakin seratus persen, dia akan meninggalkan dirimu tanpa penjelasan.”
Aku mengangguk paham. Oke, desas-desus tentang Fino itu ternyata juga sampai ditelinga pak bos.
“Lalu, tentang hubungan kita—”
Kenapa? Ada apa? Kan sudah berakhir?
Aku terus bicara sendiri dalam hati. Bos Harlan ini tidak bisa ditebak. Siapa tau dia hanya ingin menegaskan jika hari ini tidak ada perasaan apapun, hanya insting menolong sesama makhluk hidup saja.
“Aku ingin minta maaf sudah mengambil keputusan itu. Aku emosi dan otakku tidak bekerja dengan baik hati itu.”
Apa maksud ucapannya?
“Ge, apa kamu mau memaafkan aku?”
Aku tertegun beberapa saat. Dia menatapku lembut, seperti dulu. Seperti saat kita masih ada hubungan istimewa dulu.
“Iya, bapak tenang saja. Aku bukan pendendam kok.” kelakarku, sambil tersenyum menggelikan dan terlihat... bodoh.
“Ayo kita kembali seperti dulu.”
Apa?
Aku kaget. Pak Harlan tidak sedang salah bicara kan?
“A-apa maksud bapak?”
Dia meraih telapak tanganku dan menggenggamnya erat-erat.
“Ghea, ayo kita kembali menjalin hubungan seperti dulu.”
Aku terkejut tentu saja. Dan aku hanya diam ternganga tanpa bisa mengucapkan satu patah kata.
“Ayo kita menikah.”
Oh, my God. Apa ini? Dia mengajakku menikah?
“Tapi—”
“Tidak ada penolakan.”
Masih seperti Harlan yang aku kenal. Dia egois dan sesukanya sendiri.
“A-aku...”
Aku tidak lagi bersuara karena bibir kami bertemu. Aku yang semula diam, perlahan menerimanya, mengalungkan kedua lengan dilehernya. Aku merindukan Harlan sepanjang waktu. Sangat merindukannya.
Lantas, kami menyudahi, saling tatap, dan Harlan mengusap bibirku yang basah.
“Ayo kita menikah. Aku mencintaimu.”
Aku mengangguk tanpa penolakan. Dan kami berpelukan.
Dan pada akhirnya, kami benar-benar larut dalam kerinduan malam itu. Melakukan hal yang lama tidak pernah kami lakukan sejak putus.
“Serius balikan, Pak?”
“Jangan panggil pak. Aku bukan bapakmu.” dia mengeratkan pelukan.
“Lalu?”
“Jangan bodoh. Aku suka dengan kepolosanmu.”
Oh baiklah. Jangan bermain-main dengan lelaki satu ini. Dia akan menghajar habis diriku jika sampai sesuatu yang tadi sudah tenang kembali meronta.
“Baiklah, sayang. Kita menikah.”
—TAMAT—
TERIMA KASIH SUDAH BERSEDIA MEMBACA.
JANGAN LUPA KUNJUNGI AKUN VI'S YA ..
SEE YOU SOON.