Sebuah acara radio dengan membawakan cerita-cerita misteri. Scream! Mereka mengadakan kontes uji nyali. Dengan jumawa Pablo mengatakan bahwa uji nyali itu masalah kecil, ia bisa menang dengan mudah.
Pablo seorang penakut. Tapi dengan sok berani, ia ikut uji nyali agar tak diejek ditongkrongannya.
Bualannya mengundang beberapa teman tongkrongannya menantang Pablo untuk menjadi partisipan. Dengan percaya diri ia iyakan. Karena ia yakin tak akan terpilih menjadi pesarta.
Tapi naas, apa yang ia dapat sekarang. Pablo lolos menjadi peserta uji nyali. Gila!
Beda lagi dengan Lana, ia bekerja di radio itu. Beda acara sebenarnya. Temannya Sandra meminta bantuannya menjadi salah seorang peserta.
Lana seorang yang ceria, ia iseng setuju ikut uji nyali. Karena pada dasarnya ia tak percaya dengan hal-hal itu.
Karena hanya beberapa pendengar yang mendaftar padahal target mereka setidaknya ada 20 orang dan setiap minggu ada satu team yang berjumlah dua orang mengisi acaranya. Lana menyanggupi.
"Lan, thank you"
"Okay tapi jangan lupa transferan" Ya ada upah disitu. Sandra mengangguk.
Semua peserta berkumpul. Panitia memberitahu aturannya. Ada 20 peserta, dibagi menjadi 10 team yang berarti satu team terdiri dari dua orang dan tempat mereka uji nyali pun berbeda setiap minggunya.
Pemenangnya dipilih berdasarkan, favorit pendengar.
Mereka bertemu. Pablo dan Lana berkenalan. Satu team. Rancak bana team. Panitia menentukan tempat berdasarkan pilihan peserta sendiri.
Pablo mengambil kertas yang sudah ada dalam bowl bulat dari kaca itu mengaduknya dan memilih satu kertas.
"Team Rancak Bana, mendapat Gua Jepang, Minggu keempat" Panitia membacakannya.
Ada lagi panitia yang mencatat di papan tulis ruang rapat.
*****
Pablo sudah berada di kantor radio tempat berkumpul sebelum mereka berangkat ke tempat uji nyali.
Mereka naik mobil travel. Pablo sedari datang, mukannya sudah pias. Lana menghampirinya. "Hai" menyapa Pablo.
"Oh H hai" Pablo gugup. Melihat rekan satu teamnya segugup itu Lana mencoba mengnenagkan. "Tenang aja, ini cuma rekayasa."
Yang membuat Pablo gugup karna ia mengikuti perkembangan acara. Dari mulai team di minggu pertama. Kedua dan ketiga.
Sungguh menyeramkan. Pablo semakin ketar ketir. Apa ia akan sanggup. Mengikuti acara ini. Setiap kali selesai menonton acara streaming.
Ya acara ini disiarkan secara streaming di youtube official radio.
"Rekayasa?" Tanyanya, Lana mengangguki. Lana menawarkan sebungkus coklat pada Pablo dan ia menerimannya. Lana membuka coklatnya dan memakannya.
"Iya rekayasa, biar makin seru." Ucapnya dengan mengesekkan lidahnya pada gigi karna coklatnya menempel pada giginya.
"Shit!" Lana kesal coklatnya meleleh jadi suka menempel pada giginya Lana tak suka.
"Rekayasa kayak gimana?" Tanya Pablo yang perlu meyakinkan dirinya. "Ya merekannakannbuat suara suara gitu, barang jatuh apapun itu yang kayak ada di minggu minggu kemaren"
"Kamu nonton kan" Pablo mengangguk. Jadi acara kemarin juga rekayasa. Padahal itu yang membuat Pablo gigup dan ciut nyalinya hari ini.
Sekarang apa yang dikatakan tal serta merta membuatnya tak takut. Masih. Bulu kuduknya saja sedari tadi meremang.
*****
Tiba dilokasi. Udara semakin dingin. Udara pegunungan. Dinginnya menusuk. Untung Pablo memakai pakaian yang tebal.
Ia melihat rekan seteamnya yang hanyabmenggunakan cardigan tipis tapi tak merasakan dinginnya. Mungkin sudah biasa pikir Pablo.
Panitia bernama Rendra memberikan arahan pada ia dan Lana. Mereka harus menyebutkan kata "LADA" saat didalam gua dengan lantang.
Acara pun dimulai. Pablo jalan perlahan dibelakang Lana. Lana berhenti hingga ia bersebelahan dengan Pablo
"Gak usah takut ada gue" Lana menepuk bahu Pablo. Walau ia takut tapi tetap harga dirinya sebagai lelaki cukup tinggi.
"Siniin senternya. Lo dibelakang gue aja" ucap Pablo.
Mereka hanya dibekali satu senter tangan. Ini juga yang membuat Pablo mengernyitkan dahi. Yang selam ini ia tonton peserta dibekali dua senter, masing-masing peserta membawa satu senter.
"Oke oke" Lana memberikan senternya pada Pablo.
"LADA" Suara lantang Lana bergema ditengah gua.
"LADA" "LADA" "LADA"
"PEDAS" "PEDAS" "PEDAS" Kelakar Lana. Ini cewek enggak ada takut-takutnya pikir Pablo.
"Oh LADAAAAA" Lagi
"LADA" "HAI LADAAA" Lana terkekeh memainkan kata itu. Pablo melihat Lana tak suka.
"WOI LADA!"
"Hus na udah" takut Pablo.
"Kan tadi aturannya gitu."
Dengan spontan Lana berlari, bersembunyi dibalik tubuh Pablo.
"Kenapa!" Pablo panik. Tubuhnya bergetar. Takut yang sedari tadi ia tahan. Menyeruak.
Tahu gelagat rekannya. Pablo tahu ia dikerjai oleh Lana karenanya Lana tertawa terbahak.
Tak tahukan Lana Pablo saat ini ingin sekali berlari menyudahi uji nyalinya.
Kemudian sunyi. Lana tak lagi terbahak. Ia diam mematung. Membelakangi Pablo.
"Na" Pablo mendekati Lana perlahan. Ia takut. Takut sekali. Ia berhenti saat kepala Lana bergerak.
Ia memberanikan diri untuk memegang pundak. Tapi sebelum tangannya menyentuh pundak Lana.
Kepala Lana telah lebih dulu memutar padanya cepat dengan mata melebar juga lidahnya menjulur panjang.
"Aaaaargh" Pablo tak sadarkan diri.
*****
Pablo membuka matanya, menatap terang lampu plafon putih.
"Udah sadar." Rendra panitia acara.
"Gue dimana?" Linglungnya.
"Ini minum dulu" Rendra menyerahkan gelas teh manis hangat.
"Lo pingsan" ucap Rendra.
"Ini diklinik, gimana? Ada yang sakit?" Tanya Rendra bertubi.
Pablo menggeleng. Ia tak melihat Lana.
"Gimana Dra?" Sandra menghampirinya.
"Lo udah sadar, gimana ada sakit?" Tanyanya seperti Rendra. Ini acara mereka. Dan mereka merasa kecolongan tak memperhatikan peserta.
"Lo udah enakan? Mau kerumah sakit?" Tanggung jawab Panitia.
"Enggak udah gak apa-apa" Pablo ingin turun brangkar.
Ia ingin secepatnya pulang kerumah. Rasa takut itu masih terasa dan Pablo tak berani menceritakannya.
"Lo bisa jalan?" Kuatir Sandra.
"Lana mana? Dia gak kenapa-kenapa kan?" Pablo berjalan mengikuti Rwndra yang lebih dulu keluar ruangan klinik.
"Lana?" Sandra meliha Pablo bingung.
"Mbak Sandra!" Panggil panitia lain. Menghampirinya. Ingin berdiskusi masalah penting.
"Bentar ya, Dra dra, anter Pablo ke travel, kita balik sekarang" Sandra mengikuti panitia yang memanggilnya.
"Sandi enggak ada minta ijin ternyata Mbak?" Ucap Panitia itu. Yang terdengar oleh Pablo.
"Kesini Mas" panggil Rendra.
Pablo mengikuti Rendra dengan mata menatap punggung Sandra yang menjauh.
*****
Ia sudah ada dikamarnya. Tadi pihak Radio mengantarkan sampai rumahnya. Rendra membawa motornya. Kemudian ia pamit.
Dan Pablo lupa membawa tasnya yang ia tinggal di travel.
Lelah hari ini. Pun sampai pulang ia tak melihat Lana. Bagaimana cerita setelah ia pingsan, lupa ia bertanya pada Rendra. Besok saja.
Ngeri rasanya membayangkan kejadian di gua tadi, seketika bulu kuduknya merinding. Semoga Lana baik-baik saja itu pikir Pablo.
Badan Pablo rasanya lengket dan ia membersihkan badannya.
Mengambil handuk. Ia menuju ke kamar mandi. Kamar mandi dirumahnya bersebrangan dengan dapur dan ruang makan.
Ia melesat ke kamar mandi, kebelet, sekilas ekor mata menangkap adiknya, sedang duduk di meja makan.
Pablo sudah merasa segar. Ia kembali ke kamarnya. Mengganti baju. Rasa lapar membuatnya turun. Keruanga makan.
Ia melihat sang adik sibuk dilemari es. Setengah badannya masuk kedalam.
"Mar, lo ngapain" Pablo berdiri dibelakang adiknya.
Pablo mendengar kikikan lalu tersedak dan terkikik lagi. Meremang kembali bulu kuduknya. Ada apa dengan sang adik.
"Hey Mar lo kenapa dah" Takut. Perasaan itu menyerangnya.
Perlahan kepala adiknya memutar.
"AAAARGH!" Ia melihat banyak darah dimulut sang Adik. Pablo hanya bisa mundur sedikit.
Tubuhnya mematung, bergetar hebat. Matanya melebar bahkan ia tak bisa menutupnya. Saat wajah adiknya dengan darah menghiasi mulut adiknya jalan mendekatinya.
Menyodorkan hati mentah berdarah-darah ditangannya. Mendekatinya perlahan. Seyuman menyeringai. Lidah menjulur panjang. Keluat masuk mulut adiknya. Suara cecapan mengerikan.
"Kak!"
"Kak!"
"Kakak iiih" Maria adik Pablo melihat kakanya berteriak tadi. Menepuk wajah Pablo. Yang mematung.
"Kak Pablo"
"Kakak kenapa sih!" Maria mengoyang kencang bahu Kakaknya.
Pablo tersadar. Wajah Maria yang mengerukan tadi menghilang. Berganti Wajah Maria yang mengamatinya dekat. Walau mulut adiknya masih belepotan dengan warna merah.
"Kamu makan apa?" Tanya Pablo sedikit keras dengan degupan jantung kencang.
"Ini mau, manis banget" Maria menyodorkan sepiring buah naga.
Pablo menopang tubuhnya di meja makan. Lemas. Ia menarik kursi. Mendudukan dirinya. Menelungkupkan kepala pada meja makan.
Ini enggak bener. Sampai rumah tak membuat rasa takutnya hilang.
Maria masih menikmati buah naganya sesekali menawari kakanya tapi tak ditanggapi.
Pablo berdiri. Melangkah pergi ke kamarnya, meninggalkan adiknya yang melihat aneh pada dirinya. Capek. Ia ingin beristirahat saja. Laparnya pun telah hilang.
Tubuhnya bahkan masih mengiggil ketakutan. Berjalan tertatih.
Ia merebahkan diri diranjang. Bergelung dibawah selimut. Menutupi seluruh tubuhnya. Ia mendengar pintu kamarnya yang terbuka. Seretan langkah pelan mendekatinya.
Terdengar rapalan, kata Lada. Serak mendesis. Juga geletukan gigi semakin membuat Pablo meremang, Pablo sadar. Ini ada yang tak beres. Sesuatu mengikutinya. Ya sesuatu dari gua itu.
Keringat mengucur dari dahinya, Didalam selimut nafasnya tercekat, matanya bergerak gelisah, berharap selimut itu bisa melindungi dirinya. Merasakan ada seseorang yang duduk disudut ranjangnya.
Ia memberanikan diri membuka selimutnya, Pablo beranjak dari tidurnya. Ia melihat ada yang duduk ditepi ranjangnya menghadap ke kepala ranjang memunggunginya. Sesosok dengan rambut sepinggang dengan gaun putih.
Pablo perlahan turun dari ranjang. Mencoba tak membuat suara. Tapi kepala sosok itu memutar 180 derajat. Dengan menyeringai lebar dan mengerikan. Ia terkikik yang semakin lama semakin keras.
Pablo mundur dengan cepat, ia tersandung selimutnya, terjatuh, ia melihat ke arah sosok itu. Yang juga sudah berdiri. Pablo merangkak cepat. Berusaha berdiri. Selimutnya sangat licin.
Pablo terpeleset. Ia memandang ke belakang, sosok itu merangkak cepat kearahnya.
"Aaaarrrggghhh" Jeritannya
Pablo berlari kencang menuruni tangga. Ia berhasil keluar rumah.
Pablo terus berlari. Ia melihat pos satpam. Seorang satpam memunggunginya, Pablo melihat kebelakangnya panik jika sosok itu mengejarnya
"Pak... tolong pak" Suara bergetar ketakutan Pablo.
Masih belum ada respon dari Pak satpamnya.
Pablo meraih lengan si satpam, dingin sekali. Perlahan wajahnya terangkat. Si satpam sudah menyeringai dengan mata melotot lebar.
"Ada yang bisa dibantu" klek! Kepalanya patah, kesamping.
"AAAARRRGGHH" teriakkan Pablo.
"Aaaargh"
"Tolong... tolong..."
"KAK!"
"BANGUN, KAK!" Plak! Plak!
"KAK PABLO!" Plak! Plak!
"BANGUN"
"KAKAK! BANGUN" Maria menguncang Pablo sedari tadi.
Air matanya mengalir, ia ketakutan. Orang tuanya berada diluar kota. Apa yang terjadi pada kakaknya. Ia berlari ketempat Pablo saat mendengar kakaknya itu berteriak-teriak.
Memang sejak pulang gelagat kakaknya sangat aneh. Pablo pulang tanpa kata. Lalu naik perlahan ke kamarnya. Sesaat kemudian ia menemukan Pablo mengunyah buah naga dengan kulitnya.
Pablo kemudian kekamar dengan mata yang kosong. Lalu segera ia menelpon Omnya rumahnya masih satu komplek dengan mereka hanya berbeda blok.
Om Rusdi dan istrinya, Tante Vika. Datang. Dengan beberapa satpam komplek. Juga pak Rt. Mengira keponakannya itu kerampokan. Karena Maria hanya menangis sambil minta tolong padanya.
"Tante kak Pablo tant" Maria memelik erat tantenya itu.
"Ada apa sayang? Kenapa?"
"Gak tahu tant, Kak Pablo aneh, terus berteriak, aku takut" Maria terus memeluk Vika dengan menangis.
"Di mana kakakmu?" Rusdi bertanya.
"Di ruang makan"
Vika membawa pergi Maria kerumahnya.
Malam itu Om Rusdi dan beberapa kyai berdoa bersama. Menyembuhkan Pablo yang linglung.
Mereka masih tak tahu, kenapa keponakannya jadi begini. Tak ada yang tahu tentang uji nyali yang diikutinya.
Teman-temannya pun tak tahu saat Rusdi dan Vika mencari tahu. Mereka mengira Pablo tak jadi ikut acara uji nyali itu. Karena meraka tahu Pablo penakut dan tak mungkin ikut.
Acara Uji Nyali Radio pun masih terus berjalan. Tanpa tahu menahu apa yang dialami pesertanya.