Aku Crystal, Putri Es yang dianggap monster karena kekuatanku. Aku diasingkan oleh keluargaku sendiri saat aku berusia empat tahun. Saat itu aku ditinggalkan di tengah hutan yang gelap dan mengerikan. Aku hanya bisa memeluk kakiku dan menangis, tapi ...
Sekarang tidak lagi, gadis kecil itu sudah mati sekarang hanyalah ada Crystal yang kuat.
Sriiiiing
Kraak
Aku membekukan hewan buas yang ingin menerkamku.
"Itulah nasib yang harus diterima oleh makhluk yang mengusikku!" ucapku dengan dingin.
Aku berjalan menaiki tangga yang aku buat dan berdiri di atas bukit bersalju sambil menatap dua Kerajaan yang penuh kehangatan karena keramaian. Itu adalah Kerajaan Starlight dan Kerajaan Moonlight, dua Kerajaan yang sangat makmur.
Setelah puas menatap hal tidak berguna itu, aku kembali ke istana kecilku. Aku langsung disambut oleh Mina, rubah putih yang sangat aku sayangi. Aku bermain dengan Mina di taman yang ada di belakang Istanaku, itu adalah salah satu tempat favoritku. Aku suka tempat itu karena terdapat air terjun yang sangat jernih sejernih Crystal. Di pinggiran air terjun itu tumbuh bunga yang sangat indah dan juga dingin, kelopak bunga itu berwarna biru keputih-putihan.
Hari semakin gelap, Crystal membawa masuk Mina. Malam ini adalah malam bulan purnama, Crystal selalu menatap Bulan di malam bulan purnama di jendela kamarnya dan kali ini dia juga melakukan hal yang sama.
"Sangat indah," lirihku sambil melihat cahaya bulan yang juga menyinari wajahku. Mata biruku ikut bersinar, mungkin sangat indah namun tidak ada yang dapat melihatnya dan aku juga tidak berharap ada yang melihatnya.
Tak ... tak ... tak ...
Aku mendengar suara langkah kaki kuda yang sedang berlari disusul oleh suara langkah kaki kuda yang lebih banyak.
"Siapa yang berani memasuki wilayahku?" gumamku dengan aura dingin di sekitarku. Aku merasa terancam!
Aku keluar untuk melihat siapa yang berani mengusikku, aku melihat seorang pria dengan seluruh tubuhnya yang melepuh menunggangi kuda dengan cepat karena dikejar oleh banyak prajurit.
Tunggu!
"Baju prajurit itu aku mengenalnya ... Pasukan Kerajaan Moonlight!"
"Kenapa mereka memasuki wilayahku? Dan siapa pria yang mereka kejar?"
Aku merasa bingung memikirkan hal itu tapi aku berpikir aku bukanlah gadis yang baik hati, aku tidak akan membiarkan pengganggu lolos dariku. Pria yang mereka kejar adalah penyebab ketenanganku terusik, aku menggunakan kekuatanku dan membuat pria itu terjatuh dari kudanya dan tertangkap oleh prajurit di belakangnya. Dia tampak tidak menyerah begitu saja, dia malah bertarung dengan prajurit yang cukup banyak itu. Aku terkejut saat melihat para prajurit itu tumbang oleh pria itu.
Pria itu melihatku, kemudian berlari menghampiriku dan membekap mulutku. Aku ingin menyerangnya lagi tapi ...
"Diam atau aku cium," ujar pria itu dengan dingin.
Pria brengsek! Berani-beraninya dia mengancamku di wilayahku sendiri. Melihat kondisinya yang sangat mengerikan aku memilih untuk tidak melawan.
Setelah para prajurit itu pergi untuk mencari pria brengsek di hadapanku aku langsung mendorong pria itu hingga terjatuh.
Aku menghampirinya dengan angkuh sambil berkata, "Kau sudah memasuki wilayahku dan mengganggu ketenanganku, kau adalah manusia pertama yang akan merasakan kekejamanku!"
Pria itu menatapku dengan intens sepertinya dia terpesona dengan diriku apalagi mataku yang bersinar karena terpancar sinar bulan. Di saat aku mengangkat tanganku untuk menyerangnya dia mengehentikanku.
"Tunggu!"
"Apa kau tau tentang Tulip Biru Es dan air terjun Crystal?" tanyanya dengan tenang.
"Sial! Apa auraku tidak mengintimidasi pria brengsek itu? Biasanya hewan buas yang berhadapan denganku hanya memiliki dua pilihan yaitu tetap menyerangku sebelum mati atau berlari hingga akhirnya tetap mati," batinku.
"Jika pun aku tau, kenapa aku harus memberitahumu?" balasku dengan dingin.
Mendengar perkataanku pria itu langsung tersenyum smirk, apa maksudnya coba?
"Kau bilang aku sudah mengganggu ketenanganmu, jika kau tidak memberitahuku tentang dua hal tadi aku akan membuatmu tidak akan merasakan ketenangan lagi," ujar pria itu membuatku sangat kesal.
Pria itu sepertinya makhluk yang sulit di hadapi. Aku langsung menyerangnya tapi ketika dia menggerakkan jarinya seranganku menghilang. Aku terkejut, siapa orang yang lebih kuat dariku?
"Beritahu aku atau kita bertarung?" tawar pria itu, tentu saja aku memilih bertarung.
Aku menyerangnya dan dia dengan lihai menghindari seranganku. Di saat pria itu mendapatkan kesempatan, dia langsung menyerangku dengan kekuatan angin yang terasa sangat menusuk tubuhku. Aku jatuh terduduk kemudian dia mengulurkan tangannya, apa maksudnya?
Aku menepis tangan pria itu dan berdiri sendiri membuat pria itu lagi-lagi tersenyum smirk.
"Kenapa kau menanyakan tentang Tulip Biru Es dan air terjun Crystal?" tanyaku dengan ekspresi tidak suka.
"Keduanya dapat menghilangkan kutukan, aku membutuhkannya," ujar pria itu tampak serius.
Deg!
Kutukan? Apa itu juga bisa merenggut kekuatanku dan membuatku menjadi gadis lemah seperti dulu?
"Kutukan?" tanyaku merasa bingung.
"Malam ini bulan purnama, lihatlah sekujur tubuhku yang melepuh. Aku mendapatkan kutukan karena terlahir dari selir Raja yang seharusnya hanya memiliki satu istri. Raja melanggar aturan yang dibuat para leluhur dan membuatku menerima semua ini," jelasnya.
Aku heran kenapa pria itu menceritakannya sedetail itu padahal aku hanya orang asing yang hampir membunuhnya. Aku merasa familiar dengan kisahnya itu ...
"Kau ..." ucapku menggantung.
"Xavier, Pangeran ketiga Kerajaan Moonlight," ucapnya.
Ya, aku pernah mendengar cerita itu dari Mina yang sering pergi bermain ke daerah Kerajaan Starlight dan Kerajaan Moonlight.
Jujur saja aku merasa kasihan dengan pria itu, dia memiliki nasib yang sama denganku bedanya aku tidak tahu apa penyebab aku mendapatkan kutukan.
"Apa yang akan aku dapatkan jika aku memberitahumu tentang Tulip Biru Es dan air terjun Crystal?"
"Emm ... Meskipun aku selalu dikurung di Istana aku mengetahui semua informasi di Benua ini khususnya informasi tentang Kerajaan Starlight dan Kerajaan Moonlight," jawabannya berhasil membuatku tertarik.
"Baiklah, aku akan memberitahumu bahkan mengantarmu ke tempat Tulip Biru Es dan air terjun Crystal berada," ucapanku membuat pria itu tampak bersemangat.
"Tapi dengan satu syarat," ucapku membuat pria itu langsung menatapku.
"Apa itu?"
"Beritahu aku alasan Putri Thalia dari Kerjaan Starlight dikutuk!" ucapku dengan tegas membuat pria itu menatapku aneh.
"Putri Thalia dari Kerajaan Starlight? Emm ... oh iya, dia Putri yang diasingkan saat dia baru berusia empat tahun itu. Malang sekali nasibnya, entah dia masih hidup atau sudah meninggal," ucapan pria itu yang terkesan basa-basi membuatku merasa kesal.
"Bisakah kau berbicara intinya langsung? Aku benar-benar akan mengantarmu ke tempat yang kau inginkan tadi," kesalku.
"Aku tidak meragukanmu, Nona. Tulip Biru Es dan air terjun Crystal, aku bisa melihatnya dalam dirimu. Baiklah aku cerita sekarang," balas pria itu.
"Dulu waktu Ratu Kerajaan Starlight mengandung Putri Thalia, Raja pergi berburu dan di perjalanan dia menghabisi Naga Es yang sebenarnya adalah Penyihir Legendaris yang sedang menyamar. Di kondisinya yang sekarat, Penyihir itu mengutuk anak pertama raja. Awalnya Raja tidak peduli dengan kutukan itu karena setelah kelahiran Putri Thalia tidak ada hal yang aneh dengan bayi kecil itu. Tapi, pada saat Putri Thalia berusia empat tahun ada peramal yang datang ke Kerajaan Starlight dan mengatakan bahwa Putri Thalia akan menghancurkan dunia dengan kekuatannya, Putri Thalia pun diasingkan," pria itu akhirnya mengakhiri cerita yang membuat dadaku merasa sesak.
Aku tampak melamun setelah mendengar cerita itu. Tapi, pria itu menyadarkanku dengan mengatakan, "Ayo kita pergi, bukankah kau akan mengantarku ke tempat Tulip Biru Es dan air terjun Crystal berada?"
Aku pun mengantarnya ke taman di belakang istanaku, aku tidak peduli apa yang dia lakukan aku memilih untuk duduk dan memikirkan cerita tadi.
"Berarti aku dikutuk karena kesalahan Ayah, tapi dia sendiri yang mengasingkanku. Benar-benar brengsek!" batinku merasa sakit hati dengan kenyataan yang baru aku ketahui.
Aku mencari keberadaan pria itu saat aku mendengar suara cipratan air dari air terjun Crystal. Di sana aku melihat seorang pria yang sangat tampan dengan tubuh yang tidak lagi melepuh saat ini kulit pria itu tampak mulus dan putih bersinar. Dia naik ke permukaan setelah puas berendam, kemudian dia memakan satu kelopak bunga tulip yang tumbuh di pinggiran air terjun Crystal. Dia berjalan menghampiriku.
"Crystal, Nona apa aku boleh memanggilmu seperti itu?" tanya pria itu.
"Bagaiamana dia bisa tahu namaku?" batinku merasa bingung.
"Apa yang membuatmu ingin memanggilku seperti itu?"
"Matamu bersinar seperti Crystal, aku suka itu," balas pria itu membuat hatiku merasa hangat.
"Bolehkah aku bermalam di sini?"
"Kau bisa bermalam di sini dan membuat api unggun. Jangan masuk ke Istanaku di sana sangat dingin," ucapku.
"Kau mengkhawatirkanku, Crystal?"
"Ti-tidak! Ini sudah malam, aku akan masuk," ucapku sedikit gugup kemudian pergi meninggalkan pria itu.
Besok paginya, aku tidak mendapati Mina di sampingku sepertinya rubah putih itu turun dari gunung dan bermain di wilayah Kerajaan Starlight atau Kerajaan Moonlight.
Aku pun pergi keluar tapi tidak melihat pria itu. Aku tidak terlalu peduli dengan hal itu, aku melihat merpati yang terbang menghampiriku. Merpati itu membawa bulu rubah yang penuh darah, hal itu membuatku murka. Aku langsung menggunakan jubah hitam dan turun dari gunung. Aku mencari keberadaan Mina dan aku menemukannya, dia kotor dan penuh darah. Dia seperti telah diinjak-injak oleh banyak orang. Siapa yang berani memperlakukan Mina-ku seperti itu?
Aku mendengar beberapa penduduk yang berbicara, "Kasian sekali rubah cantik itu, tadi dia tertabrak oleh pasukan Kerajaan Moonlight lalu terlindas kereta kuda Putri Hera dan diinjak para pengikutnya,"
Aku menggendong jasad Mina, dan kembali ke Istanaku untuk menguburkan Mina di sana. Saat aku pergi tadi, aku tidak sadar kalau Xavier mengikutiku. Aku tidak peduli dengan hal itu, aku mengingat perkataan Xavier semalam yang mengatakan bahwa Tulip Biru Es dan air terjun Crystal dapat menghilangkan kutukan. Aku menggunakan kekuatanku untuk menyegel tempat itu agar tidak ada siapapun yang dapat merenggut kekuatanku. Putri Es, aku suka identitasku ini. Setelah aku selesai menguburkan Mina dan menyegel tempat favoritku aku kembali turun gunung.
"Kau mau kemana?" tanya Xavier menghentikan langkahku.
"Menghancurkan dunia dan mewujudkan ramalan itu," ucapanku membuat Xavier bingung.
"Aku Putri Thalia yang dikutuk dan diasingkan! Sekarang aku akan menghancurkan kerajaanku dan kerajaanmu apa yang akan kau lakukan sekarang?" aku mengucapkan itu dengan senyuman sinis.
"Aku ikut denganmu!" tegas Xavier membuatku bingung.
"Begini saja kita bagi tugas, kau hancurkan Kerajaan Starlight sedangkan aku menghancurkan Kerajaan Moonlight," ujar pria itu membuatku mengedipkan mata sehingga terlihat bodoh.
"Apa kau gila?"
"Tidak, aku hanya melakukan hal yang sama denganmu. Menghancurkan dunia dan mewujudkan ramalan, jika itu bisa disebut gila maka tidak apa-apa berarti kita sama-sama gila," mendengar kalimat terakhir dari pria itu aku langsung menatapnya horor.
Tanpa basa-basi, aku dan Xavier pergi ke kerajaan masing-masing dan membuat keributan. Aku masuk dengan merusak pintu kokoh Kerajaan Starlight, membuat kehebohan di Kerajaan itu.
"Ayah, Ibu, Adik aku kembali untuk menghancurkan kehidupan kalian," ucapku sambil menatap keluarga bahagia yang tengah berkumpul. Mereka adalah Raja, Ratu dan Putri Hera yang sudah menghabisi Mina-ku.
Aku menggunakan kekuatanku membuat benda-benda di dalam Istana itu berjatuhan dan membuat keluarga kecil itu ketakutan, hal itu cukup membuatku puas.
"Kalian sangat kejam, terutama kau Ayah! Karena kesalahanmu aku dikutuk dan kau dengan tidak tahu malunya mengasingkanku ckck,"
"Ibu kau juga memilih menutup mata saat aku diasingkan, sungguh kejam,"
"Dan kau adik, aku baru tau kalau aku punya adik. Di saat aku mengetahui itu kau mengejutkanku dengan menghabisi rubah kesayanganku,"
"Aku ditakdirkan untuk menghancurkan dunia, bukankah begitu Ayah, Ibu? Dan saat itu sudah tiba, aku akan menghancurkan kalian!"
Setelah mengatakan semua itu tanpa pikir panjang aku langsung menghancurkan Kerajaan Starlight, Kerajaan yang sangat indah itu kini menjadi tumpukan batu karena ulahku. Begitupun dengan Xavier, sepertinya dia telah melakukan hal yang sama denganku.
Aku menemui Xavier, dia langsung memelukku membuatku mematung untuk sesaat.
"Kita sudah mewujudkan ramalan itu dan saatnya kita membangun kehidupan baru, Crystal," ucap Xavier.
"Apa kau mau membuat kehidupan baru bersamaku?" tanyaku yang langsung dibalas anggukan dan senyuman oleh pria tampan itu.
"Kau orang pertama yang membuatku tidak merasa sendirian di dunia ini," ucap Xavier.
Aku hanya mampu menanggapi ucapan Xavier dengan senyuman tipis. Selama ini aku hanya menampilkan perasaanku pada Mina, tapi sekarang dia sudah tidak ada. Aku berpikir akan sangat sulit menerima orang baru dalam hidupku tapi untuk Xavier, aku ingin berusaha menerimanya dan hidup bahagia bersamanya.
Aku dan Xavier hanya menghancurkan Kerajaan dan melenyapkan anggota kerajaan saja, tidak dengan rakyat yang tidak bersalah.
Kami membangun Kerajaan besar dari penggabungan wilayah Kerajaan Starlight dan Kerajaan Moonlight. Kami beri nama Kerajaan itu Sun Light, Kerajaan yang paling besar, terang dan makmur sepanjang sejarah. Kerajaan yang dipimpin oleh Xavier sebagai Raja dan Aku sebagai Ratu yang sangat dia cintai.
-Happy Ending-
Sun Light disini bukan sabun cuci piring ya😉