Setelah di tinggalkan oleh pacarku, akulah yang jadi bosnya.
Kejadian itu terjadi setelah beberapa saat ia pergi dari hidupku, hal nyata yang ku tahu tentang kejadian itu memang lah sudah lama bila di hitung dengan hari, minggu dan tahun. Namun dalam ingatanku semua seakan baru saja kemarin sore. Aku yang mencintainya dengan sangat saat itu, ia tinggalkan begitu saja hanya untuk wanita yang baru datang di dalam kehidupannya sesaat lalu. Dengan mudahnya ia menenggelamkan aku bersama kenangan tanpa peduli bahwa semua yang aku miliki telah aku serahkan karena aku sangat yakin tentang janjinya.
"Niken evelyn, itulah namaku."
Memang aku tidak terlahir sebagai seorang yang bergelimang harta, juga bukan karyawati yang memiliki gaji dengan nominal besar. Namun dengan yang aku miliki saat itu aku bahkan menyerahkan semua yang aku punya hanya untuk dia, tanpa aku berfikir bila akhirnya ia akan meninggalkan ku begitu saja.
( Flash back. )
Saat itu!
"Kenapa?! Tuhan tidak adil padaku." Gumam ku di iringi deru air mata, mengalir di pipi ini tanpa bisa ku bendung lagi.
"Selama ini kamu meyakinkanku, menguatkan hatiku untuk mencintaimu. Namun setelah aku sandarkan semuanya kepadamu, kamu beitu mudah berpaling! Kenapa?" Ku tambah volume suaraku, mencari penjelasan dari pria di depanku itu. Aku berusaha berteriak sekuat yang aku bisa, namun hatiku yang sakit karenanya membuat suara bergetar ini semakin tenggelam di tengah isak tangisku.
"Apa lagi yang bisa ku jelaskan! Bukankah selama ini kamu pun tau tentang hidupku, tak ada lagi yang perlu di ceritakan, bila matamu sudah cukup untuk melihat dari awal kita bersama hingga saat ini." Ucap Awan.
Ya, Awan! Nama lelaki yang saat ini berada tepat di depanku.
Ia saat ini tengah berdebat dengan ku tentang hubungan kami, ia merasa bersalah dalam hatinya. Itu terlihat kerena tercetak jelas di matanya yang saat ini bertaut dengan mataku, namun ia juga tidak mau mengakui dengan mulutnya.
Awan! Kehidupannya tidak lebih baik juga dari ku, memiliki hutang yang membuatnya di kejar-kejar debtcolector untuk tagihan hutangnya, ia sering meminta tolong untuk meminjam sejumlah uang.
Di desak perasaan tak tega dengan keadaannya itu, aku selalu berusaha memberi apa yang Awan minta tanpa fikir panjang. Bahkan terkadang bila aku pun tak memiliki sejumlah uang itu, aku berusaha meminjam kepada teman-temanku dengan alasan lain. Mungkin karena di butakan cinta yang sangat, bahkan aku tak memikirkan tentang kebutuhan dalam hidupku sendiri. Yang terpenting saat itu bagiku hanyalah dia.
Namun kemudian ia berusaha acuh padaku dan meninggalkanku sendiri di saat huja mulai turun sebagai alasannya, deras air hujan kini menyatu dan memanipulasi air mataku hingga orang hanya tau. Tentang aku yang terdiam di bawah rintik itu, tanpa tau air mata yang semakin deras mengiringi luka hati ku.
Samar aku memandang punggung yang lekat di ingatanku itu semakin menjauh, bersama tatapan orang-orang di bawah payung mereka kepadaku sehingga turut mematung, mungkin heran atau penasaran penuh antisipasi.
Tak terasa, sesaat seakan waktu benar-benar berhenti dengan sekema pahit di hidupku ini.
"Ya, aku telah gila. Mari kita satukan kenyataan ku dan pendapat kalian tentang aku." Desir pemikiran merasuki benakku yang masih tak bergeming dari tempatku ini.
Hingga punggung akrab itu semakin menjauh, menjauh--dan menghilang.
***
Waktu telah berlalu dengan konsep yang akupun tidak tahu pasti, namun samar-samar aku ingat perjuanganku untuk bangkit dari rasa sakit tentang penghianatan itu, tidaklah mudah.
"Namun, ada harga untuk semua itu!" Aku mendengus lega, krena semua sudah berlalu.
Kini aku berdiri di puncakku dengan apa yang sekarang aku miliki.
Sempat aku berfikir, jika tuhan tidak adil padaku dulu. Namun sekarang aku tau!
Terkadang, demi menjaga kita dari orang yang tidak tepat, tuhan memberi rasa sakit yang berlebih, sehingga ketika kita kini mendapati manfaat dari masa lalu, kita mengerti tentang kebahagiaan bersama orang yang tepat.
"Dia yang dulu meninggalkanku karena wanita kaya itu, kini bagaimana kabarnya?" Sedikit terbesit di anganku, disela aku merentangan jari-jari tanganku yang lelah dengan segudang pekerjaan.
Di belakang meja kerjaku, ku sandarkan punggung lelah ini di sandaran kursi yang membuat sedikit aku nyaman dengan lamunan.
Mungkin dengan kekayaan pacarnya yang membuat ia berpaling dariku itu, hari ini ia sudah bisa sukses dalam hidupnya, atau setidaknya lebih baik dari saat itu.
Aku buru-buru menghapus itu.
Menggantinya dengan seseorang yang saat ini tengah berjuang untuk ku, seperti dulu aku berjuang untuk Awan.
Tanpa sadar aku menarik busur senyum di ujung bibirku ke arah ruangan di depan ku, di mana ruang itu adalah kamar tidur ku dan suami ku saat ini, Ares namanya.
Dalam kondisi covid seperti sekarang ini, kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, kerja di rumah apapun di rumah. Sebagai pengantin baru, jujur kami lebih suka begini, hehe.
Bekerja di rumah!
Ngomong-ngomong pekerjaan, saat ini aku tidak lagi bekerja sebagai karyawati PT, aku memeliki usaha sendiri denga suamiku di bidang logistik.
Haha, usaha suamiku sih lebih tepatnya.
Namun kini aku menjadi istrinya, aku di minta berhenti dari pekerjaanku yang dulu, menikah dengannya dan bahu membehu mengembangkan usaha ini bersama. Setelah jadi istrinya, wajar saja bila aku sebut, itu perusahaan kami bukan? Hehe.
Benar-bebar pelangi setelah badai.
Hidupku kini begitu mudah, dengan Ares yang begitu, yah--sempurna saja aku bilang. Karena gak ada yang bisa ku gunjing tentangnya.
Aku amat sangat mencintainya dan begitu sebaliknya dengan Ares pada ku. Semua itu terlihat dari cara dia yang memperlakukan aku seperti ratu, baik di depan umum atau pun ketika private.
"Ughhh! Nice sekali." Gumam ku, memandang Ares dengan secangkir teh di tangannya yang ia julurkan ke meja kerjaku.
Tak sadar dengan pekerjaan yang membuat aku tenggelam di laptopku. Aku mulai melihat jam yang melingkar di lenganku.
"Uhhh, sudah malam rupanya." Aku menghela nafas untuk kemudian mengambil teh yang Ares berikan.
"Udah lah sayang, istirahat dulu! Besok juga kan masih ada waktu, apa mau biarin aku sendirian terus?" Ares menggodaku dengan ucapannya. Ia berlalu sembari melihatku dengan sudut matanya.
Aku, yang saat ini tengah menyeruput teh yang ia berikan sebelumnya. Hanya bisa menggeleng, menamparkan muka merah ku, kemudian berdiri dan mengikutinya di belakang menuju kamar.
- Pengantin baru! -
***
Uh, tak terasa hari berganti.
Kala ini aku tengh berada di gudang logistik bersam suamiku dan 2 karyawanku, seperti biasa memilah barang adalah tugas pokok sebelum pengiriman, mencocokan rute dan memastikan semua dalam keadaan baik, sebelum keberangkatan. Tak mau ada kesalahan sedikit pun, kami akan memastikan tak ada yang tertinggal.
"Tian kemana Ron, Bar?" Tanya Ares kepada Roni dan Akbar.
Karyawan kami sebenarnya tiga orang, karena Tian gak berangkat, hanya tinggal Roni dan Akbar saja di sini.
"Gak tau bos, tapi saya liat sih tadi pas kami berangkat dia masih telfonan." jawab Akbar santai.
"Hah!" Roni hanya mendengus, menyikapi cerita Akbar merasa pusing dengan kelakuan Tian.
"Jam kerja masa telfonan mulu, Bar? Kenapa gak kamu bilangin." Roni, meneruskan dengusannya, ia mulai angkt bicara seolah perlu.
"Orang aku liat, kayaknya serius kali. Gak enak aku! kayaknya dari kam.."
Ucapan Akbar tak bisa ia selesaikan, ketika mata mereka semua memandang ke arah dua sosok orang yang bergegas ke arah mereka.
"Maaf, sebelumnya bos. Saya tidak memberi kabar hanya terburu-buru menjemput teman saya ini." Tian berbicara setelahnya ia sampai di depan Ares, menunjuk orang di sebelahnya tanpa melihat ke arah Akbar dan Roni.
"Uh, lalu?"
Singkat, Ares menjawab untuk kelanjutan yang lebih spesifik.
Akbar dan Roni hanya terdiam. Memandang dan turut penasaran, apa yang terjadi dan kenapa?
Lalu siapa yang bersama Tian itu?
Banyak pertanyaan muncul di benak mereka.
***
Saat itu!
Aku tidak tau pasti tentang kejadian di luar.
Hanya samar aku mendengar keributan kecil, namun ku kira hal yang memang biasa mereka buat, akupun tak bisa lagi peduli dan aku melanjutkan kesibuakan ku, mengatur jadwal dan sebagainya dengan laptopku.
Tanpa mau mencampuri urusan di luar, aku kembali menenggelamkan fikiran ke pekerjaan di dalam ruanganku yang memang tertutup kaca buram persegi empat. Sangat rapat karena AC tergantung di sini.
*
"Maaf sebelumnya, bos! Ibu mertua saya di bawa ke rumah sakit. Istri saya menelfon dan meminta saya untuk pulang secepatnya. Tetapi, saya juga tidak mau kehilangn pekerjaan saya. Maka dari itu, sementara teman saya menganggur, saya meminta izin dia menggantikan saya untuk sementara waktu ini." Ujar Tian memohon.
Tentu saja Ares, sebagai bos telah mengetahui kinerja Tian di dalam pekerjaanya. Tentu untuk izin pulang apa lagi dengan kondisi saat ini, tanpa membawa seorang yang menggantikannya, izin pulang akan Ares berikan.
Suasana hening untuk sesaat dan kemudian senyum tergantung di wajah Ares.
"Pulang lah dan rawat dahulu keluargamu. Dan temanmu ini, biarkan untuk bekerja di sini. Terlapas sekembalinya kamu dari lampung, jika ia mau ia boleh tetap bekerja di sini. Namun bila ia akan berhenti setelahnya, aku juga tidak akan mencegah." Ucap Ares dengan nada pelan. Santai lembut dan begitu hangat dengan kryawanny.
"Oh--iya, Tian! Siapa nama temanmu ini?" Tanya Ares.
"Saya Awan, Pak! Dan terimakasih banyak atas pekerjaannya." Jawab Awan yang sedari tadi memperhatikan dari samping Tian.
"Baiklh, semuahal berakhir disini saja, semua kembali bekerja dan kamu Awan, semoga betah disini. Tolong berikan yang terbaik! Untuk pekerjaan mu, kamu bicara saja sama Akbar dan Roni. " Ucap Ares yang kenudian ia berlalu.
***
Kali ini aku jelas mendengarnya, namun pandanganku terhalang oleh kaca buram yang membatasi pandangan ku itu.
Berderik!
Suara pintu terbuka, Ares muncul dari baliknya. Menyeringai tanpa beban. Dan aku hanya membalas dengan senyumku.
Ares mendekat, melihat laptop dari belakangku, ia sdikit menunduk untuk memperjelas pandangannya ke arah laptop hingga posisi wajah kami bersebelaan dengan aku yang duduk, dan ia berdiri namun posisi wejah kami sejajar.
Tiba-tiba saja, nafas Ares terasa mengalir di sekitaran telingaku, semua bulu kuduku merinding hanya untuk mendengar suara yang di transmisikan ke telingaku oleh Ares.
"I LOVE YOU SO MUCH and Forever." Lalu Ares mencium pipiku, iya memelukku dan membenamkan sebagian wejahnya di pundakku.
"I love you too sayang." Aku hanya membalas kata-katanya tanpa memalingkan pandangan dari laptopku.
"Hmm, malu yang kalau karyawan liat." Ucapku sembari menngerakkan pundak sejenak.
***
Tak terasa waktu telah berlalu menuju sore. Aku dan Ares, mulai berkemas di dalam ruangan untuk segera pulag. Dengan beberap kertas schedule yang telah aku print untuk pengiriman barang satu minggu ke depan.
"Akbar, sini!" Teriak ku dari dalam ruangku.
"Iya, bu bos! saya." Akbar masuk dengan tergesa-gesa.
Aku hanya memberikan kepadanya kertas ini dan sejenak menjelaskan.
"Anak baru, belikan kami kopi ya tolong! Ini uangnya." Roni yang sedang mengemas meminta tolong kepada Awan.
Terdengar suara itu sayup karena pintu ruang yang tak tertutup dengan sempurna selepas Akbar masuk tadi.
"Iya, bang siap!" Jawab Awan.
Suara itu terdengar asing di telingaku, namun sepertinya aku pernah mendengarnya. Sedikit gumam dalam benak ku.
Aku menoleh ke arah Ares yang kemudian ia tersemyum menyadari pandanganku.
"Ini sudah ya Bar? Untuk satu minggu ke depan, paham?!." Tanya ku ke kabar saat itu.
"Paham, bu bos!" Jawab Akbar.
***
Karena waktu yang telah sore, kemudian aku mengajak Ares pulang selepas ucapan Akbar yang terakhir tanpa menunggu lagi.
Kami keluar dari ruangan bersama-sama, namun aku gagal menemukan pemilik suara tadi. Aku memoleh kekanan dan kiri mencari. Namun tak urung juga aku tanyakan karena Ares juga uduah urus hal itu. Dan gak perlu juga aku tau. Cukup bagi ku tau bila ada karyawan baru, lambat laun juga bakal tau.
"Mana anak baru, Ron?" Tanya Akbar ke pada Roni sambil mengirim kami keluar gudang logistik menuju mobil.
"Aku suruh beli kopi buat kita." Ucap Roni.
Akhirnya kami mulai berjalan pulang, dengan ditandai melajunya mobil kami secara perlahan, tak sengaja aku menyapu pndanganku, aku melihat sosok orang dari balik jendela mobilku yang tengah berjalan ke arah gudaang logistik. Dengan kantung plastik yang ia tenteng, aku hanya menebak dia lah karyawan baru di perusahaan ku.
Sinar matahari sore, plus jarak dan kaca mobil yang membiaskan cahaya. Membuat aku gagal mengidentifikasi pastinya bentuk wajah orang itu.
"Karyawan baru itu, siapa namanya yang?" Aku membuka topik kepada Area.
"Siapa ya yang? Aku lupa siapa yang! Masih belum bisa ingat." Ares menoleh padaku, menyeringai kemudian melemparkan pandangannya kembali ke jalan.
"Namanya aja gak tau kamu yang, gimana bisa terima dia jadi karyawan, ceroboh." Kataku mendikte Ares yang makin menyeringai.
Ia kemudian memgang dan mengelus kepalaku.
Lalu berkata dalam senyumnya.
"Sayang! Aku memang belum mengenalnya, belum melihat kinerjanya dan belum percaya dengan orang baru itu. Tapi tidak dengan Tian bukan?" Suasana hening untuk sesaat.
Kemudian, keheningan sesaat itu pecah ketika Ares kembali melanjutkan.
"Tian sudah lama bekerja untukku. Aku tau betul seperti apa karakter Tian, Aku bukan percaya kepada orang baru itu, tapi aku percaya kepada yang membawanya padaku, secara alami aku hanya membuat Tian agar tidak malu di depan temnya." Ares menjelaskan kepada ku.
Aku hanya mengangguk, karena tindakannya kali ini memang dengan dasar yang kuat dan benar.
Bonus aku tersenyum, ku tarik tangan yang masih mengusap-usap kepalaku itu, ku genggam dan ku cium punggung tangn suamiku itu dan meletakannya di pipiku sepanjang perjalanan.
Hingga tiba-tiba iya seakan mengingat sesuatu!
"Emmm, aku ingat! Namanya Awan kalo gak salah, pasti benar." Kata Ares sambil ia tertawa karena berhasil menyebut nama yang ternyata sedari tadi ia hening berusaha mengingat.
Namun..
"Awan...!!!"
Seiring nama ini keluar dari dari mulut Ares dengan beberapa tawa, aku tenggelam jauh dalam fikiranku memgorek masa lalu. Keringat dingin mulai mengisi dahiku, Awan..!!
Rasa sakit mulai merembes semakin terasa ketika aku mulai memngingat. Walau aku telah lupa dengan wajahnya, suaranya, semua tentang dia namun ...
Luka yang ia berikan tak akan pernah aku lupa, bahkan rasa sakitnya masih terasa di dalam hatiku tanpa sedikitpun berubah ketika hanya namanya di sebut.
Namun aku berpura-pura baik saja di depan Ares. Aku tak mau merubah suasana hatinya, hanya karena orang dari masa lalu ku yang harusnya tidak kembali bahkan hadir, walau sebatas dalam ingatan ku.
Awan!! Apa Awan itu.. atau hanya nama saja yang sama, aku hanya mencari kemungkinan rasional bahkan yang paling tidak mungkin.
Namun bila itu benar dia! Biarlah, aku sudah melupakannya untuk Ares yang saat ini ada di sampingku, sudah jadi suamiku dan bahkan jauh lebih baik darinya.
Tapi hatiku berucap jika itu benar dia, dia adalah karyawanku dan akulah bosnya sekarang. Dengan posisi saat ini, bukankah tidak akan sulit membalas luka atau bahkan menginjaknya hingga ia akan merasakan, hidup lebih buruk dari pada kematian.
***
Tak terasa, sesaat seakan waktu benar-benar berhenti dengan sekema pahit di hidupku ini.
"Ya, aku telah gila. Mari kita satukan kenyataan ku dan pendapat kalian tentang aku." Desir pemikiran merasuki benakku yang masih tak bergeming dari tempatku ini.
Hingga punggung akrab itu semakin menjauh, menjauh--dan menghilang.
***
Baik dan buruk berperang dalam hatiku saat ini, logika mencari alasan untuk membenarkan dendam yang sudah tertanam saat itu.