Salju di bulan Januari adalah salah satu hal yang paling tidak disukai William Raymond, pemuda berusia 20 tahun, yang tinggal di Magadan, Russia. Sebab, pada bulan itulah salju terdingin menghantam wilayah tersebut. Suhu rata-rata pada bulan itu bisa mencapai -20°c.
Biasanya William hanya akan menghabiskan waktu di dalam rumah sepanjang hari jika tidak sedang berkuliah. Namun, kali ini tidak demikian.
William melangkah menyusuri jalanan bersalju menuju ke rumah. Senyum manis terpatri di wajah tampan pemuda itu, meski tubuhnya tengah menggigil kedinginan.
"Aku pulang!" sapa William begitu sampai di rumah. Ia bergegas masuk ke dalam setelah membuka sepatu dan menggantung mantel hangatnya di standing hanger yang tersedia.
Seperti biasa, rumah akan selalu sepi dari para penghuni. Mark, sang ayah yang bekerja sebagai petugas kepolisian, mengharuskannya menghabiskan waktu lebih banyak di luar rumah. Sementara sang ibu, Rose, dan adik perempuannya, Zilly, baru akan pulang dari toko pada malam hari. Keluarga mereka memang memiliki sebuah toko roti yang letaknya tak jauh dari rumah.
Baru saja William hendak merebahkan diri sambil menyeruput secangkir cokelat panas, sang ibu dan adiknya sudah tiba di rumah.
"Hari masih sore, Mommy sudah pulang?" tanya William terheran-heran.
"Royal Street tertimbun salju, Mommy takut tidak bisa pulang kalau terlalu lama di toko. Zilly, cepat ganti bajumu!"
"Yes, Mom," jawab Zilly sembari melangkahkan kakinya menuju kamar. Sementara itu, Rose langsung bergegas ke dapur untuk memasak makan malam, sebelum kemudian pergi ke kamar utama untuk mandi dan berganti pakaian.
––––––––––––--––––––––––––––––––––
"Berita terkini! Lagi-lagi wilayah Magadan dan sekitarnya kembali diterpa hujan es di tengah-tengah musim salju ini. Fenomena langka tersebut sudah terjadi lima kali selama bulan Januari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan hujan es akan kembali terulang selama beberapa waktu ke depan."
Sesaat setelah mendengar berita di televisi, William bergegas menyudahi makan malamnya.
"Will, makan malammu belum selesai!" seru sang ibu saat melihat sisa makanan yang ada di piring anak sulungnya tersebut.
"Aku sudah kenyang, Mom," jawab William sembari berjalan menuju pintu depan. "Mom, aku pergi dulu," pamit pemuda itu.
"Mau pergi ke mana? Cuaca sedang tidak bagus, Will!" Rose memandang sang putra khawatir. Akhir-akhir ini putranya memang senang sekali menghabiskan malam di luar rumah, entah dengan siapa. Anehnya, ia hanya akan ke luar rumah saat hujan es melanda kota itu.
"Hanya sebentar, Mom." William memakai kaos kaki tebal dan sepatu boots miliknya, serta mantel tebal, syal, jas hujan dan sebuah payung yang akan dibawa oleh pemuda itu.
Udara dingin langsung menerpa tubuh William ketika ia membuka pintu. Anehnya senyum pemuda itu justru malah kian merekah, seolah hujan es di tengah salju adalah hal yang biasa. Ia pun mulai berjalan pergi menuju satu-satunya hutan yang ada di sana.
Raut bahagia tak luntur dari wajah tampan William saat menyusuri jalanan bersalju menuju hutan. Ia bahkan mempercepat sedikit langkahnya, ketika mendapati sesosok gadis cantik tengah berdiri menungguinya di dalam sana.
"Kau datang lagi?" Eira, gadis cantik bergaun putih dengan kulit senada hamparan salju, langsung menyambut kedatangan William.
Pemuda itu meletakkan payungnya dan ikut duduk bersama Eira di atas sebongkah pohon pinus yang sudah tumbang.
Inilah yang membuat William senang ke luar rumah. Pertemuannya yang tidak disengaja dengan gadis asing tersebut membuat William tidak bisa berhenti memikirkannya.
Saat itu hujan es pertama datang bagai sebuah badai kecil. William yang sedang dalam perjalanan menuju ke rumah harus terjebak di tengah hutan, setelah menghabiskan waktu di rumah istirahat buatan sang ayah.
William pikir dia akan mati saat itu juga, tetapi nyatanya sebuah keajaiban menyelamatkan hidup pemuda itu.
Seorang gadis cantik berpakaian anggun tiba-tiba muncul di tengah-tengah badai hujan es dan menghentikan badai tersebut hanya dengan jentikkan jari saja.
Sejak saat itulah William selalu datang menemui Eira, nama yang diberikan olehnya untuk sang gadis.
Eira hanya akan muncul ketika hujan es turun di langit Magadan.
Eira memiliki arti salju yang diambil dari bahasa Welsh. Meski ia seorang Putri Es, tetapi kedatangannya di musim salju membuat William menamainya dengan nama tersebut.
Seperti hari-hari lainnya ketika mereka bertemu, Eira akan selalu membuatkan kubah kaca untuk melindungi William dari terpaan hujan es. Lalu mereka akan berbincang sejenak tentang keseharian William di rumah. Eira tentu saja dengan senang hati mendengarkan setiap cerita yang keluar dari lisan pemuda itu.
Satu jam pun telah berlalu, Eira akhirnya menghentikan hujan es yang ia ciptakan tadi, dan bersamaan dengan itu William bergegas pamit pulang dan berjanji akan datang lagi menemuinya.
"Sampai bertemu lagi," ucap William.
Eira mengangguk pelan. Senyum anggun terbit dari bibir tipisnya yang sedikit pucat.
Pemuda itu mulai berjalan meninggalkan Eira. Namun, tanpa disangka Eira tiba-tiba muncul di hadapannya dan memegang erat tangan William. Kendati sudah memakai sarung tangan tebal, rasa dingin dari tangan gadis itu tetap saja mampu menembus permukaan kulit William.
"Ada apa?" tanya William terheran-heran. Sebisa mungkin ia menahan rasa dingin yang mulai menjalar pada tangannya akibat sentuhan Eira.
"Terima kasih," ucap Eira malu-malu.
"Sama-sam–" belum sempat William menjawab, Eira secara tiba-tiba mencium bibirnya.
William terkejut. Bukan hanya pada tindakan Eira, melainkan juga rasa dingin yang mulai merambat di bibirnya. Namun, sentuhan Eira yang memabukkan membuat William menikmati momen tersebut. Dengan penuh keberanian William memeluk gadis asing itu dan membalas ciumannya lebih dalam.
Sentuhan fisik yang mereka lakukan semakin meyakinkan William, bahwa Eira memang sosok yang nyata. Ia tak peduli pada ketidakpercayaan orang-orang atas kehadirannya yang merupakan sebuah legenda.
––––––––––––––TAMAT––––––––––––––