"Setelah ditinggalakn pacarku,aku menjadi bosnya... "
Mereka meninggalkan kafe lalu menuju perusahaan.
Beberapa hari menjadi asisten Audie membuat Wilam merasa kalang kabur dari jadwal penuh serta sikap jahillin Audie.
"Hhhh lelah".Audie yang memegang lututnya.
"Mau aku bantu?".tanya Wilam mengulurkan tangan.
Audie menolak.
Wilam melihat Audie yang berjalan.
"Ah,tidak kepala pusing".ujar Audie memegang kepala.
Mata yang membuatnya dan terasa berputar membuat nya hampir terjatuh,namun dengan sigap Wilam menangkapnya.
"Die,Die".Wilam menumpuk pipi Audie yang melihat mata Audie mulai menutup.
"Audie sadarlah".Wilam yang merasa panik dan membawa Audie ke dalam mobil melajukan menuju rumah sakit.
"Dok".panggil Wilam di koridor rumah sakit.
"Suster siapkan peralatannya".sang dokter yang melangkah cepat menuju bankar yang sudah terdorong.
Suster mengganguk.
15 menit menunggu akhirnya hasil tes keluar.
"Bagaimana dok?".tanya Will.
"Dia baik-baik saja,hanya saja dia kelelahan,jaga kondisinya baik-baik".ucap sang dokter.Wilam mengganguk.
"Kalau begitu saya masuk dulu dok".ujar Wilam yang diangguki.
Malam telah tiba Wil menjaga Audie hingga ia tertidur disebelah Audie dengan tangan sebagai tumpuan.
Sepasang mata berusaha terbuka menatap langit-langi kamar yang nampak asing baginya jari-jari mulai bergerak hingga ia merasakan sebuah tangan menggengamnya..Diliatnya Wilam yang tertidur pulas di sampingnya.
Audie tersenyum kecil diusapnya pipi Wil dengan jari yang tak jauh dari pipi.
***
Pagi tiba
Audie bangun lebih awal dengan mata yang menatap jendela luar dan jari yang mengusap pipi Wil.
Merasakan sesuatu di pipinya membuatnya terbangun.
Suara lenguhan membuat Audie berhenti mengusap pipi Wilam.
"Kau dah bangun?".tanya Audie.
"Hmm".ujar Wil masih menyesuaikan.
Menjelang siang Wil mencari makanan untuknya.
Kriek...
Pintu terbuka.
"Mana?".tanya Audie menyodorkan tangan.
"Huh?".Wilam.
"Makanan ku".kata Audie menjelaskan.
"Makanan yang itu".tunjuk Wil pada lemari yang diatasnya terdapat sebuah masakan.
"Tidak,rasanya aku tidak suka".kata Audie.
"Tapi makanan mu".kata Wilam sekali.
Audie menggeleng ia tidak mau memakan makanan rumah sakit.
"Kau makan yang itu".tunjuk Audie pada makanan disampingnya.
Mendengar itu membuat Wilam terkejut.
"Tidak,kamu makan itu".tunjuk Wilam pada makanan di samping Audie.
Dengan pasrah ia memberikan makanannya dan memakan makanan disebelah Audie.
Seminggu berlalu keadaan Audie sudah membaik.
Bahkan ia mulai melakukan aktifitas kembali.Du sore hari di sebuah taman,Audie melakukan jongging sore ditemani Wil di belakangnya.
Klek
Tutup botol yang terbuka.Wil menyodorkan air mineral pada Audie,yang diterima olehnya.
"Terimakasih"ujar Audie setelah meminum.
Wil mengganguk.
"Ouh,iya besok kau ke singapura kan?".tanya Wil memandang langit sore.
Audie mengganguk menilisik jauh kedepannya.
"Berapa lama?".tanya Wil.
"Seminggu".kata Audie memandang langit.
Wil mengehla napas sejenak.
"Benar aku tidak perlu ikut?".tanya Wil memastikan.Ada perasaan tak menentu.
Audie mengganguk.
Wil menghela napas.
"Ayo kita pulang".ajak Audie.
Wil mengganguk dan berjalan sama.
"Terimakasih".ujar Audie.
"Hmm,jangan lupa siapkan barang dan tidur".kata Wil menyiratkan pandangan sendu.
Audie tersenyum dan masuk ke rumah.
"Bagaimana nak hubungan mu dengan Wil?".tanya ayah Audie yang duduk di sofa menyeruput kopi.
Audie mengangkat alisnya tak mengerti.
Sang ayah tersenyum,dan menyuruh Audie masuk ke kamar
"Die".kata sang ayah membuat langkah Audie berhenti.
"Sepertinya Wil masih menyukaimu".kata ayah Audie membuat Audie membantu.
"Tidak yah,kita hanya sebagai bos dan seketaris".kata Audie.
"Hmmm,tapi ayah lihat tidak seperti itu,hal lebih bukan?,kau tak menyadari hal itu?".kata ayah Audie pada sang anak.
"Sudahlah istrirahatlah,besok kau akan kehadiran bukan?".kata sang ayah yang tidak mendapat jawaban dari sang putri.
Audie mengganguk dan masuk kekamar.Membersihkan diri.
Ia menyiapkan barang yang akan ia bawa,setelah itu ia beristrirahat.
Pagi hari di bandara,Audie menatap jam keberangkatan.20 menit sebelum terbang.."Hati-hati nak".ujar sang ibu.
Audie mengganguk.
"Cari siapa?".tanya sang ayah melihat tingkah putrinya.
"Ah tidak yah,kalau begitu Audie duluan".kata Audie gelagapan.
Ayah Audie tersenyum dan mengganguk.
Berbeda dengan ibunya Audie yang bingung akan hal yang terjadi.
"Hati-hati".kata sang ibu.
"Jangan rindu dia iya".kata sang ayah membuat Audie Salah tingkah.
"Tidak yah".semu merah terletak dipipi Audie.
"Iya sudah sana".ayah Audie.
Audie mengganguk dan melangkah.Baru beberapa langkah,langkahnya terhenti mendengar suara seseorang yang ditunggu.
"Audie tunggu!".
Audie menoleh mendapati Will berlari kearahnya.
"Hhh,huft,hhh".
"Ini".Wil memberikan sebuah tas pada Audie,yang membuat bingung Audie.
"Apa ini?".tanya Audie.
"Bekal".Wil.
"Untuk?".Audie.
"Kamu".Wil.
Audie mengganguk,dan menerima tas dari Will.
"Hati-hati".kata Will menatap Audie.
"Ekhem masih ada kami".Kata ayah Audie menyandarkan suasana.
"Ekh".Audie.
"Ehmm maaf tan,om".Wil membungkuk pada orang tua Audie.
Ibu Audie mengganguk.
"Tidak apa calon menantu,kita bisa memahaminya".kata ayah Audie.
Blush
Pipi Audie memerah berbeda dengan Wil yang belum sadar,dengan perkataan ayah Audie ia hanya mengganguk.
"Audie berangkat dulu nanti telat".kata Audie memegang pipinya.
Wil dan ibu Audie mengganguk,tidak dengan ayah Audie yang menahan ketawa serta mengganguk.
"Kau kenapa?".tanya istrinya.
"Tidak apa-apa".kata ayah Audie.
Wil yang merasa ada sesuatu pun menilisik kejadian barusan.
"Apa aku melakukan suatu?".tanyanya pada dirinya.
Wil mengingat kembali hingga ia tersadar.
"Me-menantu?".Wil yang teringat perkataan ayah Audie,menjadi malu pasalnya ia mengganguk menanggapi perkataan ayah Audie tadi.
"Astaga apa yang aku lakukan?".Will merutuki diri sendiri.
"Ada apa kau senyum-senyum sendiri?".tanya istrinya kembali namun sang suami mengelak.
"Terimakasih bekerja sama dengan nona Audie".kata seorang pria berterimakasih atas hal yang disepakati.Audie mengganguk.
Sudah seminggu lebih ia di singapura namun masih saja belum selesai.Ada beberapa hal yang ia urus dari proyek dan pertemuan bisnis.
"Mr,i don't know".
"Sure?".
"Yes".
"How about we drink coffee together?".
"No, yesterday I drank, it's not good to drink too much".
"At the CG office, sir".Wil berkata pada supir taxi.
Supir taxi mengganguk dan melajukan mobil.
30 menit menempuh perjalanan,taxi itu terhenti.
"Than you".kata Wil.
"Your welcome".kata supir taxi.
"Hhh".Wil yang menghela napas menatap gedung dihadapannya.
"Excusme".
"Yes, what's wrong sir?, is there anything I can help you with?".kata resepsionis.
"I want to meet with Miss Audie, can I?, I'm Miss Audie's secretary".kata Wil menjelaskan sambil memperlihatkan tanda pengenalan.
Resepsionis mengganguk mengenali tanda pengenal.
"Sorry, Mrs. Audie is out for a meeting, please wait in Mrs. Audie's room, later I will tell Mrs. Audie about your presence".Resepsionis.
Wil mengganguk,kemudian berjalan ke ruangan Audie setelah di arahkan resepsionis.
Jam menunjukan 4 sore Wil menunggu kedatangan Audie hingga tertidur.
Klek.
"Aduh lelahnya".Audie mengusap peluh.Dan berjalan menuju meja.Langkahnya terhenti melihat sesosok tertidur di sofa.
Ia mendekat melihat wajah Wil yang tenang.Rasa lelah meluap melihat Wil yang tertidur membuatnya tersenyum.Hingga begitu lama.
"Kau sudah bangun?".tanya Audie melihat Wil membuka mata.
Wil mengganguk dan berduduk.
"Ini".Audie memberi air mineral,yang direguk Wil.
"Kau nampak lelah".kata Audie.
"Kau juga".kata Wil dengan suara berat.
Audie tertawa,membuat Wil bingung.
"Tidak apa,sudah istrirahat sana,aku masih ada pekerjaan".kata Audie mengusap rambut Wil.
Seperti anak rasanya.
"Apa ada yang aku bantu?".tanya Wil.
"Tidak ada ini mau selesai".kata Audie.